Arasya

Arasya
surat cinta



kelas yang masih ricuh langsung diam seketika ketika asya datang ke kelas


"gue kira Lo guru sya" kata Rio kesal sedangkan asya tersenyum


"hari ini kelas free" kata asya membuat semuanya kaget dan langsung bersorak senang


sorak senang juga bukan dari kelas mereka tapi juga kelas sebelah


"ada apa sya?" tanya Azka


"guru rapat, tapi mereka ngasih tugas dan untuk Minggu depan di adakan perlombaan memperingati kemerdekaan Indonesia" jelas asya


"jadi Lo ka, Lo atur siapa saja yang ikut perlombaan" kata asya langsung melenggang pergi ke kursi nya


"sialan Lo sya, nambah nambah pekerjaan" kata Azka tapi gak di jawab oleh asya


"gue gak ikutan lomba ya" kata Ririn pada asya


"emang Lo bisa apa?" cibir asya


"bisa nyinyir orang, barangkali ada lomba jadi team nyinyir" kata Ririn tertawa


"guys ini baca" kata vio berbisik


"surat?" kata asya dengan menaikan alisnya sebelah


"punya dia" kata vio dengan masih berbisik menunjuk Sasa dengan dagu nya


sedangkan Sasa tidak terganggu karena sedang fokus dengan ponsel nya


Ririn langsung tekekeh geli setelah membaca surat yang langsung di berikan pada asya


asya membaca nya dengan penuh senyum jailnya, dengan menyanyikan lagu lawas sambil memegang surat yang ia pegang


Kuterima suratmu, telah kubaca dan aku mengerti..


Betapa merindunya dirimu akan hadirnya diriku..


Di dalam hari-harimu, bersama lagi (kata asya)


Kau tanyakan padaku, "Kapan aku akan kembali lagi?"


Katamu kau tak kuasa melawan gejolak di dalam dada..


Yang membara menahan rasa, pertemuan kita nanti..


Saat bersama dirimu.. " lanjut ririn


Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya..


Menahan rasa ingin jumpa


Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang..


Melepas semua kerinduan yang terpendam.. (duet asya dan Ririn)


Sasa yang sadar dengan surat cinta dari kekasih nya langsung mencari nya di lipatan bukunya tapi nihil, kertas itu tak ada


Sasa menengokan wajah nya berharap surat itu tidak sama teman laknat nya itu tapi harapan nya hancur saat melihat kertas yang ia kenali sedang di tangan asya


"asyaaa" geram Sasa berusaha merebut kertasnya kembali


Semua kata rindumu semakin membuatku tak berdaya..


Menahan rasa ingin jumpa..


Percayalah padaku aku pun rindu kamu, ku akan pulang..


Melepas semua kerinduan yang terpendam


lagu yang di senandung kan asya sedari tadi berniat hanya menggoda dulu sahabatnya


pleeetak


sebuah spidol yang mendarat di kepala asya membuat asya meringis kesakitan sedangkan pelaku yang sedang di depan kelas malah terlihat garang dengan tangan yang berkacak pinggang


"sakit bego" keluh asya mengelus dahinya


"rasain ... jail banget sih Lo" kata Sasa mengambil surat yang di bawa asya


"gue jail juga karena Lo yang masih surat suratan, norak banget " jawab asya


"gue gak jomblo ya, gue cuma pengen sendiri aja" ngeles asya yang langsung di tertawa kan oleh Ririn dan vio


" bilang aja gak laku" ejek Sasa membuat asya melotot


"kalian masih mau adu mulut?" tanya Azka menarik kuping asya dan Sasa bersamaan membuat mereka mengaduh


"duh sorry ka, sakit woy..." keluh asya


"azka woy sakit" kata Sasa meringis


"kalian gue hukum karna bikin keributan saat gue ngatur perlombaan" kata azka kesal


memang sedari tadi Azka kesal dengan asya yang malah langsung duduk kursinya sedangkan dirinya malah ngatur siapa saja yang akan ikut perlombaan


"berdiri di sini sampe istirahat" titah Azka tegas


"pegel lah ka" keluh asya


"mau ngeluh? atau lari di lapangan?" kata Azka melotot


melihat Azka yang mode ngamuk asya langsung diam menuruti titah Azka


"gue bingung sama kepsek sama Bu Ratna, kenapa mereka milih Lo yang pecicilan ini jadi ketua kelas" bingung Azka menggaruk pelipisnya, pusing dengan tingkah asya


asya hanya diam, dia hanya mendengus sudah menuruti perintah azka, tapi masih di omeli juga pikirnya


"Lo sih" desis Sasa pada asya dan langsung kena pelotot dari Azka


Sasa langsung kicep, sungguh Azka mode ngamuk itu nyeremin


"kita lanjut bagian basket, gue bian, rival, Andi sama arash" kata Azka menulis di papan tulis


"cadangan nya hanya 2 orang, Tama sama Gilang" lanjut asya yang langsung di okehin oleh mereka yang di tunjuk Azka kecuali arash yang diam


tak lama bel bunyi membuat asya dan Sasa langsung meluruh ke lantai, sedangkan yang lain langsung keluar ke arah kantin


"gila pegel juga" kata Sasa memijit kaki nya


"baru juga 15 menit" ejek Azka


"eh tadi gue papasan sama si abim kelas IPS" kata asya yang baru inget


"kenapa emang?" tanya Azka


"enggak sih cuma nyapa aja, udah yuk ke kantin" kata asya berdiri mengulurkan tangan pada Sasa


arash yang mendengar samar samar nama abim langsung melirik asya tapi asya tak memberi keterangan


asya dan teman teman nya berjalan beriringan menuju kantin, mereka memang bukan siswa dari kalangan orang kaya tapi mereka cukup populer


bruk


asya tersungkur ke depan setelah di dorong oleh seseorang, teman teman asya langsung membantu asya berdiri, dengan lutut asya yang mengeluarkan sedikit darah


"oops maaf sengaja" kata bela dengan tertawa


"Lo kenapa sih selalu cari gara gara?" tanya Ririn


"makannya gak usah sok kecakepan jadi orang" kata bela mengibaskan rambut nya dan berlalu


"dasar nenek lampir" teriak Sasa kesal


"tuh orang gila kali ya?" timpal vio heran dengan sikap bela


"psycopat" timpal Ririn


tanpa kerjaan banget geng bela hanya membuat asya tersungkur habis itu pergi, dasar manusia kurang kerjaan pikir asya dengan hati kesal nya


"udah lah yuk, lapar gue" kata asya yang di angguki yang lain nya


asya berjalan sedikit agak pincang karena lutut sebelah kanan nya terasa perih, dengan tisu yang basuh air kemasan asya membersihkan darah yang hampir mengering itu


arash yang melihat dari jauh ingin sekali membawa asya ke UKS tapi apa daya, ada cctv di area kantin dan pergerakan arash sedang di awasi oleh papanya


ya, perjanjian arash dan papanya yang tidak di ketahui orang adalah, menurut sampai arash menjadi pemimpin di perusahaan Wilmar dari kakek nya, meskipun arash anak hasil ketidak inginkan tapi kakek arash sangat menyayangi nya dan papanya tidak pernah menyesali kedatangan arash dalam hidup nya


"tunggu gue berumur 21 tahun sya" kata arash di dalam hati dengan mata yang terus memperhatikan gerak gerik asya dari jauh