Arasya

Arasya
keinget arash



Bahkan sampai om di terima untuk melanjutkan pendidikan lagi, papa kamu sering ngasih kabar dan berniat mengirim uang untuk om, om tau saat itu perusahaan kakek sudah bangkrut dan om tak enak hati untuk menerima uang dari papa kamu, om menjual hape yang om punya saat itu, sehingga komunikasi kita terputus" jeda nya


"om berniat akan pulang, apabila om sudah berhasil dan saat om merintis usaha dari bawah, om mendapat kabar orang tua kalian kecelakaan pesawat, harapan om hancur bahkan untuk mengingat kalian saja sudah tak ingat, waktu itu om sudah menikah dan anak om baru kelas 5 SD dan si kecil baru paud seperti nya, istri om selalu menguatkan om sampai sekarang om putuskan untuk mencari kalian" jelas nya


"maaf om telat mencari kalian, saat itu om juga hancur mendengar orang tua kalian sudah tiada, bahkan om waktu itu sampai depresi" kata om Radit menangis mengingat kenangan dulu


"iya nak, bahkan Tante harus mengirim papa nya Daniel ini ke psikolog,tapi Alhamdulillah dengan semangat nya dia mau sehat dan mau berhasil dan ingin bertemu kalian" tambah Tante Maya yang sedari tadi sibuk menyuapi putri nya


"bahkan Ken waktu itu sempat berpikir om sudah lupa sama kami, maaf om Ken sempat berfikir seperti itu"kata nya menyesal


"om maklumin Ken, terlebih kamu langsung menanggung asya yang masih SMP dan kamu masih kuliah" jawab om Radit


"om tau, asya sempat berpikir tadi om bakalan cerita yang pertemuan kita waktu di hotel itu" kata asya yang sudah lega


om Radit tertawa bersama istri dan bang Kendra sedangkan anak anak nya hanya melongo dengan mereka yang tertawa begitu pun asya


"kenapa malah ketawa?" tanya asya kesal


"om kamu pernah cerita, udah ketemu kamu tapi saat itu di bawa ke hotel karena ada urusan eh ternyata kamu kabur" kata Tante Maya masih dengan tertawa nya


"om sampai bingung nyari kamu, takut kamu tersesat atau apa, ternyata kamu memang kabur" timpal om Radit dengan sisa tertawa nya


"Tante bilang, wajar asya kabur, pasti mikirnya sudah kemana lah, asya sudah mulai dewasa pasti paham kalo di bawa ke hotel untuk apa" kata Tante Maya


"iya Tante asya takut banget waktu itu, apalagi ponsel sama dompet gak di bawa, untung waktu itu om dengan bodoh nya ngasih uang 200 rebu buat makan asya padahal asya sudah makan banyak di cafe" kata asya mengingat momen gila itu


"itu didikan Ken om, apalagi di jaman yang sudah seperti ini, Ken tak mau asya polos polos banget, makan nya Ken kasih tau perihal seperti itu" kata Kendra terkekeh


"bagus itu Ken, sebagai lelaki kita harus bisa melindungi wanita" nasihat nya


"terus om sekarang pindah atau bakalan pergi lagi?" tanya asya yang bingung


"om udah pindah dari taun kemarin, tapi om harus ngurus perpindahan dan juga sekolah anak anak, makan nya om baru bisa sekarang menemui kalian" jawab om Radit


malam ini asya merasakan seperti keluarga yang kembali, asya yang gampang akrab dengan semua orang membuat suasana hangat sudah seperti keluarga sungguhan


hanya seorang yang berdiam sedari tadi, dia sudah persis mirip arash yang kaku dan dingin


menurut cerita dari Tante nya, anak nya itu trauma dengan pembullyan saat di sekolah, hingga menyebabkan anak nya sulit untuk beradaptasi


apalagi pembullyan di luar negeri yang sampai tahap kriminal, hanya dorongan dari keluarga dan yang tersayang untuk mengobati masa trauma nya


"ini sudah larut malam, om ijin pulang, kasian putri om sudah tidur gitu" kata nya melihat putrinya yang tertidur di sofa


"iya om, asya juga besok sekolah" jawab bang Kendra


"kalian nanti ke rumah aja, pintu selalu terbuka untuk kalian" tambah Tante Maya


"makasih Tante, lain kali kita berkunjung ke rumah Tante" jawab Kendra


"kita pamit nya, jaga diri Ken"kata om Radit berpamitan


Daniel hanya melirik asya sekilas, saat mereka berlalu, sifat nya yang benar benar dingin semakin mengingatkan asya pada arash


"ayo kita juga pulang" ajak bang kendra pada asya


asya hanya mengangguk kan kepala dan menggandeng lengan Abang nya, jujur dia juga sudah sangat ngantuk saat ini


"bang.. jadi ke inget mama sama papa" kata asya berembun


"kita doakan saja dek, semoga mereka bahagia di surganya Allah" nasihat bang Kendra


mereka yang sedari tadi sudah di dalam mobil nya kini melajukan mobil nya menuju sekolah


...****************...


pagi ini di sekolah asya seperti hari kemarin, menjual minuman dari produk cafe nya bang Kendra


minuman yang tengah hits di kalangan para remaja dan harga nya yang di bikin miring oleh asya supaya cocok untuk para pelajar seperti dirinya


seperti biasa asya akan membagikan secara percuma kepada teman teman nya sekelas, tapi masih ada juga yang bayar, mungkin merasa tak enak


pertandingan kali ini untuk voli putri dan di awasi oleh tim basket dan akademis di wakilkan Nadya


asya yang hanya siswa seperti biasa, tak pandai dalam olahraga dan juga tak pandai dalam pelajaran, membuat nya lebih baik berjualan saja pikir asya


kali ini cuaca sangat panas dan penonton semakin semangat, terdengar dari ricuh riuh suara dari lapangan


"kali ini tak sebanyak kemarin saya" keluh vio saat pelanggan tak sebanyak kemarin


"kan lagi di lapang, ntar kalo haus juga bakalan kesini" kata Sasa yang sudah menghitung jumlah uang


"udah dapet berapa cin?" tanya Ririn


"150" jawab Sasa


"mami gue langsung shock saat bilang gue ikut jualan" kata vio membuat mereka berempat menengok ke arah nya


"emang kenapa?" tanya asya


"kenapa gak dari dulu coba, biar bisa ngurangin beban keluarga katanya" jawab vio menirukan perkataan maminya


mereka bertiga tertawa dengan perkataan vio tadi, ya vio yang selalu di manja maminya kini di julidin sama maminya sendiri,


vio memang dari kalangan atas, sehingga maminya selalu manjain dia, tapi selalu mendukung penuh apabila itu mengarah hal positif untuk anak nya


seperti yang kali ini mereka lakukan, memanfaatkan satu Minggu ini untuk berjualan karena tak mempunyai bakat yang bisa di ikut sertakan lomba


"gue gaji nya harus tinggi nih ya, secara anak mami tapi mau kerja" kata vio berbangga


bugh


"duit aja yang Lo pikirin" kata Sasa sedangkan vio hanya cengengesan