
Sasa terbangun dari tidur nya saat kantung kemih nya merasa penuh, di lirik nya teman satu ranjang nya itu belum ada di sisi nya
Sasa pun langsung bergegas menyelesaikan hajat nya terlebih dulu, setelah urusan nya selesai, Sasa langsung mengedarkan pandangan nya ke seluruh penjuru kamar
namun nihil, teman nya itu tidak ada di kamar nya, di gapai nya ponsel milik nya, niat hati ingin menelpon sang teman langsung di urungkan saat melihat ponsel milik asya berada tak jauh dari nakas yang sedang di charger
dengan gelisah Sasa langsung mendial nomor arash, berharap pemuda itu akan menjawab telpon dari nya
karena biasanya arash tak pernah menjawab telpon dari cewe lain selain asya dan Khanza tentunya
"angkat rash" gumam Sasa yang khawatir dengan teman nya itu
dan benar saja, arash tak menjawab panggilan dari nya, Sasa lupa mungkin saja arash sudah tertidur
sedangkan di kamar arash, dahi arash mengernyit kala teman dari pacar nya tengah menghubungi nya
dia tidak mau menerima panggilan nya itu takut akan menjadi masalah buat dirinya dan asya pikirnya
"hape Lo matiin anjir" keluh Rio terganggu mendengar suara berisik dari ponsel arash
arash lupa di kamar ini bukan hanya ada dirinya, ada Azka dan bian yang menjadi teman satu kamar mereka
dengan berat hati arash langsung menerima panggilan itu, karena sudah beberapa kali terus memanggil nya
"hallo" sapa arash
"hallo rash, asya ada sama Lo" kata Sasa langsung setelah panggilan nya di angkat arash
"asya? maksud nya?" tanya arash
"asya lagi sama Lo kan? dia belum balik ke kamar" kata Sasa
"tunggu? belum balik ke kamar? kan tadi gue udah pastiin asya masuk kamar sama kalian" kata arash yang mulai tak enak hati
"enggak rash, setelah beberapa lama Lo ngajak ketemuan sama asya kan? sampai saat ini asya belum kelihatan " kata Sasa
"gue gak ngajak ketemuan sama asya, asya gak sama gue" bantah arash
deg
jantung Sasa berdetak dengan kencang dengan penuturan dari arash
"tapi tadi Lo yang kirim surat dan ngajak ketemuan, dan ada nama Lo di ujung surat itu" kata Sasa
"seriusan, kapan asya pamit keluar nya" tanya arash
"jam sebelas" kata Sasa
arash semakin tak tenang, sekarang pukul 4 dini hari dan asya keluar dari jam sebelas
"gue ke sana sekarang" kata arash langsung menutup ponsel nya
arash tergesa gesa keluar menuju kamar dimana asya tempati
sudah ada Sasa yang menunggu di depan kamar dengan khawatir nya
"rash, asya mana?" kata Sasa setelah melihat arash datang
"gue gak ngajak ketemuan dia setelah nganter ke kamar, dan Lo juga tau itu" kata arash
"tapi surat itu, bentar" kata Sasa masuk ke dalam kamar nya
surat yang semalam Sasa lihat, dan untung nya surat itu masih berada di nakas dengan ponsel asya yang sedang di charger
"nih ras, ponsel asya ada di kamar dan ini surat dari Lo kan?" tanya Sasa
mata arash melotot dengan pesan dari surat itu, ada nama arash di ujung surat itu dan itu yang membuat asya percaya dengan surat itu
"ada yang gak beres, gue harus cari asya" kata arash
"gue ikut" kata Sasa menahan arash
"iya ayok" jawab arash
"gue bangunin dulu Ririn dan vio, supaya kita banyak yang bantu cari asya" kata Sasa
sedangkan di hutan, asya tengah tertidur bersandar di bahu Agam, cuaca dingin membuat Agam terbangun
"sya ujian nya udah reda, kita pulang yuk" ajak Agam
asya mengerjapkan matanya, di lihatnya suasana yang masih gelap asya baru ingat dirinya sedang terdampar di hutan
"Agam kenapa Lo bangunin gue pas masih gelap sih" keluh asya yang mulai ketakutan
"tenang sya, ada gue, jangan takut" kata Agam
"kita harus pulang, kalo teman teman ada yang sadar kita gak ada bisa repot urusan nya" lanjut Agam
"iya deh, yuk pulang" kata Agam
"bentar gue bikin obor buat penerang" kata Agam
Agam merobek bagian jaket nya, setelah itu di lilit kan di kayu, tujuan nya supaya jaket Agam yang berbahan parasut bisa menahan lama nya api di kayu yang Agam pegang
"ayo sya pegang gue" kata asya
dengan menurut asya memegang tangan agam, sedangkan Agam mulai berjalan di depan asya
untung nya Agam masih inget jalur pulang, dengan hati hati Agam memilih jalan yang tidak licin
asya hanya mengikuti Agam di depan nya, saat ini asya masih dalam ketakutan, Agam dapat merasakan nya
karena tidak terlalu memperhatikan jalan nya, kaki asya salah terjatuh pada lubanng, Agam juga ikut terjatuh karena tarikan dari pegangan asya
assshhh
"sya Lo gak papa?" tanya Agam panik
"kaki gue sakit gam" keluh asya
dengan tanah licin karena air hujan, membuat Agam beberapa kali terjatuh begitu pula dengan asya
tubuh nya sudah di penuhi dengan tanah basah, dan sekarang kaki nya terkilir
"awww" ringis asya kembali
"kenapa lagi Lo sya?" tanya Agam khawatir
"pipi gue kena apa gan, perih banget" kata asya
"hati hati sya, kita sudah tidak punya penerangan lagi" kata Agam pada asya
"Lo bisa jalan?" tanya Agam
"awwss, sakit gam" kata asya
"Lo naik di punggung gue, biar Lo gak salah injek lagi" kata Agam
dengan menurut asya langsung naik ke punggung Agam
entah sekarang pukul berapa, tapi suara kokokan ayam mulai terdengar
sedangkan di penginapan, dimana arash merasa kacau setelah melihat cctv
dimana di sebrang jalan depan dapat terlihat cctv jika asya berlari ke arah hutan, namun yang membuat arash kesal, tidak lama asya berlari kencang terlihat Agam dari arah penginapan mengejar asya
hanya itu yang arash lihat di cctv, namun yang membuat pertimbangan saat ini semua kelas XII akan pulang dari acara berlibur nya
para pembimbing pun mengatur kepulangan untuk yang lain, dan sedangkan untuk kelas XII IPA II hanya teman teman asya dan arash yang akan tetap standby
"bapak sudah minta bantuan orang untuk menelusuri hutan, namun mereka akan mulai di pagi hari, gimana menurut kalian?" tanya pak Satya selaku guru pembimbing
"kenapa gak sekarang aja sih? kalau gak bisa biar gue yang cari asya" kata arash
namun langkah arash langsung di tahan oleh Azka dan Rio, keadaan arash belum istirahat sama sekali takut nya malah arash yang nanti malah hilang
sedangkan Agam dengan tertatih terus melangkah dan mencoba untuk keluar dari hutan, meskipun dengan menggendong asya, Agam berusaha kuat dan terus berjalan di hutan dengan tanah yang kicin