
sore hari ini arash terasa dalam mimpi dimana papa nya banyak memberikan perhatian untuk nya, terlebih saat ini bunda dan ayah nya juga bisa memaafkan papa nya
seperti yang bunda nya dulu bilang, "sebenarnya papamu itu baik, kalo dia jahat, mungkin dia sudah menyuruh bunda untuk menggugurkan kamu semenjak masih dalam kandungan, tapi nyatanya dia sangat menginginkan kamu sampai sampai seluruh kekayaan nya di atas namakan nama kamu" nasehat bunda nya dulu teringat dalam pikiran nya
arash membenarkan perkataan bundanya, meski cara papa nya dalam hal mendidik itu sangat lah tidak patut untuk di conto, tapi hasilnya saat ini dengan banyak nya les yang dia kerjakan menjadi pintar dan mempunyai ilmu bela diri yang bagus
arash selalu bertahan dengan papanya juga karena selama ini papanya belum pernah serius dengan seorang wanita meski dia malah menggunakan wanita malam untuk menuntaskan hasratnya
meskipun banyak sekali pergelonjakan dalam hati banyak nya rasa kebencian terhadap papanya, tapi hati kecilnya selalu mengingatkan untuk bisa memaafkan
arash sampai terkekeh melihat papanya yang hanya bisa pasrah saat dengan wanita pilihan nya itu
seorang Hendra Keinov Wilmar itu yang selalu tegas dan terkesan galak di perusahaan seperti singa kini menjadi kucing imut saat bersama wanita yang di cintanya
"arash kamu tertawa" kata papa nya terkejut, membuat semua atensi nya kini mengarah pada arash yang langsung menormalkan kembali wajah nya
"sungguh nak, hati papa langsung adem melihat senyum kamu" lanjut papanya dengan mata berkaca-kaca
memang kali ini papanya arash melihat secara langsung senyuman kecil dari anak yang sudah ia telantar kan kasih sayang nya
hati papa Hendra kini tengah campur aduk antara senang dan rasa penyesalan teramat dalam mengingat setiap perlakuan nya pada arash
"maaf kan papa nak" lanjut papa nya menunduk membuat suasana yang tadi penuh dengan tawa kini menjadi melow
arash serasa merasa bersalah dengan suasana saat ini, dengan langkah gontai arash mendekat ke arah papanya
grep
"sudah lah pa" kata arash tak melanjutkan perkataan nya karena terasa tercekat di tenggorokan nya bersama rasa sakit hatinya
bohong jika arash sudah melupakan rasa sakit atas sikap papanya, tapi arash tak mampu untuk membalas semua perbuatan papanya
didikan bunda nya yang lembut, membuat arash mampu menjadi dewasa di usia nya yang masih remaja
"kapan kita makan, Khanza udah lapar nih" celetuk Khanza mencairkan suasana yang melow menjadi hangat kembali
arash menyunggingkan senyum tipis nya saat melihat kebersamaan yang belum pernah ia rasakan selama ini
pagi hari nya asya memastikan tatapan siswa sekolah yang sudah tak lagi mencibirnya, entah apa yang bela lakukan untuk menutup mulut mereka tapi asya yakin ada Bagas sang ketos yang masih berpengaruh di sekolah
dengan senyum kecilnya, asya melenggang pergi ke kelas nya dengan suasana hati ceria seperti biasanya
"pagi asya" bisik di samping telinga nya membuat asya berhenti berjalan
"kenapa bengong begitu" lanjutnya sambil menampilkan senyum nya
sadar akan terkaget nya, asya langsung berjalan tanpa menghiraukan sosok laki laki yang terus mengejarnya
"gue gak nyangka, ternyata Lo pro juga" kata nya membuat asya mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan perkataan laki laki itu
"sya" cegatnya memotong langkah asya dan langsung memojokkan asya pada dinding
"kenapa sih Lo?" sentak asya
"wow.. yang galak selalu nikmat, gak salah pilih ternyata si arash itu"
"maksud Lo apaan sih" kata asya yang sudah kesal dengan cowok di depan nya
" berapa tarif tubuh Lo?" bisik nya membuat muka asya langsung merah padam
"gue bahkan bisa ngasih lebih dari yang mereka kasih ke Lo" lanjutnya
plak
karena tak terima dengan ucapan nya asya menampar cowok itu dengan sorot mata yang tajam
"dasar ******" teriak nya di muka asya
bugh
satu pukulan langsung melayang di rahang lelaki tadi, bukan asya pelaku nya tapi arash yang baru datang dan langsung memukul nya saat cowok itu meneriaki asya
"kenapa Lo marah?" kekeh nya, "****** Lo lumayan juga" kata nya sambil mengelap darah di ujung bibirnya sambil duduk
bugh
arash terasa sangat emosi saat cowo itu mengucapkan kata kata yang tak pantas untuk asya
asya langsung memeluk lengan arash saat arash akan memukulnya kembali
"sudah lah rash, kita ke kelas" ajak asya sedikit menyeret arash yang masih menatap cowo itu dengan sorot matanya yang tajam
"dasar pengecut" teriak nya terkekeh
asya seakan menulikan pendengaran nya dan segera membawa arash ke dalam kelas, asya bergidik ngeri saat bila arash dalam mode sangar nya
teringat dengan perkelahian nya dengan cowok tadi di lapangan beberapa bulan lalu, membuat asya bergidik ngeri dengan kebrutalan arash
"Lo yang tenang rash" kata asya mendudukan arash di kursinya dengan dirinya yang menarik keluarkan nafas
"kenapa nih?" kata Azka menghampiri arash saat melihat muka arash yang membuat seisi kelas merasa takut dengan muka seram nya
"tadi arash nonjok anak IPS" kata asya
"kenapa lo?" tanya Azka pada arash yang sudah penasaran
"dia tadi memaki asya dengan sebutan ******" kata arash dingin
sontak Azka melotot dengan ucapan arash, dirinya juga marah saat teman nya di maki orang apalagi dengan sebutan yang sepatutnya untuk teman nya
wajar arash terlihat begitu marah, pikir Azka
"siapa?" tanya Azka yang juga sedang menekan rasa amarah nya
"Agam kelas IPS" kata arash membuat Azka semakin tersulut emosi
"sudah lah guys, tenangkan diri kalian" kata asya pada mereka
"Lo terima di maki begitu?" kata azka tak habis pikir
" jangan di sekolah deh kalo mau bikin keributan" kata asya menengahi
diam diam arash tersenyum miring atas ucapan asya, memang akan bebas memberikan pelajaran pada cowo sialan itu di luar sekolah pikir arash
asya hanya bergidik ngeri dengan arash, tapi dia juga berusaha menenangkan arash saat ini
"gue harap, untuk hari ini Lo gak bikin masalah rash" kata asya menggenggam tangan arash
arash hanya memalingkan muka saat di tatap asya , bisa bisa arash sampai salah tingkah di saat dirinya sedang marah
asya memang membuat hati arash bisa jungkir balik bila di depan nya
"ekhem"
"hargai gue, masih ada manusia di depan kalian" kata Azka yang di angguki Ririn dan yang lainnya yang sedari tadi melihat mereka tanpa bicara
begitu pula dengan seisi kelas melihat mereka tanpa kata, melihat muka arash yang sedang di liputi amarah nya membuat mereka takut