
weekend ini asya hanya berlari sendiri, kakak nya yang sedang bucin malah malas menemani nya untuk berolahraga
"kesel banget sih bang Ken" gumam asya yang sedang beristirahat di bangku taman
"asya" sapa seseorang
"arash, Lo di sini?" tanya nya "sama Khanza?" lanjutnya
"sendiri, Khanza di rumah ayah nya sudah pulang, mana mau dia di ajak olahraga kaya gini" kata arash terkekeh mengingat tingkah manja adik nya itu
"Khanza manja banget ya orang nya?" tanya asya yang di jawab anggukan kepala oleh arash
"maklum sih anak cewe satu satu nya pasti di manja" kata arash memandang jauh ke depan mengenang indah nya hidup bersama keluarga Khanza, ayah Khanza meskipun bukan ayah kandung nya tapi selalu perhatian layaknya anak sendiri
"tapi Lo hebat rash" kata asya membuat arash menoleh dan menaikan satu alis nya
"Lo masih bisa sabar dengan kenyataan hidup yang ada, kalo gue mungkin udah nyerah" kata asya
"Tuhan pasti memberikan ujian pada umatnya karena Dia tau umatnya mampu sya, Lo juga hebat di umur masih belia tapi harus mandiri dan tak mengeluh keadaan apalagi tanpa orang tua" jelas arash
"benar kata Lo rash, di dunia ini siapa sih yang tidak punya masalah?" kata asya yang di angguki oleh arash
"gue mau ajak Lo, mau ikut gak?" tanya arash
"kemana?" tanya asya
"ikut aja dulu" kata arash langsung menarik tangan asya
tanpa ragu lagi asya memeluk perut arash saat mereka sudah ada di motor arash
arash ingin sekali menghentikan waktu saat ini di pagi hari cerah apalagi melihat senyum cerah asya
motor sport milik arash berhenti di sebuah rumah besar milik arash
"ayo" kata arash menggandeng tangan asya
"ini rumah Lo rash? gede banget" kata asya kagum melihat lihat rumah arash
"bukan sya ini rumah bokap" jawab arash tersenyum tipis
"sama aja dodol" kata asya memukul lengan arash
arash membawa nya ke ruangan dimana tempat karya arash dan beberapa kamera milik arash
"wah gila rash" kata asya kaget saat melihat isi ruangan nya
"video Lo juga udah gue edit sya" kata arash langsung melihatkan layar laptopnya
"wah gila bener bener ahli Lo rash" kata asya melihat video yang sedang di putar
arash tersenyum karena hanya asya orang yang memuji karya nya selain asisten rumah dan keluarga Khanza
"gue mau mandi dulu, Lo bisa liat liat dulu" kata arash yang di jawab anggukan kepala oleh asya
asya sangat terpesona dengan foto foto hasil editan arash dari banyak nya foto yang arash ambil kebanyakan foto Khanza dengan seorang seorang wanita paruh baya yang asya yakini ibunya dari Khanza dan arash
arash terlihat senyum sempurna di keluarga khanza, senyum yang belum pernah asya lihat secara langsung
kandung kemih nya terasa penuh, asya memandang pintu tapi belum ada tanda tanda arash kembali
"mending keluar saja dulu, minta ijin pada orang yang di rumah ini" gumam asya keluar dari ruangan arash
seorang wanita paruh baya kaget melihat asya keluar dari ruangan khusus anak majikan nya
"bi maaf toilet sebelah mana ya?" tanya asya sopan
"eh.. sebelah sini neng" jawab nya sambil mengantar asya ke toilet
sedari tadi wanita paruh baya itu terlihat panik dengan adanya seorang gadis yang bisa di perkirakan teman anak majikan nya, terlihat dari pakaian yang asya kenakan hanya baju olahraga biasanya kalo pacar itu kan berpenampilan yang rapih
"bibi nungguin? maaf bi" kata asya canggung
"kenapa bi?" tanya asya
"a-anu neng- kata bibi panik
"siapa bi?" kata seorang paruh baya dengan suara tegas nya mengagetkan asya dan bibi
"halo om saya asya teman nya arash" kata asya mendekat ke arah lelaki paruh baya berniat mau menyalimi nya
tangan asya di hempas membuat asya kaget, sedangkan sang bibi itu terlihat panik
"siapa yang ijinkan kamu menginjak rumah saya?" kata papa arash dengan suara menggelegar
asya takut, baru kali ini niat baik dan sopan nya malah di balas dengan bentakan
"maaf om" kata asya bersuara
"saya tidak pernah mengijinkan anak saya punya teman apa lagi seorang wanita seperti kamu, keluar kamu" teriak nya membuat jantung asya berdetak kencang
"ta-tapi om, saya teman nya arash, putra om" jawab asya gugup
"saya bilang kamu keluar ya keluar" kata nya melotot
"keluar kamu, dan jangan pernah menginjakan kaki ke rumah ini lagi" bentak nya menyeret asya
"om," tahan asya tapi tak di dengar lelaki paruh baya itu
"papaaaa" teriak arash dari arah tangga berlari menuju asya
"jangan pernah ganggu teman arash" kata arash berteriak
"berani kamu teriak di hadapan papa?" tanya nya
"arash selalu nurutin kemauan papa tapi stop jangan ganggu teman teman arash" kata arash
"inget kamu arash, sebentar lagi kamu akan menjadi CEO besar, hentikan bergaul dengan orang orang yang tak berguna apalagi seperti keluarga ibu mu" bentak nya
"papaa" bentak balik arash
"udah arash bilang jangan menghina ibu arash" teriak nya di hadapan papanya
plak
satu tamparan mendarat di pipi arash membuat asya yang di belakang arash terkejut bukan main melihat siaran langsung drama keluarga
asya langsung di genggam kuat oleh bibi asisten, takut nya asya terkena amukan majikan nya
"sudah berani kamu teriak di hadapan papa" bentak nya
"begini kamu sekarang demi ibu kamu yang sialan itu sekarang kamu berani teriak di hadapan papa" bentak nya lagi
"bukan bunda yang membuat arash seperti ini tapi papa" teriak nya lagi
plak
satu tamparan lagi mengenai pipi arash dan asya yakin bibir arash terluka
"lagi pa, lagi papa tampar arash kalo bisa papa bunuh saja arash sekarang" teriak arash membuat tangan papa nya terhenti saat hendak akan memukul nya kembali
"seharusnya papa sadar akan sikap papa, arash selalu nurutin kemauan papa dari les ini itu sampai latihan bela diri arash terima tapi arash mohon jangan sentuh orang orang terdekat arash apalagi bunda dan keluarganya" murka arash membuat papanya terdiam
"ayo sya aku antarkan pulang" kata arash menggandeng tangan asya
"arashhh kembali kamu" teriak papanya tapi tak di hiraukan arash
"rash Lo balik saja ke rumah, biar gue pulang sendiri" cegah asya
"gue yang bawa Lo kesini, dan gue juga yang harus nganterin Lo" kata arash sembari memakai helm nya
tak ada perkataan sepanjang perjalanan, arash dengan pikiran nya dan asya dengan pikirannya sama sama bingung terlebih asya yang sudah melihat kejadian yang menimpa arash