
setelah acara malam arash mengantarkan asya ke kamar yang di tempati arash dan teman teman nya, terasa berat bagi arash untuk meninggalkan asya malam ini, bahkan arash tak rela untuk melepas genggaman tangan nya
"besok lagi ngebucin nya, sekarang waktunya tidur" cibir Ririn
asya hanya terkekeh dengan cibiran Ririn, dengan berat hati arash merelakan kekasih nya itu untuk tidur bersama teman teman nya
"gue heran sama si arash, gak ada bosen bosen nya apa tuh orang" kata vio yang sudah menguasai tempat tidur
"ya nama nya juga lagi anget anget nya vio, Lo aja yang belum ngerasain gimana rasanya saat sudah bucin" kata Sasa
"anjir... Lo kalo ngomong bikin sakit nih hati ya" kesal vio
"udah woy, ayok tidur" kata Ririn ikut dalam ranjang yang di tempati vio
sedangkan asya hanya geleng geleng kepala mendengar mereka ribut, selalu saja ada hal yang di ribut kan
kamar yang di tempati asya memiliki dua ranjang dan masing masing ranjang di isi dengan dua orang, dan kebetulan yang beruntung satu kamar mereka isi dengan satu geng nya
tak lama dari Ririn tertidur suara ketukan membuat asya dan Sasa yang masih belum tertidur langsung saling pandang
"biar gue yang buka aja" kata asya melangkah ke arah pintu nya
tidak ada siapa siapa saat pintu kamar asya buka, namun kaki nya menginjak sesuatu yang membuat asya penasaran
sebuah amplop putih yang asya pegang membuat Sasa yang melihat nya juga penasaran
"coba buka sya?" kata Sasa
dengan perlahan asya membuka isi Dalama amplop putih, dan mata asya dan Sasa saling pandang saat ternyata isi nya hanya selembar surat
"temui aku di depan hotel ini tepat pukul 11.30"
"ini dari arash sya?" tanya Sasa
"iya, nih di bawah nya ada nama nya" kata asya menunjuk nama arash di pojok bagian bawah surat itu
entah lah, Sasa merasa itu bukan dari arash, karena teman nya itu baru saja di antar arash, masa sudah mau ngajak keluar lagi
namun Sasa hanya diam karena melihat antusias dari asya yang mendapat surat yang kata nya dari arash
"mungkin arash mau ngasih kejutan"
"gue harus apa?"
"ah so sweet banget sih arash"
kata kata asya membuat Sasa terdiam dengan penuturan gadis yang di depan nya
"coba tanya dulu arash nya sya? apa bener itu dari arash" kata Sasa
dengan menurut asya langsung menelpon nomor kekasih nya, namun ternyata nomer telpon uang di tuju sedang tidak aktif
"ah mungkin arash sedang nyiapin kejutan nya"
"ouh atau mungkin arash sedang gugup"
Sasa hanya langsung merebahkan tubuhnya dengan segala pemikiran nya, meninggalkan asya yang langsung sibuk berdan dan dan berceloteh tentang gimana arash
"jangan lama lama dua, hati hati Lo" kata Sasa dan langsung memejamkan mata nya
Sasa menghilangkan pikiran buruk nya pada sahabat nya, emang mungkin saja surat itu dari arash yang ingin memberi kan asya kejutan pikir nya
hingga waktu yang sudah di sepatu itu tiba, dengan gontai asya berjalan menuju depan hotel yang di tempati nya
melupakan rasa takut yang selama ia rasakan jika berjalan di tengah malam ini, apalagi sendirian
hingga di jalan asya tak menemukan tanda tanda arash akan datang, hingga netra nya menangkap sosok yang paling dia takuti
di seberang sana sosok berbaju putih panjang dengan rambut yang menjuntai panjang yang menutupi rambut nya itu membuat asya ketakutan dan langsung berlari
dan sial nya asya malah berlari ke arah hutan, tanpa melihat dan memikirkan dimana dia berada saat ini
sosok itu yang akan mengikuti asya untuk terus menakuti asya langsung terhenti saat seorang pemuda mengejar asya
"ada orang, mending kita langsung kabur, takut ketauan"
sedangkan pemuda tadi yang melihat asya berlari, langsung berusaha mencari asya kemana hadis itu pergi
"asya" teriak nya
"asya" teriak nya lagi
namun asya tak menghiraukan teriakan itu dan malah langsung cepat berlari dengan rasa takut
sampai asya sadar kini dirinya berada di dalam hutan membuat nya histeris ketakutan, tak ada cahaya yang membuat asya semakin takut
"hiks.. arash.." gumam asya ketakutan
"asya"
"asya"
asya yang mendengar teriakan seseorang pun langsung mendongakkan kepala nya
"asya"
"asya"
beneran asya mendengar seseorang yang tengah memanggilnya, dirinya langsung berdiri melawan rasa takut nya supaya bisa bertemu dengan orang
"gue di sini"
"siapapun tolong gue" kata asya berteriak
Agam yang mendengar jawaban dari asya langsung mencari dimana sumber suara tersebut
minimnya cahaya, membuat Agam kesulitan mencari di mana asya
"sial, gue gak bawa hape"
"sya dimana?" teriak Agam
"gue Agam, dimana Lo sya" teriak asya
asya yang mendengar teriakan yang ternyata dari agam, ada rasa takut untuk menemui Agam namun asya tepis rasa itu, asya membuang segala pemikiran kotor nya
"jedarrrrr"
suara petir langsung membuat asya teriak ketakutan, seperti nya hujan akan turun dan asya masih di dalam hutan
"Agam tolongin gue hiks" teriak asya dengan tangisan nya
asya sangat takut dengan gelap, di tambah sekarang kondisinya dia di dalam hutan tanpa cahaya dan sendirian
tes
air hujan mulai menetes, asya semakin histeris ketakutan dengan di tambah nya gerimis yang mengundang
"agam.. tolong gue" lirih asya di sela sela tangis nya
"asya.."
"asya"
suara teriakan itu semakin mendekat membuat asya ada harapan, setidak nya asya bisa keluar dari kegelapan hutan ini
"Agam gue di sini" teriak asya
Agam yang mendengar suara teriakan asya langsung bergegas mencari dimana sumber suara nya
"asya"
grep
asya langsung memeluk Agam saking takut nya dia di dalam hutan itu
Agam mematung saat asya memeluk nya, dia langsung memikirkan perasaan arash, namun kondisi nya saat ini asya bener bener sedang ketakutan, terlihat dari bahu yang bergetar hebat
"Agam gue takut gelap, tolong gue hiks" kata asya sembari menangis
"oke sya, kita harus cepat keluar dari hutan ini, sebelum hujan tambah gede" kata Agam melepaskan pelukan nya
Agam langsung menggenggam tangan asya dan mulai mencari jalan keluar dari hutan itu
namun hujan semakin lebat membuat Agam memutuskan mencari tempat berteduh
"kenapa ke sini gam?" tanya asya melihat saung yang gelap
"kita harus neduh sya" jawab Agam
"tapi gue takut gam" kata asya melihat sekeliling nya yang gelap
"ada gue" kata Agam
Agam mencari sesuatu yang bisa di bakar supaya bisa menjadi penerang nya, tak mungkin dia harus nyari kayu di tengah hujan begini
netra Agam menemukan kursi dari kayu, tanpa pikir panjang Agam mencoba merobohkan nya supaya bisa di bakar, beruntung nya Agam membawa korek api, ya karena tadi Agam ke luar kamar untuk merokok
"Agam nanti yang punya marah" kata asya
"urusan yang punya urusan nanti sya, yang penting kita butuh penerangan di sini, dan Lo mulai kedinginan" kata Agam
asya tak melawan lagi saat Agam berusaha membuat api