
pagi ini asya merasakan arash berbeda setelah hari weekend kemarin
luka yang masih belum menghilang masih terlihat jelas di wajah tegas nya tapi tak mengurangi kadar ketampanan nya
"rash" sapa asya setelah mereka ada di dalam kelas
"rash" kata asya asya lagi setelah tak ada jawaban dari arash
"rash kata asya lagi sembari menyentuh tangan arash
reaksi arash langsung menghempaskan tangan asya
"bisa gak sih jangan ganggu gue" teriak arash membuat atensi teman sekelas memperhatikan arash dan asya
"Lo tuh kenapa sih rash?" tanya asya kesal
"gak usah peduli sama gue" kata arash meninggalkan kelas
"arashhh" teriak asya tapi tak di gubris arash
"waduh papa sama Mama lagi berantem guys" celetuk Ucup yang langsung di tampol mulutnya oleh Rio
"diem deh cup" kata Rio
"arash kenapa sya?" tanya Ririn pada asya yang masih memperhatikan pintu kelas
"arash beda sya" kata Azka yang ada di samping nya "tadi Khanza juga di bentak sama dia" kata Azka membuat asya langsung melirik nya
"nanti siang kita ke rumah Khanza ka, seperti nya arash menjauhi kita demi kebaikan kita " kata asya menerawang karena arash berbeda setelah kejadian kemarin di rumah papanya arash
"Lo tau sesuatu?" tanya Azka menyelidiki
"gue cerita nanti di rumah Khanza" kata asya yang di angguki oleh Azka
asya tidak bisa fokus belajar karena arash tidak ada, baru kali ini arash yang pendiam berubah semakin dingin dan emosian
asya kena marah guru pelajaran karena murid nya ada yang bolos tapi tak di hiraukan asya sedari tadi asya selalu berfikir hal negatif yang terjadi pada arash saat ini
"semoga prasangka ini tak benar" kata asya menggelengkan kepala
"sya ayo ke kantin" kata Ririn mengajak asya dan di jawab anggukan kepala oleh asya
baru juga asya tenang beberapa saat setelah menyuapkan beberapa sendok bakso, asya langsung dapat laporan dari temennya kali arash berkelahi di lapangan
asya langsung berlari menuju lapangan menerobos kerumunan siswa yang malah menonton aksi arash dan salah satu anak IPS tidak ada yang berniat untuk memisahkan mereka
"arash stop" teriak asya panik tapi tak di gubris arash malah semakin membabi buta menghajar lawannya
"arashhh" teriak asya
"arash " bentak asya tepat menghadang pukulan arash
asya memejam kan matanya takut saat dia dengan berani menghadang pukulan arash yang berhenti tepat di wajah asya
arash berdecak saat asya ada di depan nya membuat asya langsung membuka matanya
"rash luka Lo" kata asya ingin menyentuh luka di pipi arash tapi arash langsung pergi begitu saja membuat asya kesal
dengan memejamkan mata sejenak asya langsung berteriak untuk membubarkan para siswa yang menontonnya
"heh Lo urus teman lo, obatin luka nya" titah asya pada salah seorang teman dari orang yang di pukul arash
asya bernafas lelah setelah memasuki kelas nya, teman sekelas nya prihatin dengan lelah nya asya kali ini
"si arash kenapa sih sya?" tanya Azka yang di jawab gelengan kepala dari asya
"gue berfikir arash gak mungkin bisa mukul orang kalo emosi nya gak di pancing duluan, bener gak sih?" kata Ririn membuat asya meng ngangguk
"masalah arash berat guys" kata asya membuat mereka tanda tanya
"tes .. kepada siswi yang bernama asya Putri Amelia kelas XII IPA II harap bisa ke ruangan kepala sekolah" kata seseorang menggunakan micropone sekolah
"baru juga gue bernafas lelah" gumam asya tapi tetap juga dia berjalan ke luar kelas
sampai di ruangan kepala sekolah, sudah ada arash sang pelaku perkelahian bersama lawan nya yang bernama Agam
sedari tadi asya mendengarkan cerita Agam yang memojokkan nama arash
"apa ada bukti atau saksi kalau arash yang memulai terlebih dahulu" tanya asya yang ingin melindungi nama arash
"ada, kedua teman saya yang melihat dari awal" kata agan berseringai
Bu Ratna yang sedari tadi ada di samping asya langsung menggelengkan kepalanya
asya dan Bu Ratna tak dapat membela arash terlebih arash malah diam diri sedari tadi
"kamu dari mana saja asya, kenapa kamu tidak bisa mencegah perbuatan arash?" tanya nya
"iya pak, maaf saya salah" kata asya langsung
"lain kali tolong perhatikan lagi teman teman kamu mulai sekarang" kata kepala sekolah yang di jawab anggukan kepala oleh asya
arash yang galau dan ingin emosi setelah asya di salahkan dia langsung nekat keluar dari ruangan kepala sekolah meski masih banyak orang di sini
"arash kembali" kata Bu Ratna tapi tak di gubris asya
setelah berpamitan asya langsung keluar dan mencari arash ke tempat biasanya
bahkan chat grup kelas pun ramai dengan pencarian arash di mana
"dimana sih Lo?" kata asya bergumam
karena waktu sebentar lagi giliran belajar kembali akhirnya asya memutuskan untuk kembali ke kelas nya
di kelas nya sudah di sambut oleh teman temannya yang penasaran kenapa asya yang ikut di panggil kepsek lagi
"gue yakin sya, ada yang tidak beres " kata Azka emosi
emosi karena tadi Khanza nya di bentak dan sekarang dia nambah masalah buat asya
"entah lah ka, yang penting jangan lupa nanti kita ke rumah Khanza " kata asya kepada Azka
sedangkan arash yang kini sedang berada di roof top mata nya terus menatap jauh dari bawah entah apa yang dia lakukan
tak ada perkataan dari mulut nya hanya saja sekarang hati arash yang berontak
mata nya menajam mengingat tadi lawan nya malah menyudutkan nya untuk di hukum
arash semakin benci dan kesal pada orang tadi yang kini membuat nya di hukum
sampai pelajaran berakhirpun asya belum juga menemuka arash yang kini entah dimana
asya dan teman temannya langsung keluar kelas dan menghampiri kendaran masing masing
dengan menjinjing tas milik arash yang di yakini tas yang di pakai arash sangat mahal
tak tau saja mereka bahwa semua itu di berikan dari papa nya arash
"rash " kata asya mengejarnya tak kapok
"ouh ya ini tas punya Lo kan rash?" tanya asya tapi tak ada jawaban dari arash
"rash Lo kenapa sih?" tanya asya kesal memegang tangan arash hingga arash langsung menghempaskan tangan asya
"kenapa Lo kasar sih rash?" tanya asya tapi tak di jawab arash
"rash" kata asya memohon
"gue udah bilang jangan ganggu gue, bisa gak sih hah" teriak arash
"so sorry rash, gue cuma balikin tas Lo" jawab nya tergugup