Arasya

Arasya
fitnah kejam



jam istirahat membuat semua orang berbondong bondong menuju kantin, tapi sekarang asya harus menahan rasa antusias nya berada di kantin dan memilih makan bekal di dalam kelas


"sya beneran gak ke kantin?" tanya Ririn yang di angguki asya


"gue belum bisa makan pedas Rin, kalo gue ke kantin malah nyiksa gue Rin, tau sendiri kan gila nya gue kalo sudah ke kantin" kata asya yang di angguki Ririn


"kita mau beli makanan dulu deh, nanti gue makan di sini" kata Ririn yang di angguki oleh asya yang sibuk dengan membuka bekal nya


"widih .. masakan rumahan" kata Azka yang malah nimbrung di meja arash


"Rin nitip, bakso" kata Azka yang di angguki oleh Ririn


"arash sekalian mau nitip gak?" tanya Ririn karena arash masih duduk di kursi nya


"Lo beli cemilan aja, apa ke" kata Azka yang menjawab sedang kan arash hanya diam


"okeh deh" jawab Ririn dan berlalu bersama vio dan Sasa


"sya bagi dong" kata azka membuat asya berbalik


"tumben gak pada ke kantin?" tanya asya tapi memindahkan makanan nya ke meja arash


"pengen nanya nih orang, udah gak takut dengan cctv nya" kata Azka terkekeh


asya langsung menghentikan makan nya dan melirik arash dan Azka bergantian, tapi matanya langsung menghentikan kontak mata nya saat arash menatapnya penuh


asya tak menghiraukan pertanyaan itu bahkan arash juga tidak menjawab nya, hanya sibuk menatap nya membuat asya yang sedang makan tak karuan rasanya


"Lo bawa bekal banyak banget" kata Azka sambil menyomot Nugget di kotak bekal asya


"hemmm Abang gue protek banget setelah gue sakit, padahal gue sudah merasa baikan" kata asya langsung fokus dengan makanan nya


"yuhuuuu makanan kalian" sela Ririn yang datang bersama yang lain


mereka kini fokus dengan makanan nya bahkan arash pun tak sungkan menyomot makanan dari kotak bekal asya


jam istirahat tinggal 30 menit lagi, tapi kelas kini sudah penuh tak seperti biasanya


tim cowo sudah dengan lagu nya, dan ada pula yang sudah sibuk dengan game


"sudah ganti baju nya" tanya Rio pada Nadya yang di angguki Nadya yang langsung duduk di kursi nya


Rio menjadi gelisah di belakang Nadya,seperti mau ngomong tapi tak bisa untuk di curahkan


gerak gerik Rio membuat asya curiga, karena sedari tadi asya memperhatikan teman sekelas nya itu


"itu si Rio kenapa?" tanya asya pada Azka membuat mereka yang dekat asya langsung memperhatikan Rio yang memang seperti tengah gelisah


benar, pergerakan Rio membuat mereka yang menyadarinya cu niriga, tangan nya seperti ingin menepuk pundak Nadya tapi dia urungkan, dan malah balik lagi


"seperti nya lagi mau nembak Nadya" kata Ririn membuat asya dan yang lain mengangguk


"dah lah, biarin .." kata Azka


"woy ... kalo suka tinggal ngomong, apa susah nya?" kata asya membuat semuanya kaget terlebih Rio yang akan menepuk bahu Nadya


"iya ya mah, cupu banget" tambah bian langsung membuat mereka tertawa


Rio kesal langsung menghampiri asya, asya pun sadar saat Rio melangkahkan kaki nya kepada asya


"huwaaa Azka tolongin gue" kata asya langsung menuju Azka, tapi Azka malah berdiri dan mendorong asya pada arash


hap


arash menangkap asya dalam pelukan nya, asya langsung mengumput di tubuh arash saat melihat Rio yang hendak menyentuh nya


"huwaa arash tolong" kata asya langsung memeluk arash


"malah ngumpet Lo sya, kaya cewe" kata Rio yang kesal


"lah emang cewe" kata Azka yang langsung duduk kembali


mereka tak menyadari asya yang kini tengah duduk di pangkuan arash dan di himpitan nya pada dinding oleh arash


mata arash terus menatap nya membuat asya terdiam dalam pikiran nya


"woy... malah mesum" kata Rio membuat asya tersadar


dengan gugup asya langsung berdiri memperbaiki tubuh nya dan hati nya yang sudah bergetar hebat


"Rajia lagi woy..." seru Angga yang baru datang dan langsung masuk ke kelas


semua nya ke heranan saat kata Rajia, karena kemarin OSIS telah merajia nya


dan benar saja ada beberapa anak OSIS dan guru BK yang sudah datang ke kelas


"mohon maaf sebelum nya, kami akan melakukan Rajia ulang, mohon bantuan nya untuk semuanya berdiri di depan kelas" perintah Bagas selaku ketua kelas


dengan menurut semuanya nya langsung berdiri di kelas, meski dengan keheranan asya pun mengikuti dengan yang lain


anggota OSIS langsung menggeledah tas satu persatu, mereka sedikit tenang karena hari ini tidak ada yang membawa hal aneh


"ini tas siapa?" tanya anggota OSIS berteriak membuat asya khawatir


"saya" kata Nadya mengangkat tangan nya


"ini punya kamu?" tanya anggota OSIS dengan mengangkat sebuah alat tipis berwarna biru dan putih


sontak semua orang terkejut dengan alat yang di tunjukan anggota OSIS itu, bahkan asya sampai menggeleng kan kepala nya


"bukan" kata Nadya langsung menggeleng menyangkal itu milik nya


Rio langsung merebut alat itu dari tangan anggota osis, mata nya langsung terbelalak saat garis dua berwarna merah terdapat pada alat itu


Rio bukan cowo bodoh, dia tau artinya itu dan langsung menatap Nadya seperti tak percaya


"bukan punya gue, bahkan saat ini gue dapet" kata Nadya yang sudah melelehkan air matanya


"justru itu membuat kita semakin kuat dengan dugaan nya karena kami menemukan janin di toilet setelah kelas kalian menggunakan nya mengganti baju" kata OSIS membuat mereka tambah terkejut


Nadya tak berdaya, dan terus menggelengkan kepala nya berharap mereka mempercayai nya


Nadya menghampiri asya, berharap asya membelanya, karena itu bukan milik nya


"sya tolong, itu bukan milik gue" kata Nadya dengan menangis dan menggeleng kan kepalanya


asya tersadar akan keterjutan nya dan menggenggam tangan Nadya


"sebaiknya kita bicarakan di ruang BK" kata guru BK langsung keluar kelas


semua orang terkejut dengan kejadian ini, bahkan sudah banyak siswa lain yang menegok di jendela mencoba mencari informasi


Azka langsung menyuruh teman laki lakinya untuk membubarkan siswa yang tengah menguping di kelas nya


"nad" lirih Rio membuat Nadya menengok ke arah nya


"katakan pada gue, kalo itu bukan punya Lo" kata Rio dengan mata yang sudah berkaca kaca


"itu bukan punya gue Yo, Lo tau gue kan? gue bahkan tidak punya pacar Yo" kata Nadya yang sudah menangis sesenggukan


Rio langsung memeluk nya erat dan memberikan kenyamanan untuk gadis yang kini di timpa masalah


"lebih baik kita selesaikan di ruang BK" kata Azka yang di angguki kepala oleh rio