Arasya

Arasya
kerisauan arash



arash sudah bersiap dengan seragam sekolahnya, dengan didikan papanya yang keras, tak susah untuk arash bisa mengurus dirinya sendiri


arash terkaget setelah sampai di meja makan, papanya yang sudah menyiapkan sarapan untuknya dengan sambutan senyuman yang hangat


"pagi nak" sapa papa Hendra dengan senyum hangat di bibirnya


arash yang masih curiga dengan papanya itu, tak menghiraukan dengan sikap papanya yang kali ini lembut padanya


papa Hendra tersenyum getir saat sapaan nya di hiraukan anaknya, tapi dia sadar bahwa selama ini dia telah melukai mental dan hati anak nya itu


"siapa wanita itu yang bisa merubah papa?" tanya arash langsung sambil mengunyah rotinya


deg


papa Hendra langsung terdiam dengan ucapan arash, rasa bersalah nya semakin dalam apalagi selama ini dia selalu berganti wanita masuk ke dalam rumah nya itu


"maaf nak, papa sadar selama ini salah, tapi ijinkan papa untuk menebus kesalahan papa selama ini terhadap mu, asalkan kamu masih mau hidup bersama papa nak" kata papa nya penuh dengan penyesalan


"segera nikahi dia dan bawa dia ke rumah" jawab arash berdiri karena telah selesai dengan sarapan nya


lagi lagi papa Hendra di buat terkejut dengan ucapan anak nya itu, entah apa yang di pikirkan arash saat ini tapi itu membuat papa Hendra tersenyum


"kamu merestui papa nak?" tanya papa Hendra menghentikan langkah arash yang ingin berangkat sekolah


"selama ini arash selalu berdoa supaya papa cepat menemukan wanita yang bisa merubah sikap papa, dan siapa pun dia arash akan sangat berterima kasih padanya, arash berangkat dulu pa" kata arash langsung melenggang pergi


"hati hati nak" teriak papa Hendra dengan senyuman di bibir nya, bibir nya langsung melengkung ke bawah dengan penuh penyesalan di hatinya karena sikap nya terhadap anak nya itu


sedangkan di sekolah, teman teman asya merobek semua selebaran yang di tempel di Mading, tak hanya di Mading, di papan kelas pun sudah banyak selebaran


arash memperhatikan selebaran yang kini ada di tangan nya, ada beberapa foto dan caption yang menjelekkan asya


dari berbagai foto hanya satu yang membuat arash penasaran, adegan asya yang di peluk dengan seorang laki laki dewasa di pusat perbelanjaan, hati arash sudah bergemuruh saat melihat nya,sampai sampai arash meremas kertas yang ada di tangan nya


"woy cepetan bantu bereskan, sebentar lagi asya datang"teriak Ririn yang sibuk dengan kertas yang menempel di papan


arash hanya melenggang pergi ke kursinya, hanya melihat teman teman nya yang berusaha menyembunyikan selebaran itu dari asya


"gak usah di cabutin, gue udah liat" kata asya


semua pandangan tertuju pada asya di ambang pintu dengan muka datar nya


tanpa peduli asya langsung duduk di kursi nya, bahkan asya tak memperdulikan tatapan arash yang tadi menatapnya penuh dengan tanda tanya


"sya, Lo gak mau balas gitu?" tanya Ririn yang jengah dengan sikap asya yang selalu mendiamkan masalah nya


"kali ini, cari tau sumbernya dari mana? tanya meta yang anak jurnalistik, pasti dia tau" kata asya dengan muka datarnya


"sya, emang Lo bener sugar baby?" tanya bian yang langsung di pelototan oleh teman teman asya


"kenapa? om om banyak duit yan" kata asya berseringai


"udah deh lah, gue jengah tapi Lo selalu bersikap seolah olah itu semua benar"kata Sasa kesal


"biarin lah cin, hiburan buat semua orang" kata asya santai


percakapan mereka terhenti karena guru pelajaran pertama sudah masuk, dan beruntungnya selembaran tentang asya sudah semua di copot begitu pula dengan di Mading


Azka hanya memberikan jempolnya pada teman teman asya mengisyaratkan bahwa semua nya beres


semua nya tenang dalam dalam melaksanakan pembelajaran yang kini di terangkan oleh pak Ilham


"gue di kasih info dari orang yang nempel di Mading katanya di suruh sama bela kelas IPA 1, si belek sya" bisik Ririn tapi mampu di dengar oleh arash yang ada di belakang nya


"oke, istirahat nanti kita kasih pelajaran" kata asya


"pelajaran kedua kosong di kelas IPA 1, dan di kelas kita juga kosong, istirahat waktunya ngantin" saran Ririn


"oke" jawab singkat asya yang matanya masih terus memperhatikan penjelasan pak Ilham


arash bertanya tanya dalam hatinya, apa yang akan mereka lakukan? dan kali ini asya terlihat datar tidak seceria hari biasanya


jam pelajaran pun berganti, asya langsung melangkah ke arah Cecilia dan kembali lagi ke kursinya


semua pergerakan asya tak luput dari pantauan arash dan juga teman teman yang lain nya


asya dan ketiga teman nya sibuk dengan merias wajah nya, dengan tangan asya mampu membuat wajah nya menjadi lebih fres dan bercahaya


make up tipis yang di sapu asya pada wajah nya membuat teman teman laki nya terbengong dengan perubahan wajah pada asya


"siap?" tanya asya membenarkan jaket Levis nya


"ayo" kata Sasa yang semangat untuk memberi pelajaran pada si belek rivalnya itu


"ka, Lo jaga anak anak, gue ada urusan bentar"kata asya yang di angguki oleh Azka


setelah asya dan teman teman nya keluar, Azka yang sedari tadi terbengong di meja arash bertanya tanya sama mereka takut terjadi hal sesuatu pada teman mereka


"kita percayakan saja ka sama asya, setelah beres nanti kita tanya yang sebenarnya" kata Rio yang di angguki yang lain nya


arash hanya terdiam memandangi pintu kelas, bukan masalah selebaran yang kini di pikirkan, wajah asya yang terlihat sangat cantik mampu membuat para cowo terpukau, terbukti teman di kelasnya pun sangat terpukau melihat wajah asya


asya langsung mendorong pintu kelas IPA 1 membuat siswa yang berada di dalam kelas terlonjak kaget, berbagai umpatan yang keluar dari siswa IPA 1 itu tapi tak di hiraukan asya dan teman teman nya


dengan langkah guntai asya melangkah kan kaki nya dimana bela berada


Sasa sudah mengunci pintu kelas, Ririn dan vio menghalau siswa yang ingin menghadang asya


Bagas yang seorang ketua OSIS dapat di halau oleh Ririn, dengan senyum smirk nya yang membuat Bagas menelan ludah


drreeet


suara kursi yang di duduki bela di geser dengan kaki na asya, sedangkan tubuhnya langsung duduk di depan bela


"ada sugar baby kesini" kata bela yang sudah tau kedatangan asya ke sini menuju padanya


"terus Lo apa? ******?" tanya asya mencondongkan tubuhnya berbisik pada bela