Arasya

Arasya
masalah lagi



Senin pagi asya baru datang dengan senyum ceria nya dengan rambut terikat


"pagi guys" kata asya setelah memasuki kelas nya


"Azka Lo pimpin yang cowo buat barisan, ada yang gak bawa perlengkapan upacara?" tanya asya


dan semuanya menjawab bawa kecuali satu yaitu Rio


"sya" cegah Ririn


"apa Rin?" tanya asya membalikan tubuh nya


"Lo lupa atau bego? rambut Lo Oneng" kata Ririn jengah dengan sifat pelupa teman nya itu


"astaga gue bener bener cari mati nih" kata asya langsung membuka Iker rambut nya menutup bagian dalam rambut asya yang berwana blue black


"ayo cepetan ke lapangan"teriak Azka


asya paling belakang karena tadi dia harus merapikan kembali rambut nya


dilihat nya semua baris dengan rapi kecuali Rio di belakang dengan baju di luar dan dasi di leher


"sini Lo Yo" kata asya menarik Rio


sontak Rio kaget dan arash yang di sebelah Rio pun kaget


"masukin tuh baju" titah asya


"gue kira apa sya" kata Rio dengan memasukkan baju nya perlahan


"ya elah, lama amat, sini gue bantu masukin" kata asya membuat Rio melotot dan arash menoleh ke arah arash


"biar gue sya" cegah rio tapi asya membantu nya memasukan walau sedikit


"gini amat baju gue sya, Lo gak sabaran amat" keluh Rio


"yang penting masuk walau sedikit" kata asya membuat para cowo yang mendengarnya langsung menengok ke belakang ke arah Rio dan asya


"omongan Lo sya ambigu banget bikin gue merinding" kata Andi di depan arash


"apaan sih" kata asya bingung


"sini gue pasang dasi nya" kata asya memaksa rio, Rio pasrah menjadi percobaan asya


dan benar saja asya memasang dasi lewat dari kata halus membuat Andi langsung meraba leher nya sendiri


"Lo mau bunuh gue sya?" keluh Rio kecekik


"biar Lo diem selama upacara" jawab asya


"bukan nya diam tapi yang ada gue mati sya" jawab Rio melonggarkan dasi nya


"udah sya, sana Lo ke depan" titah Azka yang baru datang setelah membuat barisan


"rambut gue aman?" tanya asya yang di jawab anggukan oleh azka


"cat ulang rambut Lo sya" titah Azka dan di angguki asya sembari berjalan ke arah depan


sedangkan Azka langsung berdiri di bagian belakang setelah melirik arash penuh kebencian


upacara berjalan khidmat, sampai di akhir upacara arash langsung berlari saat melihat Khanza di bopong oleh seseorang


dengan panik arash langsung mengendong adik nya ke ruang kesehatan


dan kejadian tadi membuat Azka meremas kepalan tangan nya


"ayo balik ke kelas ada yang harus gue luruskan tentang arash dan Khanza" kata asya menyadarkan Azka dan malah berlalu begitu saja


Azka tidak mau membuat hati tambah sakit setelah tau kebenaran nya, yang dia duga Khanza dan arash sudah berpacaran sebelum khnza masuk ke SMA


asya menghela nafas panjang, susah untuk menjelaskan sesuatu yang Azka hindari


di ruang kesehatan arash menunggu Khanza di samping bangkar


hati nya panik dengan keadaan Khanza mau menelpon bunda nya tapi dia bingung karena bunda nya saat ini masih menunggu ayah nya


"eunggg" lenguhan Khanza menyadarkan arash


"za, gimana keadaan nya?" tanya arash panik


"Khanza cuma pusing kak, tadi pas kakak jemput Khanza belum makan" jujur Khanza


"ya udah kakak beli makan dulu" kata arash hendak keluar


"gak bisa, kamu tanggung jawab kakak, kalau kamu sakit yang otomatis kakak yang di salahkan bunda" jawab arash


"ayolah kak, Khanza tidak mau nambah panjang permasalahan kesalah pahaman" pinta Khanza


"ya udah telepon dulu temen kamu, nanti kalau dia sudah ada di sini baru kakak ke kelas" kata arash yang di angguki Khanza


setelah temen Khanza datang, arash langsung pergi ke kelas nya meski pelajaran sudah di mulai


sedangkan asya baru saja dapat ceramah di depan teman teman nya oleh guru pelajaran berlangsung karena Azka berani bolos di jam pelajaran nya, dan yang lebih membuat nya marah seorang ketua kelas nya tidak tau di mana Azka berada


kelas terasa hening di saat pelajaran berlangsung, bahkan Rio pun diam tanpa suara entah apa yang dia pikirkan hingga saat ini dia terus berdiam


semua nya bernafas lega setelah bel berbunyi, banyak yang langsung berhamburan keluar kelas setelah guru pastinya


asya bernafas lega dan memejam kan mata nya, sekuat kuat nya asya tapi setelah di bentak di hadapan teman teman nya asya sangat ingin menangis


"sya, are you okay?" kata Sasa membalikan tubuh nya


"i'm fine" jawab asya namun suara nya terdengar berat


"gila bener tuh guru, kan bukan salah asya kali si Azka bolos" kata vio merasa kasian kepada vio


arash yang mendengar perkataan dari vio langsung melihat asya yang sedang bersandar di kursinya sembari memejamkan mata nya


terlihat sekali asya sekarang dalam keadaan tidak baik meski mulut nya berkata baik


"Yo Lo ngeroko di kelas" kata bian melihat Rio


"pusing gue" kata Rio sembari menikmati roko nya


"tapi Lo jangan ngeroko di kelas juga Yo, nanti guru bisa ngamuk" cegah bian tapi tak di gubris oleh Rio


asya yang mendengar perkataan bian tadi langsung membuka mata nya dan menghampiri Rio


tanpa kata asya langsung merampas rokok yang ada di tangan Rio, bahkan asya juga me remukan rokok yang masih utuh


"Lo apa apaan sih?" kata Rio keras


"Lo yang apa apaan ngerokok di dalam kelas?" kata asya sama keras nya


"jangan mentang mentang Lo ketua kelas Lo bisa seenak nya ngatur gue" bentak Rio


"karena gue ketua kelas dan Lo buat masalah di dalam kelas jadi gue berhak ngatur Lo" bentak asya


"sialan Lo" emosi Rio langsung meninju dinding yang di sebelah asya


sontak bian langsung memegang Rio takut melukai asya dan begitu pula teman teman asya dan arash langsung menghampiri asya yang kini tengah bergetar ketakutan


"Lo kelewatan Yo" kata Ririn keras


"kelewatan Lo bilang, mereka yang kelewatan bikin gue begini, mereka lebih mementing kan hidup nya masing masing tanpa memperdulikan gue seorang anak nya yang di lantarkan" teriak Rio mengeluarkan emosinya


asya paham maksud perkataan Rio tapi yang di lakukan Rio saat ini memang salah


plak


semua terkejut atas tindakan asya yang berani menampar Rio yang tengah emosi,


"Lo" tunjuk Rio di wajah asya


"apa?" tantang asya


"gue tau perasan Lo saat ini gimana? tapi yang Lo lakukan saat ini di sini itu salah, gue gak peduli Lo mau ngerokok di mana yang rugi cuma Lo tapi kalo Lo ngeroko di dalam kelas yang rugi bukan Lo saja gue juga" teriak asya


"Lo udah liat tadi gue di marahin oleh guru gara gara Azka bolos, dan sekarang apa? Lo mau nambah gue masalah?" tanya asya membuat Rio terdiam


"dan satu lagi, masalah Lo bersama keluarga itu tak seberapa dari masalah orang lain, mungkin saja banyak orang yang lebih berat dari masalah Lo tapi dia masih bisa berpikir positif" tekan asya


"contoh nya gue" kata asya menitikan air mata nya " Lo masih mending masih punya orang tua meski mereka tengah berpisah, lah gue? gue gimana Yo? sedari SMP gue belajar hidup sendiri karena orang tua gue telah gak ada Yo" teriak asya menangis


"sya .." lirih Rio tersadar


"seharus nya Lo beruntung Yo, setidak nya Lo masih bisa lihat orang tua Lo, apa Lo gak liat anak jalanan yang sudah tak punya orang tua?" jelas asya membuat Rio terdiam


"gue tekan kan sama Lo Yo, gue gak ngelarang Lo mau berbuat apapun tapi gue mohon Lo jangan berulah di sekolah karena itu akan menjadi masalah buat gue, please jangan tambah masalah gue yang sudah banyak" kata asya langsung berlari tak kuat menahan tangis nya


"sya" teriak teman nya


"Lo" kata Ririn kesal