Arasya

Arasya
jadian



pagi ini arash kelimpungan menunggu asya di depan gerbang sekolah, sedari malam gadis itu susah di hubungi dan sampai di rumah nya asya sudah berangkat, tapi ternyata dia belum ada di sekolah


sudut bibir nya melengkung saat sebuah motor yang di kenalinya masuk ke arah gerbang


"sya, kita perlu bicara" kata arash langsung menggenggam tangan asya setelah melepaskan helm nya


"iya rash, sebentar" kata asya mengunci ganda motornya


asya sudah pasrah saat dirinya di bawa paksa oleh arash, sulit bagi asya untuk menghindar dari arash


dengan wajah dingin, arash membawa asya ke roof top sekolah, bahkan sepanjang perjalanan arash menghiraukan semua orang yang menyapa nya


"rash sakit" keluh asya merasakan sakit di pergelangan tangan nya karena arash menarik tangan nya lumayan kencang


"maaf, aku gak sengaja" kata arash melonggarkan tarikan nya "ikut aku" lanjut arash melanjutkan perjalanan nya


sesampainya di depan pintu rooftof, arash langsung menyuruh masuk asya terlebih dahulu


asya hanya menurut, padahal dalam hati nya ingin banget memaki cowo itu namun apa ada, asya tak sanggup untuk melakukan nya pada arash


"ada apa rash?" tanya asya mencoba setenang mungkin seperti biasanya


"kenapa menghindari ku?" tanya arash langsung to the point


"si siapa yang menghindar?" kata asya mengelak


"jangan bohong sya, kenapa menghindari ku?" tanya arash yang kini dengan suara lembut nya


"aku gak menghindari kamu rash, emang nya kenapa sih?" elak asya


"terus apa namanya? semalam susah di hubungi, dan tadi malah langsung berangkat dari rumah, tapi di sekolah tidak ada, apa namanya kalo bukan menghindar?" kata arash memegang tangan asya


"aku bukan menghindar rash, semalam aku langsung tidur, dan tadi aku ke makam mama dulu" kata asya mengelak lagi


"jangan bohong sya, kata Daniel semalam kamu malah bengong di balkon, bukan tidur" kata arash memojokkan asya


"iy ya oke, kamu benar aku mencoba menghindari kamu" kata asya melepaskan tangan yang di genggam arash


"kenapa?" tanya arash


"gak, aku pengen jaga jarak dulu dari kamu" kata asya tanpa melihat mata arash


arash hanya terkekeh dengan jawaban tak menyambung nya dari asya


"kenapa sya?" tekan arash


"rash gue seorang perempuan, jujur saat Lo berubah menjadi hangat sama gue, gue seneng rash, gue bahkan cemburu saat Lo di kelilingi fans baru Lo, tapi kita ini apa? gue juga perlu kepastian rash, gue juga takut ini semua hanya cara pertemanan Lo seperti biasa, gue baper rash" kata asya jujur


arash menegang dengan ucapan asya, salah dirinya yang tak memberikan kepastian kepada asya, arash pikir hanya dengan memperlakukan dengan penuh cinta, semua nya beres


namun ternyata salah, salah nya juga yang tak meresmikan hubungan nya


"gue ke kelas duluan rash, sebentar lagi bel masuk bunyi" kata asya setelah arash lama terdiam


baru juga beberapa langkah, tubuhnya langsung menegang dengan pelukan hangat arash dari belakang


"maaf" kata arash di sisi telinganya


asya langsung menutup matanya, pikirannya merutuki dirinya yang berani menyampaikan keluh kesahnya pada arash, asya berpikir arash hanya mempermainkan nya


"sudah lah rash, tak apa" jawab asya berusaha tegar


"maaf" kata arash lagi dengan pelukan semakin erat


"dengerin dulu penjelasan ku sya" kata arash yang langsung di jawab anggukan kepala oleh arash


arash bingung harus dari mana dulu ia berbicara, di genggamnya kedua tangan asya


"lihat aku" kata arash lembut


"aku bukan laki laki romantis sya, kamu tau itu" kata arash yang di angguki kepala oleh asya


"tapi hati aku tulus ingin bersama mu, bahkan aku sudah bilang sama kamu, tunggu aku berusia 21tahun kan, ternyata itu tak cukup" lanjut arash membuat asya teringat dari perkataan arash waktu itu


"aku bingung sya, aku sayang kamu, sangat menyayangi kamu, tapi aku takut mengecewakan kamu di saat aku nanti pergi" kata arash langsung sendu


"pergi? maksud nya?" kata asya bingung


"setelah lulus, aku di suruh kuliah di luar negeri sya, permintaan dari papa untuk mengurus perusahaan papa perlu pendidikan yang bagus, makanya aku bingung sya" kata arash


sepanjang penjelasan, asya langsung mengerti maksud arash, meskipun arash berbicara sepotong sepotong


"aku akan tunggu kamu sya" kata asya tersenyum pada arash


"tapi aku tidak bisa jauh dari kamu, aku minta papa supaya kamu ikut sekolah di luar negeri, tapi kata papa itu akan membuat pendidikan ku terhambat dan malah bikin lama di luar negeri" kata arash galau


asya belum tau maksud papanya arash tak mengijinkan asya untuk ikut, tapi kali ini asya pun sangat tidak mau untuk ke luar negeri


"aku tunggu kamu rash, berapapun lama nya jika kamu benar benar menyayangi aku" kata asya membuat arash mendongak


"bukan hanya sayang, tapi aku bener bener mencintaimu sya" kata arash menempelkan kening nya


hati asya menghangat dengan pengakuan arash barusan, tau asya langsung bingung dengan masalah nya kali ini


"terus kita ?" tanya asya menjeda omongan nya


"pacaran" sela arash


"tapi aku harap, tak ada kata perpisahan saat nanti aku ke luar negeri" lanjut arash


"apa kamu bisa sya? menjalani hubungan jarak jauh, bahkan aku bisa sampai ke 5-6 taun di sana" kata arash dengan wajah serius


"aku gak tau rash, tapi setidaknya kita jalani saja dulu" kata asya menenangkan arash


"aku janji akan pulang dan langsung menikahi mu" janji arash


"aku tunggu janji mu rash" kata asya tersenyum


hati arash merasa lega saat melihat senyum asya, apalagi dengan jawaban asya


senyum yang selalu membuat arash kehilangan fokus nya, apalagi bibir berwarna pink itu yang selalu menggoda arash


cup


ciuman hangat yang kedua dari arash, tapi mampu membuat asya menegang kembali


dengan lembut arash menyesap nya, menyalurkan rasa cinta nya pada asya


asya terlena dengan ciuman arash kali ini, bibir nya terbuka memberikan ruang bagi arash untuk menjelajahi nya


tanpa sadar juga asya membalas ciuman arash yang semakin dalam, membuat perasaan dalam tubuhnya membuncah seketika


muka asya merah merona saat ciuman itu terlepas, dengan tangan nya yang masih di leher arash begitupun dengan tangan arash yang bertengger manis di pinggang asya


"aku benar benar mencintaimu asya Amelia Putri" kata arash dengan suara serak nya sembari tersenyum


"aku juga mencintaimu arash Keinov Wilmar" jawab asya malu


tanpa di minta lagi, bibir kedua nya kembali berpagutan, saling menyesap dan saling menyalurkan rasa cinta nya