
"Katakan pada gue, kalo itu bukan punya Lo" kata Rio dengan mata yang sudah berkaca kaca
"itu bukan punya gue Yo, Lo tau gue kan? gue bahkan tidak punya pacar Yo" kata Nadya yang sudah menangis sesenggukan
Rio langsung memeluk nya erat dan memberikan kenyamanan untuk gadis yang kini di timpa masalah
"lebih baik kita selesaikan di ruang BK" kata Azka yang di angguki kepala oleh rio
Nadya kini masih dengan tangis nya sesenggukan di dalam dekapan Rio, pacaran pun dia belum pernah tapi kali ini dia di sangka hamil bahkan yang paling keji nya lagi di tuduh menggugurkan bayi nya di toilet sekolah
"bisa kamu jelaskan tentang alat tes di ini yang berada di tas kamu?" tanya guru BK
"saya gak tau pak, tapi itu bukan punya saya" kata Nadya dengan masih sesenggukan
"terus kalo bukan punya kamu, kenapa berada di dalam tas kamu?" tanya lagi
"saya bener bener gak tau pak" kesal Nadya yang sudah ke berapa kali di tanya seperti itu
dia bahkan gak tau kenapa alat itu berada di dalam tas nya, nadya kali ini merasa terpojokkan
"kita ke klinik saja pak, kita cek apa bener Nadya yang sudah menggugurkan janin nya ?" usul Bu Ratna yang nampak kasian melihat raut wajah anak didik nya yang seperti nya berkata jujur
"saya mau Bu, kalo pun mau tes keperawanan sekalian pun saya mau" kata Nadya semangat
asya tersenyum dengan keberanian Nadya, entah dorongan dari mana, Nadya yang biasanya selalu kalem kini berani dengan mengajukan hal se sensitif itu
"oke, kita ke klinik sekarang" putus guru BK
belum juga berangkat mereka tengah di kagetkan dengan pingsan nya siswi kelas XI dengan darah yang terus menerus mengalir di ************ nya
kejadian tersebut menggemparkan seisi sekolah bahkan para siswi sudah berteriak histeris dengan banyak nya darah yang sudah membasahi rok abu abu nya
keadaan sekolah kacau dengan para siswi yang terus berteriak histeris saat siswi itu di angkat dan di bawa ke rumah sakit terdekat
asya dan Nadya tetap mengikuti guru BK ke rumah sakit yang di dampingi dengan Bu Ratna yang sedari tadi memberi senyuman seolah memberinya kekuatan pada Nadya yang terus menerus menangis
kini asya tengah menunggu mereka di ruang tunggu dengan salah satu siswa dari kelas XI IPS yang menurut asya seperti nya ketua kelas nya
Bu ratna tengah menemani Nadya bersama dengan Rio untuk mengecek rahim Nadya, sedangkan guru BK tengah mengurus administrasi nya terlebih dahulu
keheningan melanda asya dengan segala pikiran nya, masalah yang terus bertubi tubi membuatnya semakin berpikir jalan tuhan memberikan masalah kepada umat nya itu beragam
tidak ada manusia yang tidak mempunyai masalah, dan kenapa tuhan mengirim kan masalah? karena Tuhan yakin bahwa dia yang mempunyai masalah mampu mengatasi nya
balik lagi pada asya yang sedang menunggu bersama laki laki satu sekolah nya, hingga laki laki itu memulai lagi pembicaraan nya
"Lidya itu sangat tertutup" ucap nya membuat asya menengok ke arah samping dan menautkan alisnya bingung
tau akan kebingungan asya, laki laki itu pun menjawab nya kembali
"gue vino, ketua kelas XI IPS 3, dan yang di dalem anak kelas XI IPS 3" jelas nya pada asya
"gue asya ketua kelas XII IPA 2" kata asya menjawab perkenalan diri masing masing
asya hanya mengangguk kan kepala, karena bingung harus menjawab apa? terlebih sekarang pikiran nya mencabang dengan temannya yang sedang di periksa
asya di buat gugup dan khawatir saat banyak nya dokter yang langsung berdatangan ke ruangan dimana gadis itu tengah di periksa
bahkan guru BK yang baru datang itu pun seperti terkejut dengan penjelasan dokter yang menjelaskan keadaan siswinya secara singkat
"bapa minta tolong pada kalian, kasih tau orang tua lidya, kalo bisa suruh bawa ke sini ibunya" perintah guru BK
"ada apa pak?" tanya asya yang sudah kepo maksimal
"bapak belum bisa bicara asya, sebaiknya kalian cepat perintahkan orangtuanya untuk segera datang" kata guru BK itu tegas
belum juga asya menjawab, tangan nya langsung di tarik dengan cepat oleh vino ke luar rumah sakit
"eh Vin, bentar woy" kata asya yang di tarik seperti menarik barang saja oleh vino
"sorry asya, eh gimana ya manggilnya? ga enak gue, kak asya saja ya?" kata vino dengan menggaruk belakang kepalanya
"senyaman nya Lo aja deh lah" kata asya
"sepertinya masalah nya sangat serius, makannya gue langsung narik Lo kak, sebaiknya kita bantu kasih tau orang tuanya" kata vino menjelaskan
asya hanya mengangguk dengan perkataan vino memang ada benarnya, terlebih asya baru pernah melihat reaksi wajah nya guru BK itu
"Lo tau rumah nya?" tanya asya
"gue lagi nanya teman teman nih" jawab nya dengan mengotak ngatik ponsel nya
"kita naik bus aja deh kak, daerah sana" kata vino menunjukan alamat yang di ttunjukan oleh teman sekelas nya
asya dan vino menaiki bus yang lewat dekat rumah sakit, dengan me misalkan nekad dan sebuah alamat yang di tujukan oleh temannya
baru pertama kali asya melakukan pencarian alamat, biasanya asya yang selalu di tanya tentang sebuah alamat, entah itu beneran ataupun hanya modus
"ini rumah nya" kata vino setelah mereka tengah sampai di sebuah bangunan kecil, bahkan menurut asya sangat tidak memungkin kan untuk tinggali
"Lo yakin?" tanya asya membuat vino meng ngangguk
"dengan modal nekat tanpa malu, asya langsung mengetuk beberapa kali rumah itu, tapi tak ada satu pun yang dapat di temukan untuk menyampaikan informasi yang ia bawa dari sekolah
asya menghela nafas saat pintunya tak kunjung di buka, bahkan sedari tadi vino terus terusan mengucap salam
"hey cari siapa?" tanya seorang wanita yang baru keluar karena berisik saat vino terus terusan mengucap salam
"kami temannya Lidya Tante, Tante tau orangtuanya? kami di suruh untuk menyampaikan pesan dari guru kami untuk keluarganya" jawab vino lemah lembut
"hufft" terdengar helaan nafas panjang dari wanita itu
akhirnya dengan segala pertimbangan wanita itu mengajak asya dan vino untuk menceritan yang telah terjadi pada teman nya itu
asya terkejut dengan bola mata yang melotot dengan kisah haru dan pilu yang di alami Lidya yang kini tengah berada dalam lomarinya