Arasya

Arasya
masa lalu papa hendra



pagi hari wanita paruh baya tengah kesusahan dengan belanjaan yang ada di tangan nya, namun semangat nya tak kalah saat mengingat wajah putra nya


"Alhamdulillah, masih ada sisa 300 rebu, bisa buat beli sepatu vino" seru nya sambil melenggang pergi ke arah toko sepatu


di lirik nya sepatu yang menurut nya bagus serta harga nya tak mahal


"pak yang ini no 40 ada?" tanya mamah ayu, ya yang tengah berbelanja adalah mamah ayu mamah nya dari vino


"ada Bu, bentar saya ambil dulu" kata si bapa, langsung mencari sepatu yang di ingin kan si ibu


senyum nya langsung terbit saat sepatu yang menurut nya cocok untuk putra satu satu nya itu kini sudah di tangan nya


kini mamah ayu tengah bergegas pulang dengan belanjaan yang penuh, keringat dan cape tak pernah dia keluhkan dengan nasib yang menimpanya


dengan senyum yang selalu menghiasi wajah nya dan juga hati nya yang sedang gembira, mamah ayu sampai tak melihat kiri kanan sebelum menyebrang


cekittt


akhhhhh


saking kaget nya mamah ayu melepaskan keranjang belanjaan nya dan menutup mata nya


brak


dengan penuh emosi seorang paruh baya menghampiri nya dengan tubuh yang masih bergetar saking ketakutan


"kalo mau nyebrang liat liat jalan "sentak nya kepada mama ayu


mama ayu yang masih bergetar saking kaget nya pun menurunkan tangan nya yang sedari tadi menutup wajah nya


"ayu"


"Hendra"


mamah ayu sampai melotot saat tau orang yang hampir menabrak nya adalah lelaki yang dulu pernah menyakiti nya


grep


mamah ayu langsung menegang saat tubuhnya kini di peluk erat oleh lelaki di masa lalu nya


tin tin tin


suara klakson mobil membuyarkan pelukan Hendra pada ayu yang kini langsung membantu barang dagangan ayu


"aku perlu bicara sama kamu yu, aku mohon untuk ikut aku sebentar" kata hendra sambil membawa belanjaan ayu dan membawa nya ke dalam mobil


Hendra langsung menuntun ayu yang masih bengong ke dalam mobil nya, dengan menurut ayu pun mengikuti nya masuk ke dalam mobil Hendra


mobil mewah ini kini langsung berjalan, Hendra langsung tersenyum, senyum yang sudah lama hilang kini kembali hadir setelah wanita yang selalu di dalam hatinya ada di sisi nya


"maaf yu, ada hal yang harus kita bicarakan terlebih dahulu" kata Hendra memecah keheningan


"tentang apa? aku sudah tak masalah mas saat kamu memilih Sinta dari pada aku, dan juga aku sudah menerima tuduhan kamu mas" kata mama ayu dengan suara yang merasa tercekat dalam rongga kerongkongan nya


Hendra memahami dengan penolakan ayu saat ini, apalagi Hendra tersadar bahwa wanita yang di samping nya ini sudah memiliki suami dan anak


"apa kamu takut suami mu tau kalo aku ingin berbicara sebentar? ku mohon yu? aku hanya ingin menyampaikan sebenarnya" kata Hendra dengan penuh harapan


"aku sudah tidak bersuami" kata ayu yang langsung membuat Hendra menengok ke arah nya dan tersenyum


"jalan depan belok kiri, tiga rumah dari sana rumah baru ku, antarkan aku ke rumah saja mas" kata ayu


dengan patuh Hendra langsung menuruti ke inginkan nya sampai tibalah di rumah kecil dan di depan nya seperti warung makan


"ini rumah ku mas, maaf aku tak bisa berbicara dengan mu mas, aku sudah di tunggu sama mereka yang sedang bekerja dengan ku mas, terimakasih untuk tumpangan nya dan mohon maaf untuk hal yang tadi" kata mama ayu langsung membuka pintu mobil


Hendra tak menghiraukan perkataan ayu, bahkan saat ini dia langsung membantu ayu membawa barang belanjaan ayu


"mas sudah tidak usah" kata ayu menolak


"udah, ayo " kata Hendra dengan senyum tengil nya


mama ayu hanya pasrah saat Hendra berjalan terlebih dahulu masuk ke rumah nya, dia sangat paham dengan sikap keras kepala nya lelaki itu


kedatangan Hendra ke dalam rumah ayu langsung membuat empat orang yang sedang memasak di rumah ayu pun terbengong, karena sebelum nya belum pernah ada laki laki yang di bawa ayu ke rumah nya setelah perceraian dengan suaminya


"maaf mas, duduk dulu, aku buatkan dulu minum" kata ayu melenggang masuk ke dapur


"Bu ayu itu siapa?" tanya Rani salah satu pegawai ayu


"teman lama mbak" jawab ayu


"kirain calon papa nya vino" kata Mbak Rani terkekeh, ayu hanya membalas senyum nya


sedangkan Hendra langsung menelpon asisten nya untuk membatalkan semua kerjaan nya, yang langsung di sambut frustasi oleh asisten nya


dengan suguhan air teh dan sedikit cemilan, ayu menyodorkan nya pada Hendra


"maaf mas hanya ada ini" kata ayu menyodorkan air putih dan bolu brownies cokelat buatan nya


Hendra langsung memakan bolu brownies yang selalu menjadi favorit nya sewaktu dulu


"aku selalu terbayang dengan brownies buatan mu ini" kata Hendra menikmati makanan nya


"ouh ya, langsung aja, waktu itu aku di bodoh Sinta sampai aku gak percaya sama kamu, setahun kemudian aku tau kebenaran nya dan Sinta selingkuh sama dewa sahabat ku yu, aku tak merasa sakit saat Sinta selingkuh tapi yang membuat ku sakit adalah kebodohan ku yang baru sadar akan perlakuan ku padamu waktu itu, malam nya aku mabuk karena stress menyalahkan diri sendiri sampai sampai aku memperkosa wanita tak bersalah dengan membayangkan kamu yu" jeda Hendra


"dia sudah bertunangan yu, sampai akhirnya dia hamil dan aku menikahi nya karena bentuk tanggung jawab ku, dan setelah melahirkan aku menceraikan dia, setelah itu aku baru tau kamu sudah menikah dengan pilihan orang tua mu, hatiku sangat hancur saat itu yu" kata Hendra dengan menitikan air matanya


tak kuasa ayu pun menceritakan hidup nya yang selalu memikirkan Hendra, dari awal sampai saat ini ayu menceritakan kehidupan nya setelah di tinggalkan Hendra


"maaf kan aku yu, tapi aku berharap kita bisa bersama" kata Hendra tulus


"aku belum bisa mas, masing masing dari kita sudah memiliki anak, bagaimana dengan mereka? lebih baik kita bicarakan dulu dengan mereka mas, aku gak bisa kalo harus meninggalkan anak ku mas" jawab mama ayu


"ya kamu benar yu, apalagi hubungan ku dengan anak ku tidak baik, seumur hidupnya tak pernah mendapatkan kasih sayangku yu, meskipun aku selalu menekan nya aku sangat menginginkan nya karena waktu itu aku mengingat mu yu, bahkan karena hal itu aku mengubah seluruh aset ku menjadi nama nya, aku menjadi papa yang tidak baik untuk arash" kata Hendra menyesali perbuatannya


"arash?"