Arasya

Arasya
menerka nerka



hujan masih mengguyur seluruh kota, sehingga banyak siswa yang di jemput atau numpang bersama teman yang membawa mobil


sampai saat ini asya masih berdiri menunggu kedatangan sang kakak, padahal hujan tidak terlalu deras sehingga banyak anak laki laki yang nekat pulang dengan sepeda motor nya


"maaf Abang telat dek, ada kecelakaan tadi" kata bang Ken di hadapan asya yang di jawab anggukan kepala oleh asya


"guys gue duluan ya" pamit asya kepada Ririn dan Andi uang sedari tadi menunggunya


Ririn yang numpang bersama Andi karena jalur nya searah dan Ririn memaksa Andi untuk menemani asya sebentar, padahal tujuan utamanya ya ingin melihat bang Ken


dengan merangkul asya melindungi dari air hujan sontak perlakuan bang Ken itu membuat Ririn gigit jari


"ayo pulang" ajak Andi yang di jawab anggukan kepala oleh Ririn


sore hari nya asya tidak di ijinkan abangnya untuk membantu di cafe karena melihat secara langsung kecelakaan saat menjemput asya di sekolah membuat bang Ken takut terjadi sesuatu sama adik nya itu


berguling guling di tempat tidur yang asya kerjakan tak mampu menghilangkan rasa bosan nya


hingga notifikasi ponsel nya langsung membuat nya terbangun


Arash


Lo dimana? gue mau pinjem buku catatan sejarah


^^^^^^di rumah rash^^^^^^


^^^^^^kerumah aja, gue di rumah^^^^^^


oke gue otw


^^^siip^^^


asya pun langsung mengganti baju nya dengan yang terlihat sopan, gak mungkin kan asya menemui arash dengan baju yang sepaha? bunuh diri namanya terlebih kini di rumah nya hanya sendiri


Ting nong Ting nong


asya pun bergegas turun dan membukakan pintu


duar


asya terkejut saat arash datang kerumah nya, bukan karena arash tapi dengan seorang wanita yang kini tengah arash gandeng apalagi dengan mata gadis itu sembab dan memerah terlihat seperti bekas menarik


"sya" kata arash menyadarkan asya


"eh rash, Khanza masuk dulu" kata asya mempersilahkan mereka masuk


"duduk dulu ya, gue bikin minuman dulu" kata asya langsung ke dalam dapur membuat minuman


pikiran asya kacau, bukan karena apa tapi wanita yang di gandeng arash wanita yang sama tengah di sukai temannya Azka, dan bila Azka tau mungkin mereka akan bersitegang terlebih Azka dari awal selalu membela Khanza hingga berurusan dengan Bagas


"di minum dulu, maaf hanya ada teh" kata asya sopan


"makasih kak" kata Khanza mendapat perlakuan sopan dari kakak kelas nya itu


"kenapa Lo gak ke cafe?" tanya arash karena biasanya sore hari asya sudah ada di cafe


"pala sakit, dan di suruh istirahat sama Abang" jawab asya


"apa karena tadi?" tanya arash tapi hanya di bales senyuman oleh asya


"ouh ya sya, gue mau pinjem buku catatan yang tadi" kata arash to the poin


"ouh bentar gue ambil dulu" kata asya melenggang pergi ke kamarnya


jujur bagi asya ini hal yang sangat membuat nya canggung terlebih setelah tadi di sekolah tersebarnya foto asya dan arash yang seperti tengah berpelukan


pikiran nya menerka mungkin khanza menangis setelah melihat foto itu dan arash mengajak menemuinya untuk klarifikasi


"gue pinjem dulu, tadi gue gak nyatet" kata arash memasukan buku asya ke dalam tasnya


"sorry sya gue gak bisa lama lama, gue harus anterin khanza" kata arash yang di angguki kepala oleh asya


"thanks ya za" kata arash sembari pamit


"ouh ya hati hati kalian di jalan" kata asya setelah mereka langsung menaiki motor arash


motor arash pun telah pergi meninggalkan rumahnya yang tersisa hanya asya dan pikiran nya


"bego banget gue, kenapa tadi gue gak tanya langsung aja, dari pada menerka nerka" gumam asya


"biarin lah urusan orang" dengus asya


"tapi kalo mereka pacaran dan Khanza nangis gara gara foto tadi, gue jadi gak enak, berasa jadi pelakor gue" dumel asya


"tapi si Khanza gak nyakar gue atau tanya ke, malah diam aja sambil megang tangan nya si arash" heran asya


"ahh pusing gue, besok aja gue tanya langsung sama si arash" lanjut asya


sedangkan Azka di rumah nya di buat kaget dengan kiriman foto dari seseorang yang melihatkan seorang cewe tengah di bonceng dengan motor sport putih di tengah gerimis


foto manis itu malah membuat Azka merasakan pahit nya, dia tau siapa yang ada di fotonya


mau bertanya pada arash dia merasa canggung karena dia dan arash jarang berkomunikasi hanya kemarin saat basket dan itu pun dengan Khanza salah satu alasan nya


mau bertanya pada Khanza tapi dirinya masih tahap pendekatan dengan Khanza dan tak mungkin langsung menanyakan tentang hal lain


ingatan pada arash yang selalu nimbrung bicara saat tengah membicarakan Khanza memperkuat dugaannya saat ini


"sialan Lo rash, kenapa Lo gak ngomong sama gue" emosi Azka langsung meremas foto itu dan menghantam dinding di samping nya


dan notifikasi di ponsel nya menyadarkan nya


di lihatnya banyak sekali notifikasi dari grup kelas dan grup sekolah dan ada juga secara pribadi dari teman dekat nya asya dan Rio


di banting ponselnya ke tempat tidur setelah tau apa yang mereka bahas


sedangkan asya ketar ketir saat Azka tak kunjung menjawab telepon nya


dia tau temannya yang satu ini selalu emosian dan asya sangat takut jika Azka langsung mendatangi arash dan langsung memukul nya seperti hal nya pada Bagas


"ayo lah Azka angkat telepon gue" kata asya khawatir pada temannya


"ah sialan Lo ka" kesal Asya karena Azka tak kunjung menjawab teleponnya


"lah biarin kalian mau berantem mau pukul pukulan mau mati sekalian, gue gak peduli" kata asya terlanjur kesal


dan asya di buat tambah kesal dengan Khanza dan arash yang tak kunjung mengklarifikasi nya mereka seolah olah bungkam dengan gosip yang beredar


sedangkan arash yang baru selesai dengan tugas nya, kini di tugaskan memastikan adik nya tidak larut dalam kesedihan dalam musibah yang menimpa keluarganya


ayah Khanza yang selalu baik pada arash seakan dirinya pun ikut terluka mendengar ayah Khanza tengah terbaring di rumah sakit


ponselnya yang sedari tadi dia simpan bahkan di matikan guna untuk menghindari telpon dari papanya


setelah memastikan adik nya tidur terlelap arash pun meng istirahat kan tubuh nya di sofa ruang keluarga


dirinya bertekad untuk tidak pulang hanya demi bisa menjaga adik nya, soal papanya biar nanti pagi dia yang akan mengurusnya pikir arash


senyuman tipis terlihat dari wajah arash sebelum dirinya terlelap dan hanya ada wajah asya di dalam pikiran nya


"semoga cepat sembuh" gumam nya dengan mata terpejam