Arasya

Arasya
rio



jam pulang sekolah sudah lebih dari sejam, tapi asya masih berada di depan sekolah, menunggu sang kakak yang katanya akan menjemputnya tapi sampai kini belum juga menjemputnya


keadaan sekolah yang sepi, asya memutuskan untuk menunggu nya di depan halte, tau seperti ini, mungkin tadi asya akan menerima tawaran dari teman teman nya


asya bingung saat sebuah mobil hitam berhenti di depan nya, fokus nya kini teralihkan yang semula pada ponsel langsung tertuju pada mobil hitam itu


deg


jantung asya berdetak sangat kencang saat seorang lelaki paruh baya turun dari mobil nya


dengan gaya angkuh nya, lelaki paruh baya itu menatap sinis asya


"ternyata kamu masih berani mendekati anak saya" katanya tersenyum sinis


asya hanya menaikan satu alis nya, dia bingung untuk berlaku sopan karena di depan nya itu orang tua, atau seperti apa adanya? asya yang tidak bisa di rendahkan


"apa yang telah kau berikan pada putra ku hingga dia dapat membangkang perintah saya?" tekan nya pada asya


"saya tak pernah memberikan apapun padanya, dan saya dekat dengan putra anda seperti dengan dengan teman yang lain nya" kata asya jujur


kekehan terdengar dari laki laki paruh baya itu, seolah tak mempercayai ucapan asya


"apa saya harus percaya pada gadis seperti anda?" kata nya


sungguh perkataan nya memancing emosi asya yang sedari tadi dia tahan


hari ini dia baru juga sembuh sudah di hadapkan dengan bela dan di omeli guru BK, dan sekarang harus di hadapkan dengan orang tua teman nya


"to the poin saja, gara gara anda, anak saya menjadi berubah, dan bahkan bisa melawan saya, maka dari itu saya tekan kan pada kamu, untuk menjauhi putra saya atau -


"atau apa?" tantang asya yang sudah tersulut emosi


"seharusnya om ngaca, intropeksi diri, kenapa anak om bisa sampai melawan om, jangan menuduh orang sembarangan" kata asya dengan emosi


"kamu berani sama saya?" teriak nya


"saya gak pernah takut selagi saya benar, dan maaf om sebaiknya om pikir, apa ada seorang ayah yang tega menyakiti anak nya?" kata asya


deg


ucapan asya tepat sekali, dan hal itu malah terasa menyakitkan bagi nya walaupun kenyataannya memang seperti itu


"apa om pikir, om sudah menjadi sosok yang harus di teladani sehingga anak om harus selalu menurut pada om" lanjut asya kesal


"sebaiknya om pikirkan terlebih dahulu sebelum menyalahkan orang, permisi om" kata asya melenggang pergi meninggalkannya saat sebuah bus berhenti tak jauh dari nya


ucapan asya membuat nya terpukul, bahkan hati kecilnya merasakan semua nya ini memang salah nya, tapi gengsi nya itu sangat tinggi


"aaarrrghhh" teriak nya frustasi


"berani berani nya gadis itu menasehati ku" kesalnya kembali ke dalam mobil


...****************...


di sepanjang bus berjalan, asya merasa bersalah dengan ucapannya yang mungkin bisa menyakiti orang tua tersebut


namun apa daya, emosi yang sedari tadi ia tahan kini keluar, apalagi saat ini asya tengah dalam masa masa menstruasinya


"kenapa gue bales tuh omongan nya?" sesal asya


"seharusnya gue tadi cuma ngomong gak cocok saja" kata asya bermonolog


"tau lah pusing gue" kesal asya


sesampai nya di rumah, asya langsung mandi dan mengistirahatkan tubuh nya sejenak


rumah yang sepi membuat asya selalu tak betah berada di dalam rumah


"asyaaaa" teriak bang Kendra yang baru datang


dengan males, asya langsung keluar dari tempat istirahat nya


grep


di bawa nya tubuh asya kedalam pelukan nya, bahkan pelukan nya dengan erat


"Abang.." kata asya tercekat


"maaf Abang khawatir tadi" kata bang Kendra melepaskan pelukan nya


"Abang kemana tadi? asya telepon gak aktif?" tanya asya


"ban mobil Abang tadi bocor, mau telpon kamu ternyata hape Abang mati" jawab bang Kendra


"Abang sampai panik saat kamu tidak ada di sekolah" lanjut bang Kendra dengan nafas yang masih tercekat


sedangkan Rio kini tengah berada di rumah Nadya, sudah sering Rio berkunjung di rumah nadya, dengan alasan belajar atau pun sekedar main saja


almira adik dari Nadya yang masih balita itu sangat dekat suka dengan rio semenjak pertama kali Rio berkunjung ke rumah nya


rumah kecil yang di isi dengan 5 orang itu tak lantas bagi Rio malu untuk berada dalam keluarga yang hangat


Rio yang kurang kasih sayang, bahkan kedua orang tuanya pun tak pernah menanyakan keadaan Rio dan kini ia mendapatkan kasih sayang dari keluarga kecil ini


ibu Nadya yang hanya menjadi tukang jahit dan ayah Nadya yang hanya seorang buruh pun tak menjadi alasan Rio untuk menjauhi nya


"motor nya kenapa lagi dit?" tanya Rio pada Adit adik nya Nadya


"gak tau kenapa bang" jawab Adit yang masih mencoba menghidupkan motornya


sebuah motor kuno menurut Rio, bahkan kerangka body nya juga entah dimana, tapi itu kendaraan satu satunya bagi mereka


"di bawa ke bengkel saja dit" kata Rio yang ikutan jongkok meneliti motor yang sedang di otak Atik oleh adik nya Nadya


"kakak ngerti masalah motor gak?" tanya Adit yang di jawab gelengan kepala oleh Rio


boro boro tau soal motor, soal uang saku saja dia tak pernah hitung, hidup nya sudah seperti raja apapun yang di minta nya kepada orang tua nya pasti di Kabul tapi tidak dengan kehadiran nya


dalam diam Rio memperhatikan Adit yang masih duduk di kelas SMP ini sudah dewasa, membandingkan nya dengan dirinya dulu yang selalu membuat orang tua Rio kesal dengan ulah Rio


"emang nya mau kemana dit?" tanya Rio


"mau ke depan bang, foto kopi buku milik teman" kata Adit yang masih berkutat dengan motor nya


"dari pada beli, mending di fotokopi bang, itu juga untung ada teman yang mau minjemin bukunya" lanjut Adit


"pake motor gue, bisa gak?" tanya Rio membuat Adit menatapnya


"serius kak?" tanya Adit


"serius, nih kalo bisa" kata Rio memberikan kunci motor nya


"wah thanks banget kak, akhirnya Adit bisa pake motor sport" seru nya


melihat Adit yang terlihat bahagia hanya dengan memakai motor sport itu membuat Rio terkekeh, bagaimana kalo di beri tuh motor? apa sampai jungkir balik si Adit saking seneng nya, pikir Rio


"dit mau kemana?" tanya Nadya saat melihat adik nya itu menaiki motor milik teman nya


"fotokopi bentar kak" kata Adit dengan wajah ceria nya sambil melihatkan buku nya pada sang kakak


"Mira ikut" kata gadis kecil itu yang langsung berlari menuju kakak nya


"hati hati dit" kata Nadya saat motor itu melaju