Arasya

Arasya
adek kakak



Sore ini rumah asya sudah di datangi beberapa teman asya, di antaranya ada Ririn, vio, Nadya, Rio, Azka, Sasa, bian dan Ucup


niat belajar kelompok dengan Nadya sebagai tutor nya tapi asya dan Ririn malah sibuk di dapur membuat mereka makanan


melihat semangat nya Rio saat belajar membuat nya ide untuk mengadakan jam pelajaran tambahan bagi mereka semua demi memperbaiki nilai mereka


Ririn yang sibuk dengan memasak mie instan yang di masak bersamaan dengan panci besar dan asya dengan membuat minuman segar dan menyiapkan cemilan ringan lain nya


"ada sayur gak sih sya, pemilik cafe tapi kulkas nya irit banget malah stok mie instan yang banyak" keluh Ririn mengobrak Abrik isi kulkas asya


"Lo tau sendiri, siapa yang mau makan? gue juga suka ogah makan sendiri, paling masak cuma pagi hari sama bi inem" kata Ririn


"gue ambil ini ya?" kata Ririn mengambil beberapa sayuran untuk di jadikan salad Bento dan beberapa makanan Frozen


"Lo sya goreng nih ayam gue mau ngaduk dulu mie" kata Ririn


"ini mah nama nya mukbang Rin" kata asya melihat mie yang sedang di tiriskan oleh Ririn


tok tok tok


"Rin bentar gue buka dulu pintu" kata asya langsung menuju pintu


ceklek


"eh rash, za" sapa asya "gue kira kalian gak bakal datang" lanjut asya


" kak asya aku takut" cicit Khanza


"tenang saja za, yuk masuk" ajak asya menyilahkan tamu nya masuk


"siapa sya?" tanya Azka setelah asya kembali


"arash sama Khanza" kata asya dan menyilahkan mereka bergabung


deg


Azka langsung menatap mata asya untuk menanyakan maksud nya, tapi asya langsung memalingkan muka nya


"sya Lo cari penyakit" kata Rio yang melihat muka azka


"gue bantu Ririn dulu" kata Azka berdiri


"gue udah disini kali" timpal Ririn dengan membawa mangkuk besar berisi mie goreng pedas


"sorry, kalo gue dan adek gue ganggu kalian" kata arah membuka suara


deg


"adek?" kata mereka serempak kaget


"sorry ka, gue sengaja ajak mereka biar kita bisa selesai kan permasalah pahaman" kata asya pada Azka


"kenapa Lo gak bilang rash, kenapa Lo selama ini malah diam?" tanya Azka kesal


"maaf kak, kak arash sulit untuk memulai berbicara kepada orang lain" kata Khanza membuat mereka bengong dengan satu sisi tentang arash


"gini aja deh, karena makanan sudah jadi, jadi lebih baik kita makan terlebih dahulu" kata asya


"nah itu baru betul, sedari tadi perut Ucup sudah lapar" kata Ucup mencairkan suasana


"bantu bawa makanan guys" titah Ririn


asya langsung menyiapkan meja dan di alasi dengan aluminum foil untuk alas makanan mereka


hanya menu instans yang di hidangkan terlihat sekali bahwa asya tidak pandai memasak


"ini mah sih racun" kata vio


"sorry gue gak bisa masak" kata asya cengengesan


"racun gagal diet sya, siapa sih yang nolak makanan instans" kelakar vio


"wih minuman cafe ini" kata bian dan di angguki Rio


"sorry sya ada nasi gak? adek gue belum makan dari pagi" kata arash kepada asya membuat mereka menatap nya


"kakak malu maluin tau" kata Khanza memukul lengan arash


"ada, bentar gue ambilin" kata asya tersenyum


"kenapa belum makan dari pagi? tanya Rio si manusia super kepo


"hm" hanya deheman yang arash jawab dan garuk garuk kepala


"ini nasinya" kata asya membawa mangkok sedang berisi nasi dan piring kosong


"makasih kak asya, maaf malah merepotkan" kata Khanza


"udah kakak ambil tulang nya, cepat makan kalo bunda tau nanti kakak yang kena marah gak bisa jaga kamu" kata arash menyiapkan daging ayam dan NuGet buat Khanza


"mie nya nih za" tawar Ririn


"Khanza gak bisa makan pedas" kata arash


drt.. drt..


"kak ayah" kata khanza menyerahkan ponsel nya


"biar kakak yang angkat, kamu makan awas kalo gak habis" ancam arash langsung menerima panggilan nya di depan rumah asya


"za, Lo bener adek nya arash?" tanya Rio yang di jawab anggukan kepala


"lebih tepat nya adek beda ayah" kata Khanza membuat mereka bengong dan penasaran dengan kehidupan arash yang terbilang tertutup


"ouh ya kak asya selalu di tanya sama bunda karena hanya nama kak asya yang selalu kak arash cerita " kata Khanza membuat asya tersedak


"uhuk uhuk"


"aduh kak asya maaf" kata Khanza panik


"kenapa arash bisa cerita tentang asya?" tanya vio penasaran


"tidak tau, tapi bunda ingin sekali berterima kasih karena kak asya bisa mengembalikan arash yang dulu, terbukti kan sekarang sekarang mah kak arash bisa di ajak ngobrol" jelas Khanza


"iya sih, gue juga pernah heran kenapa si arash irit banget bicara nya, dari kelas X sampe sekarang irit banget kalo ngomong" heran Rio


" karena papanya kak arash galak, bahkan kalo kak arash menuruti kemauan papa nya itu suka di kasarin, sudah tak aneh kalau datang ke rumah wajah kak arash sampe babak belur " jawab Khanza keceplosan


"oops, jangan kasih tau kak arash Khanza yang kasih tau ya" pinta Khanza memohon


"oke aman ko" kata Ririn yang menjawab sedangkan yang lain nya masih dengan pemikiran nya


" ini hape kamu" kata arash yang baru datang


"apa kata ayah kak?" tanya Khanza penasaran


"cuma nanya kabar kamu gimana " kata arash tersenyum dan mengacak rambut adik nya


"omooo" teriak sasa


"rash Lo tadi tersenyum? gila baru kali ini gue liat Lo tersenyum" girang sasa


"sumpah deh rash Lo keliatan ganteng banget " kata sasa yang di angguki Ririn dan vio


"yang ganteng aja kalian langsung cepet" kata Ucup


"makan nya cup, glow up dong" kata vio


"sudah ayo makan" kata asya


mereka pun menghabiskan waktu dengan canda tawa, niat hati buat belajar tapi akhirnya malah makan dan konser


seperti ada yang lupa dari kepala Azka hingga sampai dia harus berdiam diri terlebih dahulu


"tuh si Azka kenapa lagi, bukan nya udah clear cinta segi rumit " kata Rio menyenggol asya


"entah" jawab asya


"ka Lo kenapa?" tanya asya penasaran


"gue bingung, sebenarnya gue ikut ke sini tuh untuk apa ya? lupa gue" kata Azka menggaruk kepalanya


"ka sorry" kata arash menyadarkan Azka


"slow man, seharusnya gue yang minta maaf udah tau Lo irit bicara bukan nya gue minta klarifikasi malah menghindar gue" kata Azka canggung karena saat ini yang dia hadapi arash sebagai kakak nya Khanza


"bantu gue" kata arash


"bantu apaan?" tanya Azka bingung


"buat komunikasi dengan yang lain" jawab arash


"siap" kata Azka dan baru teringat dengan sesuatu


"asya " teriak Azka


"apaan sih ka?" tanya asya


"Lo harus cerita mengenai omongan Lo yang katanya di culik om om" kata Azka membuat mereka baru ingat dengan tujuan awal nya


"ouh itu" jawab asya cengengesan