Arasya

Arasya
di temukan asya



di penginapan arash sedang serius mendengar analisa dari guru pembimbing nya dari melihat rekaman cctv


belum tau penyebab kenapa asya langsung lari ketakutan, namun sorot mata nya bukan menatap Agam, terlihat jelas dalam rekaman cctv itu


dan dugaan nya, Agam ikut berlari karena asya yang lari begitu saja, namun arash juga khawatir karena Agam pernah ingin mencoba melecehkan asya waktu itu


di saat yang bersamaan Agam dengan susah payah dengan asya dalam gendongan nya


jalan yang licin akibat guyuran hujan semalam membuat Agam sangat kesusahan untuk berjalan


berkali kali jatuh dan berkali kali juga Agam bangkit dan terus menggendong asya


luka asya semakin bertambah dan Agam pun sama terluka akibat berkali kali mereka terjatuh


"biar gue jalan aja gam, gue bisa" kata asya


namun Agam menahan nya, meski Agam tak bisa melihat jelas wajah asya namun Agam dapat merasakan asya yang kesakitan dan penuh lelah nya


"biar gue gendong sya, tahan sebentar kita bakal keluar sebentar lagi" kata Agam


asya hanya menurut pada Agam, dia tak mau menambah beban selain hanya menurut saja titah Agam, lagian tubuh nya sangat sakit dengan luka luka di tubuh nya


"seperti nya kita tersesat gam, ini jejak kita tadi" kata asya


"seperti nya sya, tapi Lo jangan khawatir, kita pasti bakal pulang pagi ini" kata Agam yang di angguki kepala oleh asya


sedangkan arash sedang mulai dalam pencarian asya dan Agam dengan di temani oleh para teman dan warga sekitar


walaupun lelah dan belum istirahat, namun hati arash belum tenang sebelum melihat asya, kekasih nya itu


Agam yang tak pantang menyerah, melihat cercah cahaya dari senter membuat Agam berusaha untuk mendekati cahaya itu


lidah nya Kelu untuk berteriak, bahkan yang ada nafas nya tersengal senggal, asya yang mulai lemas dalam gendongan Agam terasa oleh Agam yang semakin memberat beban di pundak Agam


"to..long" lirih Agam agak susah untuk berteriak


kerongkongan nya kering, dan beruntung nya fajar mulai datang membuat Agam lebih mudah untuk berjalan, tidak seperti malam tadi yang sangat sulit untuk melihat pijakan


baru beberapa meter arash masuk kedalam hutan, namun belum ada tanda tanda asya akan ketemu


"itu mereka" kata salah satu warga yang tak sengaja menyorot lampu ke arah asya dan Agam


deg


jantung arash berpacu dengan cepat saat melihat dimana Agam yang berusaha berjalan dengan asya di gendongan nya


arash dan yang lain bergegas berlari ke arah mereka, jangan tanyakan Agam yang sekarang sudah merasakan lemas di kedua kaki nya


brugh


lagi lagi Agam terjatuh karena fisik nya yang sudah tidak kuat, arash semakin kuat berlari mendekat ke arah asya yang sudah tergeletak tak berdaya


"asya sayang... bangun" kata arash yang langsung menggapai tubuh asya yang lemah


asya hampir kehilangan kesadaran nya, namun bibirnya melengkung saat mata sayu nya melihat arash di cahaya yang remang remang itu


"sayang bangun" kata arash lagi namun sedetik kemudian asya langsung tak sadarkan diri di pangkuan arash


"bawa ke rumah sakit" intruksi dari guru pembimbing


keadaan Agam tak jauh dari asya, meski Agam masih keadaan sadar, namun fisik nya sangat lelah, bahkan untuk bicara pun lidah nya sangat Kelu


bisik bisik mulai terdengar, bahkan di saat genting genting nya ada saja orang yang menambah gosip yang belum jelas asal usul nya


Sasa merasa bersalah pada asya yang tak mencegah asya untuk datang pada orang yang mengatakan arash


hatinya jadi bimbang pada Agam yang kini sedang di curigai, dari riwayat Agam yang pernah ingin melecehkan asya membuat Sasa menjadi berpikir ulang tentang Agam


"enggak.. gak mungkin Agam seperti itu, meski dulu emang Agam memang seperti itu, tapi kali ini Agam sangat menyesal terkait dengan masalah dulu" gumam Sasa


vio dan Ririn sudah nangis, mereka khawatir dengan asya yang belum juga ada kabar nya


Ririn sangat tau gimana asya yang paling takut dengan gelap, Ririn gak bisa bayangkan gimana takutnya asya di dalam gelap nya malam


"mungkin asya sama Agam ada afair"


"kan dulu asya hampir di lecehkan sama Agam, apa mungkin dulu itu mereka berbuat mesum namun keburu ketauan dan asya bilang nya di lecehkan karena takut juga lah ketauan"


"udah dapet arash tapi masih gatel sama cowo lain"


"cewek murahan itu nama nya".


kepala Ririn terasa mendidih dengan mendengar hinaan untuk asya


"kalo kalian gak tau cerita nya, gak usah sok tau" kata Ririn dengan menatap tajam orang orang yang tadi membicarakan asya


para siswa yang tadi membicarakan asya langsung menunduk takut saat Ririn dan teman teman nya melewati mereka


"biarin aja rin, azab bagi mereka yang sok tau tentang urusan orang, besok nya lidah nya kayak uler, melelet terus.. ikhhh" Kata vio


"kok kaya uler sih?" tanya Sasa bingung


"iya kan mulut nya licin kaya uler" jawab vio yang sempat sempat nya mendoakan orang di azab


"gak sekalian ludah nya kepanasan seperti makan batu neraka, mulut nya tuh pedes melebihi bon cabe" kata Ririn yang malah langsung pergi begitu saja


sebenarnya Ririn sangat muak dengan siswa yang seperti itu, belum apa apa di jadikan gosip yang belum tentu kebenarannya


kalo saja Ririn punya tenaga, sudah di pastikan tuh para siswa yang ngomongin asya sudah Ririn labrak


namun sayang tenaga nya di irit irit sampai ketemu nya asya


sedangkan arash dan yang lain nya langsung membawa Agam dan asya ke rumah sakit terdekat


tak lupa guru pembimbing kelas XII IPA II yang mengurus para warga yang membantu mencari anak didik nya


dengan kesepakatan yang arash buat, para siswa akan mengikuti liburan akan pulang kecuali teman asya dan arash tak lupa pak Satya selaku guru pembimbing pun yang akan menemani mereka


bagaimana pun pak Satya yang bertanggung jawab pada murid nya itu, bahkan jika orang tua keberatan dengan kondisi Agam atau pun asya, pak Satya siap menerima konsekuensi nya


mereka menghela nafas saat dokter mengatakan mereka hanya kelelahan, dan hanya perlu istirahat untuk Agam dan asya


tapi asya harus mendapatkan perawatan intensif karena luka yang di pergelangan kaki dan wajah nya


arash merosot kan tubuhnya pada dinding setelah penuturan dari dokter


hatinya merasa lega, karena asya terluka karena rumput rumput liar, terlihat jelas ada duri yang masih tertancap di pipi nya


dan sangkaan nya kepada Agam sirna sudah, yang ada sekarang merasa bersalah dan berhutang Budi pada Agam yang menggendong asya sampai dia kelelahan