Arasya

Arasya
kepekaan asya



Asya dan Azka kaget setelah mendengarkan cerita tentang arash dari bundanya khanza


sesuai rencana asya kini mereka tengah berada di rumah Khanza ibu kandung nya arash juga


bahkan bunda dan Khanza langsung menangis saat asya menceritakan hal kemarin yang membuat arash semakin dingin dan emosinal


"ternyata arash punya masalah yang begitu besar" kata Azka yang kini mereka tengah mengobrol bertiga di ruang keluarga


"udah gue duga ka, karena arash itu pendiam dan dingin pasti ada sebabnya menyebabkan dia seperti itu, terlebih kemarin gue liat sendiri ka" kata asya


"kalian tak akan jauhin kak arash kan?" tanya Khanza hati hati membuat asya dan Azka langsung menatapnya


asya tersenyum menanggapi perkataan Khanza "untuk kali ini lebih baik nya kita jaga jarak sama arash termasuk kamu Khanza" kata asya membuat Khanza langsung menggelengkan kepala nya


"tenang dulu za, gue yakin arash di ancam oleh papi nya untuk melindungi kamu, bunda, juga orang orang yang dekat dengan nya dan pasti nya arash sedang di awasi" kata asya dengan pikiran nya


"wah betul tuh, sampe banget Lo kepikiran ke arah sana" kata Azka


"logika aja sih ka, dan kemarin arash sempat meminta maaf untuk kedepannya dia akan berbeda, itu udah clue dari arash malah kenapa arash bisa sampai seperti ini" lanjut asya


"bener, selanjutnya gimana?" tanya Azka


"selanjutnya kita bakalan bantu arash bisa bertemu dengan Khanza dan bundanya meski harus mengalihkan perhatian nya yang selalu mengawasi arash" kata asya yang di angguki Azka


"kak asya makasih ya" kata Khanza tulus


"gak masalah, kamu sama bunda harus bersabar ya za, semoga kedepan nya kalian bisa bertemu dengan tanpa rasa takut akan papa nya arash" kata asya tersenyum


malam hari nya asya seperti biasanya berada di cafe Abang nya,


asya melotot saat seorang lelaki dewasa keluar bersama Abang nya.


asya panik dan langsung bersembunyi di bawah meja


"sial.. itu si om itu kan? yang mau nyulik gue waktu itu?" gumam asya


sedangkan di arah Abang Ken tengah kebingungan mencari adik nya dimana


"asya dimana mik?" tanya bang Ken


"tadi di sana" tunjuk bang Miko, "kenapa gak ada tuh bocah" heran bang Miko karena benar tadi dia melihat asya berada di dekat panggung kecil


"kalo liat, suruh temuin gue ya" suruh bang Ken


" okeh " jawab Miko


bang Ken mendesah panjang akan sikap adik nya yang selalu menghilang


"dimana dia?" tanya lelaki itu yang bernama Radit


"gak tau om, asya emang selalu begitu om selalu ngilang dimana saja" keluh bang Ken


"jaga dia Ken, om yakin dia selalu kesepian semenjak orang tua kalian sudah tidak ada" nasihat om Radit


"iya om, makannya Ken tak pernah memarahinya saat dia sering berulah di sekolah maupun di rumah, Ken sadar bahwa asya sangat menginginkan kasih sayang sedangkan Ken harus sibuk ngurus cafe demi hidup nya asya juga" keluh Ken


"mulai hari ini om akan bantu kamu Ken, maaf om terlambat menemukan mu" kata om Radit tulus


sedangkan asya tengah kesemutan kaki nya karena lumayan lama dia jongkok di bawah meja


"itu si Abang kenapa gak di usir sih" kesel asya karena masih melihat lelaki dewasa itu


asya melengkungkan senyum nya saat lelaki dewasa itu tengah berjalan keluar cafe


asya menunggunya sebentar sampai dirinya keluar dari meja dengan kaki yang kesemutan


"awww" ringis asya memperbaiki duduk nya di kursi


"asya, tadi kemana Abang cari" kata bang Ken saat melihat adik nya sedang duduk tak jauh dari nya


"ta-tadi asya sedang ke toilet bang" kata asya merasa gugup


"itu bang, asya jongkong lama banget di toilet, biasa lumayan sakit nih perut" kata asya mengelus pelit nya


"istirahat saja sana" titah bang Ken pada adik nya


karena tak ingin membuat Abang nya curiga asya langsung saja ke ruangan Abang nya untuk beristirahat


"lebih baik gue bener bener istirahat aja deh" gumam asya


pagi hari nya asya ke sekolah dengan wajah seperti biasa riang ceria, menyapa setiap orang yang di lalui nya


"pagi anak anak ku" kata asya terkekeh di depan kelas


"pagi mama" jawab Ucup so imut


"hoekkk" mual Azka yang juga baru datang


"jemput Khanza?" tanya asya yang di angguki oleh Azka


kelas yang kemarin terasa tegang kini ricuh kembali saat asya menebarkan ceria nya kembali.


sampai sampai Rio sudah berisik dengan konser mini nya dengan memakai sapu sebagai mik nya


asya hanya geleng gelang kepala dan tidak di larang nya dulu karena jam pelajaran belum di mulai nya


arash yang baru datang dengan seperti biasanya tak luput dari arah pandang asya


"Rin" sapa asya membuat Ririn mendongak kan wajah nya


"gue tau Lo hanya menghindar dari kita demi melindungi kita juga, so gue akan ikutin permainan Lo" kata asya membuat Ririn bingung sedang kan arash yang mengerti perkataan asya hanya tersenyum tipis


"guys stop dulu konser nya" kata Azka menghentikan konser mini Rio


"lah ka, kan belum bel" keluh bian


"bentar, pengumuman apaan tuh, denger yang baik" kata Azka membuat mereka terdiam


"sekali lagi kepada seluruh ketua kelas segera berkumpul di aula sekarang juga"


"sya Lo di suruh kumpul" kata Azka yang di angguki asya


"buku Lo" kata Ririn melemparkan buku asya


"guys jangan berisik dulu, sementara dengerin dulu Abang Azka oke" kata asya sebelum melenggang pergi


arash masih memperhatikan punggung asya yang sudah tiada di balik pintu kelas


kelas kembali ricuh karena bel masih kurang lima menit lagi, seperti biasa ada yang gosip ada yang game dan ada juga yang nyalin pr


"semenjak Rio bareng sama Nadya, jadi jarang banget Rio nyalin pr?" kata rival


"iya ya, lain kali ikutan lah nanti belajar sama Nadya" kata Andi yang di angguki kepala oleh rival


asya berjalan sendiri menuju aula yang di suruh nya


abim yang kemarin jadi lawan arash saat berkelahi kini berjalan menuju asya


"hai sya?" sapa ya


"Lo, ketua kelas juga?" tanya asya yang di angguki oleh abim


wajah yang masih ada bekas lebam akibat tonjokan arash kemarin tapi tak membuatnya untuk bolos sekolah


"gue gak tau apa masalah Lo sama arash waktu kemarin, tapi gue tau arash gak mungkin dia menghajar Lo kalo Lo gak beri api duluan" kata asya sinis


"wow ternyata Lo peka juga, tapi sayang si kutub itu tak bisa membela diri" kata abim terkeke


"dia emang gak bisa membela diri, tapi dia selalu melindungi orang orang dekat nya dengan cara nya" kata asya melenggang pergi meninggalkan abim