
Sya, are you oke?" tanya arash
tak ada jawaban dari asya, hanya pegangan dari tangan dan perut nya semakin erat
wajah pucat dengan keringet yang yang begitu banyak di kening asya menandakan bahwa apa yang asya rasakan kini sangat sakit
"Bu, tolong" teriak arash begitu panik
"kenapa?" tanya nya
"asya Bu" jawab arash hanya sepotong
"ya Alloh, asya.. nak.." panggil Bu guru
"sa..kit" kata asya lirih
"kita bawa ke rumah sakit terdekat, kamu gendong asya ibu suruh pak Budi siapin mobil" titah Bu guru yang di angguki kepala oleh arash
dengan sedikit panik arash menggendong asya, di bawa nya lobi sekolah karena mobil menunggu di sana
pemandangan asya yang di gendong oleh arash itu di liat oleh sebagian orang yang belum masuk ke kelas nya
kabar di bawa nya asya ke rumah sakit langsung terdengar ke telinga teman sekelas asya, bahkan Sasa langsung menangis saat teman nya di bawa ke rumah sakit
"tenang guys, nanti kita tanya arash dan lebih baik kita sekarang mendoakan teman kita" kata Azka menenangkan teman teman nya
setelah di rumah sakit, pihak sekolah pun mengabarkan tentang asya ke pihak keluarga asya, sungguh saat ini bang Kendra sqngat kalut, takut terjadi sesuatu kepada adik nya itu
sejujurnya arash pengen banget mendekap asya yang saat ini tengah kesakitan, tapi tak mungkin dia lakukan karena ada guru dan dokter
"maaf, selamat pagi bu? pak?" kata bang kendra yang baru saja datang
"dengan kakak nya asya?" tanya nya
"iya Bu, saya kakak kandung nya asya, asya nya dimana?" kata bang Kendra dengan panik
"masih di periksa sama dokter" jawab Bu guru
Kendra hanya menghela nafas panjang, takut terjadi sesuatu pada adik nya itu, hanya asya keluarga nya saat ini
ceklek
"keluarga pasien?" tanya dokter
"saya dokter" kata Kendra dengan panik
"mari ikut dengan saya" kata dokter dan di angguki oleh kendra
sementara ibu asya yang tak sadarkan diri, masih di tunggu oleh guru dan arash
Kendra menyesali perbuatannya yang selalu menuruti keinginan adik nya, asam lambung nya naik dan lambung nya sedikit luka,
faktor sulit nya makan dan stress pemicunya, Kendra membenarkan jika adik nya itu sulit makan, ya saat mood nya buruk, asya selalu tidak nafsu untuk makan, tapi selalu melampiaskan ke makanan pedas
Kendra masuk ke ruangan asya yang sedang di tunggu oleh guru asya dan arash, Kendra mengatakan tidak ada hal yang serius pada asya membuat mereka mengucap syukur
"kalo gitu, maaf kita harus kembali ke sekolah" pamit pak guru
"iya silahkan, terimakasih atas perhatiannya nya pak Bu" kata bang Kendra
Kendra mengelus rambut asya yang kini tengah tertidur, dirinya menyesali keinginan asya yang selalu meminta mie yang pedas saat mood nya dalam tidak baik
Tante Maya yang baru datang setelah di hubungi suami nya langsung panik..
"gimana asya Kendra?" tanya Tante Maya
"tidak ada yang serius Tante, hanya harus di jaga pola makan nya" jawab Tante Maya
"syukurlah kalo begitu" kata Tante Maya
"ini salah Ken Tante, kalo mood asya lagi buruk asya selalu tak nafsu makan dan dia selalu minta makanan pedas sebagai ganti makan nya, salah nya Kendra selalu nurutin kemauan asya" sesal bang Kendra
"sudah lah, jangan menyalahkan diri sendiri Ken" tenang Tante Maya
"sudah ku bilang, asam lambung nya naik, dan lambung nya sedikit luka, hanya itu" kata arash saat Azka membawa Khanza ke depan nya
"bicara Lo terpotong potong, jadi kita gak ngerti" jawab Sasa
"ka, bunda kangen sama Kaka" kata Khanza
"iya nanti kakak temui bunda, sekarang kamu cepat ke kelas kamu za" kata arash pada adik nya itu
teman asya merasa tidak semangat saat asya sakit, mereka berinisiatif untuk menengok ketua kelas nya itu
"huuuaaa mamaaaa" tangis Ucup lebay
"lebay banget Lo" timpuk rival
"eh tapi tadi so sweet banget ya, mama di gendong papa" kata andi yang malah langsung meledek arash
sejujurnya arash pun baru sadar akan peebuatan nya, masalah dengan papa nya mungkin biar nanti dia hadapi
senyum tipis yang menghiasi wajah arash, teringat saat dia tadi menyuapi asya dengan wajah pucat nya
gosip tentang arash yang menggendong asya tadi menjadi trending topik di sekolah nya
orang orang bahkan menyimpulkan bahwa mereka benar benar pacaran, tapi tidak dengan kedua guru yang tadi ikut dalam membantu asya
"ihh murahan juga tuh si asya" kata bela
"bener, waktu itu si Azka juga belain tuh cewe" kompor sisi
"apa hebat nya tuh cewe? Bagas juga seperti nya suka sama tuh cewe" kesal bela
"mungkin ngasih ************ kali" jawab sisi
deg
bela yang mendengar perkataan sisi terasa tertampar hatinya, tiada yang tau bahwa selama ini bela selalu ngasih kepuasan kepada Bagas demi melindungi dirinya di sekolah sebab dirinya yang selalu semena mena di sekolah
"apa Bagas pernah begitu sama asya" pikir bela dalam hati
"Lo yakin asya cewe begitu?" tanya bela pada sisi
"mungkin saja sih, secara ya yang lindungin dia tuh para cowo kebanyakan nya, rio, Azka, dan sekarang arash" kompor sisi
"tapi teman cewe nya juga selalu lindungin dia" elak bela
"ya itu sih pikiran gue, Lo inget waktu tim kelas kita sama tim kelas asya tanding basket?" tanya sisi yang di angguki bela
"kata anak anak sih, mereka pertaruhkan asya, banyak juga yang liat Bagas goda asya yang buat Azka setuju tanding basket" kata sisi
"bisa jadi kan dia di pake sama anak kelas nya, maybe" kata sisi membuat bela meng ngangguk
"dan sekarang Bagas selalu bela dia kebanding gue" lirih bela dengan semua pikirannya
bela semakin membenci asya, karena ulah asya yang selalu ikut campur urusan nya dan karena asya pula Bagas menghindar dari nya
bela sangat tau gimana Bagas, dia tidak bisa tahan akan sentuhan, "cewe murahan" jerit bela di dalam hati dengan penuh amarah
"suuttt bagas tuh" kata sisi menyadarkan bela
di lihat nya Bagas yang beranjak dari kursi nya, kemana Bagas akan pergi?
"Bagas .." teriak bela
"Bagas" teriak nya lagi menyusul Bagas
"kenapa bel?" tanya Bagas
"Lo mau kemana?" tanya bela pada Bagas
"mau ke toilet bentar" kata Bagas yang di angguki bela