Arasya

Arasya
Agam dan sasa



di sebuah taman kota yang di tuju arash bersama asya, untuk apa lagi kalo bukan untuk berolahraga yang di lakukan mereka di pagi hari weekend


"Lo gak ngomong dulu mau ngajak gue olahraga" kata asya saat mereka tengah berlari kecil


sontak arash langsung menghentikan lari nya dan langsung menatap asya


"kenapa?" tanya asya karena arash berhenti dan menatapnya dalam


"udah aku bilang sya, panggil aku kamu" tekan arash


"tapi rash kita kan-


"suut... tidak ada tapi tapian" tekan arash menempel kan jari telunjuk nya di bibir asya


asya bungkam dengan perlakuan arash, sejujurnya dia bingung dengan sikap arash, dia senang dengan perubahan arash padanya, tapi asya juga perlu kepastian tentang mereka yang menurut asya tidak jelas


"kamu mau makan apa?" kata arash mengalihkan pikiran asya


"emmm pengen itu deh" kata asya menunjuk salah satu gerobak tak jauh dari mereka


"ayok" ajak arash menggenggam tangan asya


asya hanya melihat tangan nya yang di genggam arash, sungguh hatinya menghangat dengan perlakuan arash


"duduk dulu, biar aku yang pesan" titah arash pada asya


asya hanya tersenyum dengan semua sikap arash, entah siapa yang mengajarkan nya menjadi sehangat ini


"kenapa?" kata arash yang sudah memesan makanan nya


"enggak" jawab asya menggeleng tapi bibir nya tak bisa untuk tak tersenyum


"kenapa?" tanya arash lagi sembari menyelinap kan rambut asya ke belakang telinga nya


asya semakin memerah dengan perlakuan arash barusan


"kenapa?" tanya arash lagi sembari memperhatikan asya


"ini neng, den makanan nya" kata penjual itu menyelamatkan asya dari tatapan arash


"makasih mang" jawab asya


tak ada percakapan lagi setelah itu karena asya langsung fokus sama makanan nya, buka karena lapar, tapi bicara sama arash membuat kinerja jantung nya semakin menggila


sedangkan di tempat lain, sasa tengah bersitegang dengan mantan kekasih nya


"denger ya satya, Lo dan gue itu sudah tidak ada hubungan apa apa lagi" tegas Sasa


"tenang sa, gue cuma ingin minta no hape temen Lo yang udah bikin hancurin hubungan gue sama zia" jawab Satya dengan santai


"mau ngapain Lo sama sahabat gue?" kata Sasa tegang


"gue cuma mau ikutin sandiwara nya saja, dulu teman Lo bilang lagi hamil anak gue kan, makan nya gue mau bertanggung jawab" jawab Satya lagi


"ehhh syaraf.. Lo tau itu hanya akting, biar Lo tau dan sadar, rasanya di tinggalin pas sayang sayang nya itu menyakitkan" tekan Sasa menahan emosinya


Sasa sadar bukan saatnya untuk memaki cowo brengsek di depan nya, saat ini Sasa tengah berada di minimarket tak jauh dari rumahnya, namun sialnya malah bertemu dengan mantan nya itu


"gue tau itu hanya akting, tapi di liat liat, sahabat Lo itu emang cakep sih" kata Satya lagi


"Lo gak bakalan bisa deketin sahabat gue" kata Sasa " dan inget nya, sekali saja Lo deketin sahabat gue, inget gue gak bakalan diam saja" tekan Sasa langsung melenggang pergi


"gue akan cari tau nama nya" teriak Satya


kali ini Satya tengah di perhatikan oleh para pengunjung, namun Satya acuh seolah tak terjadi apa apa


begitu pun dengan Sasa, langsung melenggang pergi tak memperdulikan nya


"syaraf tuh cowo" dumel Sasa keluar dari minimarket


saking kesalnya pada Satya, Sasa sampai tak fokus melihat jalanan dan menubruk cowo di depan nya


"assshhh" desis pria yang di tabrak Sasa


"aduh maaf mas, saya gak sengaja" kata Sasa panik karena dia menyenggol lengan pria itu dengan lumayan keras


"iya gak papa" jawab nya berbalik pada Sasa


Sasa sampai terkejut dengan seorang laki laki yang ternyata siswa satu sekolah nya


"Agam kan?" tanya Sasa kaget setelah melihat wajah wajah pria yang di tabrak nya


"Lo kenal gue?" tanya Agam


"sorry, gue teman nya asya" jawab Sasa tak masalah bagi nya cowo yang di tabrak nya itu tak mengenal nya, begitu pun Sasa tau wajah nya pun saat cowo tersebut selalu ganggu asya apalagi dari masalah kemarin


"ouh, pantes Lo tau gue, pasti karena masalah gue kemarin sama teman Lo itu" kata Agam menunduk


entah, setelah hari itu Agam merasa dirinya sangat brengsek, dan wajar jika satu sekolah akan membencinya


"eh .. Bu bukan kok, ouh ya, Lo pulang sama siapa? harus nya kan Lo masih istirahat" kata Sasa mengalihkan pembicaraan nya


"naik taksi, bahan masakan gue abis, makan nya gue belanja dulu" kata Agam memperlihatkan barang bawaan nya


"bareng aja deh sama gue yuk, gue bawa mobil" kata Sasa menawari tumpangan nya


"eh, gak deh makasih" kata Agam tak enak hati menerima tawaran dari teman yang hampir dia perkosa


"gak masalah gam, yuk" ajak Sasa pada mobilnya


karena lengan nya yang sakit dan juga tak enak hati menolak tawaran dari Sasa, Agam pun menerima ajakan nya


di sebuah gedung apartemen yang menjulang tinggi, Sasa bisa menebak kalo agam bukan dari kalangan biasa


"thanks ya udah anterin gue" kata Agam agak meringis karena lengan nya terasa sakit kembali


"gam, biar gue yang bawa ke apartemen Lo aja" kata Sasa tak tega melihat Agam kesakitan


"eh gak papa sa, biar gue aja" kata Agam yang justru tak enak telah merepotkan Sasa


"gak papa gam, bentar gue parkir dulu mobilnya" kata Sasa


dengan arahan dari Agam, Sasa pun memarkirkan mobilnya


tepat di lantai 8, Sasa dan Agam telah sampai di lantai apartemen yang di tinggali Agam


ceklek


"masuk sa" kata Agam pada Sasa yang di angguki kepala oleh Sasa


"Lo duduk aja dulu, biar gue ambil minum dulu" kata Agam lagi


ruangan apartemen mewah yang di tinggali Agam, tak nampak buruk untuk ukuran cowo seperti Agam, tak rapi dan tak berantakan juga, standard lah di mata Sasa


"sorry, hanya minuman kaleng doang" kata Agam menyodorkan minuman pada sasa


"ternyata Lo ramah juga ya gam" kata Sasa terkekeh


"emang menurut Lo, gue itu gimana?" kata Agam sambil minum minuman nya


"jujur sih, awal tau muka Lo saat itu, pas berantem sama arash, apalagi saat kejadian kemarin, gue langsung takut dan benci sama Lo, tapi setelah asya dan arash jelasin tentang lo, gue berpikir akan ada waktunya seseorang berbuat gila" kata Sasa jujur


"gue emang gila kemarin" kata Agam terkekeh


tak perlu waktu lama Sasa dan Agam pun semakin akrab, apalagi dengan peringai Sasa dan Agam yang humble pada siapa pun