Arasya

Arasya
ciuman pertama



Keesokan hari nya tim basket IPA 2 tengah ramai di stand milik asya karena keberhasilannya mencapai final, bahkan tak sedikit dari mereka berjoget-joget ria sebagai mengekspresikan rasa gembiranya


asya hanya terkekeh melihat teman sekelas nya, dengan memberikan mereka segelas es coklat milik nya membuat mereka bahagia


Arash yang sudah mendapatkan minuman dari asya, langsung menjauh dari mereka dan duduk menyendiri di pojok gedung sembari memperhatikan asya dan yang lain nya


asya tak sadar langsung melirik dimana arash berada, sesaat mata mereka masih saling menatap hingga asya yang memutusnya duluan, sedangkan arash masih tetap dengan menatap asya


asya tau dengan keadaan arash yang menjauh tak lagi mempersalahkan nya, begitupun dengan teman teman nya yang sudah di beri tahu oleh asya dan Azka


"ini minuman untuk Khanza dan bunda?" tanya Azka yang di angguki kepala oleh asya


"ouh untuk calon mertua dan ipar ni ye?" ejek Ririn


"sialan Lo Rin" kata asya melotot


"gak usah ngelak, entar beneran demen gimana?" kata Azka


"hai guys" sapa Rio yang baru datang bersama Nadya


"eh ini couple goalnya IPA II nih" seru rival dan di serukan dengan yang lain nya


"gimana ?" tanya asya


"Alhamdulillah, lancar sya" kata Nadya yang sudah mengikuti perlombaan akademik


semenjak belajar bersama di rumah asya, memang Rio dan Nadya terlihat sering bersama, apalagi Rio sering ke rumah Nadya dengan alasan belajar di rumah Nadya


"untuk yang lain nya gimana?" kata asya bertanya kepada Azka


"semua nya lancar, tapi yang ikut lomba bulu tangkis, gak lolos" kata Azka melihatkan layar hape nya


memang dalam memperingati kemerdekaan Indonesia taun ini,di adakan berbagai macam perlombaan, makannya waktu nya sampai satu Minggu


dan di antara nya ada basket untuk putra, voli untuk siswi, dan juga akademis untuk mengetahui kecerdasaan anak didiknya


"gue beres beres dulu dah" kata asya membuka apron nya


"bentar lah gengs, gue masih lemes nih kaki" keluh Sasa yang sudah selonjoran di lantai tanpa takut kotor


"Lo diem aja, biar gue yang beresin" kata asya yang sudah membereskan alat alat perdagangan nya


Ting


satu pesan masuk di ponsel asya saat asya membereskan perlengkapan nya


gue tunggu di roof top saat ini


pesan dari no yang tidak di kenalinya, tapi matanya langsung melirik dimana arash sedang duduk


arash mengangguk sebagai kode untuk asya dan berlalu menuju roof top


asya pun yang paham, langsung memerintahkan beberapa teman nya untuk membereskan perlengkapannya


"nih kunci mobil nya, sorry ya gue repotin kalian" kata asya sebelum berlalu dan tak lupa membawa tas nya


asya berjalan dengan santai menuju tempat yang di janjikan oleh seseorang


asya hanya mendesah saat dirinya take menemukan seseorang di atas roof top


"ini gue di kerjain atau gimana sih?" kata asya berkacak pinggang


"masa bodo lah, mending gue balik aja" gumam asya hendak berbalik


grep


sebuah pelukan dari belakang mengagetkan asya, untung nya asya tau dengan aroma parfum yang kini seseorang tengah memeluk nya


jantung arash bekerja lebih cepat saat arash memeluk nya, entah apa yang di pikirkan oleh cowo itu sehingga sampai memeluk asya seperti ini


"Hem" hanya deheman yang arash jawab, selebih nya dia menikmati aroma asya yang kini dia peluk erat


ceklek


sadar dengan pintu masuk menuju roof top di buka seseorang, dengan replek arash membawa asya ke dalam ruangan sempit


takut membahayakan asya, karena tempat itu tempat penyimpanan kabel kabel, arash menyudutkan asya di balik pintu kecil itu


asya bergetar takut dan juga bingung "kenapa rash?" tanya asya berbisik karena arash tengah memperhatikan celah pintu


"diam sebentar" kata arash berbisik dan merapatkan tubuhnya untuk melihat dengan jelas siapa orang yang selalu memperhatikan nya


asya berdetak dengan cepat saat tubuh arash menempel dengan tubuh nya, jika tangan asya tak di menghalangi dada arash mungkin tubuh kedua sudah menempel


"ternyata pak Bondan" bisik arash di telinga asya, sikap arash yang mungkin tak di sadari nya justru membuat asya mendapatkan gelenyar aneh pada tubuh nya


setelah orang yang di suruh papa nya untuk mengawasinya dan ternyata guru olahraga nya telah pergi, arash baru sadar dengan posisinya yang tengah memojokkan asya, terlebih tangan asya yang tengah berada di dadanya


detakan jantung arash di rasa kan oleh tangan asya yang kini tengah menempel di dadanya


"rash" kata asya mendongak melihat arash, karena merasakan detak jantung arash sama seperti nya


tanpa menjawab arash mendekatkan bibir nya ke bibir asya, hanya menempel tanpa ada pergerakan tapi mampu membuat asya seperti orang kehilangan akal


asya menegang, ciuman pertama nya di curi teman sekelas nya


"sorry," kata arash bergetar sambil mengelus bibir asya


tak ada jawaban dari asya membuat arash menatap nya dengan penuh khawatir, ia tau ini ciuman pertama bagi asya dan juga bagi arash


"tunggu gue sampai umur 21 tahun" kata arash langsung memeluk asya erat, sedangkan asya langsung shock dengan perbuatan arash


"ayo keluar" ajak arash menyadarkan asya


tak ada percakapan lagi dari mereka, dengan tingkah arash yang mengendap endap malah justru membuat asya takut


"aman, Lo duluan keluar sana, biar gue nanti belakangan" titah arash pada asya yang di angguki kepala oleh asya


tangan asya yang menarik gagang pintu langsung terlepas saat tubuh nya langsung di tarik


cup


tanpa ijin lagi arash mencium kening asya lama, sedangkan asya seperti kehilangan kesadaran nya saat arash mencium lembut kening nya


"hati hati, tunggu gue akan datang menjemput Lo" kata arash membuat asya bingung


"cepat sya keluar" titah arash yang membuat asya langsung menuruti nya, entah kenapa dia juga ikutan takut


asya berjalan gontai dengan semua pikiran nya, di raba nya bibirnya, apa khayalan atau beneran sih? pikirnya


"anjir, kenapa gue kaya orang bego" kata asya setelah asya sadar


"arash sialan.. Lo pikir gue cewe apaan?" kesalnya menghentakkan kaki


asya menemui teman temannya yang sudah berkumpul di tempat parkir


dengan masih wajah kesalnya, asya menghampiri teman nya


"sudah guys?" kata asya terlihat jelas dengan muka kesalnya itu


"kenapa Lo?" tanya Ririn melihat wajah bere sahabat nya itu


"ketemu kang maling " jawab asya kesal membuat mereka heran menatap nya


udah lah gak usah di bahas, " mana kunci mobil? gue mau pulang" kata asya meminta kunci mobil nya