Arasya

Arasya
kisah tragis



"kami temannya Lidya Tante, Tante tau orangtuanya? kami di suruh untuk menyampaikan pesan dari guru kami untuk keluarganya" jawab vino lemah lembut


"hufft" terdengar helaan nafas panjang dari wanita itu


akhirnya dengan segala pertimbangan wanita itu mengajak asya dan vino untuk menceritakan yang telah terjadi pada anak tetangga nya itu


asya terkejut dengan bola mata yang melotot dengan kisah haru dan pilu yang di alami Lidya yang kini tengah terbaring di rumah sakit


tubuh asya bergetar setelah mendengar semua cerita dari tetangga teman sekolah nya itu


vino menyadari kakak kelas nya yang tengah bersamanya kini terlampau kaget hingga tangan nya bergetar


di genggam nya tangan kakak kelas nya itu untuk memberikan saling kekuatan untuk mendengar cerita tetangga itu


vino mengangguk kan kepala nya saat asya menengok kearah nya


"maaf Bu, boleh kita minta no telepon ibu kandung nya Lidya? bagaimana pun dia harus tau yang sebenarnya, apalagi sekarang anak nya tengah berada di rumah sakit" kata asya dengan penuh harap


"ada nak, semoga kalian bisa membantu anak itu, kami di sini bukan nya tidak mau membantu, tapi setiap kami membantu ayah tirinya itu akan mengamuk dan bahkan bisa mencelakakan Lidya, kami hanya orang miskin yang melindungi diri kami juga sulit, apalagi harus melindungi orang lain" jelas ibu itu


vino dan asya pun kembali ke rumah sakit setelah berpamitan dan mendapat no telepon ibu kandung dari lidya, saat ini tujuan mereka untuk menceritakan tentang keluarga Lidya yang baru dia dapat dari tetangganya


"menurut lo, gue salah gak sih minta no telepon ibu kandung nya teman Lo itu?" tanya asya pada vino


"seperti nya masalah ini berat sekali, lebih baik kita bicarakan saja pada guru BK, selebih nya biar mereka yang memutuskan" kata vino yang di angguki kepala oleh asya


sore hari ini asya masih dengan vino berada di rumah sakit, Nadya dan Rio sudah pulang karena tes Nadya sudah selesai saat asya dan vino pergi untuk memberi tahukan informasi kepada orang tua lidya


saat ini yang tersisa hanya ada Bu Mira selaku wali kelas nya kelas XI IPS 3 dan guru BK yang tengah menunggu keadaan Lidya


"bagaimana pak, Bu, kondisi Lidya?" tanya asya memberanikan diri untuk bertanya


"ternyata Lidya mengalami pendarahan hebat akibat keguguran, dan dokter menemukan banyak sekali bekas luka lebam di badan Lidya, sekarang dia masih kritis" kata guru BK menjelaskan


"kalian gimana? sudah memberitahukan orang tuanya Lidya?" tanya guru BK membuat asya dan vino saling pandang


asya terlihat ragu untuk menceritakan nya, tapi ini semua harus di ceritakan kepada gurunya, dengan menghela nafas panjang asya menceritakan semua yang dia dapat dari tetangga nya Lidya


"ibu nya bekerja di luar negeri dan Lidya tinggal bersama ayah tirinya, ayah kandung nya telah meninggal , dan kami hanya meminta no telepon ibu kandung nya pak" kata asya menyodorkan no telepon ibu kandung nya Lidya


"keluarga nya tidak ada?" tanya guru BK dan di jawab gelengan kepala oleh asya dan vino


"maaf pak, tadi kami dapat informasi dari tetangga nya Lidya tentang kehidupan Lidya" kata vino yang membuat Bu Mira dan guru BK itu bingung


"maksud nya gimana vino?" tanya Bu Mira


"gini Bu, ternyata selama ini Lidya selalu di paksa untuk melayani ayah tirinya, kata tetangga nya tadi mereka tidak bisa menolong nya karena apabila mereka menolong Lidya, rumah mereka akan di hancurkan oleh teman teman ayah tirinya itu, dan mereka hanya orang pekerja buruh sehingga mereka tidak berani untuk menolong Lidya" kata asya membuat guru nya terkejut kaget


"astagfirullah" seru nya


"ini masalah serius, bisa di laporkan pada polisi" kata Bu Mira


"makannya Bu tadi saya minta no telepon ibu nya Lidya, tapi kami gak berani untuk menelpon nya Bu" kata asya


"masalah ini biar guru yang tangani, tapi sebelum nya, bapa minta tolong jaga dulu Lidya, bapa pulang dulu ganti baju dulu" kata guru BK


"iya pak" kata asya mengangguk


ada juga chat yang dari Abang nya, dan juga teman teman nya


"berita nya langsung heboh di grup sekolah " kata asya pada vino yang mata dan tangan nya masih sibuk dengan ponsel nya membalas satu per satu pesan yang menanyakan kabarnya


"menurut Lo, masalah ini sengaja di gugurin atau keguguran? karena banyak asumsi dari teman teman nya yang sampai tidak menyangka kan perbuatan Lidya" kata vino bertanya


"gue gak tau masalah itu, tapi yang jelas gue baru bisa nangkap bahwa Lidya itu seorang korban" kata asya yang di angguki vino


perbincangan mereka terhenti saat salah satu suster mengatakan pasien sadar


buru buru vino dan asya menemui Lidya yang kini tengah berbaring dengan wajah yang pucat


"Lidya, gimana keadaan Lo?" tanya vino


"Vin..."lirih nya


"kenapa li?" tanya vino


"bo-leh min-ta ker-tas dan pulpen?" kata Lidya membuat asya dan vino saling pandang


"gue pinjem ke suster kali ya?" tanya vino pada asya yang di angguki kepala oleh asya


"bentar Li, gue pinjem dulu" kata vino yang langsung keluar dari ruangan tersebut


tak ada percakapan setelah vino keluar, asya hanya memandangi wajah pucat itu sembari yang memejam kan matanya


"ini Li" kata vino menyodorkan pulpen dan kertas


Lidya langsung menulis yang entah apa di tulis nya, karena lama dia menulis nya sambil menangis tanpa suara


asya langsung memegang lengan vino saat melihat Lidya menangis tanpa suara sambil menulis


entah apa yang di rasakan asya saat ini, tapi rasa takut dan khawatir juga kasihan menyatu saat ini


ceklek


pintu ruangan terbuka dengan guru BK, pak Asep namanya sudah datang bersama istrinya itu


"Lidya sudah sadar?" tanya nya saat melihat siswi itu tengah menulis surat


"pak, tolong berikan surat ini untuk ibu Lidya ya" pinta Lidya yang langsung memejamkan matanya dan surat itu pun terjatuh sebelum di terima oleh pak Asep


"Li.. Lidya" panik vino


"panggil dokter Vin" titah pak Asep membuat vino langsung berlari keluar


beberapa dokter datang untuk mengecek kondisi Lidya


"mohon maaf semuanya tolong keluar terlebih dahulu" titah dokter yang di angguki kepala oleh mereka


asya hanya diam membeku saat Lidya tadi langsung tak sadarkan diri


"mohon maaf pak, pasien sudah meninggal dunia" kata salah satu dokter yang baru keluar dari ruangan