
arash sadar bahwa asya tengah memberi jarak dengan nya meski asya menolak dengan halus saat di ajak membuat konten baru
arash langsung memacu motor nya saat tau asya tengah live di IG nya, dengan perasaan kesal dia memacu motor nya dengan kecepatan tinggi
di lihat nya gadis yang membuat nya kesal baru saja turun dari panggung
"gue mau ngomong" kata arash membuat asya kaget dengan kedatangan arash yang tiba tiba
"ngomong apa?" tanya asya seperti biasanya
"gak di sini, bisa ikut sebentar" kata arash dengan mata memohon
"bentar gue ijin dulu" kata asya langsung mencari Abang nya
"ayok" kata asya yang siap dengan tas selempang nya
arash tanpa ragu menggandeng tangan asya membawa nya keluar cafe
"pegangan sya" kata arash di saat asya sudah naik motor nya
tanpa ada jawaban tapi asya langsung memegang pinggang arash
arash mendesah panjang dan langsung menarik tangan asya biar memeluk nya, mungkin arash rindu dengan pelukan asya bawelnya asya
asya hanya diam dan jujur posisinya yang seperti ini malah membuat kinerja jantung nya semakin menggila
di sebuah pantai yang arash tuju, tempat sepi tapi masih ada satu dua orang yang ada di pinggir pantai itu
arash menggandeng tangan asya menuntunnya untuk duduk di samping nya
hening beberapa saat, keduanya malah menikmati hembusan angin ombak di malam hari
"kenapa jauhin gue?" tanya arash setelah lama berdiam
"gue gak jauhin Lo rash" elak asya membuat arash terkekeh
"gak usah bohong" sanggah arash
"hufft" asya menghela nafas panjang dan jujur harus dari mana untuk memulai obrolan nya
"Lo tau kan rash gosip tentang gue, lebih tepat nya tentang kita" kata asya dengan nada yang kurang enak di dengar
"iya, terus kenapa?" kata arash santai membuat asya dongkol
"ya gue jauhin Lo supaya gak di gosipin lagi pelakor, siapa yang mau sih di sebut pelakor" kata asya mulai kesal
"emang kalo cuma Lo satu satu nya Lo mau?" tanya arash membuat asya melotot
"Lo ngomong apa sih?" kesal asya
"sorry tentang gosip itu" kata arash setengah setengah
"bukan salah Lo rash" jawab asya
"sore itu dimana gue pinjem buku Lo ayah Khanza kecelakaan" kata arash membuat asya menengok nya
"sekarang Lo jelasin rash, biar kita kita gak salah paham" kata asya menuntut
"Lo cemburu?" tanya arash sontak asya di buat kesal lagi dengan arrash
"astaga arash, Lo tau kan Azka sedari awal suka sama khanza dan kemarin kemarin Lo udah bikin dia emosi, Lo tau pas awal Lo datang sama Khanza ke sekolah dengan wajah Lo yang lebam, gue pikir itu ulah Azka tau" kata asya kesal
"bukan Azka" kata arash malah membuat asya makin kesal, dia sudah tau Azka tidak memukul nya tapi dia juga kepo
"Lo bener bener harus di ajar ngomong dulu rash, lama lama gue kesel sama Lo" kata asya mencoba sabar
"oke denger, dan mungkin gue bisa cerita sama Lo, gue gak bisa sama orang lain" kata arash menahan tangan asya
"oke gue dengerin" jawab asya menghadap ke arah arash
"maksud Lo?" tanya asya bingung
"gue dan Khanza adik kaka, di saat ayah Khanza kecelakaan siapa yang menjaga Khanza terlebih dia seorang gadis yang rapuh? di rumah tidak ada siapa siapa, hanya gue yang bisa Khanza saat ini" jelas arash
"terus Luka Lo?" tanya asya
"itu dari bokap gue gara gara gue gak pulang, jagain Khanza di rumah nya" kata arash menunduk
"sorry" kata asya setelah melihat reaksi arash
"kapan kapan gue ajak Lo ke tempat gue dan Khanza, biar bisa Lo nilai sendiri" kata arash menatap asya yang di jawab anggukan kepala oleh asya
"terus Khanza dimana sekarang?" tanya asya
"di rumah, ada bi Yati yang nunggu, Khanza juga sama bingung cara jelasin nya sama Azka terlebih nomor nya di blokir sama Azka" kata arash membuat asya lega
"Lo lega ternyata gue dan Khanza adik kaka?" tanya arash dan pertanyaan arash sukses membuat asya melotot kembali
"bukan gitu rash" kata asya garuk garuk kepala sedang kan tangan yang satu nya masih di pegang arash
"gue bisa tenang kembali, ternyata Lo gak nikung teman Lo sendiri, tau sendiri si Azka kecewa nya sama Lo gimana?" kata asya
"gue butuh bantuan Lo sya" kata arash kembali memegang kedua tangan asya
"apa?" tanya asya
"gue gak bisa jelasin semua sama Azka, dan Khanza pun susah untuk mengajak Azka berbicara, gue butuh bantuan Lo untuk menyelesaikan salah paham ini" kata arash memohon
"gimana ya rash, gue juga bingung cara ngomong nya sama Azka, Azka selalu menghindar saat ada orang yang nyinggung Khanza" jawab asya
"gue belum tentu bisa ngomong sama Azka, seperti gue bisa ngomong sama Lo sya" kata arash memohon
"nanti gue cari cara nya" kata asya membuat arash tersenyum tipis
"wah rash Lo tersenyum?" girang asya karena baru kali ini dia melihat seorang arash tersenyum
"gak" elak arash melepaskan tangan asya
"bohong banget Lo rash" sanggah asya menoel lengan arash
"gue gak bisa senyum sama orang lain" kata arash jujur
"hahaha" sontak asya malah tertawa
”pertama Lo gak bisa ngomong sama orang lain, terus senyum pun gak bisa, terus yang sama gue tadi ngomong sama siapa? tanya asya membuat arash sadar
"entah, gue juga bingung, gue bisa ngomong sama Lo meski gue juga suka bingung gimana ngomong nya " jawab jujur arash melihat asya
"ouh berarti Lo itu cuma kurang percaya diri doang rash" kata asya menyimpulkan
"mungkin" jawab arash kembali dengan irit bicaranya
"udah malem rash, kita balik yuk?" ajak asya yang di angguki arash
arash menggandeng tangan asya untuk menuntun nya berjalan di bebatuan, sampai di dekat motor pun arash masih menggandeng tangan asya
"gue anter kemana?" tanya arash setelah asya naik di motor nya
"ke rumah aja rash" kata asya membenarkan cara duduk nya
"ayo jalan" kata asya setelah sadar arash belum juga menjalankan motor nya
"tangan nya" kata arash mengkode asya untuk memeluk nya
tanpa ragu asya memeluk arash seperti yang arash inginkan, dengan kecepatan sedang arash melajukan motor nya sembari dengan asya berceloteh mengajak arash ngobrol, tanpa sadar asya menopang kan dagunya di pundak arash dengan berceloteh ria