Arasya

Arasya
Rio marah



pagi hari ini asya sudah stand by menunggu kedatangan arash di depan teras, tidak seperti biasanya yang suka lelet datang ke sekolah, kini sepagi ini asya sudah siap menunggu kedatangan arash


"tumben" kata Daniel membuat asya menoleh pada cowok anak SMP itu


"apa?" tanya asya


"CK, tumben sudah siap jam segini?" tanya Daniel


"ya harus semangat dong" kata asya sembari melihat ponsel nya


Daniel hanya melenggang pergi menuju motor nya, rumah besar yang tanpa ada pembantu lain selain mbok Isah itu membuat Daniel dengan mandiri mengeluarkan motor nya, tidak seperti di rumah orang tuanya yang tinggal siap pake


tin tin


suara klakson membuat Daniel dan asya mendongak kan kepalanya, senyum asya merekah saat arash sudah sampai di depan rumah nya


"gue duluan" kata asya pada Daniel


"maaf telat" kata arash yang di jawab gelengan kepala oleh asya


"ya udah ayo berangkat" kata asya


"pake dulu helm" titah arash langsung memakaikan helm yang baru di beli nya khusus untuk asya


klik


"udah aman" kata arash melihat asya yang sudah memakai helm


dengan memeluk perut arash dengan erat, tak henti henti nya asya tersenyum di pagi ini


dengan sengaja arash menekan kan laju motor nya, senyum arash selalu merekah di saat bersama asya


tangan kiri arash mengelus lembut tangan asya yang sedang bertengger manis di perut nya


"liat depan rash" kata asya tersipu karena arash selalu melirik nya


"iya sayang" kata arash menurut


hingga sampai di sekolah, kedatangan mereka membuat seisi sekolah gempar, apalagi dengan sikap manis arash yang hanya di tujukan pada asya


"gila.. arash cakep banget kalo tersenyum"


"mereka pacaran? patah hati gue"


"gue udah duga kalo mereka pacaran"


bisik bisik para siswa tak di perdulikan oleh arash dan asya, bahkan arash tak segan menggenggam tangan asya bahkan merangkul pinggang asya di depan siswa lain


para siswi sudah memekik histeris dengan sikap manis arash pada asya, bahkan banyak juga yang iri dan mendukung hubungan asya dan arash


"widihh nih couple terbaru dari sekolah kita" kata bian lantang saat asya dan arash masuk ke dalam kelas


"pagi anak anak ku" kata asya


"pagi juga mama papa" kata mereka serempak


asya terkekeh dengan tingkah nya, sedangkan arash hanya menggeleng geleng kepala melihat tingkah asya


"aku duduk sama Ririn ya" bujuk asya yang di angguki oleh arash


asya langsung menghampiri teman teman nya untuk bergosip ria


bahkan asya tak luput jadi bahan ledekan teman teman asya


brak


bantingan pintu yang keras membuat mereka mengarahkan atensi nya pada dua sejoli yang terlihat tengah bermuka masam


"kenapa dulu" kata Rio menahan tangan Nadya


"stop Rio, ini sekolah" kata Nadya melenggang pergi ke arah kursinya


pertengkaran mereka menjadi pusat perhatian di kelas IPA 2, bahkan Azka yang baru datang hanya melongo melihat pertengkaran Rio dan nadya


"setidaknya Lo harus ngomong apa masalah nya" kata Rio dengan penuh emosi


asya langsung menghampiri Nadya, menjadi tameng nya, asya takut Rio kebablasan emosi nya pada Nadya


Nadya hanya menangis di pelukan asya, emosi Rio kali ini membuat Nadya takut


"gue udah berusaha bicara baik baik sama dia, tapi Nadya menghindar terus, gue pusing" kata Rio


"santai dulu bro, kita omongin bareng bareng" cegah Azka mendudukan Rio


asya dan Azka hanya saling lirik dengan masalah pribadi mereka, tapi mau bagaimana lagi, pertengkaran mereka terjadi di dalam kelas, masa asya akan diam saja


"kalian bicarakan baik baik ya" kata asya dengan lembut namun di bales gelengan kepala oleh Nadya


"mau Lo apa sih nad? gak ada angin gak ada hujan Lo maen ngomong putus, masalah nya apa?" kata Rio berdiri


"gak ada alasan Yo, gue pengen fokus belajar dulu" kata Nadya dengan tangis nya


brak


asya dan yang lain nya sampai terlonjak kaget dengan gebrakan yang di lakukan sama Rio


Azka bahkan sudah mencoba menenangkan Rio yang mudah tersulut emosi


"alasan Lo gak masuk akal" teriak Rio kembali memukul Rio


asya sampai panik dengan Rio yang mencoba melukai dirinya, sedangkan Nadya hanya bisa menangis di pelukan asya


bahkan Azka sudah kewalahan dengan Rio yang terus memukul tangan nya di tembok, hingga


bugh


arash memukul tangan Rio yang akan menghantam kembali dinding kelas


" lawan gue" titah arash


Rio yang gelap mata langsung menyerang arash dengan brutal, arash mencoba menangkis pukulan Rio sampai dia kelelahan


arash tau Rio butuh penyaluran emosinya saat ini


"amankan yang lain" kata arash pada Azka yang di angguki kepala oleh Azka


arash melihat emosi yang dalam dari mata Rio, dia mencoba menangkis setiap pukulan Rio padanya


arash yakin emosi Rio bukan hanya karena Nadya, tapi entahlah arash hanya melihat segumpal emosi di mata Rio


"gimana ini" kata Nadya panik


"Lo tenang aja dulu" kata asya menenangkan


bukan nya tenang, Nadya makin panik dengan Rio yang terus memukul arash dengan brutal


tanpa pikir panjang Nadya langsung memeluk Rio dari belakang, mencoba menenangkan Rio dari emosi yang tengah menyelimutinya


dan ya, berhasil, Rio langsung menghentikan pukulan nya pada arash, dengan Nadya yang terus memberikan penenangan untuk Rio


"gue sayang Lo, tapi ada sesuatu yang gak memungkinkan untuk kita bersama" kata Nadya lirih dengan tangisan nya


Rio langsung menarik Nadya menghadapnya, dengan tangan yang menggenggam tangan Nadya supaya gadis itu tidak bisa kabur lagi


"kenapa kita gak bisa bersama?" tanya Rio pada Nadya


"gue takut Yo, jika gue tetap bersama Lo, keluarga gue dalam bahaya" kata Nadya lantang dengan mata terpejam dan air mata yang mengalir


sadar akan ada yang tidak beres, Rio melonggarkan genggaman tangan nya pada pada lengan Nadya


"kenapa?" tanya Rio penuh intimidasi


lidah Nadya terasa Kelu untuk bicara pada Rio, bahkan mata nya terus menatap asya untuk meminta tolong


"Yo sebaik nya nanti kita omongin dulu, Lo lihat Nadya seperti ketakutan" kata asya menengahi mereka


"sebentar lagi waktu belajar, lebih baik Lo tenangin diri dulu Yo, istirahat kita bantu untuk berdiskusi" timpal Azka


setelah mendudukan Nadya bersama teman nya, asya langsung melihat arash yang masih penuh dengan keringat


"ada yang luka?" tanya asya pada arash yang di jawab gelengan kepala dan senyuman arash


untuk beberapa detik asya terpaku dengan senyuman arash yang memabukkan itu, pantas saja para cewe banyak yang ngejar arash sekarang, ternyata arash akan terlihat sangat tampan bila sedang tersenyum


"hati gue yang sakit, karena sahabat gue sudah tidak peduli lagi sama gue" timpal Ririn mendramatisir