Arasya

Arasya
arash melawan



di dalam ruangan putih, asya masih terbaring dengan infusan di tangan nya, di temani dengan pacar sang kakak yang merawat nya dengan telaten


"kak Nisa tidur aja kak, asya sebentar lagi juga tidur" kata asya pada pacar kakak nya itu


"baru juga jam 9 sya, ntar aja lah" kata kak Nisa


ceklek


deg


"arash" gumam asya saat melihat lelaki jangkung yang baru datang


"malam" sapa arash


"malam rash" jawab asya


"gimana?" tanya arash


"ouh,keadaan gue?" tanya asya tapi tak ada jawaban dari arash


"em.. gue mendingan rash, cuman harus istirahat dulu di disini" kata asya yang di angguki arash


asya baru sadar di sini ada kak Nisa, makan nya arash agak canggung ngobrol nya


"karena ada teman kamu sya, kakak ke kantin dulu bentar" kata kak Nisa yang di jawab anggukan kepala oleh asya


sebenarnya kak Nisa sadar akan kecanggungan teman nya arash, makan nya dia memilih untuk ke kantin rumah sakit dulu sebentar


"untuk mu" kata arash menyerahkan bunga mawar putih dan bolu vanila


mungkin arash pencinta putih, karena kebanyakan yang dia pakai pun warna putih atau hitam


"makasih rash" kata asya menerima bunga dari arash


sejujurnya asya sangat senang saat arash datang, tadi sore dia tidak ikut bersama teman yang lain nya menjenguk dirinya


asya di buat salah tingkah dengan arash yang tengah menatap nya, sedangkan asya mengalihkan mata nya dengan terus melihat bunga dari arash


tak tahan dengan tatapan arash, bahkan asya bingung harus ngomong apa sama arash, tadi nya dia ingin menghindar dari arash tapi saat dia tau arash yang menolong nya tadi, membuat hati nya entah kenapa rasanya tak karuan


"tadi kemana?" tanya asya menatap mata arash


asya baru sadar akan pertanyaan yang meluncur begitu saja, dia merutuki mulut nya yang suka asal ceplos begitu saja


"maaf baru datang, tadi ada urusan dulu" jawab arash dengan terus memperhatikan wajah asya


deg


jantung asya berdetak begitu cepat saat tangan arash memegang tangan nya, baru pertama kali bagi asya mendapat sentuhan dari laki laki yang langsung membuat jantung nya berdetak kencang


"sorry, gue gak bisa lama, gue harus balik" kata arash dengan mata yang penuh rasa sesal


cup


belum juga asya menjawab, arash dengan mudah nya langsung mencium kening asya


belum jugaerwda detak jantung asya, dan kini di tambah lagi detakan nya apalagi sekarang wajah nya memanas


"gue pulang" kata arash pamit yang di jawab anggukan kepala dari asya


sungguh asya rasanya lega saat arash keluar ruangan nya, tapi senyuman melengkung dari bibir asya


"aduh.. sadar sya, sialan banget si arash udah bikin gue baper" monolog asya


"gimana sama bokap nya arash?" kata asya bingung dengan segala pemikiran nya


...****************...


sedangkan arash baru nyampe rumah pukul 10 malam, di lirik nya mobil papa nya sudah ada di garasi rumah nya


arash menghela nafas nya panjang, arash lebih baik langsung bergegas cepat cepat masuk ke dalam rumah nya


"arash..."teriak papa nya menghentikan langkah arash


"dari mana kamu?" tanya papanya


"menemui pacar arash" kata arash santai


"apa maksud kamu?" tanya papanya berteriak


"seperti yang papa lakukan" jawab nya menyulut emosi arash


happ


arash reflek menahan tangan papa nya sebelum mengenai wajah nya


dengan berani nya arash langsung menghempaskan tangan papanya, untuk pertama kalinya arash melawan papa nya ini


papa arash sangat terkejut dengan arash, terlihat dari sorot mata arash memancarkan aura kebencian


"sudah berani kamu sama papa?"kata papanya dengan tegas


arash hanya berseringai dengan ucapan papanya, selama ini dia bersabar karena bunda nya yang selalu menyuruhnya untuk selalu tetap menghormati papanya


"apa wanita itu yang mengajarkan kamu menjadi seperti ini, heh?" teriak nya dengan penuh emosi


arash sungguh sangat kesal karena asya di bawa dalam masalah nya kini


"Anda tak pernah menyadari diri sendiri" kata arash dengan terkekeh


deg


lagi lagi papanya di buat terkejut dengan berontak nya arash kali ini


"seperti nya memang gadis itu yangbuat kamu seperti ini, sepeti nya kamu harus siap siap untuk tidak lagi bisa melihat gadis itu" kata papa arah terkekeh


"anda mengancam?" tanya arash yang sudah di selimuti dengan amarah nya


"bisa di bilang begitu" kata papanya dengan sinis nya


"jangan sentuh orang orang terdekat arash, apalagi wanita itu" teriak arash


"wanita itu yang membuat kamu berani sama papa kamu sendiri, jadi jangan salahkan papa untuk memberinya sedikit pelajaran" ancam papanya


"berani sentuh sedikit saja dia, jangan harap anda bisa melihat anak kamu ini" ancam balik arash


deg


kali ini papa nya arash di buat beberapa kali terkejut dengan anak nya, meskipun arash anak yang tidak harapkan tapi dia sangat menyayangi nya meskipun dengan cara yang salah, apalagi semua harta nya akan jatuh ke tangan arash di saat arash berusia 21 tahun


"di beri apa kamu sama dia sampai sampai kamu berani dengan papa kamu sendiri" kata papa arash dengan sorot mata yang tajam


"papa gak sadar? selama ini apa yang papa sudah beri untuk arash sampai arash berani sama papa?" tanya balik arash


"papa memberi arash kekerasan, mengajarkan arash untuk menjadi no satu, bahkan papa mengajarkan supaya arash tidak terkalahkan dan yang parahnya lagi papa tidak tau malu nya bercinta dengan wanita seperti dia di depan arash" kata arash menggebu menunjuk wanita yang tengah ketakutan di sofa


papa arash di buat tak bisa bersuara dengan perkataan arash arash yang sungguh menyayat hatinya, meskipun itu semua benar adanya


"tapi arash, papa begini karena-


"karena apa? karena papa pernah di selingkuhi dan di khianati sahabat papa sendiri, iya?" kata arash menyela ucapan papanya


"papa memang bodo, hanya karena mantan papa dan sahabat papa itu tapi papa malah menumbalkan arash anak papa" teriak arash mengeluarkan semua keluh kesah nya pada papanya


"bahkan dengan bodoh nya papa malah memperkosa bunda sampai ada nya arash di dunia ini, arash tidak pernah meminta untuk lahir menjadi anak papa" kata arash langsung melenggang pergi membuat papanya diam mematung


brak


suara pintu yang di tutup kencang membuat papa arash tersadar akan lamunan nya


bahkan suara teriakan dan suara barang barang yang terjatuh terdengar oleh papanya dari kamar arash


sang asisten yang selalu mengurus arash dari kecil sampai menangis di balik tembok dapur