
"Zen hentikan tindakan mu itu sekarang juga, dan jangan kau lukai dia apalagi membunuhnya! Karena itu akan membuat perubahan pada masa depan, jadi camkan kata-kata ini." Ucap tuan agung yang berbicara lewat telepati.
Kemudian Zen bergumam....
"Suara orang tua itu benar-benar berisik, cih...."
"Kita akan selesaikan ini ditempat lain Hilda, karena disini terlalu banyak penonton." Ucapnya pada Hilda dengan menjentikkan jarinya dan kemudian mereka berdua pun tiba di dunia buatan Zen.
"Te-tempat apa ini? Dan apa yang ingin kau lakukan padaku? Jawab aku sekarang!" Ucap Hilda dengan tubuh yang gemetaran lalu dia ingin mengeluarkan kekuatannya untuk menyerang Zen namun kekuatannya tidak bisa digunakan.
"Entah kenapa merasa dejavu, ah... iya, aku baru ingat kalau dulu kau juga bingung dan ketakutan seperti ini karena kekuatanmu tidak bisa digunakan." Gumam Zen sambil tersenyum.
"Apa maksud mu dulu? Aku bahkan tidak pernah ketempat ini sebelumnya!" Teriak Hilda.
Zen kemudian menggaruk-garuk telinganya dan kemudian berkata dengan wajah kesal....
"Kenapa dari tadi nada bicara mu membuat telinga ku sakit sih, kau mungkin tidak ingat karena itu kejadian dulu sebelum dunia ini di reset. Anehnya, si gila Hans Calisto itu bahkan belum memulai peperangan antar benua sama sekali, apa karena tangan kanannya di kehidupan saat ini bukanlah tangan kanannya. Jawab aku Hilda, apa kau pernah bertemu Hans Calisto dan dia berkata ingin membantu menjadi lebih kuat dengan cepat menggunakan ritual sihir?"
"Ba-bagaimana kau bisa tahu?" Jawab Hilda dengan wajah pucat.
"Ah, jadi begitu.... karena di kehidupan kali ini kau tertarik dengan Zen yang jauh lebih sempurna dibandingkan kehidupan dulu... makanya alur ceritanya agak berbeda." Sahut Zen dengan menancapkan sabitnya kepermukaan tanah.
"Dari tadi kau bicara apa sih, kenapa kau terus berkata kehidupan dulu? Aku benar-benar tidak mengerti, atau kau yang gila." Ucap Hilda dengan pelan-pelan menjauh dari Zen.
"Kau tidak bisa kabur dari tempat ini, jadi lebih baik berhenti sampai disitu saja. Kau bilang kenapa aku berbicara tentang kehidupan dulu kan, karena asal kau tahu.... harusnya seluruh umat manusia bahkan dirimu tokoh utama yang telah membunuh temanku dan kakaknya sudah tiada di tangan ku. Ditempat ini lah, kau menghembuskan nafas terakhirmu bersama tuan tercinta mu yaitu Hans Calisto." Ucap Zen dengan menodongkan sabitnya ke leher Hilda sambil tersenyum.
'Jadi maksudmu... dunia ini di reset atau diulang ke masa sebelum kau membunuh semua orang begitu? Andai Zen ada disini, dia sudah pasti menampar dan memukul mu untuk memberi mu pelajaran!" Sahut Hilda dengan menelan air liurnya karena ketakutan.
"Pft... bhahaha... disaat-saat terakhir hidupmu, kau malah melawak. Kau bilang Zen akan memukul ku untuk memberikanku pelajaran? Itu tidak mungkin terjadi! Karena Zen itu adalah aku... kau mungkin tidak akan percaya tapi lihatlah perubahan ini dan lihat baik-baik...." Ucapnya dengan melepaskan kalung Demoid dari lehernya dan rupanya pun kembali seperti semula.
"Rambut dan bola matamu... berubah? Dan kenapa kau sangat mirip Zen." Ucap Hilda dengan terjatuh ke tanah karena terkejut melihat perubahan itu.
"Kau selalu berharap Zen masih hidup kan? Doa mu terkabulkan kok, tapi sayang... kau tidak bisa mengenalinya selama ini, kau terus menghina dan mencaci makinya lebih buruk dari pada orang lain. Kau bahkan membandingkan nya dengan dirinya sendiri tanpa kau sadari." Sahut Zen dengan mendekat kearahnya.
"Tidak mungkin kau adalah Zen, dan meskipun kalian berdua itu sangat mirip! Jika kau memang Zen, tunjukan kekuatan api naga miliknya dan juga es. Kau pasti tidak akan bisa melakukannya, karena elemen kekuatan mu bertolak belakang dengannya." Ucap Hilda dengan merangkak menjauh dari Zen.
Tapi Zen terus melangkah mendekat kearahnya, dia kemudian berhenti dan menunjukkan kekuatan api keluar ditangan kirinya dan ditangan kanannya mengeluarkan kekuatan es. Setelah itu dia membuat tangan kanan dan kirinya bersentuhan dan terciptalah kekuatan air.
"Apa kau sekarang mengerti? Bagaimana caranya aku mendapatkan kekuatan air itu, dan kau pasti bertanya-tanya bagaimana aku juga bisa menggunakan kekuatan petir? Aku akan menjawabnya sebelum kau bertanya, kekuatan itu adalah kekuatan yang diturunkan oleh ibuku. Karena ibuku adalah satu-satunya keturunan Kaisar Note... otomatis aku bisa memiliki kalung yang ku lepaskan tadi, nama kalung itu adalah Demoid. Dia bisa merubah genku menjadi lebih ke ibuku atau ke ayahku, atau pun ke kakekku seperti ini." Ucap Zen dengan memakai kembali kalung Demoid itu, dia kemudian merubah gennya menjadi lebih mirip ke kakeknya.
Tapi sebenarnya dia tau kalau rambut putih perak dan bola mata biru berlian itu bukanlah gen dari kakeknya, karena gen kakeknya hanya sampai ibunya. Dan sebenarnya itu adalah gen dari Izekeil, kekuatan berlian itu juga milik Izekeil. Karena Izekeil adalah putra dari pangeran Kekaisaran Diamond, yaitu pangeran Claude kembarannya Kaisar Note.
Keberadaan Claude disembunyikan dari dunia, dan dia selalu berada di bayang-bayang Kaisar Note. Itu dilakukan karena Claude akan dikirim ke dunia lain, saat dia sudah beranjak remaja untuk membuat hidupnya tetap aman karena dia akan memiliki anak kembar dan salah satunya akan menjadi pengganti malaikat Aizel. Dan yang melakukan skenario seperti itu adalah para malaikat.
Kembali ke cerita Zen dan Hilda, Hilda sangat terkejut melihat rambut dan bola mata Zen kembali berubah....
"Bagaimana... aku mirip dengan Kaisar Note yang ada di foto kenang-kenangan saat ayahku masih kecil yang pernah kau lihat bersama ku dulu kan?" Tanya Zen sambil membungkuk dan menatap tajam wajah Hilda.
"Jadi... kau benar-benar Zen? Dan selama ini, aku malah tidak menyadari keberadaan mu.... Ku mohon... hiks... hiks.... maafkan semua yang telah ku lakukan padamu, aku akan melakukan apapun untukmu!" Ucapnya dengan bercucuran air mata, kemudian dia memegang tangan Zen dan itu membuat Zen terkejut lalu kemudian menepisnya.
Zen kemudian berdiri dan berkata dengan nada suara yang dingin dan tatapan mata yang tajam, "Kau pikir aku bisa memaafkan dirimu atas semua yang kau perbuat padaku? Jangan harap!"
Pada saat sabit itu hampir mengenai lehernya Hilda, tiba-tiba tuan agung muncul dan menahan sabit itu.
"Apa yang akan kau lakukan Zen! Aku sudah bilang padamu jangan melakukan sesuatu yang akan mengubah masa depan! Aku tau kau sangat membencinya karena yang dilakukannya di masa lalu. Tapi di kehidupan kali ini, dia tidak melakukan hal itu bukan. Yah, walaupun di kehidupan kali ini dia terus menghina dan merendahkan mu sampai membuat mental mu sedikit demi sedikit hancur karena kau terus memendamnya."
"Tapi yang kau lakukan ini bukanlah cara yang benar, hanya dengan membunuhnya... kau pikir kau sudah menyelamatkan keluarga pamanmu, keluarga pamanmu tetap akan tiada karena tindakan gegabah mu ini. Jadi berhenti sampai disini saja!"
Zen kemudian mengepal tangannya dan berkata dengan air mata yang terus mengalir....
"Berisik! Berhenti ikut campur dalam kehidupan ku... aku tau kau adalah waliku sekarang! Tapi, apa kau mengerti penderitaan ku? Tidak, kan... kau bahkan tidak bisa memahami isi hatiku karena kau tidak memiliki perasaan. Apa kau pikir dengan pernah mengulang kehidupan, aku menjadi lebih dewasa dibandingkan sebelumnya? Di kehidupan dulu, aku hidup hanya sampai tiga belas tahun! Dan di kehidupan kali ini aku juga masih berumur dua belas tahun."
"Makanya aku masih bertindak seperti anak kecil, dan Meskipun setengah jiwa ku sekarang ini berumur lebih tua dari ku karena aku sempat disegelnya selama satu kehidupan sisi baikku. Izekeil juga sama denganku, dia juga hanyalah anak kecil yang bersikap seolah-olah dia sudah menjadi dewasa. Kau pasti tau, kalau Izekeil selalu berharap kalau dia itu manusia bukan? Karena dia sudah bosan berada di samping kalian yang tidak memiliki perasaan, hiks... hiks...."
"Apa kau sudah merasa baikan setelah meluapkan emosi yang kau simpan selama ini?" Tanya Tuan agung dengan menatap kearah Zen.
" Tidak! Aku tidak akan tenang sebelum menebas leher orang ini!" Teriaknya sambil mengambil ancang-ancang untuk menebasnya.
"Karena kau tidak bisa dibujuk seperti ini, terpaksa aku harus meminta bantuan padanya." Ucap tuan agung dengan menjentikkan jarinya... lalu tiba-tiba muncul putri Irine dengan cangkir ditangannya yang berisi teh karena sebelum dia di teleportasikan tuan agung, dia sedang mengadakan acara minum teh bersama nona-nona bangsawan di kediamannya.
"Apa yang terjadi padaku? Dan tempat apa ini? Eh, tuan agung! Apa anda yang membuat ku ada di tempat ini?" Ucapnya dengan melihat sekeliling tempat itu.
"Iya, aku yang membawa datang ke tempat ini. Karena aku butuh bantuan mu untuk..." Sahut tuan agung yang terhenti karena pembicaraannya disela oleh Zen.
"Ri-rinn...." Ucapnya dengan tubuh yang gemetaran, sabit yang ditangannya pun terjatuh ke tanah setelah dia melihat putri Irine tepat berada didepannya.
"Eh, bukannya itu adalah Yui, Benarkan tuan agung?" Tanya putri Irine kepada tuan agung dengan wajah kebingungan setelah dia juga melihat Hilda ada ditempat itu.
"Sayangnya iya...." Sahut tuan agung.
Karena perasaan Zen yang bercampur aduk antara kebencian, kemarahan, dendam lalu kerinduan yang mendalam terhadap seseorang yang berjasa dalam kehidupannya terdahulu membuat kalung Demoid eror.
Zen kemudian berlari menghampiri putri Irine sambil menyebut namanya, lalu karena kalung Demoid tiba-tiba eror. Tubuhnya berubah menjadi anak berusia satu setengah tahun dan celananya kemudian melorot tapi untung disaat itu juga, celananya dibuat tuan agung mengecil sedangkan baju dan jaketnya bisa menciut sendiri.
Rambut nya tetap berwarna putih perak dan dia masih tetap berlari setelah mengalami perubahan itu, sesampainya dia didekat putri Irine... putri Irine kemudian mengangkat Zen dan kemudian memeluknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, tuan agung? Kenapa Zen tiba-tiba berubah menjadi anak kecil seperti ini. Ini bukan kehendak Zen kan?" Tanya putri Irine yang bingung melihat Zen berubah menjadi anak kecil.
"Kalung Demoid tiba-tiba eror, karena emosi Zen yang tidak karuan. Tapi tenang saja, itu hanya sementara waktu sampai emosi Zen kembali normal, kalung Demoid akan normal kembali. Jadi kau tidak perlu mengkhawatirkannya." Sahut tuan agung.
"Oh, jadi begitu... lalu bagaimana dengan Hilda yang terpuruk disana. Dia pasti mendengar pembicaraan kita yang menyebutkan nama Zen kan? Apa dia tau kalau anak kecil ini adalah Zen. Dan apa yang terjadi sebenarnya disini? Aku benar-benar bingung...." Ucap putri Irine sambil mengusap kepalanya Zen.
"Ceritanya agak panjang, aku akan menjelaskannya nanti. Tapi ku mohon buat bocah kecil itu tertidur, karena anak ini sudah membuat kekacauan." Jawab tuan agung.
Zen kecil kemudian menatap wajah putri Irine sambil berkata....
"Yin... ku, anyat melindu anmu!" Ucapnya setelah dia berada dalam pelukan hangat putri Irine. Putri Irine kemudian menepuk-nepuk punggungnya pelan-pelan dan akhirnya, bocah kecil itu pun tertidur.
"Wajahnya saat tidur benar-benar lucu... aku sangat ingin mencubit pipi kecilnya ini...."
^^^Bersambung....^^^