
"Karena Yui telah direbut oleh tuan agung, hweee. Dan dia bilang kalau aku tidak akan menjadi pengasuhnya Yui karena alasan seorang Putri dan anak paling bungsu hiks, hiks...." Ucap Putri Irene dengan duduk ditanah sambil berguling-guling dan menangis.
"Oh... jadi begitu rupanya." Sahut Pangeran Incelote dengan ekspresi datar.
"Jadi siapa yang akan mengasuhnya kalau bukan kita?" Tanya Pangeran Incelote.
"Ibu, hiks... hiks." Sahutnya dengan mengusap air matanya yang ada diwajahnya.
"Syukurlah kalau ibu, jadi kita masih bisa bermain dengannya kapan-kapan kalau punya waktu luang. Karena saking terpananya aku dengan bayi itu sampai-sampai aku lupa kalau kita kan harus ke akademi setiap harinya. Pantas saja tuan agung tidak memberikan hak asuh sementaranya pada kita, karena dia tau kalau Yui akan terlantar ketika kita ke akademi." Ucap Pangeran Incelote.
"Sudahlah Rin, berhentilah menangis. Sebelum malam hari, ayo kita bermain dengannya ditempat kediaman ayah dan ibu." Ucapnya lagi dengan mengulurkan tangannya sambil tersenyum.
"Ba-baiklah, hiks, hiks...." Sahutnya dengan menggenggam tangannya Pangeran Incelote untuk membantunya berdiri.
"Sudah ku bilang kan, berhenti menangis seperti itu." Ucap Pangeran Incelote setelah membantunya berdiri.
"Aku sudah berhenti nangis kok, cuman efek setelah nangisnya belum berhenti, hiks." Sahutnya.
"Ya sudah kalau begitu, ayo pergi." Ucap Pangeran Incelote dengan memegang tangan adiknya itu, dan mereka pun kemudian pergi dari tempat itu.
Sesampainya dikediaman ayah dan ibunya....
Knock, knock....
"Bu, ini aku Incelote dan Rin. Apa kami boleh masuk?" Tanya Pangeran Incelote.
"Masuklah." Sahut ibunya dengan nada bicara yang ramah.
Dia dan adiknya pun kemudian masuk dan melihat ibunya sedang menimang Zen dan dibantu oleh asistennya.
"Dia siapa bu? Bagaimana dia bisa ada diruang tamu kediaman ayah dan ibu?" Tanya Putri Irene.
"Ah, dia adalah asisten yang dipilihkan tuan agung untuk membantu ibu merawat Yui sementara ini. Jadi kalau ibu sedang sibuk mengerjakan tugas seorang Ratu, ibu bisa menyuruhnya menjaga Yui." Sahut ibunya.
"Halo Pangeran Incelote dan Putri Irene." Ucap Lucky dengan melambaikan tangannya.
"Bu-bukannya kau itu adalah perdana menteri di kekaisaran Diamond, bagaimana bisa seorang perdana menteri menjadi pengasuh bayi?" Tanya Pangeran Incelote yang tak habis pikir.
"Bagaimana anda bisa tahu kalau saya adalah perdana menteri di kekaisaran Diamond? Setahu saya, kita belum pernah bertemu sama sekali. Jadi bagaimana anda bisa mengetahui pekerjaan saya di kekaisaran?" Tanya. balik Lucky.
"Ah, itu... aku tahu dari mana ya? Hmm... ah, aku baru saja ingat. Kenapa aku tahu kau dan pekerjaanmu dikekaisaran! Karena Yui yang pernah menceritakannya waktu itu. Tapi setelah itu dia bilang apa ya?" Sahut Pangeran Incelote yang kemudian raut wajahnya berubah menjadi datar.
"Kenapa wajahmu jadi seperti itu Incelote?" Tanya Putri Irene.
"Ah, setelah ku ingat-ingat lagi... dia itu hanya pembantunya tuan agung. Dan pekerjaannya sebagai Perdana menteri dikekaisaran itu hanya sebuah kebohongan bahkan kekaisarannya itu juga ilusi buatan tuan agung." Sahut Pangeran Incelote.
"Bagaimana kau bisa tau kalau kekaisaran itu hanya ilusi?" Tanya Lucky yang terkejut mendengar kata-kata itu.
"Yui yang bilang padaku, dia bilang struktur bangunan kekaisaran itu memang sama persis bahkan sampai isi perabotannya juga sama seperti yang digambarkan di buku peninggalan sejarah kekaisaran Diamond." Jawab Pangeran Incelote.
"Dasar bocah kurang ajar! Bisa-bisanya kau bilang hal itu kepada dia, ternyata benar yang dikatakan tuan agung kau itu hanya bocah pembuat onar." Ucap Lucky dengan menunjuk dengan jari telunjuknya yang sangat berdekatan dengan wajah Zen.
Dengan wajah kesal karena dikatai begituan oleh Lucky, dia kemudian menggigit jari telunjuknya Lucky dengan sangat keras.
"Aaaaaa! Apa-apaan ini, jari telunjukku yang baru saja kau gigit langsung bengkak, memangnya kau punya racun apa digigimu itu. Padahal gigimu cuman dua, tapi rasanya benar-benar seperti ikan piranha yang menggigitku." Ucap Lucky setelah jarinya lepas dari gigitan Zen.
"Manna, au elnah diit Itan ilanha pa ampai-pai mennamaan iitan u enan Itan tu! (Emangnya kau pernah digigit ikan piranha apa sampai-sampai menyamakan gigitanku dengan ikan itu!)" Sahut Zen dengan ekspresi kesal.
"Yah, walaupun aku belum pernah merasakannya... tapi rasanya benar-benar sakit setelah kau gigit bodoh!" Jawab Lucky.
Saat mereka asik-asiknya bertengkar berdua, yang satu dengan bahasa bayi yang sulit dipahami dan satunya lagi terus berteriak saat membalas kata-kata bayi itu.
Tiga orang lainnya tidak mengerti sama sekali, dua orang itu iyalah Pangeran Incelote dan Putri Irene dan satunya lagi ibu mereka yang terus melihat kearah Zen karena mereka duduk bersampingan dikursi sedangkan Lucky awalnya berdiri disamping kursi yang diduduki Ratu dan Zen itu. Setelah itu dia berjalan ke depan Zen dan mulai mengoceh tidak karuan bersama Zen.
Setelah melihat mereka berdua tak kunjung-kunjung berhenti adu mulut, Pangeran Incelote mulai menawarkan kepada Zen untuk menaiki pundaknya dan pergi jalan-jalan mengelilingi istana.
"Dari pada kau terus adu mulut dengan asisten menyebalkan itu, lebih baik kau naik ke pundak ku dan kita akan berkeliling melihat istana. Apa kau mau?" Tanya Pangeran Incelote kepada Zen.
Dan Zen pun kemudian menganggukkan kepalanya beberapa kali, setelah itu dia kemudian diangkat Pangeran Incelote dari kursi itu ke pundaknya.
Dalam hati Zen, "Haha... ini benar-benar seperti mimpi, seorang Pangeran menyebalkan seperti Incelote menawarkan tur jalan-jalan mengelilingi istana dengan duduk dipundaknya. Dalam sejarah para pangeran yang pernah ku baca dibuku... tidak ada seorang pangeran dari kekaisaran benua lain menawarkan Pangeran dari kekaisaran lainnya duduk dipundaknya sambil jalan-jalan mengelilingi istananya. Ini benar-benar pertama kali dalam sejarah, hahaha."
"Kami pergi dulu ya bu, nanti aku akan mengembalikannya lagi kok pada ibu." Ucap Pangeran Incelote.
"Ya sudah, tapi berhati-hatilah dalam mengajaknya jalan-jalan mengelilingi istana. Jika dia sampai lecet sedikit saja, ibu tidak akan tinggal diam." Sahut ibunya dengan senyuman mengerikan.
Dalam hati Pangeran Incelote, "tidak kusangka ibu juga kepincut dengan bayi ini." Kemudian dia keluar dari ruangan itu sambil menggendong Zen dipundaknya.
"Hei, kak Incelote! Tunggu aku...." Ucap Putri Irene sambil berlari mengejar kakaknya itu.
"Karena saya tidak diperlukan sekarang saya akan pergi dulu ya, yang mulia Ratu. Karena saya harus membantu tuan agung dalam pekerjaannya." Ucap Lucky dengan menundukkan kepalanya.
"Aku penasaran dengan pekerjaan yang dilakukan oleh tuan agung, memangnya apa pekerjaannya?" Tanya Ratu.
"Mengawasi Zen dari atas selama dua puluh empat jam sehari." Jawab Lucky dengan jujur tanpa tahu akibatnya.
"Oh, cuman mengawasi ya. Kalau begitu lebih baik kau membantuku dalam mengerjakan tugasku saat ini dari pada hanya duduk disana melihat Zen bermain, karena itu kan tugasnya tuan agung saja." Ucap Ratu.
"A-apa? Membantu anda dalam menyelesaikan tugas anda hari ini." Sahut Lucky kebingungan.
"Iya, hari ini sampai dua pekan nanti. Jadi mohon bantuannya ya, Lucky." Ucapnya dengan tersenyum.
"Ah, i-iya yang mulia Ratu." Sahutnya.
Dalam hatinya dia bergumam, " sialan! Harusnya ku tipu saja wanita licik ini, karena meskipun dia bukan tipe ku. Aku tidak bisa memungkiri kalau wajahnya cantik dan dia tersenyum padaku dengan manis. Tapi jika kulihat baik-baik, senyumnya itu benar-benar seperti racun."
Diperjalanan saat mereka mengelilingi istana, para bangsawan yang berkunjung ke istana untuk menemui Kaisar bertanya pada mereka berdua setelah melihat anak kecil dipundaknya Pangeran Incelote.
"Salam Pangeran Incelote, apa saya boleh bertanya?" Tanya seorang bangsawan yang umurnya lebih tua dari ayahnya.
"Ah, maaf kalau mengganggu anda tapi saya hanya penasaran... anak kecil yang dipundak anda itu siapa?" Sahut Bangsawan tadi.
"Dia adalah anak satu-satunya dari kerabat jauh ibu, karena keluarga mereka dalam masalah... mereka menitipkan anak mereka untuk sementara waktu kepada ibuku."
"Dan ibuku pun mengiyakannya, bahkan sampai mau membagi waktunya yang berharga demi anak satu-satunya dari kerabatnya. Jadi kau sudah tau tentang anak kecil ini kan, lebih baik sekarang kau menjauh dari hadapanku karena kau menghalangi jalan kami berdua." Ucapnya kepada Bangsawan tadi dengan menatapnya tajam.
"I-iya yang mulia Pangeran, maaf telah mengganggu anda dan Putri." Sahut Bangsawan itu dengan kepala menunduk kemudian dia pun menjauh dari hadapan mereka berdua.
"Wah, Incelote. Kau benar-benar keren, orang-orang menyebalkan seperti mereka itu harus memang dijawab seperti itu. Karena mereka terlalu mencampuri kehidupan kita." Ucap Putri Irene dengan menepuk belakang tubuh kakaknya itu.
"Yah, bedebah seperti mereka itu memang menjengkelkan. Oh iya Yui, dari tadi kau sepertinya tidak bersemangat jalan-jalannya ya?" Tanyanya pada Zen.
"Emm." Sahut Zen.
Dalam hatinya, "Tadinya ku pikir akan menyenangkan karena aku menciptakan sejarah baru tentang berada dipundak Pangeran kekaisaran lain yang ditakuti kebanyakan orang. Tapi nyatanya tidak, ini sangat membosankan! Aku harus cari kegiatan yang lebih menyenangkan dari pada mengelilingi istana.
"In, yu ain yan ain, ku anat usan. (Rin, ayo main yang lain, aku bosan.)" Ucap Zen kepada Putri Irene.
"Kau ingin main yang lain ya, kalau begitu... Incelote ayo kita pergi ke kamarku disana banyak boneka yang enak dipeluk Yui dan setelah itu baru kita bermain dengan mainan-mainanmu." Ucap Putri Irene untuk mengajak kakaknya membawa Zen bermain di tempatnya.
"Itu ide yang bagus, ayo pergi." Sahut Pangeran Incelote.
Kemudian mereka pun pergi ke kediaman Putri Irene. Dan sesampainya di sana....
"Letakkan Yui di tempat tidurku dan bantu aku mengeluarkan boneka-boneka yang ada di lemari itu." Ucap Putri Irene.
"Oke." Sahut Pangeran Incelote dengan meletakkan Zen ditempat tidurnya Putri Irene.
Setelah mengeluarkan boneka-boneka itu dilemari, mereka pun bermain cukup lama dengan Zen. Kemudian karena sudah kelelahan bermain boneka milik Putri Irene, Zen pun tertidur pulas sampai-sampai tidak sadar kalau dia sudah dibawa ke kamar yang sudah disiapkan oleh paman dan bibinya untuknya.
Dan diapun diletakkan Ratu di tempat tidur untuk bayi dikamar itu karena sudah tertidur saat dikembalikan Pangeran Incelote kepada yang mulia Ratu.
"Oh, iya Lucky. Apa kau bisa menjaga Zen malam ini sampai esok pagi? Lagi pula kau kan juga seperti tuan agung yang tidak perlu tidur karena harus mengawasi Yui." Ucap yang mulia Ratu kepada Lucky.
"Ah, iya. Saya akan menjaganya disini, tapi ngomong-ngomong tentang saya yang juga tidak memerlukan tidur itu dari mana anda tau? Apa tuan agung yang mengatakannya pada anda?" Tanyanya kepada yang mulia Ratu.
"Bukannya kau sendiri yang bilang tadi, kalau kau ingin membantu tuan agung mengawasi Yui selama dua puluh empat jam dalam sehari. Jadi sudah pasti kau juga tidak memerlukan tidur kan." Jawabnya.
"Ah, iya ya." Sahutnya dengan menggaruk-garuk kepalanya.
Kemudian yang mulia Ratu pun pergi dari kamar itu. Seminggu enam hari kemudian pun berlalu....
Dipagi hari yang cerah, para pelayan membawakan makanan untuk Zen karena dia sudah selesai dimandikan oleh yang mulia Ratu dan beberapa pelayan lainnya.
Zen berkata dalam hatinya, "aku tidak menyangka kalau kehidupan seorang bayi itu sangat membosankan dan memalukan! Bisa-bisanya bibi memandikan aku yang sudah berumur dua belas tahun lebih ini. Yah, tak bisa ku ungkiri kalau aku tidak bisa mandiri karena menjadi anak kecil berumur satu tahun seperti ini.
"Dan bukan hanya soal dimandikan saja, mereka juga memberikan bubur bayi yang menurutku tidak enak setiap harinya padaku karena aku hanya punya dua gigi. Andai hari menyedihkan ini bisa berakhir, aku sudah muak!" Teriak dalam hati.
"Ayo buka mulutmu sekarang Yui, a...." Ucap yang mulia Ratu pada Zen.
Lalu Zen membuka mulutnya dan yang mulia Ratu pun memasukkan buburnya kedalam mulutnya Zen sampai bubur itu habis.
Knock, knock....
"Hai, Yui! Ayo main denganku sementara waktu sebelum aku pergi ke akademi." Ucap Putri Irene.
Zen pun menganggukkan kepalanya lalu Putri Irene kemudian mengangkatnya dari tempat makannya dan membawanya jalan-jalan diluar istana.
Saat mereka jalan-jalan kebelakang istana, dia tidak sengaja menginjak sumur tua yang tersembunyi. Dan kayu penghalang untuk menutup sumur itu kemudian tergeser dan hal itu membuat dia terjatuh kedalam sumur itu. Tapi karena berhasil memegang benda didekatnya dengan salah satu tangannya dia tidak jadi terjatuh dan hanya bergelantungan disumur itu.
Sedangkan Zen terhempas ke tanah saat Putri Irene terpeleset, dan dia hanya lecet sedikit.
"Yui, ku mohon.... cari seseorang yang bisa membantuku agar tidak terjatuh ke sumur yang sangat dalam ini!" Teriak Putri Irene sambil berusaha menahan pegangannya agar tidak jatuh.
"Rin, bergelantungan di sumur itu! Apa yang harus kulakukan, tidak ada siapa-siapa yang lewat. Hei Demoid, apa kau mendengarku?" Ucap Zen dalam hati.
"Ya, saya mendengar anda tuan." Sahut kalung Demoid.
"Kalau begitu rubah aku sekali saja dalam wujud normal, apa kau bisa mengusahakannya. Kumohon katakan iya, temanku dalam masalah dan aku tidak ingin dia jatuh kesumur itu." Ucapnya kepada kalung Demoid.
"Tapi saya belum selesai melakukan itu karena masih kurang satu hari. Dan jika saya merubah anda sekarang itu bisa berefek negatif nantinya." Sahut kalung Demoid.
"Aku tidak peduli apa yang terjadi nantinya padaku! Cepat rubah aku sekarang juga!" Teriak Zen.
"Baiklah kalau begitu, memulai proses perubahan pada tuan!" Ucap kalung Demoid.
Dalam waktu dua menit, Zen pun berubah menjadi anak berumur dua belas tahun kembali dan setelah berubah dia langsung menghampiri ke sumur itu.
"Aku tidak kuat lagi menahannya, tanganku sudah mati rasa. Kyaaa!" Teriak Putri Irene karena tangannya kelepasan.
Tapi Zen tepat waktu meraih tangannya yang kelepasan itu, dan dia pun menariknya keluar juga bertanya apakah dia baik-baik saja.
"Apa kau baik-baik saja Rin?" Tanya Zen dengan memeluk Putri Irene dengan erat karena takut dia kenapa-napa.
"A-aku baik-baik saja kok." Sahutnya dengan wajah yang memerah karena dipeluk erat oleh Zen.
Setelah memeluknya dengan erat dia pun melepaskan pelukannya itu dan berkata, "Syukurlah kalau begitu."
"Kau Yui kan? Aku menanyakan ini karena kaget kalau kau sudah berubah ketubuh normalmu. Meskipun rambutmu masih putih perak dan bola matamu berwarna biru? Eh biru, Bukannya warnanya hijau?" Tanya Putri Irene sambil memegang wajahnya Zen.
Zen pun kemudian menepis tangannya Putri Irene dari wajahnya.
"Ah, maaf. Aku tidak terbiasa wajahku disentuh, dan soal bola mataku yang berwarna biru... memang seharusnya seperti itu dari awal. Tapi karena digabungkan dengan gen ayahku, jadinya bola mataku berwarna hijau." Sahutnya dengan tersenyum.
Dari arah kejauhan tampak seseorang berlari menghampiri mereka berdua.
"Hah... hah... tadi, aku mendengar suara teriakanmu Rin. Memangnya kau kenapa, dan siapa orang dihadapanmu itu!" Tanya Pangeran Incelote dengan terengah-engah.