
Pagi harinya....
"Hoam... tidak ada orang kan, didalam kamar mandi ini?" Tanya Zen dengan menyandarkan kepalanya ke dinding karena dia masih ngantuk.
Dia kemudian masuk ke kamar mandi setelah memastikan tidak ada orang yang menyahut pertanyaannya tadi. Dan sesudahnya mandi, dia pergi ke ruang makan.
"Wah... banyak sekali makanan enak diatas meja ini. Apa kalian berdua yang memasaknya? Padahal kan kalian anak bangsawan, yang mana setiap sesuatunya sudah disediakan saat kecil." Ucap Zen pada Hilda dan Mia yang sedang duduk di kursi meja makan.
Pada saat Zen menggeser kursi untuk duduk, Hilda kemudian berbicara....
"Dengar Yui, kau tidak ikut membayar bahan-bahan makanan ini kan? Itu berarti kau tidak boleh makan-makanan ini."
"Apa? Memangnya aku harus bayar makanan ini? Aku tidak punya uang sama sekali. Jadi apa kau mau menerima berlian kecil ini? Ini asli."
Tanya Zen dengan memasukkan tangannya kedalam kantong, kemudian dia mengeluarkan berlian kecil dari telapak tangannya. Dan setelahnya, dia mengeluarkan berlian dari kantong celananya dan menunjukkannya kepada mereka berdua.
"Kau serius ini asli?" Tanya Hilda dengan ekspresi serius.
"Jika kau tidak percaya itu asli, bawa saja ke toko perhiasan. Aku jamin berlian berwarna biru seperti permata lapis lazuli itu akan terjual sangat mahal karena itu langka. Jadi aku boleh makan bersama kalian?" Ucap Zen yang kemudian duduk di kursi meja makan itu.
"Tentu saja." Sahut Mia dengan tersenyum.
"Kenapa kau membolehkannya makan, dia itu kan bukan bangsawan. Jadi bagaimana dia bisa mendapatkan berlian langka ini?" Bisik Hilda.
"Aku yakin berlian yang diberikannya asli, jika kau memang tidak percaya... ayo kita bawa ke toko berlian di kota ini setelah menyelesaikan misi nanti." Sahut Mia dengan berbisik.
"Baiklah, tapi aku tidak ingin makan bersamanya karena dia mungkin makannya berantakan." Bisik Hilda lagi.
"Makan saja bersamaan, dan jika kau jijik dengan caranya makan. Kau bisa menunduk kebawah." Sahut Mia.
"Dari tadi kalian berbisik apa?" Tanya Zen setelah melihat mereka berdua saling berbisik.
"Ah, kau tau. Urusan wanita!" Sahut Hilda dengan tanpa ekspresi.
"Be-begitu ya." Sahut Zen dengan menggaruk-garuk kepalanya. Kemudian dia bertanya.... "Dimana Lucas dan Diego? Apa mereka masih belum bangun?"
"Sudah kebiasaan mereka bangun terlambat. Dan kupikir kau juga bangun telat tadinya." Jawab Hilda.
"Lalu jika makanan ini habis, mereka makan apa?" Tanyanya lagi.
"Kau banyak tanya! Makan saja sana, mereka berdua bisa makan mie instan nantinya.... Itu adalah hukuman karena bangun telat!" Jawab Hilda dengan menghempaskan tangannya ke meja saking kesalnya mendengar Zen yang terus bertanya.
"Oh, oke." Sahut Zen.
Kemudian dia makan dengan lahap, sedangkan Mia dan Hilda hanya melihat kebawah meja karena berprasangka buruk.
"Hei kalian berdua, kenapa menundukkan kepala saja? Kalian tidak mau makan ya?" Tanya Zen.
Setelah itu Mia menegakkan kepalanya dan menjawab pertanyaan Zen, "Kau tau Yui, kami berdua akan makan setelah mu nantinya...." Jawabnya sambil melongo karena melihat Zen makan dengan tata krama Bangsawan.
"Ba-bagaimana bisa kau mengetahui cara makan seperti itu?" Tanya Mia dengan gagap.
"Ah, sebenarnya... aku tidak mengetahuinya dari buku atau orang, aku sudah terbiasa makan seperti ini. Jika aku makan berantakan dan agak tidak sopan, ibuku pasti akan menegurku dan ayahku akan menertawakan ku." Sahut Zen.
Setelah itu dia kembali meneruskan makannya seusai menjawab pertanyaan Mia, sedangkan Hilda yang awalnya menundukkan kepalanya kemudian menegakkannya lagi sesudah mendengar kata-kata Zen dan dia pun mulai memperhatikan cara makannya Zen.
"Dari tadi kalian berdua terus menatapku seperti itu, rasanya agak aneh. Aku sudah selesai makan, tapi kalian bahkan belum menyentuh makanan kalian sedikit pun. Kalau begitu aku duluan ke akademi...." Ucap Zen setelah selesai makan. Dan pada saat dia berdiri dari kursi makan....
"Aku penasaran denganmu Yui, kau bilang... kau hanya orang biasa dan bukan dari keluarga Bangsawan. Tapi kenapa kau di didik makan seperti itu? Jangan-jangan kau hanya berbohong selama ini." Tanya Hilda.
"Kau tahu Hilda, aku tidak tau alasannya karena apa aku harus mempelajari hal-hal seperti itu. Jika kau memang penasaran, tanyakan saja pada ayah atau ibuku yang telah mendidik ku seperti itu!" Sahut Zen tanpa melihat kearah Hilda dan langsung pergi ke akademi.
"Aku kan cuma bertanya karena penasaran, huh... dasar bocah menyebalkan! Ku tarik kata-kata ku yang mengatakan kalau dia hanya berbohong sebagai rakyat biasa, karena sikapnya yang tidak sopan selama ini tidak mencerminkan seorang Bangsawan!" Ocehnya.
"Sudahlah Hilda, lebih baik kita makan." Ucap Mia. Setelah itu mereka pun kemudian makan.
Lima belas menit kemudian.... Zen sudah sampai di akademi dan hanya dia juga ketua kelas yang ada dikelasnya.
"Yang lain belum tiba ya, murid-murid?" Ucap gurunya yang tiba lebih cepat dari biasanya.
"Yah, bukannya anda sudah melihatnya!" Sahut Zen.
"Padahal tadinya aku akan mengacak tim-tim yang mana yang akan mendapatkan misi yang penting ini. Tapi karena kalian ada di grup yang sama meskipun tidak satu tim, grup kalian yang akan mendapatkan misi ini."
"Misi penting ini adalah menangkap para bandit yang telah merampas harta masyarakat di dekat perbatasan negara ini dengan benua yang lainnya. Jadi... temui teman satu tim kalian dan setelah terkumpul, kalian langsung pergi ke ujung perbatasan negara ini secepatnya sebelum mereka beraksi lagi!" Ucap gurunya dengan serius.
"Kalau cuman misi ini yang penting, misi yang lain yang tak penting itu seperti apa?" Tanya Zen.
"Mereka hanya membantu masyarakat di kota ini yang memerlukan bantuan juga kekacauan yang ada di ibu kota dan juga desa yang diserang oleh bandit yang akan kalian tangkap itu, dan setengahnya lagi akan mendapatkan misi memberi makan dan membersihkan hewan-hewan ajaib yang ada di kebun binatang milik akademi ini. Jadi mulai misi kalian sekarang juga sebelum grup lain mengetahui kalau misi kalian lebih baik dari pada mereka." Jawab gurunya.
"Ayo, Yui. Kau panggil anggota tim mu dan bertemu lagi diluar akademi ini." Ucap Nikel kepada Zen.
"Aku malas, mereka pasti akan datang. Jadi kita tunggu saja disini...." Sahut Zen dengan balik lagi ke kelasnya.
Nikel kemudian meninggalkan Zen di kelas karena dia harus memanggil teman se-timnya, dan diperjalanan itu dia menggerutu....
"Hah... menyebalkan, orang payah itu merepotkanku saja!" Ucapnya sambil menendang batu yang ada ditanah, kemudian dia pergi ke penginapannya untuk memanggil teman-temannya.
Setengah jam kemudian berlalu....
"Kenapa tidak ada satupun diantara mereka bersembilan ke kelas ini?" Gumam Zen dengan menundukkan kepalanya dan meletakkannya di atas meja belajarnya.
"Hei, Yui. Tim-ku dan tim-mu sudah berkumpul dibawah dan aku juga sudah tau arah mana para bandit itu berada karena guru sudah memberikan peta dan menunjukkan arah mereka berada sekarang, jadi ayo pergi!" Ucap Nikel dengan pelan agar tidak kedengaran murid-murid yang lain.
"Baguslah, aku sudah bosan nunggu dikelas yang tak pernah menganggap aku ada ini." Sahut Zen dengan berdiri dari bangku dan keluar bersama Nikel.
Sesampainya mereka didepan pintu pagar akademi....
"Kenapa kau tidak menunggu kami diluar pagar, asal kau tahu saja... kau itu banyak tingkah!" Ucap Hilda dengan menunjuk ke arah Zen.
"Salah kalian sendiri karena terlambat, kenapa malah menyalahkan diriku." Sahut Zen dengan mata melotot.
"Kalian berdua bisa tidak damai sehari saja! Aku muak mendengar kalian bertengkar, dan terutama bagimu Hilda. Kenapa kau terus menghina dan mencari-cari kesalahan Yui?" Ucap Lucas dengan berada ditengah-tengah mereka untuk menghentikan pertengkaran.
Dengan meletakkan tangannya ke dahi, Hilda menjawab pertanyaan Lucas....
"Sudahlah, dari pada bertengkar dan mengobrol disini, kita hanya akan membuang waktu kita saja dan jika para bandit itu tau kalau kita sudah tau di mana tempat mereka berada, mereka pasti akan berpindah tempat. Jadi, mari pergi ke hutan dekat perbatasan negara ini sekarang, karena disana lah para bandit akan lewat setelah mengacau didesa kecil yang letaknya dekat dengan perbatasan negara ini." Ucap Nikel.
Mereka semua pun kemudian mengangguk dan berlari kearah hutan yang dekat dengan perbatasan.
Setelah sampai didalam hutan, mereka kemudian istirahat sebentar dan mengatur strategi.
"Oke, kita istirahat sebentar dulu untuk menyusun strategi." Ucap Nikel.
"Hei Cloe, bisa berhenti tidak makan cemilan disaat kita sedang menyelesaikan misi ini! Bisa-bisa nanti badanmu akan lebih gemuk dari pada Emanuelson." Ucap Hankou.
"Kau, berani-beraninya kau menghina ku dengan sebutan gemuk! Akan ku terbangkan kau sekarang juga bodoh!" Ucapnya dengan mengumpulkan molekul dan mengumpulkannya digenggaman tangan kanannya. Setalah kekuatannya berkumpul dititik genggamannya dengan waktu tidak lebih dari tiga menit untuk mengumpulkan kekuatannya. Setelah itu dia kemudian langsung menyerang Hankou dengan tinju mengerikan yang akan membuat lawannya bisa terbang sampai ke awan.
Tapi Hankou bisa menghindari pukulan mematikan tadi karena dia membuat tubuhnya tidak terlihat. Dan bukannya Hankou yang terkena pukulan itu melainkan pohon yang ada dibelakang Hankou, setelah kena pukulan mematikan dari Cloe... pohon itu kemudian terbang ke langit dengan akar-akarnya dan juga tanah.
"Sialan, Hankou menyebalkan itu menggunakan kekuatan tidak terlihat. Tapi tak apa, karena dia hanya akan bertahan sampai tiga puluh menit, hehehe... kali ini aku tidak akan melepaskannya karena dia harus mengumpulkan Mana yang mengalir ditubuhnya itu selama lima belas menit." Ucapnya dengan tersenyum menyeramkan sambil menggosok kedua tangannya.
"Hah, ya ampun, kalian berdua ini... terutama untuk Hankou! Berhentilah menghina Cloe gendut, kita ini kan se-tim. Andai saja ayahku dan ayahmu itu bukan teman, sudah pasti kau akan kutusuk tombak besi warisan keluarga ku ini." Ucapnya Terissa dengan wajah yang kesal.
"Jadi kekuatan mereka itu seperti ini, hanya Nikel saja yang belum aku ketahui seperti apa kekuatannya." Ucap Zen dengan melipat kedua tangannya dan meletakkannya kebelakang untuk menjadikannya bantal, dan setelah itu dia bersandar di pohon.
"Yah, kudengar... kekuatan Nikel itu adalah bayangan, tapi sayangnya dia hanya bisa membuat beberapa bentuk bayangan saja masih, dan kekuatan Terissa itu memang tombak besi yang ada dibelakangnya, tapi bukan itu saja... keluarganya itu adalah assassin, jadi dia juga pasti seorang assassin. Jadi jangan berani macam-macam dengannya, andai kekuatannya tidak setara dengan Hilda sudah pasti ku dekati, karena dia adalah wanita tercantik ketiga seangkatan kita." Sahut Lucas yang juga bersandar di pohon itu.
"Ah, jadi kekuatan mereka berdua itu seperti itu. Tapi aku tak tau menau tentang murid perempuan yang cantik, Jika dia ada di urutan ketiga... siapa yang ada di urutan pertama dan kedua?"
"Nomor satu wanita tercantik seangkatan kita adalah Hilda dan yang kedua yaitu Mia." Jawabnya Lucas.
"Ah, aku tidak menyangka kalau murid tercantik di urutan pertama dan kedua ada di tim kita. Karena sebenarnya aku tidak terlalu peduli dengan percintaan. Ucap Zen.
"Ah, sudahlah. Kau memang tidak bisa diajak bicara soal wanita, huh!" Sahutnya dengan berdiri dan menggenggam telapak tangannya Zen untuk membantunya berdiri.
"Terimakasih banyak atas bantuannya tadi." Ucap Zen dengan menepuk bahu Lucas.
"Yah, sama-sama." Sahutnya.
"Oke teman-teman, kita sudahi istirahatnya. Aku sudah memiliki strategi, strateginya yaitu kita akan pergi ke tahun yang berbeda-beda. Aku, Emanuelson dan juga Terissa akan kearah barat, lalu Cloe, Lucas, Diego dan juga Hankou akan kearah timur, sedangkan Yui, Hilda dan juga Mia akan kearah selatan.
"Jika kita tidak menemukan mereka, maka kalian bisa kearah utara dan menunggu yang lainnya. Dan jika dalam bahaya atau melihat mereka, gunakan Earpiace kalian untuk menghubungi tim kalian untuk minta bantuan. Apa kalian mengerti?" Tanya Nikel dengan serius.
"Kami mengerti!" Sahut mereka, setelah itu mereka berpencar ke arah yang berbeda-beda.
"Nikel, kita sudah mencari mereka di arah barat selama satu jam lebih, tapi kita tidak menemukan para bandit itu. Hutan ini terlalu besar, ku sarankan kita pergi ke arah utara sekarang." Ucap Terissa.
"Kau benar, sebaiknya kita pergi ke arah sana... karena siapa tahu mereka ada disana." Sahutnya, kemudian mereka pergi ke arah utara.
Dan sementara ditempat Lucas, Diego, Cloe dan juga Hankou....
"Hei, Hankou aku lelah. Apa kau bisa menggendong ku, kurasa kakiku sudah sangat pegal karena berlari kesana-kemari kemari dan juga meloncat dari pohon ke pohon. Kau kan seorang laki-laki, jadi pasti kuat, hah... hah...." Ucap Cloe dengan napasnya yang tak teratur karena kelelahan.
"Yang benar saja, sekuat apapun aku... tetap tidak akan bisa mengangkat dirimu yang beratnya dua kali lipat dari badanku!" Sahut Hankou.
"Kalau begitu, kita istirahat saja sebentar teman-teman, hah... hah...." Ucap Cloe dengan menyeka keringat didahinya.
"Ya, sudah. Kita akan istirahat sebentar disini, tapi bukannya kau itu memiliki kekuatan gravitasi ya, Cloe. Kenapa kau tidak terbang saja dari pada berlari dan melompat ke pohon-pohon?" Tanya Diego yang tak habis pikir.
"Ah, iya juga ya. Hehehe, kadang aku lupa kalau aku bisa terbang. Soalnya, aku dan saudara jarang menggunakan kekuatan gravitasi karena terbang juga menguras Mana ditubuh kami." Jawabnya, kemudian setelah itu dia mengambang diudara selama beberapa menit kemudian turun lalu berbaring direrumputan.
Dan diarah Zen, Mia dan juga Hilda....
"Hei, Hilda. Bisa pinjamkan Relik sepatu yang bisa membuat tidak lelah dalam berlari, kau kan bisa terbang menggunakan elemen angin yang kau miliki. Karena aku sudah lelah berlari." Ucap Mia.
"Ah, baiklah. Ini...." Sahut Hilda dengan melepaskan sepatunya.
"Kenapa aku baru tersadar kalau memiliki kekuatan elemen angin. Hei Hilda, terbanglah tinggi-tinggi agar bisa melihat setiap sudut hutan disekitar sini." Ucap Zen dengan memberikan saran.
"Kau tidak usah memberikan saran padaku, karena aku juga tahu tentang hal itu. Kau hanyalah beban bagi tim kita, kau bahkan tidak memiliki kekuatan apapun yang berasal dari dirimu sendiri melainkan hanya dari Relik. Jadi adanya kau dalam misi kali ini pun tak ada gunanya!" Sahutnya dengan tatapan yang merendahkan kemudian dia terbang ke atas.
"Kau tidak perlu memasukkan perkataannya dalam hati, aku yakin dia akan berubah." Ucap Mia dengan tersenyum kearah Zen untuk menghiburnya.
"Ah, sudahlah. Kurasa dia tak akan berubah, kau bisa berduaan saja dengannya. Lebih baik aku kembali ke akademi, karena aku hanyalah beban! Jadi maaf." Ucap Zen dengan menundukkan kepalanya, lalu kemudian pergi ke arah sebelumnya untuk kembali.
Di perjalanan untuk ke luar hutan itu, sambil berlari dan loncat dari pohon ke pohon Zen berkata....
"Yess.... Akhirnya, aku bisa bebas dari Hilda. Dia benar-benar terus menatapku sepanjang pencarian tadi, bagus sekali tadi dia menghinaku. Karena misi ini sangat membosankan, para banditnya juga dari tadi masih belum ditemukan. Makanya mereka belum ngasih kabar lewat Earpiace, lebih baik aku pulang saja atau istirahat sebentar untuk makan kue Mochi yang ku bawa ini." Gumamnya kemudian dia berhenti berlari dan bersandar di pohon, pada saat dia ingin mengambil kue itu dari kantong jaketnya. Dia mendengar suara beberapa orang....
"Ha... untung saja kita membeli serbuk yang bisa membuat tidak terlihat saat serbuk itu ditaburkan di seluruh tubuh atau kereta kuda seperti ini. Jika tidak, mungkin para Ranker yang berkeliaran di hutan ini bisa melihat kita." Ucap salah satu dari tiga bandit yang sedang mereka cari.
"Yah meskipun begitu, harga serbuk yang sangat mahal dan bahkan kekuatannya untuk membuat kita dan kereta kuda ini tidak terlihat sudah menghilang. Tapi syukurnya kita sudah hampir sampai ditempat tujuan kita, sebelum para bandit lainnya. Setelah ini kita pasti akan kaya raya, bhahaha!" Ucap yang lain.
"Kau benar, kita akan benar-benar kaya. Dan bahkan kita juga mendapatkan budak secara gratis, hahaha." Ucap yang satunya lagi.
Saking asiknya mereka tertawa, mereka tidak sadar kalau Zen sudah ada di belakang mereka. Pada saat Zen ingin memukulnya, salah satu diantara bandit itu melihat Zen. Dan menangkis pukulan Zen.
"Wah, wah, wah... berani sekali kau bocah ingusan! Hyahh...." Teriaknya pada saat menggerakkan tangannya untuk memukul wajah Zen.
Tapi Zen dapat menahan pukulannya itu, lalu memutar tangannya sampai tulangnya berbunyi.
"Krakk"
"Akhh, sialan! Dasar, kau bocah ingusan kurang ajar. Hajar dia sekarang teman-teman." Ucapnya dengan melompat-lompat karena tangan kanannya dipatahkan Zen.
Dan dua para bandit itu kemudian mengambil tongkat besi dan ingin memukulkannya ke Zen, pada saat mereka menganyunkan tongkat besi itu Zen kemudian melompat keatas mereka dan menginjak kepala mereka berdua dengan kakinya sampai mereka berdua tersungkur.
Lalu Zen mengambil tongkat yang terlepas dari tangan mereka dan memukulkan kepada mereka bertiga sampai puas, dengan wajah bengis dan tatapan mata tajam dia juga tersenyum kearah mereka. Dan kemudian dia mengikat mereka dengan tali yang ada didalam alat-alat yang mereka bawa.
"Akhh, dasar iblis sialan. Bisa-bisanya kau mengikat kami sampai tidak bisa bergerak sama sekali, kau benar-benar monster!" Teriak salah satu dari tiga bandit itu.
"Kau tau kenapa alasanku menyiksa kalian seperti ini?" Ucap Zen dengan menginjak kepala bandit yang berteriak tadi.
Dia kemudian berbisik... "Karena kalian telah mengganggu waktu makan siangku!" Setelah itu dia menatap wajah bandit itu dengan tersenyum. Karena saking takutnya dengan senyuman manis Zen, dia sampai ngompol di celana.
^^^Bersambung....^^^