
"Perkataanmu masuk akal, jika aku tidak merubah fisikku, pasti aku akan ditangkap oleh paman brengsek itu! Apa gunanya aku bertemu dengan mereka, kalau mereka tidak mengenali diriku." Ucap Zen sambil mengepal tangannya dengan perasaan sedih.
"Kau tau Zen, kau bisa memulai pertemanan kembali dengan mereka. Oh, iya Zen, Saat kau ada di akademi nantinya... kau tidak boleh menggunakan kekuatan api dan juga es milikmu. Karena selain dirimu dan ayahmu, tidak ada yang memiliki kekuatan api naga dan es. Kalau api biasa sih banyak, tapi kekuatanmu yang lainnya kan hebat, jadi kau tak perlu menggunakan dua kekuatan itu." Sahut tuan agung dengan menepuk pundak Zen.
"Ayo kita pulang, aku ingin istirahat." Ucap Zen kepada tuan agung.
"Baiklah, Zen. Besok jadi tidak jalan-jalan ke ibu kota?" Tanya tuan agung kepada Zen.
"Jadi kok, aku sudah bosan melihat lingkungan istana." Sahut Zen.
"Ya sudah kalau begitu, ngomong-ngomong ulang tahunmu kan hanya tinggal dua minggu lagi. Hadiah apa kali ini yang kau inginkan, apa sama seperti sebelumnya?" Tanya tuan agung sambil mengusap kepalanya Zen.
"Iya, aku hanya ingin hadiah itu saja kok." Sahut Zen.
"Dua minggu yang akan datang, kau akan ku latih menggunakan kekuatan Diamond milikmu." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Kau serius, akan melatih kekuatan Diamond milikku. Ngomong-ngomong, seperti apa kekuatan Diamond itu?" Tanya Zen kepada tuan agung.
Lalu tuan agung berkata, "kekuatan Diamond itu bersifat padat seperti es tapi tidak bisa mencair. Karena sifatnya sama seperti es, kau bisa membuat bentuk apapun yang kau mau. Apa kau tau Zen, alasan pemilik kekuatan diamond itu disebut manusia paling kaya di dunia."
"Aku tidak tau alasannya, kenapa pemilik kekuatan Diamond disebut sebagai manusia paling kaya sedunia?" Sahut Zen.
"Itu karena kekuatan Diamond, wujudnya adalah sebuah berlian. Dan berliannya itu berwarna biru, tapi milik Kaisar Lord warna berliannya adalah merah." Sahut tuan agung.
"Jika kekuatan Diamond itu hampir sama dengan es, kenapa dia disebut kekuatan paling hebat?" Tanya Zen lagi.
"Alasan kekuatan Diamond itu disebut kekuatan paling hebat adalah, didalam serat berlian itu mengandung racun yang mematikan. Dan siapa pun yang tertusuk berlian yang berasal dari kekuatanmu itu, mereka akan keracunan dan energi mereka akan habis diserap oleh si pemilik kekuatan diamond itu. Sekarang kau paham Zen." Sahut tuan agung.
"Sekarang aku paham, kekuatan Diamond itu benar-benar mengerikan. Oh, iya, saat menggunakan kekuatan Diamond, mata ku juga akan berubah seperti berliankan. Apa fungsi mata itu?" Ucap Zen kepada tuan agung.
"Fungsi mata berlian itu adalah... bisa melihat dengan jelas di tempat gelap dan kau juga bisa merasakan energi seseorang saat mereka ingin menyerang dirimu tanpa sepengetahuanmu. Bukan hanya itu, kau juga bisa membuat roh mereka terperangkap di dunia ilusi yang kau buat. Di dunia ilusi itu, mereka tidak akan bisa bergerak sedikitpun. Kau bisa sepuasnya menyiksa mereka, di tempat itu. Setiap kau menyiksa roh mereka di dunia ilusi itu, mereka akan mendapatkan luka pada tubuh mereka atau kematian." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Gila! Keren sekali." Sahut Zen.
"Tapi, hanya Kaisar Lord yang bisa memerangkap roh di dunia ilusi itu." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Kenapa cuman Kaisar Lord yang bisa menggunakan dunia ilusi itu?" Tanya Zen.
"Karena kekuatan Diamond yang dimiliki oleh Kaisar Lord sudah sempurna, pada saat dia mengaktifkan kekuatan diamond miliknya, matanya berubah menjadi berlian merah." Ucap tuan
agung.
"Jadi begitu rupanya." Sahut Zen.
"Sekarang, ayo kita pulang. Kau bilang kan ingin istirahat, jadi ayo pulang." Ucap tuan agung.
"Oke, ayo kita pulang!" Sahut Zen.
Kemudian mereka pun pergi meninggalkan tempat latihan dan berjalan ke arah istana Diamond.
Esok paginya....
"Zen! Apa kau sudah siap?" Ucap tuan agung yang berada di depan kamarnya Zen.
"Kriit, brakk."
"Ayo, kita pergi kakek!" Ucap Zen yang baru saja keluar dari kamarnya.
"Sudah ku bilang berapa kali, berhenti memangilku kakek!" Sahut tuan agung.
"Sebutan itu, sudah pas untuk mu, kakek tua!" Ucap Zen dengan tersenyum ke arah tuan agung.
"Duaak."
"Ah, sialan! Dari mana datangnya tongkat jelek itu? Perasaanku tadi tidak ada." Ucap Zen dengan mengusap kepalanya yang kesakitan.
"Haha, rasain tuh bocah! Tongkat ini adalah tongkat yang bisa menghilang
kapan saja, dan muncul kapanpun aku mau." Sahut tuan agung.
"Bodo amat, aku tidak peduli tentang tongkat jelek itu. Kapan kita akan pergi?" Ucap Zen kepada tuan agung.
"Pejamkan matamu, Zen!" Ucap tuan agung kepada Zen.
"Iya, aku sudah memejamkan mataku kok." Sahut Zen dengan memejamkan matanya.
"Baiklah, kalau begitu...." Ucap tuan agung yang kemudian menjetikkan jarinya.
"Ctaak."
Mereka pun berpindah ke tempat ibu kota, Sesampainya mereka disana....
"Sekarang apa yang akan kita lakukan? Jalan-jalan atau apa?" Tanya tuan agung kepada Zen.
"Kita akan mampir ke restoran Seafood yang ada di sana itu!" Sahut Zen dengan menunjuk ke tempat restoran itu berada.
"Oke, ayo kita kesana." Sahut tuan agung. Lalu dia bergumam, "pantas saja bocah ini tidak ingin sarapan."
Lalu mereka berdua berjalan menuju restoran itu. Saat diperjalanan menuju restoran Seafood itu, Zen bertanya kepada tuan agung.
"Kenapa rambut dan bola matamu mirip Kaisar Lord dan keturunannya juga memiliki rambut yang sama sepertimu. Apa jangan-jangan kau itu adalah arwah dari ayah Kaisar Lord yang gentayangan?" Tanya Zen kepada tuan agung.
"Bicara apa kau bocah, aku bukanlah arwah dari ayahnya Lord yang gentayangan. Bukannya sudah ku bilang padamu, aku ini adalah roh istimewa yang bertugas melindungi keturunan Kaisar Lord!" Sahut tuan agung.
"Kenapa tugasmu cuman melindungi keturunan Kaisar Lord?" Tanyanya lagi kepada tuan agung.
"Itu karena... ada suatu kejadian yang membuatku harus bertugas menjaga dan melindunginya dan keturunannya. Suatu hari nanti... kau pasti akan mengetahui segalanya Zen." Ucap tuan agung dengan menatap ke arah Zen.
"Aku masih penasaran tentang dirimu! Kejadian apa yang membuatmu diberikan tugas ini, dan alasan apa yang membuat dirimu tidak bisa menceritakan kejadian itu padaku?" Ucap Zen yang kebingungan.
Lalu setelah itu, tuan agung mengusap kepalanya Zen dan juga bergumam, "setiap kali aku melihat bocah ini, aku selalu teringat dengan Lord saat dia masih kecil. Dan kata-katanya barusan tadi, sama persis dengan yang dikatakan oleh Lord saat dia masih kecil. Padahal Kaisar-kaisar sebelum Zen, tidak ada yang bisa membuat diriku teringat dengan kenanganku bersama Lord."
^^^Bersambung....^^^