ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 21 { Percakapan tuan agung dengan seseorang di dalam bola kristal }



Dimalam harinya....


"Pelayan!" Ucap tuan agung.


"Iya, tuan." Sahut si pelayan dengan menundukkan kepalanya.


"Bawakan aku bola kristal sekarang! Karena ada sesuatu yang harus kulakukan dengan benda itu." Ucap tuan agung.


"Iya, tuan." Sahut pelayan itu, yang kemudian pergi mengambilkan bola kristal.


Seusai dia mengambil bola kristal yang berada di gudang, dia membawanya ke tempat tuan agung.


"Ini bolanya, tuan." Ucapnya, kemudian dia meletakkan bola kristal itu ke atas meja.


"Sekarang kau boleh pergi." Sahut tuan agung.


"Baik, tuan." Ucapnya dengan menundukkan kepala lalu pergi dari tempat itu.


"Sekarang, aku tinggal mengaktifkan bola kristal ini dengan mengalirkan manaku. Oke... mari kita mulai." Ucap tuan agung yang kemudian mengalirkan mananya ke bola kristal itu.


Sesudah dia mengalirkan mananya ke dalam bola kristal, bola itu kemudian bersinar....


"Akhirnya, bola ini aktif kembali.... Sekarang karena kau telah ku aktifkan, hubungi bola kristal milik pria tengil itu!"


Ucapnya kepada bola kristal yang berada di depannya.


Bola kristal itu kemudian menghubungkan dirinya ke bola kristal


yang dimiliki si pria tengil. Setelah terhubung, muncul seseorang di dalam bola kristal itu....


Orang yang muncul di bola kristal itu berkata, " Kenapa kau menghubungiku? Apa ini sudah waktunya aku harus kembali?"


"Iya, bodoh! Jika kau tidak kembali ketempat ini, maka aku akan menyuruh orang itu menarikmu kedalam penderitaan yang tidak akan pernah berakhir. Kau harusnya berterima kasih kepadaku, karena jika bukan karena diriku, kau sudah tersiksa selama ini. Jadi kembali kesini sekarang!" Sahut tuan agung dengan mengancam orang yang berada di dalam bola kristal itu.


"Padahal aku masih ingin jalan-jalan di tempat ini. Karena masih ada tempat yang belum aku kunjungi disini. Dan lagi, tempat itu kan hanyalah.... Ah, apa bocah itu ada disekitarmu?" Ucap orang yang berada di dalam bola kristal itu.


"Maksudmu, Zen? Bocah itu tidak ada disini, karena ini sudah hampir tengah malam. Dia sudah tertidur pulas setelah bermain hari ini. Dan ngomong-ngomong, aku tidak peduli dengan tempat-tempat yang belum kau kunjungi disana! Kembali ketempat ini, besok. Jika kau tidak kembali besok! Aku akan pastikan kalau kau akan diseret orang itu kedalam kesengsaraan yang tidak akan pernah berakhir." Sahut tuan agung.


"Hah, kau ini.... Baiklah, aku akan ketempat itu besok. Tapi, jika kau tidak membuka portalnya, aku tidak akan bisa kesana." Ucap orang itu.


"Jam berapa aku harus membukakan portalnya?" Sahut tuan agung.


"Em... jam berapa ya.... Jam sebelas oke?" Ucap orang itu.


"Jam sepuluh!" Sahut tuan agung.


"Kalau begitu jam sepuluh lewat tiga puluh, bagaimana?" Tanya orang itu


"Semakin kau menawar, semakin ku percepat kedatanganmu kesini. Jam sembilan!" Sahut tuan agung dengan wajah jengkel.


"Kenapa wajahmu seperti itu? Harusnya aku yang begitu. Dan... baiklah, jam sembilan. Jangan kau percepat lagi! Pokoknya, jam sembilan! Dah... aku sibuk! karena disini masih siang." Ucap orang itu.


Kemudian komunikasi mereka lewat bola kristal pun terputus, dan bola itu kemudian kembali ke keadaannya seperti semula.


"Dasar sialan... dia malah menutup komunikasinya. Sekarang... apa yang harus kulakukan?" Ucap tuan agung yang kemudian kebingungan karena tidak ada pekerjaan.


pagi hari pun tiba....


"Sudah jam tujuh rupanya.... Eh, kenapa ibu tidak membangunkanku sekarang? Padahalkan aku harus latihan ped...." Ucapnya yang kemudian tersadar kalau kegiatan kesehariannya telah berubah.


"Ah, menyebalkan! Kenapa aku bisa lupa semua itu! Andai semua itu tidak pernah terjadi, sudah pasti kehidupanku akan bahagia. Sudahlah Zen! Kau harus sadar kalau kau tidak bisa kembali ke masa lalu, untuk memperbaiki semuanya. Lebih baik sekarang aku mandi." Ucapnya yang kemudian pergi ke kamar mandi.


Sesudah Zen mandi, dia sarapan pagi ditemani oleh tuan agung.


"Bagaimana makanannya hari ini, enak atau tidak?" Tanya tuan agung kepada Zen.


"Makanannya enak, kok." Sahut Zen.


"Kenapa kau hanya diam saja? Kau tidak makan? Semalam, kau juga tidak makan. Aneh sekali." Tanya Zen kepada tuan agung.


"Aku ini kan roh.... Memangnya roh butuh makan apa?" Sahut tuan agung dengan ekspresi datar.


"Oh, iya. Apa pekerjaanku hari ini?" Tanya Zen.


"Terserah, apa yang kau mau. Karena hari ini aku sibuk, jadi aku tidak bisa bermain denganmu. Kenapa kau tidak bermain dengan anak seumuranmu di kota ini?" Ucap tuan agung kepada Zen.


"Kau tau... aku masih butuh waktu, untuk berbaur dengan masyarakat disini. Jadi kegiatanku hari ini jalan-jalan mengelilingi kekaisaran ini saja. Karena waktu itu, baru beberapa tempat yang aku kunjungi. Masih banyak yang belum ku lihat dikekaisaran ini, jadi aku akan berada disini saja." Sahut Zen.


Setelah dia selesai makan, kemudian dia pergi mengunjungi tempat-tempat yang belum dia kunjungi sebelumnya di kekaisaran itu. Sampai pada suatu tempat, dia berhenti....


"Wah, tempat ini mirip dengan taman bunga milikku. Tapi ini dua kali lipat indahnya dari milikku. Haah... bahkan udara disini sangat sejuk dan nyaman." Ucapnya yang kemudian berbaring ditempat bunga-bunga itu.


"Kapan kakek tua itu akan melatih ku? Aku sudah bosan, karena tidak melakukan apa-apa. Sekarang apa yang dilakukan kakek tua itu, sampai-sampai dia tidak bisa menemaniku hari ini?" Ucapnya yang sedang menerka-nerka apa yang dilakukan oleh tuan agung.


Sementara ditempatnya tuan agung....


"Sekarang sudah jam sembilan. Kalau begitu, aku akan membuka portalnya sekarang juga. Ucap tuan agung yang kemudian mengatakan, "Portal penembus ruang dan waktu terbukalah di dua tempat sekaligus!"


Lalu portal itu terbuka di dua tempat yang berbeda, untuk membuat pelintasan ruang dan tempat dengan sekejap mata.


Beberapa menit kemudian.... Seseorang pria keluar dari portal yang dibuka oleh tuan agung tadi.


"Aku tepat waktu kan, kakek tua?" Ucap pria yang baru saja keluar dari portal itu.


"Kau dan Zen sama saja! Sudah kubilang berapa kali haah! Jangan pernah memanggilku kakek tua! Jika kau meremehkan peringatanku kali ini, maka lihat saja nanti, aku akan membuat menyesal selama-lamanya." Ucap tuan agung dengan menarik kerah baju pria tadi.


"Dengar, aku hanya bercanda tuan yang agung. Kumohon, ampuni kesalahanku. Aku berjanji kepadamu, Tidak akan menyebutmu kakek lagi. Jadi, tolong lepaskan tanganmu dari bajuku." Sahut si pria tadi dengan keringat dingin yang bercucuran karena ketakutan.


"Baiklah, kali ini kau akan ku maafkan. Tapi ini adalah kesempatan yang terakhir, jadi gunakan sebaik-baiknya. Mengerti?" Ucap tuan agung kepada pria tadi.


"I-iya, aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Tapi... apa alasanku kau panggil kesini?" Tanya pria itu kepada tuan agung.


"Siapa dia kakek tua?" Tanya Zen yang tiba-tiba muncul di tempat mereka berdua berada.


"Si-siapa aku?" Ucap pria tadi dengan terbata-bata.


"Ah, pria ini ya Zen. Dia adalah seorang...." Ucap tuan agung yang kebingungan melanjutkan kata-katanya itu.


"Cepat jawab pertanyaanku! Kenapa dari tadi kau selalu menghindari tatapan mataku?" Ucap Zen kepada tuan agung.


^^^Bersambung....^^^