
"Dia itu maksudnya aku ya Incelote?" Ucap Zen dengan menoleh ke arah Pangeran Incelote.
"Apa yang telah terjadi? I-ini mimpi bukan, tidak mungkin ini kau Yui. Bagaimana bisa kau semirip tuan agung, apa kau itu sebenarnya cucunya tuan agung?" Sahut Pangeran Incelote dengan melongo.
"Hah...." Ucap Zen dengan ekspresi datar. kemudian dia berkata, "Kakek tua itu kakekku! Jangan mengatakan hal omong kosong seperti itu bodoh, tidak mungkin dia itu adalah kakekku karena kakekku telah tiada. Dan fakta yang harus kau ketahui, tuan agung itu tidak mengerti apa artinya cinta dan dia juga bilang padaku waktu itu kalau dirinya hidup hanya untuk menjalankan tugas juga dia bukanlah manusia."
"Jadi mana mungkin dia itu kakekku kalau dia bukanlah manusia, dia hanyalah sebuah roh aneh yang tidak masuk akal bagiku. Masa sebuah roh bisa memukulku tetapi tidak untuk ku, setiap kali aku ingin menendangnya dan membalas pukulannya selalu saja tubuhku menembus tubuhnya."
"Oh, begitu ya. Tapi kenapa kau sudah berubah ketubuh normalmu bukannya masih kurang sehari." Tanya Pangeran Incelote.
"Entahlah aku juga tidak tau bagaimana ini bisa terjadi, tapi seandainya aku tidak berubah ke ukuran normal ku. Adikmu Rin sudah pasti terperosok ke dalam sumur tua itu." Ucap Zen dengan menunjuk arah sumur itu.
"Sumur tua, mana ada sumur dibelakang istana selama ini." Sahut Pangeran Incelote.
"Jika ini bukan sumur, lalu ini apa?" Tanya Zen.
"Aku juga tidak tahu, ini lubang kegunaannya untuk apa. Ngomong-ngomong apa kau tahu tentang lubang ini Rin?" Tanya Pangeran Incelote ke Putri Irene.
"Jika aku tau disini ada lubang tidak mungkin aku akan menginjaknya! Dasar bodoh." Sahut Putri Irene Dengan wajah kesal.
Setelah mengatakan hal itu, tiba-tiba ada seseorang menyerang mereka dengan sebuah panah. Dan dua panah berhasil mengenai mereka, satu anak panah mengenai kaki kiri Pangeran Incelote dan hal itu langsung membuatnya lumpuh juga tidak bisa menggerakkan kakinya.
Satu panahnya lagi mengenai pergelangan tangan Zen, hal itu terjadi karena Zen berusaha melindungi Putri Irene karena panah itu awalnya hampir mengenainya tapi sebelum itu dia merasakan hawa seseorang selain mereka bertiga kemudian dia pun mengaktifkan mata Diamondnya. dan pada saat mengaktifkan kekuatan mata Diamond panah langsung menghampiri mereka bertiga.
Tapi dia berhasil menghindar anak panah yang tertuju padanya sayangnya tidak untuk anak panah yang menghampiri Putri Irene, karena berusaha melindungi Putri Irene dari anak panah itu bukannya Putri Irene yang terpanah tetapi dirinyalah yang terkena panah itu.
"Penyusup, ada penyusup disini! Akhh, kakiku yang tertusuk anak panah ini langsung mati rasa. Ternyata anak panah ini beracun, sial!" Ucap Pangeran Incelote, setelah itu dia hanya bisa duduk karena kakinya yang mati rasa akibat racun.
"Anak panah itu hampir saja mengenaiku." Ucap Zen saat menghindari anak panah yang menghampirinya. Setelah itu dia melihat kearah Putri Irene dan langsung mendorong Putri Irene menjauh dari anak panah itu kemudian ada anak panah lagi menghampiri Zen saat dia berbalik arah. Dan anak panah itu mengenai pergelangan tangan kanannya.
"Akh, sial! Tanganku langsung mati rasa, sialan! Panah ini ternyata beracun. Aku harus menghentikan aliran racun dari anak panah ini, sebaiknya aku membekukannya sebelum racunnya mengalir sampai kejantungku." Ucap Zen, setelah itu dia langsung membekukan pergelangan tangannya yang terkena panah itu.
Kemudian Zen menghampiri Pangeran Incelote dan langsung membekukan kaki kirinya Pangeran Incelote untuk menghentikan aliran racun itu sebelum mengalir ke jantung.
"Terimakasih banyak, Yui." Ucap Pangeran Incelote.
"Ini bukanlah apa-apa, aku akan meminta bantuan pada para prajurit kerajaanmu dan juga pada ayahmu." Sahut Zen.
Dan pada saat Zen berdiri setelah menolong Pangeran Incelote para musuh kemudian melempari beberapa bom asap kearah mereka.
Meskipun asap dari bom asap itu sangat tebal, Zen tetap bisa melihat dengan jelas karena mata Diamondnya aktif.
"Yui!!!" Teriak Putri Irene untuk meminta bantuan karena dia ingin diculik oleh musuh. Setelah itu mulutnya langsung ditutup dengan kain yang membuatnya tidak sadarkan diri. Dan para musuh langsung membawanya pergi menjauh dari Zen dan Pangeran Incelote.
"Suara Rin, apa yang barusan kulihat? Mereka menculik Rin tepat didepan mataku dan aku tidak merasakan keberadaan mereka sama sekali, hei Incelote! Kau tunggu saja disini, aku akan mengejar mereka." Ucap Zen kemudian dia pergi mengikuti arah para musuh membawa Putri Irene.
"Yui tunggu, akh!!" Sahut Pangeran Incelote dengan mengacak-ngacak rambutnya karena kesal akibat tidak bisa mengejar para musuh yang menculik adiknya.
"Kakak macam apa aku ini, adik baru saja diculik didepan mata tapi aku hanya dia saja. Sialan!!" Teriaknya.
Disaat Zen mengejar para musuh....
"Hei ketua! bocah berambut putih itu ternyata mengejar kita. Dan dia berlari sangat cepat, apa yang harus kulakukan untuk membuatnya terhenti? Kubunuh atau ku siksa, cepat katakan!" Ucap salah seorang musuh sambil berlari seperti ninja.
"Bunuh saja dia, kita tidak punya banyak waktu lagi! Karena jalan yang kita lalui ini adalah hutan yang lebat dan berbahaya ketika malam hari tiba. Sahut ketua dari penjahat itu.
"Baiklah kalau begitu, mari bersenang-senang!" Sahut penjahat tadi dengan berhenti berlari untuk menghadang Zen dan teman-temannya tetap berlari.
"Hei bocah, berhenti sekarang juga. Jika kau ingin hidup, lebih baik pulang saja, kalau kau tak sayang nyawamu maka hadapilah aku." Ucap penjahat itu dengan memegang sebuah tombak yang bisa memanjang ke arah musuhnya. Dan bukan hanya itu saja... dia juga melemparkan bom asap yang tidak henti-hentinya mengeluarkan asap kearah Zen.
"Apa kau bilang hah! Pulang? Aku tidak akan pernah pulang dan seharusnya kaulah yang menyerah dan pergi dariku sebelum kau melihat wujudku seperti ini." Sahut Zen dengan berjalan kearah orang itu.
"Padahal aku sudah menutupi pandanganmu dengan asap, tapi kau masih bisa berjalan tanpa menabrak pepohonan satupun. Siapa kau sebenarnya bocah, memangnya kenapa kalau aku melihat wajahmu hah!" Tanya penjahat itu.
"Siapapun yang melihatku dengan wujudku seperti ini akan kupastikan tidak bisa bernafas esok harinya!" Ucap Zen dengan terus melangkah mendekatinya dan dia pun berhasil keluar dari asap bom yang dilempar penjahat itu.
"Sial, kau bisa keluar rupanya! Tapi kau akan tiada setelah terkena tombak hebatku ini, rasakan ini sekarang!" Teriak penjahat itu dengan mengarahkan arah mata tombaknya ke Zen dan tombak itu langsung memanjang kearah Zen dan terus mengikuti arah Zen meskipun dia terus menghindar.
"Hebat bukan, bocah." Ucap penjahat itu dengan tertawa melihat Zen yang terus menghindar dari kejaran tombak yang bisa memanjang dan bisa mengikuti arah musuhnya itu.
"Kau bilang benda seperti ini hebat, karena kau melihatku seperti kelelahan karena terus menghindar. Aku hanya pemanasan otot kaki tadi dan hanya sedang berakting kelelahan, sekarang akan kutunjukkan padamu kalau benda ini sebuah rongsokan." Sahut Zen dengan menghentikan tombak itu dengan tangan kanannya karena tangan satunya lagi tidak bisa digerakkannya.
"Bagaimana kau bisa menghentikannya hanya dengan tangan kosong!" Teriak penjahat tadi, kemudian dia merogoh kantong belakangnya dan langsung melemparkan sebuah belati ke arah Zen.
Tapi belati itu bisa dihindarinya dan kemudian dia langsung mengeluarkan kekuatan petir tanpa merapalkannya sama sekali dan langsung menyalurkannya ke tombak itu. Dan seketika saja musuhnya langsung tersetrum juga kejang-kejang selama beberapa menit.
"Cih, kau pikir bisa membunuhku dengan petir itu! Jangan harap! Sekaranglah saatnya, tombak hebatku! Memanjanglah dan langsung bunuh bocah itu." Ucap penjahat itu setelah kejang-kejang.
"Bagaimana pedang itu bisa muncul setelah dia bertepuk tangan? Sial, kupikir ini perlawan yang mudah ternyata tidak. Aku harus kabur!" Gumam penjahat itu dan langsung melempari bom asap kearah Zen.
"Kau pikir kau bisa kabur, bodoh!" Ucap Zen dengan membisikkanya ke telinga penjahat itu.
"Ba-bagaimana kau bisa ada didekatku?" Ucap penjahat itu dengan bercucuran keringat dingin.
"Akukan sudah bilang padamu! Kalau aku tidak akan membiarkanmu hidup setelah melihat wujudku seperti ini!" Ucap Zen dengan nada yang mengerikan.
Karena saking takutnya penjahat itu setelah melihat wajah Zen dan matanya yang bersinar seperti memancarkan hawa haus darahnya, dia langsung berlari untuk kabur. Hanya beberapa kali langkah saja, kedua kakinya langsung putus setelah ditebas oleh Zen.
"Keukkhhh, kakiku! Kau benar-benar seorang iblis! A-apa yang ingin kau lakukan padaku sekarang?" Ucapnya sambil bergerak dengan tangannya untuk menjauhi Zen.
"Apa yang kulakukan padamu? Tentu saja membakarmu hidup-hidup!" Sahut Zen dengan menatapnya dengan tatapan mengerikan. Dan setelah itu, tanpa merapalkannya mantra dia langsung mengeluarkan bola api naga yang lumayan besar dan kemudian berkata, "ucapkan selamat tinggal pada dunia ini, kawan!" Ucapnya dengan senyuman bengis.
Setelah itu dia langsung melemparkan bola api itu kearah penjahat itu dan membiarkannya mati terbakar begitu saja sampai mayatnya jadi abu.
"Sekarang satu orang sudah kusingkirkan, tinggal tiga orang saja lagi." Ucap Zen dengan melihat ke abu jenazah penjahat tadi. Kemudian dia berlari dengan sangat cepat untuk mengejar musuhnya tadi.
Hanya dalam sepuluh menit saja, dia langsung berhasil menyusul mereka.
"Ketua! Rokki telah dikalahkannya, sekarang biar kami yang akan menanganinya, kau teruslah berlari membawa Putri." Ucap anak buahnya.
"Baiklah, kuserahkan pada kalian." Sahutnya dengan mempercepat langkahnya.
"Sekarang serang dia dengan panah beracunmu Noeli!" Ucap salah seorang penjahat tadi.
"Baik." Sahut penjahat yang bernama Noeli dengan melepaskan beberapa anak panahnya kearah Zen.
Kemudian Zen mengeluarkan busur Es yang diberikan tuan agung kepadanya dan busur itu juga bisa menghilang dan datang jika diinginkannya seperti pedang Kaisar Lord.
Hanya dengan sebuah busur tanpa anak panah, dia pun kemudian membuat anak panahnya yang terbuat dari kekuatan es dan melepaskannya kearah Noeli. Dan semua anak panahnya mengenai tubuhnya Noeli tetapi sebaliknya, anak panah yang dilepaskan Noeli tidak ada yang mengenai Zen sama sekali.
Kemudian setelah panah itu menusuk musuhnya itu, dia langsung membuat panah es itu membekukan tubuh Noeli sampai dia tidak dapat bergerak sama sekali karena hanya kepalanya yang tidak dibekukan oleh Zen.
Setelah itu Zen melompat keatas tepat diatas Noeli, dia pun langsung menebas Noeli yang tidak bisa bergerak itu. Dan Noeli pun tewas seketika karena langsung dieksekusi ditempat oleh Zen.
"Siapa kau sebenarnya bocah! Teman ku Noeli... kau tidak akan ku biarkan hidup bocah sialan! Lingkaran sihir hitam! ledakan sihir yang akan membuat musuh lumpuh! meledaklah didekatnya!!!" Teriak penjahat itu.
Dan ledakan besarpun terjadi, setelah melihat ledakannya sempurna. Penjahat itu mendekat ketempat ledakan itu terjadi dan berkata, "aku lebih kuat dibandingkan mereka berdua, hanya dalam sekali serangan kau tidak akan bisa bergerak karena lumpuh. Tunggu, kenapa bocah itu tidak ada disini?" Ucapnya dengan celingak-celinguk.
"Aku tepat dibelakangmu, bodoh!" Sahut Zen dengan menancapkan pedangnya tepat dijantung musuhnya itu.
"Sialan!" Ucap musuhnya untuk terakhir kalinya dengan mulut yang mengeluarkan darah dan dia pun langsung tersungkur ketanah karena dia telah tiada.
"Orang-orang brengsek seperti mereka ini telah mati, tinggal bedebah sialan itu!" Ucap Zen dengan mempertajam penglihatan matanya dan dia melihat ketua penjahat itu memberikan Putri Irene keseseorang yang membawa kereta kuda dan setelah itu dia berlari menghampiri Zen untuk memastikan apakah anak buahnya telah mengalahkan Zen. Dan Zen pun langsung berlari kesana secepatnya untuk menghentikan kereta kuda yang membawa Putri Irene itu pergi.
"Sialan! Aku terlambat...." Gumam Zen sambil berlari kearah penjahat itu. Dan mereka pun kemudian bertemu....
"Apa-apaan ini, kau masih hidup? Bagaimana mungkin?" Ucap orang itu dengan menghampiri Zen untuk menebas kepalanya.
"Cih, kau pikir kau bisa membunuhku dengan tebasan pedang seperti itu!" Ucap Zen setelah menghindar.
"Itu masih awalan bocah, ini baru namanya pertunjukan!" Sahutnya dengan melempar pedangnya kelangit dan mengucapkan, Hujan pedang!" Teriaknya, hanya dengan satu pedang yang dilemparnya kelangit. Kemudian pedang itu menjadi banyak dan berjatuhan kearah Zen.
"Pelindung berlian! Aktifkan!" ucap Zen, dan pedang itu pun berjatuhan tanpa mengenainya sama sekali.
"Tunggu, berlian! Jangan-jangan kau adalah keturunan Kaisar Diamond!" Ucap Penjahat itu dengan keringat dingin. Kemudian dia merapalkan mantra, lingkaran sihir hitam, lubang sihir kematian! telan bocah sialan itu!"
Tapi Zen dapat menghindarimya dengan melompat keatas dan mendarat dibelakang penjahat itu, setelah mendarat kebawah... dia kemudian melemparkan sebuah duri berlian kecil kearah musuhnya itu dan kemudian menggenggam tangannya dan duri kecil yang menancap ditubuh musuhnya itu langsung menyebar menjadi duri yang banyak didalam tubuh musuhnya dan kemudian menusuk-nusuk organ-organ tubuuhnya kecuali jantungnya karena Zen masih tidak ingin membunuhnya.
"Keukkhhh, rasanya sakit sekali. Apa yang sebenarnya kau lakukan padaku bocah, padahal kau tidak merapal mantra untuk menyerangku sama sekali!" Ucapnya sambil memuntahkan darah karena organ tubuhnya ditusuk-tusuk duri yang awalnya kecil dan kemudian menyebar ke seluruh tubuhnya.
Setelah itu Zen menarik kerah bajunya dan menatapnya dengan hawa ingin membunuh, kemudian Zen berkata....
"Kemana kereta kuda yang membawa Putri Irene itu pergi, bedebah sialan!" Ucapnya dengan suara yang mengerikan.
"Kenapa aku sangat tertekan setelah melihat wajah bocah sialan ini!" Gumam penjahat itu.
"Cepat katakan sialan! Jika kau mengatakannya padaku, akan ku lepaskan dirimu." Ucap Zen dengan menginjak dada musuhnya itu.
"Kau akan melepaskan diriku kan, jadi baiklah... ku terima kesepakatanmu itu. Kereta kuda itu pergi ke kediamannya Viscount Silvester, jika kau tidak tau tempatnya tanyakan saja kepada penduduk diluar hutan ini. Karena tempat kediamannya tidak terlalu jauh dari tempat penduduk disini, jadi lepaskan aku sekarang juga!" Ucapnya kepada Zen.
"Baiklah akan ku lepaskan dirimu dari ragamu sekarang juga!" Ucap Zen dengan menebas kepala penjahat itu.
^^^Bersambung....^^^