ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 61 { Kata-kata yang bikin kesabaran habis }



"Apa yang baru saja ku lihat tadi, aku harus pergi dari sini secepatnya sebelum aku melihat kejadian tadi lagi." Ucapnya sambil melihat ke sekeliling hutan itu, dia kemudian berdiri dan berjalan melangkah keluar.


Sesudahnya dia keluar dari hutan itu, dia kemudian menoleh ke arah Dungeon untuk melihat apakah para penambang sudah tiba... Jika mereka sudah tiba, sulit untuk nya keluar dengan mudah dari hutan terlarang itu karena tidak ada satu pun manusia yang bisa melewati dinding penghalangnya.


Melihat situasi yang aman, dia pun bergegas ke akademi untuk mengobati lukanya.


Sesampainya di depan pintu rumah sakit akademi, dia kemudian mengetuk pintu nya dan keluarlah seorang perempuan yang merupakan dokter akademi itu....


"Siapa?" Ucapnya sambil membuka pintu.


"Namaku Yerui, aku murid di akademi ini dan kau mungkin pernah mendengar namaku... jadi kau tidak perlu curiga kalau aku penipu." Sahut Zen.


"Ah, iya... rambut kuning keemasan yang telah membuat satu-satunya pangeran kekaisaran terbesar di benua ini koma. Tidak mungkin aku tidak bisa mengenali mu karena hanya kau seorang, yang memiliki rambut kuning keemasan dan bola mata berwarna biru seperti keturunan kekaisaran dari benua timur di akademi ini. Jadi ada alasan apa kamu kesini, apa kamu terluka dan ingin diobati... jika iya, mari masuk ke dalam." Ucap dokter perempuan itu.


Zen pun kemudian masuk kedalam rumah sakit itu, karena harinya sudah sore... tidak ada siapapun selain mereka berdua yang ada di rumah sakit itu, karena para staf dan pesawat sudah pulang dan sedangkan dokter itu memang tinggal di rumah sakit itu kalau-kalau ada murid yang berkunjung dimalam hari karena sakit.


"Sekarang mari kita obati tanganmu yang penuh goresan itu, dan ngomong-ngomong bagaimana kau bisa mendapatkan luka sebanyak itu?" Tanya dokter itu sambil mengambil salep antiseptik dan antibiotik untuk mengobati lukanya.


"Bukan tangan ku yang ingin ku obati, ini tidak perlu diobati karena dalam beberapa hari ini akan hilang sendiri dan tidak akan meninggalkan bekas. Yang anda perlu obati adalah...." Ucap nya sambil melepaskan jaket dan bajunya.


Betapa terkejutnya dokter itu melihat luka besar yang ada di punggungnya dan dokter itu juga heran karena jaketnya berwana putih tapi aksesoris yang ada di jaketnya yaitu resleting dan Bros yang berbentuk sayap menempel di jaketnya berwarna kuning keemasan karena itu memang terbuat dari emas.


"Bagaimana jubahmu tidak terkena darah dari luka mu yang bahkan masih darahnya masih belum berhenti keluar walaupun darahnya terkena kaos hitam mu itu lebih dulu, tapi jika darah sebanyak ini sangat tidak masuk akal tidak mengenai jubahmu, tapi kau tidak perlu menjawab dulu karena ini harus di obati secepatnya." Ucap dokter itu dengan mengobati lukanya dan setelah itu dia kemudian mem perbannya dengan kain kassa.


"Sekarang sudah selesai, kau bisa menjawab pertanyaan ku tadi, dan oh iya satu pertanyaan lagi... bagaimana kau bisa mendapatkan luka mengerikan seperti ini.... apa kau diserang gerombolan monster? Jika iya kau harus melapor ke Direktur Arthur." Ucap dokter itu dengan wajah serius.


"Ini bukan karena diserang gerombolan monster kok, aku hanya terjatuh ke jurang dan dibawah jurang itu terdapat duri... lalu duri itu pun merobek punggung ku seperti ini, dan luka-luka ditangan ku ini karena terkena duri-duri kecil lainnya di bawah jurang itu. Dan bagiku ini tidak apa-apa kok, hehe...." Jawabnya dengan wajah tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan jubahmu itu bisa seperti itu?"


"I-ini bukan jubah, melainkan jaket... dan ini dibuat khusus oleh kakekku hanya untukku, lalu aku juga tidak tau apa yang membuat jaket ini bisa seperti ini karena sebelumnya jaket ini juga ikut robek bersamaan dengan punggung ku. Terima kasih atas pengobatannya, aku akan kembali ke penginapan, karena harinya sudah mulai gelap...." Ucapnya sambil berjalan menuju pintu keluar, kemudian dia melambaikan tangannya sambil tersenyum lalu kemudian dia pergi.


Setelah Zen pergi, dokter itu kemudian mengoceh....


"Apa bocah itu mengira aku akan tertipu dengan ucapannya tadi, luka itu benar-benar didapat dari serangan monster... aku ini sudah bertahun-tahun jadi dokter di akademi ini, hadeh...."


Di perjalanan pulang ke penginapan dia menemukan makhluk yang imut yaitu rubah kecil berwarna putih ke biru-biruan, bulu serigala kecil itu agak berantakan dan penuh dengan tanah. Zen kemudian menangkapnya karena merasa hewan itu imut, lalu tiba-tiba saja dia mengangkat hewan itu dan dia mengeluarkan kekuatan air secara bersamaan dan hal itu membuat rubah kecil tadi basah kuyup dan hewan itu menatap tajam Zen karena membuatnya basah kuyup.


"Hei, kenapa kau menatapku seperti itu hah? Harusnya kau berterima kasih karena sudah ku buat bersih dan debu tanah yang membuat terlihat jelek tadi dan karena aku sekarang kau jadi imut!" Ucap Zen dengan mengangkat serigala kecil tadi ke pundaknya, pada awalnya hewan itu meronta-ronta saat diangkatnya. Kemudian dia menjadi tenang saat berada di atas pundaknya Zen.


"Kau akan jadi peliharaan ku loh, dan aku akan memberikan mu banyak daging nantinya saat pulang...." Ucapnya sambil mengusap kepala rubah itu dan dia pun kemudian pergi dari tempat itu bersama hewan yang ada pundaknya.


Sesampainya didepan rumah penginapan... dia dihadang oleh Hilda berserta teman satu tim lainnya. Kemudian Hilda mendekat ke arahnya dan berkata....


"Kau bilang kau akan kembali ke penginapan saat itu, lalu kenapa kau tidak ada saat kami pulang? Dan gara-gara kau, kami hampir saja tidak bisa menyelesaikan misi tadi... untung para bandit itu telah diserang seseorang, jika tidak kami akan kehilangan mereka. Dan bukan hanya itu, kau bahkan menitipkan dua bocah pada kami, harusnya kau yang menyerahkan mereka ke Direktur Arthur karena kau tidak pernah membantu kami sama sekali dalam misi kali ini!" Ucapnya sambil menunjuk-nunjuk ke wajah Zen.


"Lalu benda apa yang ada di pundakmu itu? Bukankah itu rubah, apa kau ingin memelihara hewan liar itu?" Tanya Hilda.


"Ya iyalah tidak boleh! Hewan itu hanya hewan liar dan bukannya hewan ajaib, jadi kau tidak bisa membawanya masuk. Dan aku ingin bertanya satu hal lagi padamu, dimana sebenarnya kau menemukan berlian biru yang kau berikan pada kami waktu itu? Kata karyawan toko perhiasan, berlian itu sudah sangat langka dan anehnya katanya ada seseorang penjual kue yang menjual dan dia bilang kalau ada seseorang bocah yang memberikan itu untuk membayar harga kue."


"Padahal kata karyawan toko perhiasan itu, seandainya jika bocah itu menjualnya langsung ke toko perhiasan... dia bahkan bisa membeli sebuah Mansion mewah seperti kediaman para Duke. Jadi aneh saja kalau dia memberikan itu hanya untuk membayar harga kue, Sebenarnya dari mana kau mendapatkannya? Apa kau mencurinya dari tempat museum barang langka di dunia, jika mengingat kekuatan mu saat melawan pangeran Kaito, sudah pasti kau bisa mencurinya meskipun penjagaannya sangat ketat!" Ucap Hilda dengan tatapan yang merendahkan.


"Apa pertanyaan mu sudah habis kau lontarkan? Jika iya, maka aku akan menjawab pertanyaan itu sekarang.... Aku tidak mencurinya dari Museum barang langka, dan aku sudah bilang aku mendapatkannya di jalan saat itu. Dan alasan aku memberikan itu sebagai bayaran atas kue yang ku makan, karena kue yang dibuat pemilik toko kue kecil itu sangat begitu enak, jadi bisa dibilang aku berinvestasi padanya untuk memajukan tokonya. Dan sekarang dia sudah membuka restoran mewah yang menyediakan makanan mewah dan juga kue yang berkelas. Apa kau paham, jika iya... biarkan aku masuk sekarang." Sahut Zen dengan menatap tajam.


Saat dia melangkah melewati Hilda untuk masuk ke rumah... Hilda menarik jaketnya dan mengatakan sesuatu hal yang membuat kesabarannya telah habis.


"Pintar sekali ya kau membuat alasan, jika orang lain mungkin akan percaya kata-kata mu. Tapi aku, bukanlah orang yang bodoh dan naif yang bisa kau tipu! Mungkin orang tuamu lah yang mengajarkan dirimu caranya berbohong seperti ini karena anak akan mengikuti sifat kedua orangtuanya."


"Apa yang dikatakan Hilda itu sudah kelewatan, kita harus menghentikannya Diego, Lucas! Yui tidak akan diam seperti biasanya jika dia menghina kedua orangtuanya dan kejadian seperti pangeran Kaito akan terulang kembali!" Ucap Mia dengan menarik tangan Diego dan Lucas sambil berlari menghampiri Zen dan Hilda untuk menghentikan bencana yang akan terjadi.


"Yang kau katakan ada benarnya, jadi lebih baik kita lerai mereka sekarang." Sahut Lucas.


Tapi mereka tidak sempat menghentikan bencana itu, Hilda telah mengatakan sesuatu yang mengerikan.


"Kau tahu Yerui! Orang tua mu mungkin sudah salah membesarkan mu, atau mungkin orang tuamu itu sifatnya seperti iblis makanya kau bisa memiliki sifat menyebalkan seperti itu!"


"Ah, sial kita tidak sempat menghentikannya." Ucap Diego, dan mereka pun tidak jadi mendekat untuk melerainya dan malah mundur kebelakang.


"Apa yang baru saja kau katakan tadi hah? Orang tuaku sifatnya seperti iblis... kau lah yang iblis bego! Apa kau tidak punya cermin dan tidak pernah melihat wajahmu saat menghina seseorang? Seandainya kau menghinaku kalau aku lah yang memiliki sifat seperti iblis mungkin aku hanya akan diam, tapi tidak lagi kali ini!" Sahutnya dengan tatapan mengerikan dan aura yang mencekam lalu dia menundukkan kepalanya.


"Tuan agung, apa yang akan terjadi setelah ini?" Ucap Lucky yang sedang mengawasi Zen dari tempat yang berbeda.


"Ingatannya sudah terbangun dari tidur panjangnya, dan mungkin sementara waktu dia akan mengambil alih kendali dirinya. Kurasa aku harus memperingatinya lewat telepati, dan kau harus mengawasi sementara waktu saat aku berbicara dengannya." Sahut tuan agung.


"Baiklah tuan agung."


Zen kemudian bergumam pelan....


"Akhirnya aku terbangun dari tidur yang cukup panjang itu... ku pikir aku harus menebas leher wanita yang ada didepan ku ini sebelum dia mengeksekusi temanku...." Ucapnya sambil menatap tajam ke arah Hilda lalu dia menjentikkan jarinya dan sebuah sabit besar tiba- tiba ada dalam genggaman tangannya.


Sabit itu sangat runcing dan tajam, warna sabit itu merah seperti darah dan juga hitam di bagian pegangan nya dan anehnya benda itu memancarkan sinar dan aura yang mengerikan.


"Benda apa yang ditangan Yerui itu? Benda itu tiba-tiba saja muncul saat dia menjentikkan jarinya?" Ucap Lucas pada Mia dan Diego.


"Aku tidak tau, yang pasti itu memancarkan aura yang mengerikan dan mencekam." Sahut mereka dengan kata-kata yang sama dan diwaktu bersamaan.


^^^Bersambung....^^^


Apakah arti dari kata-kata tuan agung yang mengatakan bahwa ingatannya sudah terbangun dari tidur panjangnya....


Tunggu kelanjutannya di episode selanjutnya karena semuanya akan dijelaskan di episode berikutnya....