
"Kau ingin aku melepaskan gadis ini? Jangan harap! Dia adalah mangsa ku sekarang, whahaha... kekuatanku semakin pulih karena menyerap mana miliknya. Akan ku serap mana miliknya sampai habis, dan setelah itu dia akan tiada. Aku tidak sabar menunggu kematiannya, hahahaha...." Tawa Monster itu.
"Nggak, aku tidak ingin kehilangan seseorang dalam hidupku lagi. Tidak akan! Dasar Monster sialan! Lepaskan dia sekarang!" Teriak Zen yang kemudian berlari ke arah Monster itu.
"Kau ingin memotong akar milikku lagi, jangan harap!" Ucap Monster. Lalu dia memukul Zen dengan akar miliknya sampai membentur dinding di Dangeon itu lagi.
Braaakkk!
"Keuukh, rasanya benar-benar sakit. Akan ku bakar kau Monster jelek!" Teriaknya lagi, kemudian....
"Fire element, Death explosion!" (Elemen api, Ledakan kematian!)
Duarr!
Setelah melapalkan mantra, Zen meloncat ke arah Hilda. Diapun menebas akar-akar yang mengikat Hilda, lalu melindungi Hilda dengan membuat dinding pelindung berlian seperti yang dia buat sebelumnya.
"Dasar bocah sialan! Kau menebas akar indah ku lagi, kali ini aku tidak akan bermurah hati padamu bocah tengil! Akan ku bunuh sekarang juga bocah sialan!!!" Teriak Monster itu, kemudian dia membuat akarnya membentuk tombak dan menusukkannya ke Zen.
Karena Zen membelakangi Monster itu, dia pun tidak melihat kalau Monster itu ingin menusuknya. Pada saat akar yang berbentuk tombak itu hampir mengenai jantungnya, dia sempat menghindar karena mata Diamond miliknya aktif jadi dia bisa merasakan kalau seseorang ingin menyerangnya tapi karena tombak itu cukup besar, meskipun dia menghindari tombak itu tombak tetap mengenai tangan kirinya.
"Akhh!!! Ta- tanganku hampir saja putus. Bahkan aku tidak bisa merasakannya lagi, rasanya benar-benar sakit. Akan ku balas serangan mu tadi Monster jelek!" Teriak Zen sambil menahan rasa sakit.
"Aku sudah menggunakan kekuatan terus menerus, bahkan saat memotong akar-akar miliknya saja harus kualiri menggunakan kekuatan. Rasanya aku hampir pada batasnya... serangan kali ini harus membuatnya tiada, jika tidak aku yang akan tiada." Gumam Zen.
Setelah itu dia mengucapkan mantra lagi,
"Dengar bocah brengsek, kau tidak akan bisa mengalahkanku meskipun mana cadangan milikku telah kau rebut."
"Berisik! Kau Monster Jelek!!!" Teriak Zen.
"Diamond strength, forming a diamond stone that is large enough!" (Kekuatan berlian, membentuk batu berlian yang cukup besar!)
Setelah batu berlian itu tercipta, dia langsung melemparkannya ke tubuh Monster itu.
"Akhh, apa yang kau lemparkan ke dalam tubuhku bocah?" Tanya Monster.
"Sekarang aku harus membuat batu berlian yang ada pada tubuhnya itu meledak!" Gumam Zen. Lalu dia melapalkan mantra lagi....
"Diamond stone, explode into dust!" (Batu berlian, meledaklah menjadi sepergi debu!)
Duaar! (suara ledakan yang terjadi didalam tubuhnya Monster)
"Akhhhh, siaalan kau bocah! Aku tidak akan mengampunimu!!!" Teriak Monster.
"Diamond dust, turned into sharp thorns!" (Debu-debu berlian, berubahlah menjadi duri-duri tajam!) Ucap Zen dengan mengepal tangannya.
"Keukkhhh, setelah kau membuat ledakkan ditubuh ku... kau membuat serpihan-serpihan benda yang meledak tadi menjadi duri-duri tajam yang kemudian menusuk tubuhku. Tidak ku sangka, aku akan dikalahkan bocah sialan seperti dirimu...." Ucap Monster itu yang kesakitan, setelah mengucapkan kata-kata itu dia pun langsung terkapar dan tiada.
"Akhirnya.... aku membunuhnya. Kurasa aku akan pingsan, tapi... sebelum itu aku harus menghapus jejak kekuatan Diamond ini...." Ucap Zen dengan lesu.
"Disappeared!" (Menghilang!)
Beberapa saat kemudian....
"Dimana... aku?" Ucap Zen dengan melihat ke sekelilingnya.
"Kau sekarang ada dirumah sakit akademi!" Ucap tuan agung dengan wajah jengkel.
"Kenapa kau ada disini? Dan ada apa dengan wajahmu itu?" Tanya Zen.
"Ada apa dengan diriku? Harusnya aku yang bertanya padamu bocah! Kenapa kau harus tidak sadarkan diri sebelum menghilangkan pedang Kaisar Lord, hah! Gara-gara kau, aku harus ke sini mengambil pedang itu sebelum para Ranker yang ditugaskan menyelamatkan kalian sampai." Sahut tuan agung.
"Ah, jadi mereka yang telah menyelamatkanku. Ku pikir aku akan mati, atau hidup hanya dengan satu tangan. Tapi ternyata tanganku sudah bisa digerakkan lagi, ngomong-ngomong... sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanya Zen.
"Sudah dua minggu kau tidak sadarkan diri, makanya tanganmu yang hampir putus itu sudah hampir sembuh." Sahut tuan agung dengan ekspresi datar.
"Apa! Dua minggu? Kau tidak bercanda kan, kakek tua?" Teriak Zen.
"Aku tidak bercanda bocah bodoh, andai kau bukan keturunan Kaisar Lord... sudah pasti tanganmu itu akan putus atau akan memakan waktu yang lama untuk dapat digerakkan kembali. Dan jangan terlalu keras saat bicara, karena ini sudah malam. Oh, iya... Putri Irene ingin berbicara denganmu saat kau sudah sadar katanya. Dan bola kristal komunikasinya sudah ku sambungkan dengan bola kristal yang dimiliki Kaisar Learn." Ucap tuan agung.
"Ba-bagaimana dia bisa tahu kalau aku tidak sadarkan diri?" Tanya Zen.
"Dia menghubungiku melalui bola kristal ini, seminggu yang lalu. Jadi aku katakan kalau kau masih belum sadar setelah menyelesaikan misi pertamamu lalu aku menunjukkan dirimu yang sedang tidak sadarkan diri ditempat tidur rumah sakit ini. Dan pada saat itu, kau tidak pakai baju karena luka yang ada ditanganmu belum sembuh." Sahut tuan agung.
"Apa! Bagaiman bisa kau menunjukkan tubuhku padanya dengan semudah itu? Tubuhku ini adalah aset berharga milikku, bisa-bisanya kau menunjukkannya padanya!" Teriak Zen.
"Sudah kubilang, pelan kan suaramu itu. Bukan hanya dia saja yang melihat tubuhmu, rekan satu tim-mu juga melihatnya dan para seniormu. Mereka selalu menjengukmu setiap hari, karena aku menjagamu setiap harinya disini jadinya aku tau kalau mereka selalu menjengukmu. Meskipun begitu, mereka tidak bisa melihatku karena aku menggunakan kekuatan istimewa milikku." Ucap tuan agung.
"Harusnya jika kau ada disini, kau bisa menutup tubuhku kek, agar tidak dilihat mereka!" Sahut Zen dengan ekspresi kesal.
"Itu bukanlah urusanku, karena aku hanya menjagamu agar aman-aman saja. Masalah seperti itu bukanlah pekerjaanku, dan kau tau... kedua senior perempuan yang bersamamu dimisi itu sampai menahan hawa nafsu mereka saat melihat perutmu yang memilik roti sobek." Ucap tuan agung.
"Asal kau tahu kakek tua, jika mereka melakukan sesuatu pada tubuhku ini.... hiih memikirkannya saja membuat mual." Sahut Zen.
"Lupakan saja soal tadi, bola kristal ini sudah terhubung. Pegang saja dan tunggu beberapa menit." Ucap tuan agung dengan memberikan bola kristal itu pada Zen.
Setelah Zen memegangnya, bola itu kemudian bersinar dan menunjukkan wajah Putri Irene.
"Syukurlah, akhirnya kau sudah sadar Zen." Ucap Putri Irene sambik mengusap air matanya.
"A-aku baik-baik saja Rin, kenapa kau sampai menangis seperti itu?" Ucap Zen setelah melihat Putri Irene menangis.
"Karena aku pikir kau akan tiada, setelah terluka cukup parah waktu itu... hiks... hiks...." Sahut Putri Irene.
"Ku mohon, jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja, coba lihat tangan kiriku yang hampir putus sudah bisa digerakkan." Ucap Zen untuk menenangkannya, tapi malah membuat Putri Irene tambah menangis,
"Huwaa...." Suara Putri Irene yang menangis.
"Kenapa dia malah tambah menangis sih?" Gumam Zen.
^^^Bersambung....^^^