
"Woah... tempat ini indah sekali...." Ucap Zen saat memasuki portal itu.
"Ini aneh...." Sahut Rogger.
"Apanya yang aneh?" Tanya Zen.
"Dikatakan Direktur Art, Dangeon ini Rank B. Tapi... Dangeon ini hanya seperti Rank F saja.... Bahkan Monsternya juga tidak ada yang terlihat." Sahut Rogger.
"Benar-benar aneh dari sebelumnya...." Ucap para senior yang lainnya.
"Lebih tepatnya ini bukannya sarang Monster, tapi hanyalah sebuah taman, tidak lebih dari itu. Sekarang aku akan menghubungi Direktur Art, menggunakan Earpiace milikku untuk memberitahu kalau Dangeon ini tidak ada monsternya sama sekali." Sahut Rogger.
"Hey, semuanya! Apa kalian tau dari mana asalnya kabut ini? Bukannya tadi tidak ada kabut sama sekali?" Ucap salah seorang senior.
"Apa-apaan ini! Kenapa ada kabut disini? Siapa yang disana itu? Apa itu kalian?" Ucap senior satunya.
"Hei, senior Rogger! Kenapa ada kabut begini? Apa sebelumnya... kalian juga pernah mengalami hal ini di Dangeon?" Tanya Zen.
"Tidak sama sekali! Kami belum pernah mengalami hal ini. Apa yang harus kulakukan sekarang... semua orang terpisah dan tidak terlihat. Kabutnya semakin tebal, ada baiknya kalau kau tetap didekat ku Yerui!" Sahut Rogger.
"Hei Yerui! Kenapa kau tidak menyahut ku?" Tanya Rogger.
"Si-siapa dua orang itu? Kenapa mereka berdua mirip sekali dengan ayah dan ibuku? Hei, senior Rogger! Apa kau melihat dua orang itu juga?" Tanya Zen setelah melihat dua orang yang mirip dengan orangtuanya mendekat ke arah mereka berdua.
"Apa maksudmu ada orang disana? Aku tidak melihat apapun sama sekali, karena kabutnya semakin tebal dari tadi. Sahut Rogger.
"Nak... nak.... Ini kami, orangtuamu yang kau sangat sayangi. Kami masih hidup selama ini, dan tinggal disini. Apa kau mau ikut kami berdua jalan-jalan mengelilingi tempat ini, nak?" Ucap dua orang yang mendekati Zen tadi, tapi sayangnya suara ini hanya didengar oleh Zen.
"Apa-apaan ini, siapa kalian! Kenapa kalian mirip dengan orangtuaku?" Teriak Zen.
"Ada apa Yerui, kenapa kau berteriak?" Tanya Rogger.
"Senior Rogger, apa kau benar-benar tidak melihat dua orang disana? Bahkan dua orang itu berbicara denganku tadi." Ucap Zen.
"Sudah kubilang, aku tidak melihat apapun disekitar sini!" Sahut Rogger.
"Dua orang itu semakin mendekat, sialan!" Ucap Zen.
"Hei, nak! Ini kami, ayah dan ibumu yang kau rindukan selama ini. Kenapa kau tidak mengenali kami?" Ucap dua orang tadi yang terus mendekati Zen.
"Apa maksud kalian hah! Orang tuaku telah tiada enam tahun yang lalu. Siapa sebenarnya kalian itu? Kenapa kalian sangat mirip dengan orangtuaku?" Sahut Zen.
Kemudian dua orang tadi sudah berada disampingnya, setelah itu mereka berdua mengelus kepalanya Zen dan berkata....
"Kami adalah orangtuamu nak, kenapa kau tidak percaya pada ayah dan ibumu ini?"
"Nggak, orangtuaku telah tiada. Siapa sebenarnya kalian hah!" Teriak Zen menjauh.
"Hei, Yerui! Kau bicara dengan siapa dari tadi hah?" Tanya Rogger.
"Kenapa kau terus mengatakan orangtuamu telah tiada, bukannya selama ini kau selalu berharap kami masih hidup, kenapa sekarang setelah kami menampakkan diri padamu, kau malah ketakutan dan menjauhi kami?" Ucap dua orang tadi.
"Senior Rogger bilang dia tidak melihat kalian, dan aku juga tidak mengaktifkan mata Diamondku. Jadi... kenapa aku saja yang melihat kalian?" Ucap Zen.
"Tuan, Zen! Menjauhlah dari mereka berdua sekarang, sebelum kau termakan bujukan mereka. Kedua orangtua anda telah tiada, mereka bukanlah kedua orangtua anda."
"Saya akan menjelaskan pada anda, tapi tutup kedua mata anda dan telinga anda dulu!" Ucap kalung Demoid kepada Zen.
"Baiklah, kalung Demoid. Aku sudah menutup mata dan kedua telingaku, sekarang apa yang harus kulakukan?" Sahut Zen.
"Dengar baik-baik Tuan muda Zen, kabut ini adalah kabut yang bisa membuat seseorang bisa berhalusinasi. Kabut ini merespon kepada orang yang merindukan seseorang terdekatnya yang lama telah tiada, setelah itu... muncullah orang yang kita rindukan itu di depan kita."
"Bahkan orang itu sangat mirip dengan yang asli, tapi jangan terkecoh. Jika mereka mengajak kita mengelilingi tempat ini, kalian hanya mereka ajak ke tempat monster pemilik kabut ini. Setelah kalian sudah tidak sadarkan diri karena halusinasi itu... monster itu akan menyerap mana kalian terus-menerus sampai kalian tiada."
"Sekarang, aktifkan mata Diamond anda dan cari teman anda yang telah kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupnya. Cepatlah, tuan! Sebelum terlambat!" Ucap kalung Demoid kepada Zen.
"Siapa diantara tim-ku yang telah kehilangan seseorang yang berharga dalam hidupnya.... Hilda! Aktifkan mata Diamond sekarang!" Ucapnya dalam hati agar tidak kedengaran si senior Rogger.
"Mataku sudah aktif, sekarang penglihatan ku sudah sangat jelas. Aku harus mencari Hilda sebelum terlambat...." Gumam Zen.
"Hei, nak. Apa kau mau ikut kami jalan-jalan mengelilingi tempat ini?" Ucap dua orang tadi.
"Berisik! Menyingkir dari hadapanku sekarang! Kalian hanyalah ilusi, bukan orangtuaku yang sebenarnya! Menghilang saja dari pandanganku sekarang!!" Teriak Zen.
Whusss....
"Mereka menghilang... apa karena aku sudah tahu kalau Mereka hanyalah ilusi? Apapun itu, aku harus pergi mencari Hilda!" Gumam Zen lagi.
"Senior Rogger, aku akan pergi mencari teman-temanku sekarang." Ucap Zen, kemudian dia berlari menggunakan kekuatan petir untuk mempercepat dia berlari secepat kilat.
"Zen! Tunggu aku! Kenapa kau terus menjauh dariku, aku tidak ingin kehilanganmu untuk yang kedua kalinya lagi! Zen!!" Teriak Hilda.
"Itu suara Hilda, dan suaranya berasal dari sana...." Ucapnya yang kemudian pergi ke arah itu.
"Akhirnya, aku menemukannya. Hilda sadarlah!! Kenapa kau terus berteriak Zen jangan tinggalkan aku dari tadi? Zen telah tiada! Dia bukanlah Zen, dia hanyalah ilusi! Hilda Ku mohon sadarlah!" Teriak Zen, sambil menahan Hilda agar tidak pergi ke tempat yang memiliki aura mengerikan.
"Zen! tunggu aku! Lepaskan tanganmu Yerui, bodoh! Lepaskan sekarang juga!!!" Ucap Hilda sambil meronta-ronta agar terlepas dari dekapannya Zen.
"Hilda, ku mohon sadarlah. Zen telah tiada, yang disana itu bukanlah Zen! Dia hanya ilusimu!" Ucap Zen yang terus menahan Hilda agar tidak ke tempat itu.
"Berisik, kau Yerui bodoh! Lepaskan aku sekarang juga, aku tidak ingin kehilangannya untuk yang kedua kalinya. Aku tidak ingin menderita lagi... aku hanya ingin bersamanya! Zen! jangan tinggalkan aku!!" Ucap Hilda sambil mengusap air matanya yang terus mengalir.
"Hilda, ku mohon sadarlah! Dia bukan Zen, dan aku tidak ingin kehilanganmu. Ku mohon sadarlah Hilda! Dia hanya ilusi, ilusi Hilda!!!" Teriak Zen sambil memeluknya dengan erat.
"Tuan, dia tidak akan pernah bisa tersadar. Sepertinya, dia benar-benar merasa kehilangan orang yang sangat dia sayangi. Dan orang itu adalah anda! Saya akan menonaktifkan penyamaran anda sekarang juga, lalu tunjukan wajah anda ke hadapan teman anda itu agar anda bisa menyadarkannya."
"Apa maksudmu menonaktifkan penyamaranku! Bagaimana penyamaranku nantinya akan terbongkar hah!" Sahutnya melalui pikiran.
"Hanya itu caranya, tuan. Penyamaran anda tidak akan pernah terbongkar kok, karena teman anda itu setengah tidak sadarkan diri akibat halusinasi itu. Meskipun dia mengingat segalanya, dia tetap akan berpikir mungkin karena terhalusinasi dia jadi membayangkan Yerui itu adalah Zen. Percayalah pada saya tuan!" Ucap kalung Demoid.
"Baiklah, lakukan itu sekarang juga." Sahut Zen.
"Menonaktifkan penyamaran!" suara kalung Demoid saat menonaktifkan penyamaran Zen.
"Selesai, tuan. Penyamaran anda sudah non-aktif!" Ucap kalung Demoid.
"Baguslah kalau begitu." Sahut Zen.
"Hilda coba lihat ke arahku... ku mohon lihatlah ke arahku sebentar saja!" Ucap Zen dengan memegang wajahnya Hilda agar Hilda menoleh ke arahnya.
"Kenapa kau terus menggangguku Yer... Zen! Kenapa kau ada dua?" Ucap Hilda saat menoleh ke arah Zen.
"Aku adalah Zen yang asli, Hilda! Dia hanya ilusimu, coba lihat aku dan sentuhlah wajahku.... Aku sangat merindukanmu Hilda... dan aku minta maaf karena telah bersembunyi darimu selama ini. Kau pasti sangat menderita karena kehilanganku, maafkan aku." Ucapnya sambil memegang tangan Hilda dan meletakkannya ke wajahnya.
"Zen... hiks... hiks.... Kemana hiks... saja kau selama ini hiks.... Aku sangat merindukanmu." Sahut Hilda dengan memeluk erat Zen sambil menangis.
"Booocahh Brengsekk!!!" suara seseorang yang berasal dari tempat kegelapan itu.
"Gara-gara kau! Aku tidak bisa mendapatkan mana manusia itu! Benar-benar brengsekkk!!! Dan aku bahkan tidak menyangka... orang yang dianggap wanita itu tiada, ternyata masih hidup!" Ucap suara itu lagi.
"Jadi kau rupanya yang telah membuat kami berhalusinasi! Tunjukan dirimu sekarang pengecut! Kenapa kau hanya bersembunyi hah!" Teriak Zen.
"Zen, suara siapa itu. Suaranya seperti suara monster... aku takut." Ucap Hilda dengan memeluk Zen semakin erat.
"Tenang Hilda, aku akan melindungimu." sahut Zen dengan mengusap kepalanya Hilda.
"Tuan, anda harus membuat teman anda itu pingsan! Jika tidak, bisa-bisa dia akan menghambat anda dalam bertarung melawan monster itu! Pukul kepalanya cukup keras, agar dia pingsan!" Ucap Demoid.
"Hilda, maafkan aku...." Ucap Zen.
"Apa maksudmu?" Tanya Hilda.
Duaak!
"Akhh, kepalaku...." Ucap Hilda setelah kepalanya dipukul oleh Zen. Kemudian dia pingsan dan kemudianZen letakkan dia di tempat yang aman.
"Hei, orang yang bertanggung jawab atas semua ini! Tunjukan dirimu pengecut!" Teriak Zen.
"Dasar bocah brengsek! Bukan hanya membuat makan siang ku menghilang, kau juga menghinaku pengecut! Akan ku tunjukkan wujud mengerikan ku padamu, karena aku sudah siap bertarung."
"Aku sudah mendapatkan satu dari kalian yang lebih besar, mananya cukup banyak dan itu cukup untuk membuat kekuatanku pulih. Lihatlah bocah brengsek! Aku lebih besar sepuluh kali lipat darimu yang kecil itu! Bhahaha...." Ucapnya setelah menunjukkan wujudnya yang sangat mengerikan.
"Sialan! Monster itu lebih besar, dan tubuhnya juga terbuat dari akar pohon yang terlihat sangat kuat. Aku harus menyerangnya pakai kekuatan apa?" Ucap Zen yang terkejut setelah melihat wujud monster itu.
"Aku akan membuatmu terperangkap di akar-akar milikku ini, bersiaplah bocah! Akar-akar menjalar, ikat bocah brengsek itu kuat-kuat agar dia langsung tiada!!!! Setelah kau ku ikat, akan kuserap semua mana milikmu." Ucap Monster itu.
"Fire element, terripying explosion of fire!" (elemen api, ledakan api yang mengerikan!)
Duarrr!
Ledakan itu, sampai ke tempat Ranker senior dan teman-temannya.
"Suara apa itu?" Ucap mereka setelah mendengar ledakan dan getarannya.
^^^Bersambung....^^^