ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 9{ Hari pertama sekolah bagi bocah berumur tiga tahun }



Kemudian... seorang prajurit membukakan pintu kereta tersebut dan berkata dengan membungkukkan badannya, "yang mulia ratu dan


yang mulia Pangeran, silahkan keluar karena Profesor Alex Rudiart dan profesor yang lainnya sudah menunggu anda di gerbang sekolah Education school."


"Ayo Zen." ucap ibunya dengan mengulurkan tangannya ke arah Zen.


"Ah, iya." Sahut Zen sambil bergumam, "nama sekolah macam apa itu, sungguh tidak kreatif sama sekali. Katanya dia adalah Profesor terhebat di benua ini, tapi nyatanya memberikan nama pada sekolah yang dia dirikan saja tidak bisa!"


Sesampainya di pintu gerbang sekolah....


"Yang mulia Ratu dan yang mulia Pangeran, kami sudah menunggu kedatangan yang mulia berdua. Eh tunggu dulu, entah kenapa saya merasa ada yang kurang dari yang mulia berdua, apa ya?"


"Kau bisa menebak apa yang kurang dari kami Prof?" Tanya Zen dan dia berkata didalam hati, "jika dia tidak bisa menebaknya, dia akan kukatakan bodoh didepan semua orang."


Lalu Profesor Alex menggaruk-garuk kepalanya sambil berkata, "saya rasa tidak ada yang kurang dari yang mulia berdua. Benarkan?" Tanyanya kepada bawahannya yang juga seorang Profesor.


"Ckckck, tidak aku sangka anda sebodoh ini Prof," ucap Zen yang membuat semua orang terkejut.


"Apa yang kau ucapkan Zen, ibu tidak pernah mengajari mu berkata kasar seperti itu!," Kata ibunya dengan serius.


"Ibu memang tidak pernah mengajarkan ku berkata kasar seperti itu, tapi ayah yang mengajarkannya kepadaku. Dia bilang, kalau orang itu bodoh, katakan saja bahwa dia bodoh di depannya. Itulah kata ayah padaku waktu itu." Sahut Zen dengan menatap ke arah ibunya.


"Dasar Zeiland bodoh! Bisa-bisanya dia mengajarkan hal sebodoh itu kepada putraku!" Kata ibunya tanpa sadar bahwa dia baru saja mengatakannya di depan orang banyak.


"Apa bedanya ibu denganku, mengatakan kata-kata kasar seperti itu. Apalagi kata-kata kasar seperti, itu tertuju kepada ayah." Ucap Zen kepada ibunya.


"Ah, kau benar Zen." Sahut ibunya.


"Maaf menyela pembicaraan kalian yang mulia, tapi ada yang ingin saya tanyakan kepada Pangeran Zen." Ucap Profesor Alex.


"Iya, tak apa. Katakan saja apa yang ingin anda katakan kepadaku Prof." Sahut Zen.


"Sebenarnya apa alasan yang mulia pangeran Zen mengatakan bahwa saya itu bodoh?" Tanya Profesor Alex kepada Zen.


"Oh, itu." Sahut Zen sambil mengubah arah pandangannya ke sisi berlawanan dan kemudian berkata, "itu karena anda tidak bisa mengetahui apa yang kurang dari kami berdua!"


"Benarkah, memangnya apa yang kurang dari kalian berdua?" tanya profesor Alex.


Lalu Zen menatap ke arah profesor Alex dengan wajah datar, dan berkata, "anda itu sebenarnya bodoh atau apa! Yang kurang dari kami itu adalah ayahku."


"Ah, i-iya, saya tidak menyadari kalau yang mulia kaisar tidak ada. Apa dia sesibuk itu sampai tidak bisa mengantarkanmu ke sekolah?" Tanya profesor Alex kepada Zen.


"Ah, sudahlah. Aku mau ke kelas sekarang juga, dan... ibu aku akan pergi ke kelas sekarang juga, daah." Kata Zen kepada ibunya, lalu dia melambaikan tangannya dan tersenyum. Lalu ibunya pun membalas lambaian tangannya itu. Dan berkata, " Dah, juga Zen. Semoga kau betah disana."


Kemudian dia pun pergi ke kelasnya dengan Profesor Alex. Sesampainya di depan kelas...


"Nah, Zen. Kita sudah sampai di kelas 1A, ini adalah kelasmu, ayo kita masuk sekarang." kata Profesor Alex kepada Zen.


Lalu Zen berkata, "ah, iya."


Sesampainya di depan semua murid yang ada di kelas itu, yang umurnya berkisar delapan sampai sembilan tahun. Profesor Alex pun mengenalkannya kepada semua murid yang ada di kelas itu.


"Halo, semua." Kata Profesor Alex kepada murid-murid yang ada di ruangan itu. Kemudian mereka semua menjawab, " halo juga profesor Alex."


"Nah, Zen sekarang perkenalkan dirimu kepada mereka." Kata Profesor Alex kepada Zen dengan tersenyum. Kemudian Zen berbisik kepada Profesor Alex....


"Bukannya, tadi anda bilang anda yang akan memperkenalkan diriku! Cih, dasar profesor pembohong!" Setelah mengatakan hal itu Zen pun memperkenalkan dirinya kepada semua murid disitu dan seorang Profesor yang tidak lain adalah guru yang sedang mengajari mereka.


"Halo semua, perkenalkan nama ku adalah Zen. Aku berasal dari kekaisaran EMPRESS MEGA UNI EMERALD GREEY."


"Cukup sampai disitu saja. Kau boleh duduk sekarang Zen." Kata Profesor Alex.


"Dimana aku duduk, Prof?" Sahut Zen dengan menatap ke arah Profesor Alex.


"Di tengah, yang paling depan itu. Supaya kamu lebih mudah melihat guru saat sedang mengajar." Ucap Profesor Alex kepada Zen.


Lalu Zen berkata setelah mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Profesor itu, "hanya karena tubuhku lebih kecil dari mereka, anda menyediakan kursi di tengah itu untuk ku. Apa anda ingin menghinaku!"


"Ah, sudahlah. Lebih baik anda pergi sekarang juga." Kata Zen dengan menatap Profesor Alex dengan tajam.


"Ah, i-iya saya akan pergi sekarang juga." Sahut Profesor Alex Rudiart. Kemudian dia pun pergi keluar dari kelas itu.


Setelah mendengar bahwa Zen berasal dari kerajaan. Mereka semua langsung takjub dan pada awalnya mereka menyangka bahwa orang yang masuk di kelas mereka itu adalah orang kerdil karena tubuhnya yang pendek seperti bocah dibawah lima tahun.


"Sa- saya tidak menyangka bahwa anda adalah Pangeran Zen." Ucap salah satu murid perempuan yang duduk bersebelahan dengannya. Dan dia juga terpana melihat pesona ketampanan dari Zen.


"Ah, maaf kalau saya tidak sopan. Nama saya adalah ferenia, putri dari Baron Borromeus."


"Benarkah, senang berkenalan dengan mu. Semoga kita bisa berteman baik nanti." Ucap Zen sambil tersenyum ke arah murid itu. Dan senyuman itu langsung membuat para murid perempuan langsung terpesona karena ketampanan dan keimutannya saat sedang tersenyum.


Semua murid perempuan pun langsung mendekati Zen dan memperkenalkan diri mereka kepada Zen.


Dalam hati Zen berkata, "Ah, kenapa mereka berkerumun di dekat ku sih, rasanya sangat sesak sekali."


Lalu guru yang ada di kelas tersebut berkata, "murid-murid harap duduk ke kursi kalian masing-masing. Jika tidak mau, keluar dari kelas sekarang. Dan jangan masuk sampai pelajaran ku sudah selesai."


Mendengar kata-kata itu, mereka langsung duduk di bangku masing-masing dan berkata, "iya pak!"


Guru itu pun langsung meminta maaf kepada Zen karena perbuatan mereka.


"Saya mohon, maafkan saya yang mulia, hal itu tidak akan pernah terjadi lagi." Ucap guru tersebut.


"Iya, tidak apa-apa kok." Sahut Zen.


"Anda tau, saya benar-benar kaget tentang anda bersekolah disini!" Ucap guru itu lagi.


"Iya, aku juga tidak menyangka akan sekolah di umur tiga tahun seperti ini." Sahut Zen.


Mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Zen tadi semua murid laki-laki pun terjadi tercengang dan berkata, Apa! Anda masih berumur tiga tahun. Ini tidak masuk akal. Bagaimana caranya anak umur tiga tahun berbicara lancar dan jelas seperti anda?


Lalu seorang murid laki-laki juga berkata, "dan terlebih lagi tubuh anda juga seperti anak usia tiga tah... ah, benar juga ya, kalau dilihat tubuh yang memang seperti anak usia umur tiga tahun. Dan lagi, semua orang juga tahu kalau umur anda tiga tahun karena anda adalah Pangeran dari kekaisaran EMPRESS MEGA UNI EMERALD GREEY."


"Sudah-sudah, kita akan belajar sekarang juga! Jika yang mulia Pangeran Zen tidak paham, katakan saja pada saya, ya."


"Iya." sahut Zen.


"Sekarang bapa akan mengajari kalian tentang ilmu pengetahuan alam. Buka bukunya sekarang juga!" Ucap guru tersebut.


"Tapi bagaimana dengan diriku, aku tidak punya buku." Kata Zen kepada gurunya.


"Kalau begitu yang mulia cukup mendengarkan saja." Sahut gurunya.


"Baiklah," Kata Zen.


Lalu pembelajaran pun berlangsung, semua yang diajarkan gurunya telah ia pelajari pada umur dua tahun.


Lalu Zen mengoceh tidak karuan, "ini sangat membosankan. Semua yang dia ajarkan, semuanya sudah ku pelajari. Ku pikir aku sekolah bakal dapat ilmu baru, ternyata tidak sama sekali."


"Oke, aku sudah membahas dan menjelaskan tentang apa itu pengetahuan alam. Sekarang jika ada yang kalian tidak mengerti katakan saja padaku." Kata gurunya kepada semua murid yang ada di kelas itu.


Karena bosan, kemudian Zen berbuat usil kepada gurunya. Pada saat gurunya bilang siapa yang tidak paham, dia pun mengangkat tangannya dan bertanya.


"Iya yang mulia pangeran Zen, apa yang anda tidak mengerti? Katakan saja." Kata gurunya.


"Bukannya aku tidak paham yang anda ajarkan tadi, tapi aku ingin bertanya kepada anda." Sahut Zen.


"Ya, apa yang anda ingin tanyakan." Kata gurunya.


Lalu Zen berkata, "baiklah, ini dia pertanyaannya. Di atas pohon mangga ada lima burung yang hinggap, kemudian tidak lama seorang pemburu datang dan menembak salah satu diantara mereka. Lalu burung-burung yang lain pun kabur. Jadi berapa sisa burung yang masih hinggap di pohon mangga tersebut? Dan apa alasannya mereka kabur!"


^^^Bersambung....^^^