
"Hei Yui! Kemana saja kau tadi? Aku dan Diego mencarimu dari tadi." Ucap Lucas pada Zen.
"Ah, Aku... aku hanya pergi ke sekitar sini. Oh, iya, kenapa kita berkumpul di lapangan ini lagi?" Tanya Zen pada mereka berdua.
"Bukannya Direktur Arthur sudah bilang, sebelum kita memiliki "tim" kita akan terus tidur di lapangan ini. Dan karena seseorang sudah membuat area pertarungan berantakan! Duel pun terpaksa ditunda, jadi... sampai tiga hari kedepan kita akan tidur di lapangan ini!" Sahut Lucas dengan ekspresi kesal.
"Haha, jadi begitu rupanya." Ucapnya Zen.
Esok paginya....
"Hoamm... selamat pagi Lucas...." Ucap Zen yang baru saja bangun tidur.
"Pagi juga Yui...." Sahut Lucas.
"Dimana Diego?" Tanya Zen.
"Diego... dia sudah pergi ke kamar mandi. Lebih baik kita kesana sekarang Yui!" Sahut Lucas.
"Oh, oke. Ayo kita kesana sekarang." Ucap Zen.
Kemudian mereka berdua pergi ke kamar mandi laki-laki yang sudah disediakan untuk para murid.
Sesudah mereka mandi....
"Hei, Lucas. Kapan kau akan duel? Hari ini atau besok?" Tanya Zen sambil mengusap kepalanya dengan handuk untuk mengeringkan rambutnya.
"Aku duel hari ini. Loh, kenapa para dewan siswa ada disini?" Ucap Lucas dengan ekspresi terkejut.
"Dimana mereka?" Tanya Zen.
"Tuh, mereka ada ditengah sana." Sahut Lucas dengan menunjuk ke arah dewan siswa.
"Nah, itu dia orangnya. Hei kau yang bernama Yerui! Kemari sekarang juga!" Teriak ketua Dewan siswa.
"Hah, aku?" Sahut Zen dengan ekspresi kebingungan.
"Iya, kau! Kemari sekarang juga." Teriak ketua Dewan itu lagi.
Kemudian Zen pun menemui mereka, setelah Zen mendekat ke arah mereka....
"Sekarang, ayo ikuti kami ke tempat Direktur Arthur!" Ucap wakil Dewan siswa.
"Ah, baiklah." Sahut Zen sambil berjalan di depan mereka.
Sesampainya di ruangan Direktur Arthur....
"Hah... ya ampun. Baru beberapa hari disini, kau sudah membuat kepalaku pusing!" Ucap Direktur Arthur yang mengoceh saat Zen memasuki ruangannya.
"Kenapa anda memanggil saya?" Tanya Zen.
"Sekarang katakan padaku! Apa benar kau itu adalah mata-mata dari kekaisaran ENGLANE FREZEA INCESIA ?" Tanya balik Direktur Arthur.
"Apa maksud anda? Aku, mata-mata.... Memangnya apa alasan anda menganggap ku sebagai mata-mata?" Tanya Zen lagi.
"Alasannya adalah rambut dan bola matamu itu! Andai kau tidak membuat Pangeran Kaito koma, ini pasti tidak akan terjadi." Sahut Direktur Arthur.
"Hanya karena rambut dan bola mataku? Dengar Direktur Art, aku bukanlah mata-mata dari kekaisaran ENGLANE FREZEA INCESIA. Apa hubungannya rambut dan mata-mata?" Tanya Zen lagi.
"Haah... kau ini! Itu karena rambutmu mirip Kaisar Learn. Dan karena itu juga, para petinggi kekaisaran berasumsi bahwa kau itu adalah kembarannya Putri Irene Evelina William Frencesco yang disembunyikan dari publik untuk menjadi seorang mata-mata di tempat ini." Ucap Direktur Arthur.
"Petinggi kekaisaran macam apa itu? Masa mereka menganggap ku kembarannya Putri Irene." Sahut Zen dengan ekspresi datar.
"Pokoknya aku tidak mau tau, mau kau itu Pangeran yang mereka sembunyikan atau apalah itu, aku sudah menyerahkannya pada kekaisaran. Sebentar lagi mereka akan datang menjemputmu." Ucap Direktur Arthur.
"Permisi, apa mata-mata itu ada disini?" Tanya beberapa prajurit dari kekaisaran EMPRESS MEGA UNI EMERALD GREEY.
"Ah, ini dia orangnya. Kalian bisa membawanya sekarang." Sahut Direktur Arthur.
"Kenapa kau setega itu direktur Art? Aku kan sudah bilang padamu, aku bukanlah pangeran dari kekaisaran ENGLANE FREZEA INCESIA." Ucap Zen yang sedang diseret para prajurit tadi keluar.
"Sialan! Pelan-pelan kek, sakit tau. Aku juga bisa jalan sendiri!" Ucap Zen.
"Oh, oke." Sahut para prajurit tadi dengan melepaskan genggaman tangan mereka dari tangannya Zen.
Sesampainya mereka diluar akademi....
"Silahkan masuk ke kereta kuda sekarang juga!" Ucap salah satu prajurit tadi dengan ekspresi mengerikan.
"Nggak usah masang muka kek gitu juga kali, memangnya kalian pikir aku takut dengan tampang yang begituan. Wajah ayahku saat marah jauh lebih mengerikan, bahkan dari arah kejauhan saja auranya sudah terasa." Ucap Zen saat memasuki kereta kuda itu.
Setelah itu mereka pun pergi ke istana kekaisaran EMPRESS MEGA UNI EMERALD GREEY. Sesampainya di sana....
"Sekarang jalan lurus ke depan!" Ucap para Prajurit.
"Iya...." Sahut Zen dengan ekspresi kesal.
Saat Zen berjalan memasuki istana, dia celingak-celinguk melihat istana itu kemudian bergumam....
"Sudah enam tahun lamanya aku tidak menginjakkan kakiku ditempat ini. Dan setelah sekian lamanya aku kembali memasuki tempat ini, tapi sayangnya bukan sebagai seorang pemilik tempat ini melainkan sebagai seorang yang dianggap sebagai mata-mata. Sungguh sial sekali hidup yang harus aku jalani!" Gumamnya.
"Kita sudah sampai, silahkan masuk ke tempat ini. Dan kalian bertiga, awasi bocah ini agar tidak kabur dari tempat ini! Sementara diriku pergi menemui Kaisar." Ucap salah satu Prajurit.
"Baik Pak!" Sahut tiga Prajurit tadi.
"Silahkan duduk ditempat ini dengan tenang jika tidak mau kami borgol!" Ucap para Prajurit.
"Iya...." Sahut Zen yang kemudian duduk disofa yang ada diruangan itu dengan tenang.
Beberapa saat kemudian....
"Dimana orang yang mengaku sebagai mata-mata Kekaisaran ku, hahh!" Teriak Kaisar Learn diluar ruangan itu.
"Dia ada didalam ruangan ini tuan." Ucap para prajurit yang bertugas menjaga diluar.
"Ayah, tenangkan emosimu itu. Nanti darah tinggi ayah kumat lagi." Ucap Pangeran Incelote.
"Yang dikatakan Incelote benar yah, karena itulah kakak Leandro menugaskan kami ikut bersama ayah kesini." Sahut Putri Irene.
"Silahkan masuk tuan...." Ucap seorang prajurit dengan membukakan pintu ruangan itu. Kemudian setelah mereka masuk, prajurit itu menutup kembali pintu itu.
"Nah, itu dia orang brengsek yang mengaku sebagai mata-mata Kekaisaran ku!" Ucap Kaisar Learn saat memasuki ruangan itu.
Pada saat Zen menatap ke arah mereka bertiga, Kaisar Learn langsung terdiam. Dan Putri Irene juga Pangeran Incelote berkata secara bersamaan....
"Siapa kau? Kenapa rambut dan bola matamu mirip dengan kami?" Ucap mereka secara bersamaan.
"Ayah, apa-apaan ini. Siapa dia? Kenapa rambut dan bola matanya mirip keturunan kekaisaran kita? Katakan padaku sekarang juga, apa ayah berselingkuh?" Teriak Pangeran Incelote kepada Kaisar Learn.
"Aku tidak pernah berselingkuh dari ibu kalian, percayalah pada ayah kalian ini." Sahut Kaisar Learn untuk membuat mereka berdua percaya kalau dia tidak berselingkuh.
"Lalu kenapa orang ini mirip dengan kita?" Tanya Putri Irene.
"Sudah ku bilang, Dia bukanlah anak hasil hubungan gelap ku. Aku tidak pernah berselingkuh, kenapa kalian berdua tidak percaya sih!" Sahut Kaisar Learn lagi.
"Yang dikatakan ayah kalian itu benar, aku bukanlah anaknya. Karena kedua orang tuaku telah tiada enam tahun yang lalu. Dan karena permasalahan semakin rumit, terpaksa aku harus memanggil seseorang." Ucap Zen kepada mereka bertiga.
"Apa maksudmu memangil seseorang? Kau beralasan seperti itu hanya karena ingin kabur kan!" Sahut Pangeran Incelote.
"Tidak, aku akan memanggilnya sekarang juga. Hei, kakek tua! Aku tau kau selalu mengawasiku dua puluh empat jam setiap harinya, dan sekarang pun kau masih mengawasiku dari sana. Cepat datang kesini sekarang juga, saat ini aku sangat membutuhkanmu!" Teriak Zen dengan menatap keatas.
"Apa bocah itu tidak waras?" Tanya Incelote kepada adiknya yaitu Putri Irene.
"Entahlah, kita lihat saja dulu." Sahut Putri Irene.
^^^Bersambung....^^^