ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 20 { Semangat yang membara untuk balas dendam }



Pagi hari pun tiba, saat Zen membuka mata setelah bangun dari tidurnya dia langsung melihat sekeliling kamar itu karena dia berharap kalau semua yang dia alami sebelumnya hanyalah mimpi buruk. Tapi harapanya itu tidak terwujud, dia masih ada di tempat kekaisaran DIAMOND. Dia pun akhirnya menyadari, kalau semua itu bukanlah mimpi, tapi kenyataan yang pahit yang harus dilaluinya.


Kemudian... Zen pun menangis dengan bergumam, "apa gunanya kekuatan ini... padahal, hiks... hiks... alasanku ingin memiliki kekuatan ini adalah untuk melindungi ayah dan ibuku. Tapi hiks... hiks... kekuatan ini tidak berguna sama sekali! Bahkan aku juga tidak berguna bagi ayah dan ibuku. Karena orang yang tidak berguna sepertiku, mereka harus tiada dengan mengenaskan. Kenapa tidak aku saja yang tiada! Hiks, hiks...."


Knok, knok, "hai Zen, apa kau sudah bangu... Eh, k-kau menangis." Ucap tuan agung yang kemudian menghampirinya dan duduk didekatnya.


Setelah dia mendengar semua yang dikatakan Zen saat menangis, dia berkata, "Berhentilah menyalahkan dirimu tentang kejadian itu.... Yang salah itu bukan kau tapi pamanmu yang keturunan iblis itu." Ucapnya untuk menenangkan Zen.


"Ke-kenapa, hiks... kau menyebutnya keturunan iblis?" Tanya Zen sambil mengusap air matanya.


"Yah, kau tau. Gara-gara ayahnya, Kaisar Note tiada dan gara-gara dia pula, ayah dan ibumu harus tiada didepan matamu. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, seperti itulah mereka berdua. Karena alasan itulah, aku menyebutnya sebagai keturunan iblis." Sahutnya dengan mengusap kepalanya Zen.


"Kau tau Zen, ayah dan juga ibumu mengorbankan nyawa mereka untukmu karena mereka ingin kau tumbuh dewasa dan juga kuat seperti anak kecil lainnya yang tumbuh menjadi dewasa dan juga bertambah kuat. Jadi, suatu saat nanti, kau harus bisa memberi pelajaran pada Hans brengsek itu, karena dia telah merampas semua milikmu termasuk nyawa kedua orang tuamu." Ucap tuan agung untuk membuat Zen berhenti bersedih dan memulai kehidupan yang baru.


"Ya! Kau benar, roh aneh. Suatu hari nanti, aku akan memberikan pelajaran kepadanya!" Sahut Zen yang kemudian mengepal tangannya.


"Lebih baik, kau mandi sekarang juga. Karena ini sudah hampir siang, dan kau kan masih belum sarapan. Kau bilang ingin mengalahkan orang itu dan memberikan pelajaran padanya! Jadi kau harus makan teratur dan hidup sehat. Mengerti kan Zen," Ucap tuan agung kepada Zen.


"Baiklah, aku akan mandi sekarang." Sahut Zen yang kemudian pergi ke kamar mandi.


Setelah dia selesai mandi....


"Aku sudah selesai mandi dan aku juga sudah mengganti pakaianku. Setelah aku makan, apa yang akan aku lakukan selanjutnya? Berlatih denganmu atau apa?" Tanyanya kepada tuan agung.


"Untuk memulihkan kondisimu, kita akan memulai pelatihannya seminggu lagi. Dan untuk pekerjaan apa yang kau lakukan setelah makan, kita berdua akan pergi ke ibu kota. Jadi habiskan makanan mu itu dengan cepat!" Sahutnya.


"Jadi, setelah ini kita akan pergi ke ibu kota? Bukannya kau bilang hanya kekaisarannya saja yang menghilang, bagaiman ibu kotanya juga ada?" Tanya Zen kepada tuan agung itu.


"Sejak kapan aku mengatakan, hanya kekaisaran DIAMOND yang menghilang? Aku belum pernah sama sekali mengatakannya kepadamu. Ibu kota kekaisaran DIAMOND juga ikut menghilang alasannya karena... emm... karena... ah, maaf Zen, aku tidak ingat." Sahut tuan agung itu dengan menggaruk-garuk kepalanya karena tidak ingat.


"Dasar roh pikun, karena telah hidup berabad-abad lamanya mulai dari kaisar Lord sampai ke diriku, fisikmu saja yang tidak berubah tapi sifatmu sudah seperti kakek-kakek." Ucap Zen yang kesal karena dia telah diberikan harapan palsu.


"Kau tau bocah! Makan saja sana dengan tenang. Dan berhenti membahas soal usia!" Ucap tuan agung itu dengan ngegas.


" Iya, iya, aku makan nih. Tapi ga usah ngegas kayak gitu juga." Sahut Zen dengan ekspresi datar.


Sesudah dia makan siang, dia dan tuan agung pergi ke ibu kota. Hanya dengan memejamkan matanya, Zen langsung berada di ibu kota. Tapi itu semua berkat kekuatan yang dimiliki oleh tuan agung, hanya dengan menjentikkan jarinya, dia langsung berpindah tempat ke tempat yang dia inginkan.


"Ctaak."


"Wah, gila! tidak ku sangka kekuatanmu sehebat ini kakek tua. Hanya dengan menjentikkan jari, kita sudah berpindah tempat." Ucap Zen yang kagum karena kehebatan tuan agung.


"Kenapa nama panggilanku terus berubah? Dan sekali lagi kau memanggilku dengan sebutan kakek tua! Akan ku pukul kepalamu." Ucapnya.


"Ckckck, kau pikir aku takut, kakek tua. Jika kau melakukan itu, maka akan ku balas dua kali lipat. Jadi kapan kau akan memukulku kakek tua?" Tanya Zen kepada tuan agung.


"Awas semuanya! Menyingkir dari kerumunan sekarang. Jika tidak, aku tidak akan tanggung jawab." Ucap Zen Kepada semua orang yang ada di depannya dan dia terus berlari untuk menghindari pukulan dari tuan agung.


"Tidak ku sangka, dia benar-benar bodoh! Padahal dia datang ke tempat ini dengan sekejap mata karena kekuatan teleportasi ku." Ucap tuan agung yang kemudian berkomunikasi dengan kalung Demoid yang ada pada Zen.


"Hei, Demoid! Apa kau bisa mendengar perkataanku?" Ucapnya dalam hati.


Lalu kalung itu membalasnya dengan berkomunikasi lewat pikiran, "Ya, saya mendengar kata-kata anda tuan." Sahut kalung Demoid.


"Bagus, sekarang katakan kepadaku, dimana bocah itu berada?" Ucap tuan agung kepada kalung Demoid.


"Beliau berada di gang kecil yang berada di bagian barat, atau disebelah kiri toko roti gandum." Sahutnya.


"Oh, jadi dia berada disana rupanya. Kau pikir bisa lari dari ku, tidak semudah itu Zen. Karena aku punya pelacak yang hebat." Ucapnya yang kemudian menjentikkan jarinya untuk berteleportasi ke tempat Zen. "Ctaak."


"Haah... haah.... Sekarang dia sudah tidak bisa menangkap ku, karena dia sudah tertinggal jauh. Ada apa dengan kalung ini? Dari tadi dia terus bersinar, aneh sekali." Ucap Zen dengan bersandar pada dinding toko roti gandum karena kelelahan.


"Wah, wah, wah... dia bersembunyi di belakang bak sampah besar itu rupanya. Tapi itu sia-sia, karena tempat persembunyiannya itu sudah ketahuan olehku. Dan inilah waktunya untuk memukul kepalanya karena aku hanya berada satu langkah darinya." Ucap tuan agung yang kemudian memukul kepalanya Zen.


Duakk, " ah, kepalaku. Siapa yang sudah memukulku." Ucapnya Zen yang kemudian menoleh ke samping.


"Waaaa... ya ampun! Kenapa kau tiba-tiba muncul di sampingku. Dan ba-bagaimana bisa?" Ucap Zen yang terkejut karena melihat tuan agung berada disampingnya.


"Kemanapun kau lari, aku pasti akan menemukanmu. Bagaimana... pukulanku tadi, sakit?" Tanyanya kepada Zen.


"Ya iyalah, rasanya sakit! Sekarang aku akan membalasnya dua kali lipat, hyaaat!" Sahut Zen yang kemudian memukul kepalanya tuan agung. Tapi sayang, pukulannya itu tidak bisa mengenai tubuh tuan agung karena selalu menembus tubuhnya.


"Ah, sialan! Kenapa pukulanku selalu menembus tubuhmu sih." Ucap Zen yang kesal karena selalu gagal.


"Sudah kubilang, aku ini sebuah roh! Roh istimewa yang dapat menyentuh manusia tetapi kalau manusia itu ingin menyentuhku, maka dia selalu menembus tubuh ini. Sekarang kita akan kembali ke istana. Jadi jangan kemana-mana dan jangan lepaskan tanganmu dari genggaman tanganku, mengerti!" Ucap tuan agung kepada Zen.


"Iya, aku mengerti!" Sahut Zen dengan ekspresi kesal.


"Ctaak."


"Sekarang kita sudah kembali ke istana." Ucap tuan agung.


"Iya, aku tau kok. Kau pikir aku buta apa? Dasar kakek tua." Sahutnya yang kemudian pergi memasuki istana tersebut.


Setelah beberapa langkah menuju ke dalam istana, dia menoleh kebelakang dan berkata, "Terimakasih banyak, atas jalan-jalannya hari ini. Karena berkat itu, aku bisa bersenang-senang dan terlepas dari kesedihan yang kurasakan. Daah, kakek. Aku mau ke kamar dulu." Ucap Zen yang kemudian melambaikan tangannya ke arah tuan agung.


"Daah juga Zen." Sahut tuan agung dengan membalas lambaian tangannya Zen.


^^^Bersambung....^^^