
Pagi hari pun tiba....
Saat diruang makan, tuan agung berkata kepada Zen....
"Cepat habiskan makananmu itu! Kita akan latihan setelah kau selesai makan, karena latihan keduamu telah selesai. Latihan ketigmu adalah... mengendalikan amarah yang ada di dalam hatimu dan kau harus bisa mendapatkan ketenangan agar bisa menggabungkan kekuatan api dan es untuk mendapatkan kekuatan baru." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Apa maksudmu? Aku bisa menggabungkan dua kekuatanku ini untuk mendapatkan kekuatan baru. Apa ucapanmu itu bisa dipercaya?" Sahut Zen.
"Iya, aku tidak berbohong padamu. Tapi untuk menggabungkan dua kekuatanmu, kau harus bisa menenangkan pikiranmu. Jadi latihanmu kali ini adalah bermeditasi!" Ucap tuan agung.
"Baiklah! Karena aku sudah selesai makan, mari kita pergi ke tempat latihan." Sahut Zen.
'
Setelah itu, mereka berdua pun pergi ke tempat latihan. Sesampainya mereka disana....
"Sekarang kau duduk saja dibawah air terjun ini, dan kosongkan pikiranmu sampai kau bisa mendapatkan ketenangan." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Cuman duduk saja, itu mudah sekali. Serahkan semuanya kepadaku!" Sahut Zen yang kemudian duduk dibawah air terjun. Setelah itu dia pun bermeditasi.
Hampir enam bulan, dia bermeditasi. Tapi sayang, Zen belum bisa mendapatkan ketenangan.
"Hei, kakek tua! Kenapa meditasiku tidak membuahkan hasil? Bukannya mendapatkan ketenangan, aku malah bosan karena duduk diam saja!" Teriak Zen kepada tuan agung.
Lalu... tuan agung memukul kepalanya dengan tongkat yang kegunaannya hanya untuk memukul kepalanya Zen.
"Duaak"
"Ah, apa-apaan kau kakek tua. Rasanya sakit sekali, saat tongkat itu mengenai kepalaku. Kenapa kau memukul kepalaku?" Tanya Zen sambil mengusap kepalanya.
"Bagaimana, rasanya sakit sekali kan? Tongkat ini kuciptakan hanya untuk memukul kepalamu! Agar kau lebih menghormati diriku, dan tidak memangilku kakek tua lagi!" Sahut tuan agung.
"Tidak ku sangka, kau menciptakan itu hanya untuk memukul kepalaku!" Ucap Zen dengan ekspresi datar.
"Haah... kau ini. Sudah hampir enam bulan, kau masih belum bisa mendapatkan ketenangan! Kunci mendapatkan ketenangan adalah, kau harus bisa menjernihkan pikiran mu." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Jadi begitu rupanya, aku harus menjernihkan pikiran ku! Sekarang aku sudah mengerti." Sahut Zen. Setelah itu, Zen melanjutkan meditasinya.
Seminggu kemudian....
"Kakek tua! Akhirnya aku sudah mendapatkan ketenangan. Setelah aku mendapatkan ketenangan, apa yang harus kulakukan?" Tanya Zen.
Lalu tuan agung berkata, "Ikuti kata-kataku ini! "Combine two powers, emerge a new power!" (gabungkan kekuatan, muncullah kekuatan baru!)
Setelah itu, Zen pun mengikuti kata-kata tuan agung.
"Combine two powers, emerge a new power!"
Sesudah Zen mengucapkan kata-kata itu... muncullah air berbentuk bola besar mengambang diatas kepalanya. Pada saat dia membuka matanya, bola air itu langsung jatuh ke bawah. Setelah itu, tempat latihan langsung menjadi kolam renang.
"Bulp, bulp, bulp." "Kakek tua! apa kau baik-baik saja?" Tanya Zen yang baru muncul di permukaan air setelah tengelam.
"Aku baik-baik saja." Sahut tuan agung yang sedang terbang.
Setelah itu, tuan agung langsung mengangkat Zen dari air dan membawanya ke tempat yang tidak ada airnya.
Sesampainya mereka di daratan....
"Air itu berasal darimu, bocah! Bukannya kau itu anak jenius, es dan api itu, jika digabungkan akan berubah menjadi air." Sahut tuan agung.
"Jadi... kekuatan baru ku itu, air?" Ucap Zen dengan ekspresi kebingungan.
Setelah itu dia berkata lagi, "aku tau kok, kalau es digabungkan dengan api akan berubah menjadi air. Tapi... aku belum pernah mendengar ada orang yang memiliki kekuatan air."
"Itu karena, kebanyakan manusia selalu gegabah dalam suatu hal. Mereka sulit berpikir jernih disaat menghadapi kekacauan. Untuk besok sampai enam bulan ke depan, aku akan melatih kekuatan air mu itu!"
"Baiklah, kakek tua." Sahut Zen.
Mendengar Zen memanggilnya kakek tua, tuan agung langsung memukul kepalanya.
"Duaak."
"Kenapa kau memukul kepalakuku lagi, sih!" Ucap Zen kepada tuan agung.
"Sudah ku bilang beberapa kali! Berhenti memangilku kakek tua! Haah... kau ini, mari pulang sekarang! Aku akan meminta para pelayan membersihkan kekacauan ditempat latihan." Sahut tuan agung yang kemudian mengulurkan tangannya ke arah Zen.
Kemudian.... Mereka berdua, kembali ke istana. Esok harinya, Zen berlatih menguasai kekuatan air yang baru saja dimilikinya. Selama enam bulan, dia berlatih menguasai kekuatan air itu. Setelah menguasai kekuatan air, dia belajar mengaktifkan kekuatan petir yang merupakan kekuatan turun-temurun dari keturunan kekaisaran Diamond.
Enam bulan berlalu, akhirnya dia bisa membangkitkan kekuatan elemen petir miliknya. Setelah itu dia terus berlatih menggunakan kekuatan petir itu selama enam bulan.
Pagi hari pun tiba.... Sekarang Zen sudah berumur sepuluh tahun, karena hari ini adalah hari ulang tahunnya, tuan agung memberikan hadiah yang sama seperti sebelumnya, yaitu ilusi kedua orangtuanya yang bisa diajaknya berbicara.
Setelah mendapatkan hadiah itu, Zen selalu mengucapkan terimakasih banyak kepada tuan agung yang telah memberikan hadiah indah itu padanya.
Kemudian, setelah hari itu.... dia berlatih menggunakan kekuatan air dan petir secara bersamaan. Hampir selama satu tahun dia berlatih menggunakan kekuatan itu secara bersamaan.
"Baiklah, Zen. Latihannya akan ku mulai sekarang, Apa kau sudah siap? Jika belum, aku tidak akan memerintahkan lima ribu prajurit ilusi yang ku buat ini, menyerangmu." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Aku sudah siap!" Sahut Zen.
Setelah itu, tuan agung pun memerintahkan kepada para prajurit ilusinya, untuk menyerang Zen.
Hanya dengan dua kali menggunakan kekuatannya, lima ribu pasukan yang menyerangnya langsung kalah.
"Water element, tsunami shaped water, down them now!" (elemen air, air berbentuk tsunami, tenggelamkan mereka sekarang!)
Setelah itu, para prajurit ilusi itu tenggelam karena tsunami yang dibuat oleh Zen.
Untuk memastikan mereka semua tiada, Zen mengeluarkan kekuatanya lagi....
"Higting element, thunder rain!" (elemen petir, hujan petir!)
Setelah itu turunlah hujan petir yang membuat semua prajurit ilusi milik tuan agung, tewas ditempat.
"Haah... haah... akhirnya selesai juga! Lihat kakek tua, aku sudah mengalahkan mereka. Apa besok aku boleh istirahat? Aku ingin jalan-jalan ke ibu kota, bolehkan?" Ucap Zen.
"Tentu saja, Zen. Sekarang umurmu sudah hampir sebelas tahun, ya. Satu tahun lagi, aku akan mendaftarkan dirimu ke akademi Warrior star. Disana, kau akan bertemu dengan teman lamamu kembali."
"Benarkah? Aku akan bertemu teman-temanku lagi disana. Mereka semua, pasti akan terkejut melihat diriku yang masih hidup. Aku tidak sabar bertemu dengan mereka nantinya." Sahut Zen setelah mendengar kata-kata tuan agung.
"Maaf Zen, mungkin itu tidak akan terjadi. Mereka tidak akan mengenali dirimu yang sekarang, karena kalung Demoid akan merubah fisikmu menjadi mirip ibumu, agar tidak dikenali pamanmu nantinya. Keselamatan dirimu adalah yang terpenting!" Ucap tuan agung.
^^^Bersambung....^^^