
"Maaf, Direktur Arthur. Tapi kami tidak melakukan apapun di Dungeon waktu itu karena tidak bisa melihat, jika ingin memastikan apakah benar kalau yang mengalahkan Monster itu adalah Yui... kita harus mengukur kekuatanya menggunakan alat pengukur kekuatan itu." Ucap salah seorang dari tim-nya Rogger.
"Ya, itu ada benarnya juga. Katakan pada Yui, jika dia sudah sehat kita akan mengukur kekuatannya. Dan jika kalian ingin melihat ada di tingkat berapa Kekuatan kalian berempat, kalian juga bisa mengukurnya." Sahut Direktur Arthur.
"Hei, Hilda... kenapa dari tadi kau hanya bengong seperti itu?" Tanya Diego kepada Hilda yang duduk bersebelahan dengannya.
"Kenapa kau mengajak wanita menyebalkan itu bicara, biarkan saja dia." Ucap Lucas kepada Diego.
"Dia kan anggota tim kita, jadi lupakan saja sifat buruknya terhadap kita. Aku tau kau sangat benci dengannya tapi sekarang... kau harus mengesampingkan itu karena kita adalah tim. Itu lah yang Yui katakan padaku waktu itu...." Sahut Diego.
"Sejak kapan Yui mengatakan hal itu padamu?" Ucap Lucas.
"Sebelum kita pergi ke Dungeon, aku bertanya padanya kenapa dia hanya diam saja saat dihina oleh Hilda. dia kemudian menjawab... karena kita adalah tim, dan aku juga adalah ketua kalian."
"Seburuk apapun dia memperlakukan diriku, aku pasti akan memaafkannya. Tapi jika kesabaran ku hilang... aku tidak tau apakah aku masih bisa memaafkannya, itulah yang dia katakan padaku waktu itu." Sahut Lucas.
"Ah, ya sudahlah... aku tidak ingin membahasnya lagi." Ucap Lucas.
"Direktur Arthur terus bertanya siapa yang telah mengalahkan Monster itu, padahal aku tau siapa yang mengalahkanya waktu itu."
"Zen lah yang telah mengalahkan Monster itu karena aku melihat dia ada di Dungeon itu sebelum aku pingsan. Tapi dimana dia sekarang? Aku yakin dia masih hidup dan berada di dekatku, tapi dimana dia sekarang..." Gumam Hilda.
"Cukup sampai disini, katakan pada Yui... kalau dia sudah bisa berjalan kita akan langsung mengukur kekuatanya." Ucap Direktur Arthur.
"Baik, Direktur Art." Sahut mereka semua.
Kemudian mereka keluar dan pergi ke tempatnya Zen.
"Hei, Yui... kami boleh masukkan." Tanya Lucas yang sudah masuk.
"Buat apa kau meminta ijin kalau kau sudah masuk...." Sahut Zen dengan ekspresi kesal.
"Oh, iya Yui. Aku boleh tanya? Apa kau bisa jalan karena jika iya kita akan mengukur kekuatanmu. Benarkan Diego, Lucas." Ucap Mia.
"Aku sudah bisa jalan kok, memangnya buat apa aku mengukur kekuatanku?" Tanya Zen.
"Untuk mengetahui apakah kau yang telah mengalahkan Monster itu." Sahut Lucas.
"Bukannya sudah ku katakan kalau aku tidak mengalahkanya." Ucap Zen.
"Cepat ganti pakaian rumah sakit itu, nih baju dan celanamu. Aneh... padahal lengan baju kirimu sudah robek, tapi kenapa ini sama seperti semula." Ucap Lucas.
"Haha... Mungin ada orang yang sudah memperbaikinya." Sahut Zen.
"Ini semua pasti ulahnya kakek tua itu...." Gumam Zen.
"Aku ingin ganti baju sekarang, kenapa kalian masih ada sini? Cepat keluar sekarang juga!" Ucap Zen.
"Iya, iya... kami keluar kok." Sahut mereka bertiga.
Beberapa menit kemudian....
"Oke, sudah selesai. Ayo kita pergi sekarang!" Ucap Zen.
"Wah, ketampanannya Yui tiada tara saat menggunakan baju miliknya itu." Gumam Mia.
Kemudian mereka pun pergi ke ruangan pengukuran kekuatan, dan disana sudah ada Hilda.
"Kenapa kau sudah ada disini Hilda?" Tanya Zen.
"Aku tau kalau kau pasti sudah bisa berjalan meskipun kau baru bangun dari koma." Sahut Hilda.
"Hei kalian berlima, cepat kesini. Kita akan mengukur kekuatan kalian berlima!" Teriak Rogger.
"Lucas, kenapa ada banyak murid disini?" Tanya Zen.
"Mungkin mereka penasaran ada di tingkat berapa kekuatanmu, tapi aku tidak tau pasti sih." Sahut Lucas.
Mereka pun kemudian pergi menghampiri Rogger....
"Sekarang... siapa diantara kalian yang lebih dulu?" Tanya Rogger.
"Aku, setelah itu Diego baru Mia lalu Hilda dan yang terakhir baru Yui. Kalian setuju kan?" Ucap Lucas.
"Setuju!" Sahut Diego dan Mia.
"Terserah...." Ucap Zen dan juga Hilda.
"Baiklah kalau begitu, letakkan kedua tanganmu di alat ini Lucas." Ucap Rogger.
"Baik!" Sahut Lucas dengan meletakkan kedua tangannya di alat pengukur kekuatan itu.
"Cih, ternyata aku masih di level lima... menyebalkan!" Ucap Lucas setelah melihat hasil pengukurannya.
"Sekarang Diego, letakkan kedua tanganmu seperti Lucas tadi." Ucap Rogger.
"Baik." Sahut Diego dengan meletakkan kedua tangannya.
Kemudian muncullah angka enam di alat pengukur kekuatan itu.
"Apa? Kenapa dia levelnya lebih tinggi dari pada diriku, dasar alat pengukur rusak, jelek, dan karatan!" Ucap Lucas yang tidak terima melihat hasil levelnya.
"Diam bocah tengil! Sekarang giliran mu Mia." Ucap Rogger.
"Baik." Sahut Mia.
Dan angka yang keluar dari alat itu adalah angka lima.
"Bhahaha... kau juga ada dilevel lima." Ucap Lucas yang menertawakan Mia.
"Hilda, kau yang selanjutnya." Ucap Rogger.
"Dimengerti." Sahut Hilda.
Lalu angka yang keluar dari alat itu adalah angka sepuluh, semua murid langsung ribut melihat hasil itu karena sebelumnya belum pernah ada murid baru yang berada di level itu.
"Dan sekarang kau Yui." Ucap Rogger.
"Baik." Sahut Zen dengan meletakkan kedua tangannya.
Semua murid langsung melihat dengan serius karena yang membuat mereka berkumpul adalah Zen. Dan angka yang muncul di alat itu adalah angka nol.
"Hah... kenapa levelmu nol Yui, ini aneh. Sebelumnya tidak ada orang yang berada pada level nol, ulangi sekali lagi." Ucap Rogger yang terkejut melihat hasilnya tadi.
"Baik." Sahut Zen, tapi hasilnya tetap sama.
Dari kebanyakan murid, ada seseorang yang menertawakan Zen karena berada di level nol.
"Bhahaha... jadi kau curang pada waktu itu ya Yui, kau mungkin tidak memiliki kekuatan apapun. Makanya level mu itu nol, jadi mengaku saja kalau menggunakan Relik / Artifak langka kan untuk menang melawan ku!" Teriaknya Kaito.
"Aku tidak menggunakan Relik langka, sepertimu Kaito. Aku hanya menggunakan benda yang sudah disediakan oleh akademi." Sahut Zen.
"Hei, Yui. Kenapa kau biasa saja saat mengetahui levelmu nol?" Tanya Lucas.
"Aku juga kesal kok, masa levelku nol!" Sahut Zen dengan ekspresi kesal.
"Eh, begitu rupanya." Ucap Lucas.
"Yang dikatakan Pangeran Kaito itu ada benarnya juga, mungkin kau curang pada waktu itu. Makanya kau bisa menang, sejak awal aku sudah tidak percaya padamu." Ucap Hilda.
"Diam kau Hilda, bukannya kita ini se-tim! Harusnya kau mendukung Yui, tapi kau malah menghinanya!" Teriak Mia yang kesal mendengar omongannya Hilda.
"Kau tau Mia, kata-katanya tadi bukanlah penghinaan. Dia hanya mengatakan pendapatnya kok...." Ucap Zen untuk menenangkan Mia, padahal saat mengatakan itu... dia mengepal tangannya.
"Aku telah mengabari Direktur Arthur tentang hal ini, Yui. Katanya... kita berdua harus pergi ke ruangannya membahas hal ini." Ucap Rogger.
"Oh, kalau begitu lebih baik kita pergi sekarang." Sahut Zen.
Kemudian mereka pun pergi ke ruangan Direktur Arthur, diperjalanan menuju tempat itu... Zen terus-menerus di hina para murid karena level kekuatanya ada pada level nol.
"Hei, kalian para murid laki-laki jelek! Kalian menghina Yui kami karena kalian iri kan pada Yui yang kuat dan tampan, Dia tidak mungkin curang." Ucap Para fansnya Zen.
"Hanya karena ketampanannya, kalian semua jadi buta. Dia itu curang, masa level nol bisa mengalahkan Pangeran Kaito yang berada di level delapan." Sahut para murid laki-laki yang menghina Zen.
Mendengar kata-kata mereka, Zen kemudian bergumam....
"Terserah apa yang kalian ingin katakan tentang ku... mau itu pujian atau hinaan, aku tidak peduli sama sekali."
"Kita sudah sampai Zen, kau duduklah lebih dulu, aku harus mengunci rapat-rapat ruangan ini kata Direktur Arthur." Ucap Rogger.
"Baik, Senior." Sahut Zen yang kemudian duduk berhadapan dengan Direktur Arthur.
"Kau tau Yui, sebelumnya belum pernah ada seseorang yang berada pada level nol. Aku tidak menyangka kalau kau telah menipu ku!" Ucap Direktur Arthur.
"Apa maksudmu aku menipumu, memangnya apa alasannya kau menuduhku kalau aku menipumu?" Tanya Zen.
"Alasannya itu adalah...." Ucap Direktur Arthur.
^^^Bersambung....^^^