ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 52 { Perebutan hak mengasuh }



"In, epasanku! Ku idak isa elnapas, umohun... In, epaskan ku. (Rin, lepaskan aku! Aku tidak bisa bernafas, kumohon... Rin, lepaskan aku)"


Ucap Zen dengan berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Putri Irene. Kemudian Putri Irene pun melepaskan pelukannya dan meminta maaf sambil mengusap kepalanya Zen.


"Maafkan aku ya Yui, sekarang bagaimana Incelote? Apa yang harus kita lakukan, tidak mungkin kita membiarkan ada orang yang melihat Yui mengecil seperti ini. Dan lagi, baju dan celananya juga mengecil." Tanya Putri Irene.


"Aku juga bingung harus bagaimana?" Sahut Pangeran Incelote.


Tiba-tiba... ada sebuah cahaya muncul diantara mereka bertiga, dan hal itu membuat mereka terkejut.


Setelah itu mereka melihat tuan agung, lalu tuan agung langsung menghampiri Zen dan menjentikkan jarinya dan seketika saja baju juga celananya kemudian mengecil menyesuaikan tubuhnya Zen yang sekarang.


"Dasar bocah tengil, baru saja ku biarkan sebentar... kau sudah berulah! Harusnya kau dengarkan ucapan Demoid, dan hal ini tidak akan pernah terjadi." Ucap tuan agung.


"Apa anda bisa merubah Yui ke fisik aslinya, tuan agung?" Tanya Pangeran Incelote.


"Sayang sekali, aku tidak bisa melakukannya. Kalung Demoid itu adalah kalung ajaib yang diberikan ayahnya Kaisar Lord kepada Kaisar Lord."


"Zen hanya perlu diam disini selama dua minggu karena waktu kalung Demoid menyesuaikan diri agar Zen awet muda dan bisa berubah menjadi anak kecil, remaja atau dewasa sesuka hatinya."


'Waktu yang diperlukan kalung Demoid menyesuaikan diri dengan Zen adalah dua minggu, jadi terpaksa Zen harus tinggal disini selama dua minggu."


"Lagi pula waktu yang diberikan padamu untuk menyelesaikan misi itu adalah dua Minggu jadi sementara itu kau tinggal saja dengan mereka Zen, dan kalian berdua harus menyembunyikan Zen kecil ini agar tidak diketahui oleh orang-orang disini kecuali keluarga mu yaitu ayah, ibu, dan kakakmu."


"Aku akan minta izin kepada ayah kalian dulu, tolong jaga Zen agar tidak ada orang yang melihatnya seperti ini." Ucap tuan agung.


"Baiklah tuan agung." Sahut Pangeran Incelote dan Putri Irene.


Kemudian tuan agung mendekat kepada Zen dan setelah itu dia jongkok sambil mengusap kepalanya Zen.


"Dengarkan kata-kataku Zen, kau tidak boleh merepotkan keluarga pamanmu oke." Ucap tuan agung.


"Aik, kek ua. (Baik kakek tua)" Sahut Zen.


"Dasar bocah tengil, saat berubah jadi anak berumur satu tahun pun kau masih menjengkelkan. Dah semua aku pergi." Ucap tuan agung dengan kesal.


Kemudian dia menjetikkan jarinya dan menghilang. Setelah itu Pangeran Incelote dan Putri Irene bertengkar untuk bermain dengan Zen kecil.


"Yui, ayo ikut aku. Dikediaman ku banyak mainan-mainanku saat kecil, kau mau main?" Ucap Pangeran Incelote.


"Jangan mau Yui, mainan miliknya tidak ada yang bagus. Jika kau ikut aku ke kediaman ku, kau akan melihat taman penuh bunga. Setahuku dari rumor saat kecil kau sangat suka bunga-bunga kan? Dan bukan hanya itu saja, aku juga punya banyak boneka yang lucu. Jadi kau ikut aku saja!" Ucap Putri Irene.


"Hei, Rin! Kau pikir Yui itu perempuan apa yang sukanya main boneka-bonekaan? Dia itu laki-laki, sudah pasti dia akan main mainan laki-laki!" Sahut Pangeran Incelote.


"Aku tau dia itu laki-laki, tapi bukannya kau tidak suka Yui! Apa jangan-jangan kau bersikap seperti itu karena setelah kalian hanya berdua di kediamanmu kau akan menyiksanya karena kau jengkel padanya." Ucap Putri Irene.


"Sekarang aku sudah tidak jengkel lagi padanya, karena setelah ku pikir-pikir dia imut juga saat dia berubah menjadi bayi." Sahut Pangeran Incelote.


"Tetap saja, Yui harus tinggal dikediaman ku saat ini sampai dua minggu kedepan!" Ucap Putri Irene dengan mengangkat Yui dari lantai kemudian dia memeluknya.


"Enak saja, itu tidak adil namanya. Jadi supaya adil... Hari ini aku, besok baru kau dan akan seperti itu sampai dua minggu kedepannya. Jika kau tidak mau, ibu saja yang akan mengasuhnya. Itu sudah sangat adil, jika kau tidak mau tak apa." Sahut Pangeran Incelote dengan tersenyum.


"Baiklah, kurasa itu cukup adil. Tapi aku protes soal kau duluan yang mengasuhnya, aku duluan baru adil. Lagi pula memangnya kau bisa apa menjaga bayi?" Tanya Putri Irene.


"Tentu saja aku bisa! Memangnya aku itu kau apa?" Jawab Pangeran Incelote.


"Apa kau bilang!" Teriak Putri Irene.


"Entian! alian kir, ku ni ayi pa? Ita an semur! (Hentikan! Kalian pikir, aku ini bayi apa? Kita kan seumur!)" Ucap Zen.


"An, ulunkan ku ari endong mu yin! (Dan turunkan aku dari gendonganmu Rin)" Ucap Zen lagi.


"Dari tadi aku tidak paham apa yang kau katakan Yui." Ucap Pangeran Incelote dengan ekspresi datar.


"Aku juga tidak mengerti yang kau katakan Yui." Sahut Putri Irene dengan menatap wajah Zen.


"Ulunkan ku alang ga! ( Turunkan aku sekarang juga!)" Teriak Zen sambil meronta-ronta.


"Kurasa dia mau diturunkan Rin." Ucap Pangeran Incelote.


"Aku juga paham setelah dia meronta-ronta bodoh." Sahut Putri Irene.


Kemudian dia menghela nafas dan berkata "baiklah Incelote... carikan aku jubah untuk membawa Yui ke kediaman ku." Sahut Putri Irene yang kemudian meletakkan Zen di kursi tamu.


"Cari saja sendiri, jika aku yang mencarikannya untuk mu... maka kau harus mengalah soal mengasuh Yui yang lebih dulu. Bagaimana kau mau?" Ucap Pangeran Incelote dengan menaikkan kedua keningnya sambil tersenyum.


"Ogah! Lebih baik aku mencarinya sendiri." Sahut Putri Irene dengan melipat kedua tangannya.


"Ya sudah, cari saja sendiri. Ah, iya... begini saja, siapa yang dapat jubahnya paling dulu dia akan mendapatkan hak pertama mengasuh Yui. Bagaimana, apa kau tertarik?" Tantang Pangeran Incelote.


"Oke, lombanya dimulai dari sekarang!" Setelah mengatakan itu dia langsung berlari kearah pintu dan sesampainya didekat pintu....


"Dah, Incelote... semoga kau berhasil menemukannya." Ucapnya dengan menjulurkan lidahnya untuk membuat Pangeran Incelote kesal. Kemudian diapun menutup pintu ruang tamu agar memperlambat gerak Pangeran Incelote.


"Sialan kau Rin! Awas saja kau nantinya...." Ucap Pangeran Incelote sambil berlari ke arah pintu.


Sesampainya dia diluar ruangan....


"Hei kalian para penjaga, tetap berjaga disini dan jangan biarkan seseorang pun masuk ke ruangan kecuali anggota kerajaan, mengerti!" Ucapnya dengan tegas.


"Baik yang mulia Pangeran!" Sahut dua orang penjaga dengan membungkukkan badannya.


Brakk....


"Ah, sial suara apaan itu. Padahal aku lagi enaknya tidur... tunggu aku tertidur? Apa jangan-jangan kalau aku mengecil jadi bayi itu hanya sebuah mimpi, jika benar begitu... aku akan sangat bersyukur. Oke mari kita lihat tangan dan kaki dulu untuk memastikannya langsung." Ucap Zen dalam hati.


Melihat kedua tangan dan kaki yang masih seperti bayi, wajahnya langsung pucat karena kehilangan semangat.


"Tih, elnata ni emua ukan mpi! (Cih, ternyata ini semua bukan mimpi!)" Ucapnya.


"Yui! Coba lihat, aku sudah menemukan jubahku. Dan aku yang lebih dulu sampai kesini, jadi akulah pemenangnya. Sekarang ayo ikut aku." Ucap Putri Irene setelah mendobrak pintu karena ingin cepat masuk.


"Emm." Sahut Zen dengan menganggukkan kepalanya.


Sesudah dia memakai jubahnya, dia langsung menggendong Zen dan memasukkannya ke jubahnya agar tidak ada orang yang melihatnya membawa Zen kecil.


"In, ungu. ambiy an E al Pi ay yang da di antai uh. (Rin, tunggu. Ambilkan Earpiace yang ada di lantai itu.)" Ucap Zen dengan menunjuk ke arah Earpiace itu berada.


"Ah, benda ini ya." Sahut Putri Irene yang kemudian membungkukkan badannya dengan pelan-pelan agar Zen tidak jatuh dari gendongannya karena dia ingin mengambilkannya.


"Dapat, sekarang ayo kita pergi Yui! Karena jika sampai Incelote melihatku membawamu dia pasti marah setelah aku curangi." Ucapnya setelah memberikan Earpiace itu kepada Zen.


Kemudian dia pun bergegas pergi ke kediamannya secepat mungkin sebelum terlihat oleh Pangeran Incelote. Dan ditengah perjalanan menuju kediamannya, dia dihentikan oleh tuan agung.


"Halo yang mulia tuan Putri, apa anda tahu anda sedang apa sekarang?" Ucap Tuan agung dengan membungkukkan badannya untuk menatap wajahnya Putri Irene.


"Kya!" Teriaknya Putri Irene karena terkejut melihat tuan agung. Setelah itu dia pun berkata, "Ah, rupanya anda tuan agung. Kupikir tadi yang muncul didepan ku adalah Incelote, ngomong-ngomong... kenapa anda tiba-tiba muncul seperti ini?" Tanyanya dengan wajah agak kebingungan.


"Hah... ya ampun, ternyata kau tidak memikirkan bagaimana kau mengurus Zen sedangkan kau harus menyembunyikan dari orang-orang setelah Zen tinggal di tempatmu nantinya ya rupanya." Ucapnya dengan wajah yang mengatakan....


"Ternyata seorang Putri pun bisa lupa kalau dia seorang Putri yang tidak bisa bertingkah sembarangan seperti kebanyakan orang biasa karena dibutakan oleh keimutan seorang bayi seperti Zen."


"Anda tau tuan agung, bisa jelaskan lebih spesifik karena aku tidak mengerti." Sahutnya dengan menggaruk-garuk kepalanya sambil tersenyum.


"Ah, ada para prajurit yang sedang berpatroli. Lebih baik kau ikuti aku ke tempat tidak ada orang agar tidak dicurigai nantinya." Ucap tuan agung yang kemudian pergi ke tempat sepi yang tidak dilalui para prajurit yang berpatroli.


Kemudian Putri Irene pun mengikuti dari belakang, sesampainya ditempat itu....


"Jadi alasannya aku menemui mu adalah... kau itu seorang Putri, sudah pasti kau akan dibantu itu-ini oleh para pelayan nantinya kan. Dan jika kau membawa seorang bayi yang berumur satu tahun dan apa lagi kalau rambutnya kuning keemasan seperti rambutmu mereka pasti mereka akan berpikir yang tidak-tidak, apa kau paham?" Ucap tuan agung dengan tersenyum kesal.


"Ah, jadi begitu rupanya. lalu bagaimana caranya Yui bisa tinggal disini kalau bukan aku yang merawatnya?" Sahutnya.


"Oh, iya tuan Putri. Dari tadi Zen meronta-ronta ingin lepas dari gendonganmu, apa kau tidak sadar?" Tanya tuan agung.


"Ah, iya. Aku lupa tentang Yui ada disini karena melihatmu disini tadi. Maaf ya Yui, sekarang kau mau apa?" Ucapnya dengan menatap wajah Zen.


"Zen ikut aku saja, karena aku ingin melakukan sesuatu." Sahut tuan agung.


"Manna, pa yan au nin akuan adau? (Emangnya apa yang ingin kau lakukan padaku?)" Tanya Zen.


Lalu tuan agung hanya menatap wajah Zen dengan ekspresi datar, kemudian dia mengambil Zen dari gendongan Putri Irene. Setelah itu dia kemudian menyuruh Demoid untuk merubah rambut Zen menjadi seperti warna rambut kakeknya yaitu abu-abu dan warna bola mata seperti ayahnya yaitu hijau.


"Apa maksud anda tuan? bagaimana itu bisa saya lakukan, saya belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya." Ucap kalung Demoid setelah mendengar suruhan dari tuan agung.


"Jangan banyak alasan! Jika kau tidak merubah Zen sekarang akan kucincang dirimu kalung menyebalkan. Seandainya kau bisa menahan perubahan tubuh Zen ini semua tidak akan terjadi, meskipun Zen memang harus melakukan perubahan seperti ini. Tapi harusnya dia melakukan perubahan ini tidak dalam keadaan seperti ini." Teriak tuan agung dalam bicara telepati dengan kalung Demoid.


"Ya sudah kalau begitu, saya akan melakukan perubahannya sekarang tuan agung. Jika perubahan yang saya lakukan tidak sempurna, mohon ampuni saya karena ini adalah pertama kalinya saya merubahnya dengan menyilangkan dua gen. Sahut kalung Demoid.


Setelah setengah jam kemudian... rambut Zen akhirnya berubah menjadi warna putih perak seperti kakeknya dan warna matanya berubah menjadi hijau seperti ayahnya.


"Sebenarnya kenapa anda menyuruh saya menyilang dua gen seperti itu, kenapa bola matanya tidak boleh terlihat seperti kakeknya? Dan meskipun rambut asli Nona Fiona itu adalah putih perak, tapi karena Kaisar Note ingin anaknya tidak terkena masalah nantinya setelah kau memberi tahu penglihatan masa depan anda."


"Dia pun menyembunyikan keberadaan keluarganya dan berharap kalau anaknya lahir itu dengan rupa tidak seperti dia melainkan lebih mirip ke istrinya. Dan doanya pun terkabul, tapi karena hal itulah yang membuat saya kesulitan untuk mengiyakan suruhan anda karena gen yang diturunkan Nona Fiona itu lebih ke ibunya dibandingkan ayahnya." Ucap kalung Demoid yang berusaha menjelaskan alasan lambatnya perubahan Zen tadi.


"Kau mau tau apa alasanku menyuruhmu merubah warna bola matanyakan, alasannya adalah hanya keturunan Kaisar Lord lah yang memiliki rambut perak dan bola mata berwarna biru seperti diriku karena aku agak mirip dengan ayahnya Kaisar Lord."


"Kalau dirubah warna bola matanya, orang tidak akan mengira kalau dia keturunan Kaisar Lord. Dan untuk alasan yang kau buat tadi itu sangat tidak masuk akal selambat itu perubahan fisiknya, karena bukannya kau masih mengingatnya kalau dia itu adalah ********, apa jangan-jangan kau lupa tentang hal itu? Karena itulah kau melakukan perubahannnya sangat lama." Sahut tuan agung.


"Ah, iya ya. Saya benar-benar lupa tentang hal itu, jadi saya mohon ampuni saya." Ucap kalung Demoid.


Setelah kalung Demoid mengatakan hal itu, percakapan mereka terhenti karena ucapan Putri Irene.


"Wah, keren. Bagaimana caranya rambut Yui bisa berubah seperti rambut kakeknya. Bukannya kalung Demoid hanya bisa melakukan perubahan fisik seperti kedua orangtuanya dan bukan seperti kakek neneknya."


"Satu hal lagi, kalau kulihat-lihat lagi... mata Yui seperti ayahnya bukannya kakeknya. Ini benar-benar sangat keren, jadi... ku mohon tuan agung, biarkan aku mengasuhnya. Dengan fisik Yui seperti ini orang tidak akan berpikir aneh lagi." Ucap Putri Irene agar dia bisa bersama Zen.


"Tetap tidak bisa, aku sudah meminta ibumu untuk mengasuhnya dengan berkedok bahwa Zen adalah anak titipan sementara dari kerabat jauhnya karena mereka sedang dalam masalah dan jika masalah itu sudah kelar mereka akan menjemput putranya . Kalau kau yang mengurusnya, mereka akan tetap bingung. Dan bukan hanya itu... kau juga belum pernah mengasuh seorang bayi kan selama ini karena kau adalah anak bungsu." Sahut tuan agung dengan kata-kata yang menusuk Putri Irene sampai dia tidak bisa berkata apa-apa lagi karena itu adalah kenyataan.


"Kau sudah paham kan, aku pergi dulu karena aku ingin mengatarkan Zen ke ibumu." Ucap tuan agung, kemudian dia menghilang bersama Zen dari hadapannya Putri Irene.


Beberapa menit kemudian datanglah Pangeran Incelote ke tempat itu setelah diberi tahu oleh prajurit yang melihat Putri Irene pergi kesana dan tidak kunjung kembali.


"Disini kau rupanya, kau tau ini sangat tidak adil karena kau tadi bermain curang!" Teriaknya sesampainya ia di depan Putri Irene.


"Berisik kau Incelote! Kau harusnya berpikir kenapa aku tidak ada dikediamanku dan kau juga lihatkan kalau Yui tidak bersama ku karena tuan agung bilang dia akan diasuh oleh ibu dengan berkedok kerabat jauh." Sahutnya dengan tatapan tajam yang mengerikan dan kusutnya rambut setelah diacak-acaknya ketika menangis saat tuan agung menghilang dari hadapannya bersama dengan Zen.


"Ke-kenapa wajah dan rambutmu bisa seperti itu?" Tanya Pangeran Incelote dengan berkeringat karena ketakutan melihatnya seperti itu.


^^^Bersambung....^^^