ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 46 { Di jenguk }



"Kenapa kau malah tambah nangis, Rin?" Tanya Zen.


"A-aku, tidak sanggup melihat tanganmu yang diperban. Karena rasanya pasti sakit kan? Hiks... hiks...." Sahut Putri Irene.


"Kalau tahu alasannya karena melihat tanganku, lebih baik tadi aku tidak memperlihatkannya." Gumam Zen.


"Semoga kau cepat sembuh ya Zen, hiks... hiks.... Dah dulu, kakak ku Incelote sekarang membuat keributan di depan pintu kamarku karena mendengar tangisanku." Ucap Putri Irene.


"Ah, ya sudah kalau begitu. Dah juga Rin." Sahut Zen sambil melambaikan tangan pakai tangan kiri karena tangannya sedang memegang bola kristal.


"Huwaa...." Suara tangisan Putri Irene setelah melihat tangan kirinya Zen yang diperban.


Setelah itu percakapan mereka pun terhenti, lalu Zen mengembalikan bola kristal itu kepada tuan agung.


"Tidurlah sekarang, karena ini sudah hampir tengah malam. Dan semoga tidurmu nyenyak Zen." Ucap tuan agung yang kemudian menjentikkan jarinya dan menghilang.


Lalu Zen bergumam....


"Seandainya saja... ibuku masih ada, apa reaksinya sama seperti Rin yang menangis melihatku terluka. Setiap aku melihat Rin, aku terus teringat akan ibuku yang mirip dengannya."


Setelah mengatakan itu, Zen pun tertidur.


Pagi harinya....


"Hei, Yui... kapan kau akan bangun hah.... Aku dan Diego ingin mengajakmu bermain seperti biasa." Ucap Lucas dengan meletakkan wajahnya ke kasur rumah sakit yang Zen rebahi.


"Iya, Yui... kami sangat merindukanmu...." Sahut Mia.


"Emm... kenapa kalian berisik sekali sih, ini masih pagi tau." Ucap Zen yang terbangun karena kebisingan.


"Yui, kau sudah sadar!" Teriak Lucas yang terkejut melihat Zen terbangun dari tidurnya.


"Ah, iya... aku sudah sadar." Sahut Zen.


"Sekarang... aku harus pura-pura tidak tahu sudah berapa lama aku tidak sadar." Gumam Zen.


"Hei, ngomong-ngomong... sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?" Tanya Zen sambil mengusap wajahnya.


"Kau sudah tidak sadarkan diri selama dua minggu, kami bahkan berpikir kau tak akan bangun lagi." Ucap Mia.


"Memangnya kalian pikir aku koma apa?" Sahut Zen.


"Kau memang koma Yui...." Ucap Diego, Lucas dan juga Mia dengan ekspresi datar.


"Hah... jadi begitu rupanya. Oh, iya... bagaimana dengan Hilda dan juga senior? Apa mereka baik-baik saja." Tanya Zen.


"Mereka hanya pingsan beberapa saat, tapi tidak bagimu karena lukamu cukup parah. Sebelum kami menghampiri kalian bertiga... para Ranker yang diperintahkan untuk menyelamatkan kita dari Dungeon mengerikan itu, menghampiri kami dan bertanya-tanya berapa banyak orang yang menghilang dari tim."


"Padahal sebelumnya yang kami lihat adalah taman yang indah, setelah kabut itu hilang kami pun mencari kalian. Dan pada akhirnya kami menemukan kalian bertiga tergeletak di tanah bersama dengan Monster pemilik Dungeon itu."


"Semua Ranker yang membantu kami agar bisa keluar dari Dungeon itu langsung terkejut karena Monster itu dapat dikalahkan, padahal katanya... Monster itu telah banyak memakan korban setiap tahunnya."


"Dia adalah sejenis Monster yang bisa membuat kita berhalusinasi, dan Dungeon milik Monster itu berpindah-pindah tempat dan bahkan sampai merubah warna portalnya."


"Kami semua bingung, siapa sebenarnya yang mengalahkan Monster itu.... Kata Hilda dan senior... mereka tidak mengalahkan Monster itu, bahkan mereka terkejut setelah mengetahui kalau ada Monster di Dungeon itu."


"Jadi aku, Diego, Mia dan juga Ranker senior dari Tim tiga yang menyelesaikan misi itu berpikir... kaulah yang mengalahkannya, karena cuma kau yang terluka."


"Tapi tidak bagi para Senior yang lain yang datang untuk membantu, mereka tidak percaya kalau seorang murid baru... bisa mengalahkan Monster yang tingkatnya S seperti Monster itu. Meskipun mereka tidak percaya... tapi kami dan para Senior Tim tiga, percaya kalau kaulah yang mengalahkannya." Ucap Lucas.


"Iya, kami percaya Yui! Kaulah yang telah mengalahkannya." Sahut Mia dan Diego.


Knock, knock, knock....


Orang yang mengetuk pintu itu adalah Hilda, setelah dia mengetuk pintu dia kemudian masuk lalu berkata setelah melihat Zen sudah sadar.


"Kau sudah sadar ya, Yui? Ah, aku ingin bilang sesuatu padamu.... Terimakasih banyak atas semua yang kau lakukan selama aku berhalusinasi di Dungeon itu, aku masih mengingat kalau aku sempat mendorong mu dan meronta-ronta agar terlepas dari dekapanmu, padahal kau berusaha untuk menyelamatkanku."


"Pada awalnya aku memang melihatmu berusaha untuk membuatku sadar, setelah itu... kau menghilang entah kemana dan yang ku lihat ada dua Zen disana. Padahal kata senior yang juga berhalusinasi, dia hanya melihat satu sosok seperti almarhum kakaknya."


"Dan aku juga mendengar dari senior yang lain, katanya orang yang berhalusinasi dalam Dungeon itu akan melihat seseorang yang terlihat seperti orang terdekat kita yang telah tiada."


"Mereka tidak mengatakan kalau Dungeon itu bisa membuat lebih dari dua orang yang sama, dan lagi... Zen yang satunya bukannya membuatku semakin masuk ke dalam perangkap Monster itu, Zen yang ada di dekat ku malah langsung memelukku dan berkata... aku ada di sini Hilda, kumohon percaya padaku... aku tidak ingin kau kenapa-napa jadi jangan pergi."


"Setelah itu muncul suara monster lalu aku tidak mengingat apapun lagi, dan pada saat aku dipeluknya... rasanya benar-benar sama seperti dia memelukku saat aku ketakutan waktu kecil."


"Jadi katakan padaku Yui, Apa kau melihat Zen yang memelukku waktu itu? Zen masih hidupkan, dia memelukku waktu itu... itu tidak mungkin ilusi, ya kan?" Tanya Hilda dengan penuh harapan.


"Aku tidak melihat apapun, di dalam Dungeon itu kan dipenuhi dengan kabut. Jadi bagaimana aku bisa melihat jelas, setelah kau dorong aku waktu itu... aku tidak tau lagi kau ada dimana karena aku tidak bisa melihat apa-apa." Sahut Zen.


"Untung saja aku sudah mempersiapkan alasan ini dari tadi malam. Aku tidak menyangka kalau dugaan ku benar, dia akan bertanya tentang Zen yang telah memeluknya waktu itu."


"Maafkan aku Hilda, seandainya saja aku bisa memberi tahumu kalau temanmu Zen yang kau rindukan dan yang dianggap dunia ini telah tiada... dia masih hidup, dan dia tepat berada dihadapannmu sekarang." Ucapnya dalam hati sambil menatap ke arah Hilda dengan tangan kanan yang mengepal.


"Cih, kupikir kau melihatnya waktu itu... ku tarik kata-kata ku tadi tentang berterimakasih padamu." Ucap Hilda dengan wajah kesal, kemudian dia langsung pergi keluar.


"Apa-apaan wanita itu? Kerjaannya cuman membuat emosi orang meledak saja!" Ucap Lucas.


Knock, knock....


"Apa kami boleh masuk" Tanya beberapa orang dari luar.


"Ya, kalian boleh masuk kok." Sahut Zen.