
"Sekarang kita sudah sampai, ayo duduk ditempat itu." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Oke, kakek!" Sahut Zen yang kemudian duduk di tempat itu.
"Kau mau pesan apa?" Tanya tuan agung.
"Coba ku lihat menu di restoran ini, emm... aku mau.... Lobster bakar saus barbeque dan jus strawberry!" Sahut Zen.
"Baiklah kalau begitu.... Pelayan! kami pesan satu porsi Lobster bakar saus barbeque dan jus strawberry." Ucap tuan agung.
"Baik, saja sudah menulis pesanan anda tadi, tunggu sebentar." Sahut pelayan.
Beberapa menit kemudian....
"Ini makanannya tuan." Ucap pelayan tadi, yang kemudian meletakkan makanannya dimeja makan.
"Kenapa kau tidak memesan?" Tanya Zen kepada tuan agung.
"Aku tidak perlu makan seperti dirimu, makan saja." Sahut tuan agung.
"Baiklah, kakek!" Ucap Zen dengan tersenyum, setelah itu dia pun mencicipi makanan pesanannya tadi.
Sesudah dia menghabiskan makanan itu....
"Haah... perutku kenyang sekali, dan makanan tadi benar-benar enak." Ucap Zen.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan setelah ini?" Tanya tuan agung.
"Kita akan berkeliling melihat keindahan kota ini." Sahut Zen
"Ya sudah kalau begitu, ayo pergi dari tempat ini." Ucap tuan agung.
"Ayo pergi jalan-jalan sekarang!" Sahut Zen dengan semangat.
Setelah itu mereka pun jalan-jalan mengelilingi kota itu sampai sore hari....
"Sekarang ayo pulang, langitnya sudah hampir gelap." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Iya." Sahut Zen.
Setelah mendengar kata-kata itu dari Zen, kemudian tuan agung menjentikkan jarinya. "Ctaak"
Dan mereka pun kembali ke istana. Dua minggu kemudian....
"Hai Perdana menteri Lucky! Dimana kakek tua itu?" Tanya Zen kepada Perdana menteri Lucky yang berpapasan dengannya.
"Maksudmu tuan agung, dia sudah duluan pergi ke tempat latihan. Dan dia bilang padaku, kalau kau bertemu Zen, katakan padanya kalau aku sudah pergi duluan. Begitu katanya padaku." Sahut Perdana menteri Lucky.
"Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu Perdana menteri Lucky! Semangat bekerjanya!" Teriak Zen yang berlari ke arah luar istana.
Sesampainya Zen ditempat latihannya....
"Kenapa kau tidak menungguku?" Tanya Zen setelah dia sampai ditempat itu.
"Jangan banyak tanya! Kau hanya akan membuang waktu. Sekarang hari ini kau akan ku ajarkan menggunakan kekuatan Diamond mu. Jadi mari kita mulai latihannya." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Oke... sekarang ayo mulai! Aku sudah siap dari tadi." Sahut Zen.
"Haah... dasar bocah! Tadi kau bilang sudah siap, tapi cara mengaktifkannya saja tidak tau." Sahut tuan agung.
"Yang dikatakan tuan agung itu benar! Bukannya kau mendapatkan julukan anak jenius! Masa kau tidak tau tentang hal itu." Sahut Perdana menteri Lucky yang tiba-tiba nongol di antara mereka berdua.
"Sejak kapan kau ada disini? Tiba-tiba muncul malah menghinaku, alasanku bertanya kepada kakek adalah... selama ini aku hanya diajarkan menggunakan kekuatan selain diamond, dan bahkan dia tidak menerangkan apa-apa mengenai cara mengaktifkan kekuatan diamond itu!" Ucap Zen kepada Perdana menteri Lucky.
"Jadi kau tidak menerangkannya rupanya, maafkan aku ya Kaisar muda Zen. Aku sungguh minta maaf padamu." Sahut Perdana menteri Lucky dengan kepala menunduk.
"Haah... baiklah bocah, aku akan menerangkannya. Jadi dengarkan aku baik-baik!" Ucap tuan agung kepada Zen.
"Oke aku mendengarkanmu." Sahut Zen yang kemudian duduk.
"Cara mengaktifkannya yaitu, kau hanya perlu mengingat kebencianmu akan sesuatu, kemarahanmu pada sesuatu dan kegelapan ada pada dirimu dikarenakan ada alasan apa, kau harus mengetahui hal itu. Apa sekarang kau paham?" Ucap tuan agung yang sedang menerangkan tentang mengaktifkan kekuatan diamond.
"Ya, sekarang aku mengerti. Baiklah pertama-tama aku harus mengingat kebencianku pada sesuatu, yang paling ku benci di dunia ini adalah orang brengsek yang bernama Hans. Yang kedua aku harus mengingat kemarahanku pada sesuatu, yang membuat amarahku bisa meledak adalah Hans b*j**g*n itu! Dan yang ketiga adalah kegelapan, kegelapan yang ada pada diriku adalah ulah dari Hans brengsek itu." Sahut Zen, setelah mengingat itu, matanya berubah menjadi berlian biru dan kekuatan diamondnya langsung aktif.
"Wah, Kaisar muda Zen. Kau benar-benar hebat! Kekuatan diamondmu sudah aktif, gila keren sekali." Ucap Perdana menteri Lucky dengan memberikan tepuk tangan kepada Zen.
"Bagus, kau sudah bisa mengaktifkan nya. Kau hanya perlu melatihnya agar hanya dengan menutup matamu nantinya, kekuatan diamond itu akan aktif. Sekarang kau hanya perlu mengucapkan kata-kata mantra membuat bentuk apapun seperti kekuatan es." Ucap tuan agung kepada Zen.
"Baiklah, jadi cara menggunakan kekuatannya seperti es! Itu mudah sekali." Sahut Zen.
"Kalau begitu aku hanya perlu mengucapkan...."Diamond strength, forming sharp thorns!" (kekuatan berlian, membentuk duri tajam!)
Setelah itu muncullah duri tajam yang terbuat dari berlian.
"Wah, benar-benar mirip seperti kekuatan es." Ucap Zen.
"Bukan hanya itu saja Zen, sesuatu yang terbuat dari kekuatan itu juga bisa kau hilangkan dan bisa kau kembalikan setelah menghilang. Coba saja!" Sahut tuan agung.
"Benarkah? Kalau begitu, "disappeared!" (menghilang!)" Ucap Zen. Setelah itu duri tajam tadi menghilang.
"Wah, kau benar-benar berbakat Kaisar muda Zen!" Ucap Perdana menteri Lucky.
"Bisa tidak kau memanggilku dengan namaku saja! Rasanya sangat menyebalkan saat mendengarmu memangilku dengan seperti itu!" Sahut Zen dengan ekspresi kesal.
"Haha, sekarang kau merasakan seperti apa rasanya orang memanggilmu dengan sebutan yang tidak kau suka. Kau tidak perlu mengganti pangilan namanya tadi Lucky, itu sudah bagus kok." Ucap tuan agung yang tertawa dengan ekspresi menyebalkan yang membuat Zen kesal.
"Kau bilang apa kakek tua!" Teriak Zen.
"Duaak."
"Haah... sialan! Tongkat jelek itu lagi. Kenapa kau terus memukulku dengan tongkat jelek itu! Rasanya sakit sekali... andai aku tau dimana kau meletakkan tongkat jelek itu! Sudah pasti akan ku jadikan tongkat itu sebagai kayu bakar. Setelah membakar tongkat jelek itu, aku akan tertawa seperti tawa penjahat, Bhahaha.... Pasti rasanya sangat menyenangkan." Ucap Zen.
"Sudah jangan banyak bicara bocah! Setelah kau menghilangkan benda yang kau buat tadi... sekarang kau harus mengembalikannya seperti semula." Sahut tuan agung.
"Oke, oke. Sabar kakek tua, jika kau selalu marah-marah seperti ini, lama kelamaan aku jengkel mendengarnya." Ucap Zen.
"Jika kau jengkel mendengarnya, potong saja telingamu itu. Pasti kau tidak akan pernah mendengar suara teriakanku lagi." Sahut tuan agung.
"Terserah mu, "Come back!" (kembali!)" Ucap Zen. Tapi setelah itu tidak terjadi apa-apa, bahkan setelah menunggu lima belas menit, tetap tidak ada apa-apa yang terjadi.
"Ke-kenapa sekarang tidak bisa? Padahal Tadi bisa, apa yang sebenarnya terjadi." Ucap Zen dengan menggaruk-garuk kepalanya karena kebingungan.
^^^Bersambung....^^^