ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 29 { Pertemuan pertama dengan Putri Irene Evelina William Frencesco }



Sesampainya mereka disana....


"Kita sudah sampai Zen! Dan lihat, sepertinya orang-orang yang berkumpul disana itu adalah murid baru seperti dirimu. Tunggu apa lagi, cepat bergabung dengan kumpulan orang-orang itu." Ucap tuan agung kepada Zen dengan tersenyum.


"Dah, kakek!" Sahut Zen yang kemudian pergi ketempat perkumpulan itu.


Saat dia berada di sekeliling murid-murid baru, dia melihat seorang perempuan dengan rambut putih seperti salju. Dan dia teringat dengan teman perempuannya saat kecil, yaitu Hilda. Perempuan itu sangat cantik, karena semua murid laki-laki terus melihat ke arahnya.


"Apa itu Hilda? Jika itu benar, dia sudah sangat besar sekarang. Aku ingin sekali menghampirinya dan berbicara kepadanya, tapi... dia mungkin tidak akan mengenali diriku. Aku ingin memastikan apakah dia itu benar-benar Hilda...." Gumam Zen.


Kemudian Zen berkata, "Hilda!"


Setelah itu, perempuan berambut putih itu langsung menoleh ke arah Zen, tapi karena Zen bersembunyi di balik salah seorang murid lainnya, perempuan tadi tidak melihatnya. Saat dia melihat perempuan itu langsung menoleh ke arahnya, dia berkata....


"Dia benar-benar Hilda.... Andaikan saja aku bisa menghampirinya." Ucap Zen dengan mengepal tangannya.


"Siapa yang memanggilku tadi? Suara itu seperti suara Zen saat memangilku, apa Zen ada disini." Ucap Hilda kepada teman perempuannya.


"Dengarkan aku putri Hilda.... Zen sudah tiada enam tahun yang lalu, mungkin itu hanya hayalanmu saja. Lebih baik kita masuk ke dalam sekarang...." Sahut temannya itu.


Dengan perasaan sedih, Hilda berkata, "kau benar... mungkin tadi itu hanya hayalanku saja. Ayo kita pergi sekarang...."


Kemudian Hilda dan temannya tadi masuk kedalam gedung akademi itu. Setelah itu Zen beserta murid lainnya pun masuk ke dalam gedung itu....


Sesampainya didalam gedung itu, semua murid baru masuk ke aula pertemuan murid baru. Dan kemudian mereka semua duduk ditempat yang sudah disediakan. Sesudah para murid baru itu duduk ditempat yang sudah disediakan, Datanglah seorang laki-laki yang tidak lain adalah direktur utama dari akademi itu.


Kemudian dia berbicara, "halo kalian semua! Perkenalkan, aku adalah direktur dari akademi ini. Dan namaku adalah Arthur Doyle, kalian bisa memanggilku dengan sebutan "Direktur Art" Dan karena kalian berjumlah seratus orang, aku akan membagi kelasnya menjadi empat kelas. Silahkan masuk kalian berempat!" Ucap Direktur Artur.


Setelah dia mengatakan itu, datanglah empat orang ke dalam ruangan itu. Kemudian mereka memperkenalkan diri mereka masing-masing.


"Perkenalkan namaku adalah, "Izekel" dan aku adalah guru dari kelas A junior!" Ucap salah satu orang yang masuk tadi.


"Perkenalkan namaku adalah "Lorenz" dan aku adalah guru dari kelas B junior!" Ucap orang yang berada disamping Izekel.


"Perkenalkan namaku adalah "Aria" dan aku adalah guru dari kelas C junior." Ucap perempuan yang berada disamping Lorenz.


"Perkenalkan namaku adalah "Elza" dan aku adalah guru dari kelas D junior." Ucap perempuan yang disamping Aria.


"Cukup sampai disini saja perkenalannya, kalian bisa keluar dari ruangan ini sekarang. Dan persiapan diri kalian besok! Karena besok akan diadakan duel untuk mengukur kekuatan kalian masing-masing, dan kalian bisa mencari lawan duel kalian. Jadi berinteraksilah dengan sesama murid baru seperti kalian." Ucap Direktur Arthur.


Setelah itu, para murid langsung ribut mencari pasangan duel mereka. Salah satu murid yang duduk berdekatan dengan Zen berkata kepada temannya....


"Hei, siapa yang harus ku pilih menjadi lawan duelku nanti?" Tanya murid itu kepada temannya.


"Kau tau, lebih baik lawan duelmu adalah Pangeran Kaito. Jika kau bisa mengalahkannya yang hebat itu, kau pasti akan dipuji-puji oleh murid lainnya dan semua murid perempuan yang selalu nempel dekat Pangeran Kaito pasti akan menempel denganmu." Sahut temannya.


"Apa kau pikir aku gila! Pangeran Kaito itu sangat mengerikan, Dia pernah mempermalukan seorang Ranker senior disini. Padahal waktu itu umurnya sepuluh tahun. Kenapa tidak kau saja yang menantangnya duel?" Ucap murid tadi.


Karena Zen dekat dengan mereka, dia pun menguping pembicaraan mereka berdua tadi. Setelah mendengar semua itu, tangannya langsung mengepal dan dia juga bergumam....


"Anak dari pria brengsek itu berada di akademi ini juga rupanya! Mereka bilang dia sangat mengerikan ya, aku penasaran seperti apa kehebatannya." Gumamnya.


Kemudian Zen berdiri dari tempat duduknya, dan berkata....


"Hei Pangeran Kaito! Apa kau sudah memiliki lawan duel? Jika belum, aku menantangmu menjadi lawan duelku! Jika kau tidak menjawab, itu berarti kau takut padaku." Ucap Zen dengan berteriak.


Setelah dia mengatakan itu, semua murid langsung melihat ke arahnya dan mereka juga berkata....


"Apa orang itu gila! Dia menantang Pangeran Kaito, dan bahkan dia menghinanya." Ucap salah seorang murid.


"Kau benar, di memang sudah gila. Baju apa yang dia pakai itu, aneh sekali. Dan kenapa dia menutup wajahnya dengan baju itu, apa dia ingin menutupi wajahnya yang jelek dan mengerikan seperti monster." Sahut temannya murid tadi.


Dan hampir semua murid berkata seperti dua murid tadi, saat Zen mendengar semua kata-kata cacian dari para murid, dia bergumam....


"Cih, dulu saat aku berada diatas, kalian semua hormat padaku seperti kalian hormat pada Kaito sekarang. Dasar para penjilat, terutama para murid perempuan itu. Harga diri mereka sepertinya sudah hilang, hanya untuk menjadi Ratu mereka selalu menempel di dekat Kaito." Gumamnya.


Setelah mendengar kata-kata dari Zen tadi, Pangeran Kaito langsung berdiri dan berkata....


"Kau pikir aku takut padamu! Aku terima ajakan duelmu, dan lihat saja nanti, aku akan membuatmu kesakitan karena terbakar api naga milikku." Teriaknya Kaito.


"Oke, tenang sedikit para murid. Karena kalian berdua sudah menemukan lawan duel kalian, duel pertama adalah Pangeran Kaito dan juga... em... siapa namamu murid bertopi?" Tanyanya kepada Zen.


"Namaku? Namaku adalah... em... Yerui! Namaku adalah Yerui." Sahutnya Zen dengan terbata-bata karena memikirkan nama samaran agar tidak di kenali.


"Jadi namamu Yerui, baiklah kalau begitu. Babak pertama duel besok adalah kalian berdua, Pangeran Kaito dan juga Yerui!" Ucap Direktur Arthur.


Setelah itu muncul seseorang didekat Direktur Arthur, dan dia berbisik kepada Direktur Arthur....


"Tuan, Pangeran Incelote William Frencesco dan juga adiknya, yaitu Putri Irene Evelina William Frencesco ada di depan akademi ini." Bisik orang itu kepada Direktur Arthur.


"Apa maksudmu, bukannya mereka bilang akan berkunjung seminggu lagi!" Sahut Direktur Arthur.


"Yang saya dengar dari para bangsawan yang menjabat di dunia politik kekaisaran.... Kedatangan Pangeran dan Putri yang ingin berkunjung melihat akademi ini lebih cepat dikarenakan Kaisar Learn sedang mendiskusikan tentang kerja sama dengan Kaisar Hans." Ucap orang tadi.


"Jadi begitu rupanya, Putri Irene Evelina William Frencesco dan juga Pangeran Incelote William Frencesco, mereka sudah berada diluar akademi ini kan?" Sahut Direktur Arthur yang tidak sadar kalau dia mengucapkannya dengan suara keras.


Semua murid yang ada di situ langsung ribut dan ingin keluar melihat Pangeran dan Putri itu... dan hampir semua murid berlari keluar untuk melihat mereka berdua itu, kecuali Zen. Zen hanya berjalan santai keluar. Melihat semua muridnya keluar, Direktur Arthur langsung emosi....


"Dasar murid-murid menyebalkan, aku belum selesai berbicara mereka sudah keluar." Ucap Direktur Arthur.


Kemudian empat orang guru tadi berkata....


"Bukannya anda sendiri yang membuat mereka semua keluar." Sahut mereka dengan ekspresi datar.


"Haah... sudahlah! Kalian berempat kesana sekarang! Sebelum terjadi apa-apa pada Putri dan Pangeran itu." Ucap Direktur Arthur.


Setelah mendengar perintah itu, mereka berempat pun langsung keluar untuk memastikan keamanan Pangeran dan Putri.


"Kudengar Putri Irene Evelina itu sangat cantik, bahkan kecantikannya melebihi Hilda." Ucap salah seorang murid yang sedang berlari ke temannya.


"Iya, aku juga mendengar tentang hal itu. Makanya aku berlari ke arah Putri itu, aku ingin memastikan apakah rumor itu benar." Sahut temannya yang juga berlari.


"Itu dia mereka! Mereka ada disana." Teriak salah seorang murid.


"Apa-apaan mereka itu, jika mereka semua berlari bersamaan ke arah Putri itu gedung akademi ini bisa roboh. Dan reruntuhan bangunan ini akan mengenai Putri itu. Jika itu terjadi, kakaknya tidak akan sempat menyelamatkan dirinya karena jaraknya yang terlalu jauh. Aku harus berlari secepat mungkin sebelum semua itu terjadi." Gumam Zen, kemudian dia berlari ke arah Putri itu.


"Hei, kenapa gedung ini bergetar!" Ucap salah satu dari murid kepada temannya.


"I-itu karena gedung ini akan roboh! Cepat lari sebelum gedung ini ambruk!" Sahut temannya yang berlari putar arah.


Setelah mendengar kalau gedung itu akan ambruk, mereka semua berlari ke arah yang aman. Tetapi tidak bagi Zen, dia malah berlari ke arah yang akan ambruk itu untuk menyelamatkan Putri itu....


Braaakkkk!


"Irene! Kenapa kalian para pengawal tidak berada di belakang adikku! Dasar tidak becus, jika sampai kenapa-napa pada adikku! Kalian semua akan dipenjara!" Ucap Pangeran Incelote kepada para pengawal. Setelah mengatakan itu, dia langsung berlari menghampiri adiknya.


Saat dia mendekati reruntuhan itu, terjadilah sesuatu yang aneh. Reruntuhan bangunan itu terangkat dengan sendirinya....


"Bagaimana reruntuhan itu bisa terangkat?" Ucap Pangeran Incelote dengan kebingungan.


"Ah, untung saja aku tepat waktu. Apa kau tidak apa-apa Putri?" Tanya Zen kepada Putri itu yang sedang memejamkan matanya karena ketakutan.


Pada saat putri itu membuka matanya, dia melihat seseorang sedang mengangkat reruntuhan itu. Dan orang yang mengangkat reruntuhan yang hampir mengenai kepalanya itu tidak lain adalah Zen.


Sesudah Zen mengangkat rerentuhan dinding gedung yang cukup besar itu, dia langsung melemparnya ke tempat tidak ada orang.


"Apa yang barusan kulihat ini, anak itu mengangkat rerentuhan yang cukup besar itu dengan enteng sekali bahkan dia melemparnya seperti benda yang sangat ringan? Sungguh tidak dapat dipercaya." Ucap Pangeran Incelote.


"Kau baik-baik saja kan Putri?" Ucap Zen dengan membungkukkan badannya dan mengulurkan tangannya untuk membantu Putri itu berdiri.


Putri itu kemudian berdiri dengan bantuan Zen, setelah itu dia berkata....


"Siapa namamu?" Tanyanya kepada Zen.


^^^Bersambung....^^^