
"Oke, karena kita sudah sampai di pojok lapangan ini. Atur posisi agar tempat tidur kalian tidak asal-asalan." Ucap Zen kepada Lucas dan Diego.
"Baik, Yui. Kau geser ke sebelah sana sedikit." Ucap Lucas pada Diego.
"Bagus, semuanya sudah teratur. Sekarang, waktunya tidur!" Ucap Zen kepada mereka berdua.
"Selamat malam Yui." Sahut mereka berdua.
"Selamat malam juga kalian berdua." Ucapnya yang kemudian tertidur....
Pagi harinya....
"Hei, siapa yang ada di atap gedung akademi itu?" Tanya seorang murid kepada temannya.
"Ah, itu bocah aneh waktu itu. Apa-apaan dia, dipagi hari sudah membuat keributan seperti orang gila." Sahut temannya.
Di atap gedung tempat Zen berada....
"Kembalikan selembar kertas itu sekarang juga! Jika kau tidak mengembalikannya padaku, aku akan memberikan hukuman yang berat padamu." Ucap Direktur Arthur.
"Kau pikir aku takut denganmu!" Sahut Zen dengan ekspresi dingin.
"Kertas yang ditanganku ini hanya selembar kertas kosong, ini bukan surat cinta milikmu yang menjijikkan itu. Kertas itu sudah ku letakkan di meja guru yang bernama Millie." Ucap Zen kepada Direktur Arthur.
"Apa kau sudah gila!! Dasar bocah tengil! Bisa-bisanya kau membuat diriku memalukan. Sekarang ikut aku keruanganku!" Ucap Direktur Arthur dengan menarik Zen keruangannya.
"Kenapa kau menyeretku seperti ini, aku kan tidak bilang iya saat kau menyuruhku keruanganmu. Jadi kau tidak berhak menyeretku seperti ini." Sahut Zen dengan melepaskan tangannya dari genggaman Direktur Arthur.
"Dah, dulu ya Direktur Art. Sekarang aku ingin mempersiapkan diri untuk duel dengan Kaito." Ucap Zen yang kemudian pergi meninggalkan Direktur Arthur sendirian.
Kemudian Direktur Arthur menggerutu tidak karuan, "Dasar bocah sialan! Baru dua hari disini, sudah membuat keributan. Dan setelah ini apa saja yang akan dilakukanya nanti.... Hah... dasar murid sialan!"
Saat Zen ingin memasuki area pertarungan... dia berpapasan dengan beberapa murid, lalu murid itu kemudian menghinanya....
"Hei lihat, orang gila itu ada disini. Pagi-pagi sudah membuat keributan, dasar kampungan." Ucap murid itu.
"Kau benar, dia kan hanya rakyat jelata. Mana mungkin dia paham tata krama." Sahut temannya murid tadi.
Tapi Zen tidak menghiraukannya, dan terus berjalan memasuki area pertarungan....
"Nah itu dia orangnya! Cepat kemari sekarang, Pangeran Kaito sudah menunggumu dari tadi. Dan hampir semua murid sudah ada di tempat itu, untuk melihat kalian bertarung." Ucap seorang guru.
"Sekarang gunakan pedang ini, kalian hanya akan berduel menggunakan pedang saja. Kalau ku minta kau melawan Pangeran Kaito dengan kekuatanmu, bisa-bisa nanti kau akan terbunuh. Dan pedang ini adalah sebuah "Relik" benda ini memiliki kekuatan yang cukup hebat, dan ini termasuk relik tingkat B. Sekarang masuklah ke area duel itu." Ucap guru itu lagi pada Zen.
Kemudian Zen berjalan menuju area itu sambil bergumam, "Benda ini tidak apa-apanya dibandingkan pedang milik Kaisar Lord. Dan tadi dia bilang aku akan terbunuh, justru sebaliknya. Aku lah yang akan menyiksamu, Kaito. Karena semua yang aku alami ini adalah perbuatan ayahmu.
Setelah itu dia pun masuk ke area pertarungan....
"Wah, wah, wah... tadinya ku pikir kau akan mengundurkan diri. Tapi ternyata aku salah.... Sekarang mari kita mulai duelnya! Murid bodoh." Teriak Kaito kepada Zen.
Setelah mendengar kata-kata itu dari Kaito, Dia pun bersiap untuk menyerang Kaito.
"Tidak kusangka, pedang yang dia pakai itu, relik yang tingkatnya A. Tapi itu tidak penting, seperti kata kakek tua itu, benda yang tingkatnya tinggi itu belum tentu hebat, karena... jika pemakainya tidak bisa menggunakannya dengan sempurna, kehebatannya itu akan sia-sia saja." Gumamnya Zen dalam hati.
Tapi sia-sia saja, karena Zen dapat menangkis serangan itu. Lagi dan lagi, dia terus menyerang Zen dari arah yang berbeda-beda, tapi tetap gagal karena Zen selalu menangkis serangannya.
"Tidak kusangka, kau bisa menangkis semua seranganku. Tapi yang tadi itu hanyalah pemanasan, sekarang akan kubunuh kau!" Ucapnya Kaito yang berusaha menebas lehernya Zen, tapi gagal lagi.
"Apa-apaan kau, bagaimana kau menghindar terus-menerus.Tapi itu tidak penting, kali ini akan menjadi yang terakhir, hiiiiyat!" Teriaknya lagi dengan melompat untuk menebas kepalanya Zen.
Kemudian Zen menghindar lagi, tapi kali ini dia tidak tinggal diam. Setelah Kaito menginjakkan kakinya ketanah, Zen meloncat dan menendang kepalanya Kaito dengan cukup keras, sampai membuatnya terkapar.
"Arkh, kepalaku. Ba-bagaimana dia bisa menendang kepalaku?" Ucap Kaito yang sedang terkapar.
Setelah itu Zen mendekat ke arah Kaito, lalu dia berkata....
"Jangan terlalu banyak omong! cepat berdiri sekarang juga kau sialan, dan serang aku. Semua seranganmu tidak ada yang mengenaiku, menyedihkan!" Ucap Zen kepada Kaito.
Setelah mendengar kata-kata itu dari Zen, Kaito kemudian berdiri dan berlari ke arah Zen untuk menebasnya lagi.
"Bagus, serang dengan sungguh-sungguh seperti ini. Sekarang akan ku perlihatkan padamu, pedang sehebat apapun jika pemiliknya payah maka akan tetap payah!" Ucap Zen.
"Diam kau bodoh!!! Kali ini aku pasti akan memengal lehermu itu, hiiyat!" Sahut Kaito dengan mengarahkan pedangnya ke kepalanya Zen lagi.
Tapi serangannya itu dapat dibaca oleh Zen, saat pedang itu hampir mendarat di kepalanya, Zen menghindar. Kemudian dia menyerang balik Kaito sampai membuat pedang miliknya Kaito terpotong menjadi dua.
"Praangg!" (suara pedang yang terjatuh ke tanah)
"Terlalu banyak omong sih... jadinya pedangmu patah menjadi dua kan." Ucap Zen dengan ekspresi yang menjengkelkan.
"Kauu! Aku tidak peduli kalau aku akan melanggar aturan duel ini, yang terpenting kau tiada disini nantinya!" Sahut Kaito.
"Sudahlah... jangan banyak basa-basi lagi, kalau kau memang ingin membunuhku, bunuh aku sekarang!" Ucap Zen dengan ekspresi tersenyum.
"Dasar murid bodoh! berani-beraninya kau tersenyum seperti itu padaku! Apa orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun, atau... kau itu adalah anak dari seorang pelacur, dan ayahmu itu adalah pria hidung belang. Makanya sifatmu seperti itu." Sahut Kaito dengan membalas senyumannya tadi.
"Dasar b*jing**! Orang tuaku tidak seperti yang kau bilang! Mereka adalah hal yang paling berharga dalam hidupku. Dan berani-beraninya kau menghina mereka seperti itu, lihat saja. Aku akan membunuhmu!" Teriak Zen dengan melemparkan pedangnya ke arah Kaito.
"Haha, meleset. Sayang sekali, sekarang kau sudah tidak memiliki senjata. Inilah saatnya untuk ku membunuhmu!" Ucap Kaito.
Kemudian Kaito merapalkan mantra....
"Dragon fire power, consecutive fireball, shots!" (kekuatan api naga, tembakan bola api berturut-turut!)
"Apa yang dilakukan Pangeran Kaito? Di-dia bermain curang! Padahal dia sudah kalah, kenapa dia masih menyerang Yui? Hei guru! Kenapa kau tidak menghentikannya sekarang juga?" Teriak Lucas yang sedang menonton pertarungan Zen dan Kaito.
"Hei berisik! Bisa diam tidak? Biarkan saja hal itu terjadi, aku ingin melihat seperti apa orang bodoh itu setelah disiksa oleh Pangeran Kaito." Sahut salah satu murid perempuan.
"Iya, yang dikatakannnya itu benar. Murid bodoh itu harus menderita karena telah menghina Pangeran Kaito!" Sahut murid perempuan lainnya.
"Lihat saja, semua orang akan melihat kehebatanku, bola api itu sudah hampir mengenainya. Aku tidak sabar menunggu kematian orang brengsek itu." Gumam Kaito setelah melapalkan mantra itu.
^^^Bersambung....^^^