ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 38 { Penyesalan yang tidak berguna }



"The power of the water element, forming a water tsunami! Lunge that guy now!" (Kekuatan elemen air, membentuk tsunami air! Terjang orang itu sekarang!)


"Apa-apaan itu? Ah, sialan air nya menerjang ku! Blup, blup blup.... Sialan, aku tenggelam!" Ucap Pangeran Incelote yang tenggelam di terjang air milik Zen.


"Itu masih pembukaan, Pangeran Incelote. Sekarang... ini adalah serangan yang akan membuat jantungmu hampir copot. Hehehe... rasakan ini!" Ucap Zen yang tertawa seperti tawa penjahat.


Setelah itu dia langsung melemparkan pedang di tangannya ke arah Pangeran Incelote, pedang itu kemudian mengenai sedikit wajahnya dan wajah Pangeran Incelote pun mengeluarkan darah karena tergores.


"Apa-apaan dia? Bagaimana dia tahu posisiku didalam air yang menggenang dan meyelimuti diriku ini? Sialan! Jika begini terus, aku akan kalah darinya. Aku harus keluar dalam air ini." Ucap Pangeran Incelote yang terus berusaha sekuat tenaga keluar dari dalam air itu.


"Oh, jadi kau berusaha keluar dari dalam air ya rupanya. Sekarang... akan ku tunjukan, inilah artinya hujan yang membuat orang menderita!" Ucap Zen yang kemudian melapalkan mantra,


"Lighting element, thunder rain!"


"Sialan, benda apa yang berwarna merah diatas langit itu? Kenapa benda itu hanya berada diatas air ini? Be-benda itu mengenai air ini! Akkkh, siaallaan! Aku terrrrsetrummmm! Akkkhhh, rasanya sakit sekaliiiii." Teriak Pangeran Incelote.


"Yui, ku mohon hentikan. Sepertinya... kakakku sudah kalah, dia sudah cukup menderita didalam air sana. Ku mohon hentikan...." Ucap Putri Irene yang memohon dan menundukkan kepalanya sebagi tanda minta maaf atas apa yang telah kakaknya katakan pada Zen.


"Apa kau bilang Rin? Aku tidak bisa mendengarmu sama sekali. Akkkh, kenapa kepalaku dari tadi terus berdenyut?" Sahut Zen yang sedang menahan rasa sakit.


"Apa maksudmu tidak mendengarku? Aku kan hanya beberapa langkah darimu." Tanya Putri Irene.


Brrak!


"Yui!!! Kenapa kau tersungkur kesakitan seperti itu?" Tanyanya lagi setelah melihat Zen tersungkur, kemudian dia pun menghampiri Zen.


"Akhh, kenapa suara itu terus ada ditelinga ku! Rasanya sakit sekali...." Ucap Zen yang terus-menerus berteriak kesakitan.


"Zen! Kenapa kau terus berteriak kesakitan seperti itu? Apa yang sebenarnya kakakku lakukan padamu?" Tanya Putri Irene lagi.


"Hentikan! Ku mohon hentikan! kau tidak boleh membuat tanganmu ternodai dengan darah!!! Ku mohon hentikan sekarang! Berhentilah sebelum kau membunuh orang itu! Bagaimana kau bisa lupa pada janjimu! Bukannya kau pernah berjanji waktu itu, kau bilang... kau rela terluka dan menderita juga memikul rasa sakit agar orang sekitarmu yang tidak berdosa tidak terluka! Dan kau juga berjanji waktu itu, kalau kau tidak akan menjadi seorang pendendam. Kau akan menuntun orang-orang yang berada dalam jalan kegelapan ke jalan yang lebih terang, dan kau akan membuat orang jahat menjadi orang baik hanya dengan mendengarkan kata-katamu. Tepati janji yang kau buat itu!" Teriak suara yang berasal dari dalam kepalanya Zen.


"Sejak kapan aku pernah berjanji seperti itu! Aku sama sekali tidak pernah mengatakannya!" Teriak Zen dengan menutup kedua telinganya.


"Kau pernah berkata seperti itu! Hanya saja kau sudah melupakannya karena kegelapan yang ada dalam dirimu ! Berhenti membenci dan berada dalam kegelapan, jika kau tidak menghiraukan peringatan ini... suatu saat nanti kau akan kehilangan kendali akan dirimu, dan kau akan membuat orang yang kau sayangi terluka karena perbuatanmu!" Sahut suara yang berada dalam kepalanya Zen.


"Dengar suara aneh! Aku tidak tau apa yang kau maksud, tapi ku mohon hentikan teriakan mu itu! Rasanya kepalaku hampir pecah karena suara mu itu!!! Ku mohon hentikan!!!" Teriak Zen dengan suara yang keras sampai membuat air yang berbentuk bola besar yang menenggelamkan Pangeran Incelote pecah dan membuat seluruh sekitar dalam hutan itu basah kuyup termasuk Putri Irene.


"A-apa yang terjadi? Air yang menenggelamkan aku tadi sudah menghilang, akhirnya... aku bisa bernafas. Meskipun begitu, tubuhku mati rasa. Tapi untunglah air itu sudah menghilang, karena aku sudah mengira kalau aku tidak akan hidup lagi." Ucap Pangeran Incelote yang terkapar di rerumputan hijau setelah bola air itu pecah.


"Yui! Kenapa kau tidak menjawab perkataanku? Eh Yu-yui, ke-kenapa kau seperti orang pingsan!" Ucap Putri Irene setelah melihat Zen pingsan dan terkapar di tanah.


"Apa yang harus kulakukan, Yui pingsan. Sebenarnya apa yang telah kakak lakukan padanya? Aku harus bertanya peda Incelote sekarang juga!" Ucapnya lagi, kemudian di berdiri dan menghampiri Pangeran Incelote.


"Incelote!" Teriak Putri Irene.


"Apa? Kenapa kau berteriak ke arah ku hahh?" Tanya Pangeran Incelote dengan menatap wajahnya Putri Irene yang berdiri disampingnya.


"Apa yang telah kau lakukan pada Yui hahh!" Tanya Putri Irene.


"Apa kau tidak punya mata, bukannya kau melihat kalau aku lah yang disiksa oleh Yui dari tadi. Bahkan aku hampir mati karena tidak bisa bernafas! Dan sekarang... tubuhku juga tidak bisa di gerakkan karena tersetrum tadi." Sahut Pangeran Incelote dengan ekspresi kesal.


"Ah, jadi begitu. Lalu apa yang membuat Yui berteriak kesakitan seperti tadi sampai membuatnya pingsan?" Tanya Putri Irene.


"Mana ku tau!" Sahut Pangeran Incelote.


"Tunggu saja dulu sampai diantara kami berdua ada yang bangun." Sahut Pangeran Incelote.


"Sampai kapan aku harus menunggu?" Tanya Putri Irene.


"Kenapa kau jadi orang banyak tanya sih! Mana ku tau sampai kapan, duduk saja dengan tenang dan tunggu saja dulu." Sahut Pangeran Incelote dengan nada bicara kesal.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Aku akan duduk disampingnya saja sambil menunggu diantara kalian berdua ada yang bangun." Ucap Putri Irene yang kemudian duduk disamping Zen.


"Terserah mu!" Sahut Pangeran Incelote.


Dua puluh lima menit kemudian....


"Akhh, rasanya masih terasa." Ucap Zen yang baru saja sadar dari pingsannya tadi.


"Yui, kau sudah sadar!" Ucap Putri Irene yang bangun dari tidurnya. Dia tertidur didekat Zen karena dia lelah menunggu diantara mereka berdua ada yang bangun.


"Memangnya aku kenapa? Dan bagaimana bisa kau tertidur disini? Mana Pangeran Incelote?" Tanya Zen.


"Kau tadi pingsan hampir setengah jam. Sedangkan Incelote, dia tidak bisa bergerak karena tubuhnya mati rasa akibat tersetrum. Tapi, apa kau baik-baik saja sekarang? Sebelum kau pingsan, kau terus berteriak kesakitan dan kau berbicara dengan seseorang? Siapa orang itu?" Ucap Putri Irene.


"O-orang itu? Aku sendiri tidak tahu siapa dia, tapi dia terus saja berteriak didalam kepalaku. Dia terus berkata...."


"Hentikan! Ku mohon hentikan! kau tidak boleh membuat tanganmu ternodai dengan darah!!! Ku mohon hentikan sekarang! Berhentilah sebelum kau membunuh orang itu! Bagaimana kau bisa lupa pada janjimu! Bukannya kau pernah berjanji waktu itu, kau bilang... kau rela terluka dan menderita rasa sakit agar orang sekitarmu yang tidak berdosa tidak terluka! Dan kau juga berjanji waktu itu, kalau kau tidak akan menjadi seorang pendendam. Kau akan menuntun orang-orang yang berada dalam jalan kegelapan ke jalan yang lebih terang, dan kau akan membuat orang jahat menjadi orang baik dengan hanya mendengarkan kata-katamu. Tepati janji yang kau buat itu!"


"Begitulah suara teriakannya yang ku dengar, dia terus mengulang kata-katanya itu. Itu membuat telingaku sakit, tapi anehnya... aku bermimpi kalau aku membunuh semua orang disini ini dengan kedua tangannku, dan tanganku terus berlumuran dengan darah walaupun aku membersihkannya dengan lautan. Darah itu tidak menghilang tapi sebaliknya, air dilaut itu berubah menjadi seperti darah. Hal itu membuatku sampai stress karena terus merasa bersalah melihat bayangan darah yang ada pada tanganku, setelah itu aku tidak ingat apapun lagi." Ucap Zen kepada Putri Irene.


"Pada saat kau pingsan, aku menghampiri kakakku dan bertanya apakah dia yang telah membuat dirimu kesakitan? Tapi dia bilang, dia saja hampir mati karena serangan darimu. Jadi bagaimana dia bisa melukaimu, katanya." Sahut Putri Irene.


"Entah kenapa, keanehan ini hampir sama dengan waktu aku duel dengan Kaito. Waktu itu aku berniat ingin membunuhnya ditempat, karena dia menghina ayah dan ibuku. Lalu tiba-tiba saja... aku berhenti, keinginanku ingin membunuhnya menghilang. Dan selama aku kembali ke dunia ini, terkadang aku mengatakan kata-kata yang tidak pernah terpikirkan oleh ku sama sekali. Sebenarnya apa yang terjadi padaku setiap kali aku punya hasrat untuk membunuh seseorang, hal aneh terus terjadi padaku." Ucap Zen yang kebingungan.


"Apa! Jadi kau ingin membunuhku tadi! Pantas saja aku hampir mati!" Sahut Pangeran Incelote yang masih terkapar di rerumputan.


"Karena kau membuatku jengkel!" Ucap Zen dengan ekspresi kesal.


"Haah... ya ampun, harinya sudah hampir gelap. Pasti paman sedang mencari kalian berdua, lebih baik sekarang kita ke istana, mungkin dia ada disana. Kalau begitu aku akan menggendong kakakmu, dan kau bisa mengikuti dari belakang." Ucap Zen.


Kemudian dia pergi menghampiri Pangeran Incelote dan setelah itu dia menggendongnya.


"Tumben kau bersikap baik pada ku? Bukannya kau ingin membunuhku tadi!" Ucap Pangeran Incelote saat digendong oleh Zen.


"Entahlah, aku juga bingung kenapa mau menggendongmu seperti ini. Setelah teriakan orang itu, dan rasa bersalah yang kurasakan saat melihat bayangan tanganku berlumuran darah, aku ingin merubah sifat burukku selama ini." Sahut Zen sambil berjalan menuju arah istana.


"Itu adalah keputusan yang bagus, Yui." Ucap Putri Irene yang berada di belakang Zen.


"Sedikit demi sedikit, sifat buruk seperti ayahnya mulai menghilang darinya. Dan suara darinya dimasa lalu terus mulai menyadarkannya dan membuat dia yang awalnya berada dalam kegelapan mulai berada dalam jalan yang terang." Ucap tuan agung yang sedang mengawasi Zen.


"Andai ayah dari Kaisar Lord tidak pernah menikahi orang itu... mungkin dunia ini tidak akan seburuk ini." Ucap tuan agung lagi dengan wajah kusut.


"Kau terus saja bicara seperti itu, memangnya itu benar-benar salahnya apa? Itu semua kan adalah takdir." Sahut Lucky.


"Itu semua bukan salahnya, tapi salah kami yang adalah teman kerjanya. Kami Benar-benar menyesal, karena kami dia harus menjalani hidup seperti itu. Sekarang menyesal pun tidak ada gunanya!" Ucap tuan agung.


^^^Bersambung....^^^