
"Aku memanggilmu kesini karena... kau telah menyelamatkan tuan Putri. Pangeran Incelote bilang padaku, dia tidak ingin memiliki hutang budi padamu. Jadi... dia akan memberikan apapun yang kau minta. Apa kau menginginkan status bangsawan, agar tidak dihina murid-murid lainnya. Karena mereka selalu merendahkan rakyat jelata, jadi hadiah apa yang kau inginkan? Ucap Direktur Arthur.
"Kau tidak ingin memiliki hutang budi ya, Pangeran Incelote? Apapun yang aku inginkan.... Aku tidak perlu status Bangsawan, aku juga tidak ingin kekayaan. Aku menyelamatkan Putri Irene, bukan karena aku minta balas budi. Karena aku tidak memerlukan harta dan status, dan aku kesini bukan untuk mencari kekayaan. Melainkan pengalaman yang akan membantuku dimasa depan. Jadi terima kasih atas tawaranmu, tapi aku tidak memerlukannya." Sahut Zen dengan memandang surat kertas yang ada di mejanya Direktur Arthur.
Mendengar perkataan itu dari Zen mereka terdiam dan Zen memanfaatkan peluang itu untuk mengambil kertas yang ada di meja tadi. Dan dia pun berhasil mengambilnya, setelah itu dia langsung menyelipkannya kedalam saku celananya.
"Jika kau memang tidak menginginkan apapun... maka aku tidak memiliki hutang budi lagi padamu. Karena kau sendiri yang menolaknya." Ucap Pangeran Incelote kepada Zen.
"Iya, sekarang hutangmu sudah lunas. Jadi tidak usah kau pikirkan lagi, cuman ini saja kan, yang ingin kalian katakan padaku. Kalau begitu, aku pergi dulu." Sahut Zen yang kemudian pergi ke luar ruangan itu.
Setelah keluar dari ruangan itu, kemudian dia berlari keluar dari akademi itu dan beberapa kali menabrak murid lainnya....
Buk, "hei, kalau jalan lihat-lihat!" Ucap murid yang ditabraknya.
Duk, "Dasar orang gila! berlari di tempat kerumunan orang!" Ucap murid lainnya yang dia tabrak.
"Bukan urusanku!" Sahut Zen dengan tetap berlari sampai ke luar akademi itu.
"Murid-murid itu bilang, didekat sini ada jurang... lebih baik aku telusuri lebih dulu, apakah memang benar disini ada jurang." Ucap Zen yang kemudian menelusuri jalan itu.
Sesampainya dia didekat jurang....
"Wah... ternyata ucapan mereka memang benar, disini benar-benar ada jurang. Lebih baik aku duduk didekat pohon yang disana itu." Ucapnya dengan berjalan kearah pohon itu.
Sesampainya di pohon itu, dia kemudian duduk dan bersandar di pohon itu sambil membaca tulisan dari kertas yang diambilnya dimeja Direktur Arthur....
"Sekarang waktunya untuk membaca surat ini." Ucapnya yang kemudian membaca tulisan di kertas itu.
"Teruntuk Millie, ini adalah surat cinta dari penggemar rahasiamu.Dari awal kita bertemu aku sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Dan bla bla bla bla bla. Surat ini dikirimkan oleh penggemar rahasiamu, garis miring Direktur Arthur."
"Pfftt... bhahaha, jadi kertas ini adalah surat cinta. Tulisannya jelek sekali, dan isi tulisan didalamnya juga menggelikan sampai membuatku merinding. Dan diakhir kalimat, dia menulis "surat ini dikirimkan oleh penggemar rahasiamu, garis miring Direktur Arthur." Apa gunanya dia menulis "dari penggemar rahasia!" Sebenarnya dia itu bodoh atau nggak punya otak.... Tapi kertas ini lumayan buatku, ini bisa membuat diriku dapat hukuman dan mendapatkan sebutan bocah tengil!" Ucap Zen.
"Haah... sialan!!! Kenapa hidupku harus seperti ini? Aku harus selalu bertingkah bodoh untuk mengelabui mereka semua, termasuk membodohi si Perdana menteri bohongan itu.... Mana ada Perdana menteri yang kerjanya cuman mengurus surat-surat, bahkan dia tidak pernah membahas soal masalah politik dikekaisaran itu. Dan ibu kota dikekaisaran Diamond itu juga aneh, kekaisaran mana yang tidak memiliki pengawal atau prajurit, semuanya yang ada disana aneh. Mana ada istana ajaib yang bisa menghilang beserta ibu kotanya! Dia pikir aku bocah bodoh apa? Mungkin itu semua hanya ilusi buatannya, seperti dia membuat ilusi ibu dan ayahku.... Tunggu ba-bagaimana dia bisa tahu wajah dan rupa kedua orangtuaku! Dan lagi, bagaimana dia bisa mendaftarkanku dengan nama yang ku buat asal-asalan? Padahal aku membuat nama asal-asalan itu sesudah dia mendaftarkanku. Hah... benar-benar membuatku pusing! Siapa sebenarnya Kakek tua itu? Dia benar-benar seperti misteri, dia tau tentang segalanya dan ada banyak rahasia yang dimilikinya. Setiap kali aku bertingkah bodoh, dia selalu memandangku dengan aneh. Seakan-akan dia sudah tau kalau aku hanya berakting bodoh. Ini semua karena orang brengsek yang gila kekuasaan itu! Andai dia tidak pernah berbuat seperti itu, pasti hidupku tidak sekacau ini. Sial! Ternyata sudah sore hari... lebih baik aku kembali ke akademi." Ucap Zen yang kemudian kembali ke akademi.
Di kekaisaran Diamond....
"Apa yang diucapkan bocah itu barusan? Dia sudah mengetahui tempat ini hanya ilusi buatanmu. Sejak kapan dia tahu kalau tempat ini adalah ilusi buatanmu? Dan bahkan bocah itu juga tahu kalau aku ini hanya Perdana menteri palsu. Apakah kau sudah tau selama ini, kalau dia hanya bertingkah bodoh dan pura-pura tidak tahu apa-apa? Kenapa kau tidak mengatakannya padaku kalau bocah itu hanya berakting selama ini?" Tanya Lucky dengan ekspresi serius.
"Ya! Dari awal aku sudah tau kalau dia hanya berpura-pura." Sahut tuan agung.
"Jika dari awal, kau sudah mengetahuinya.... Kenapa kau tidak pernah memperingatkanku tentang bocah itu!" Tanyanya lagi kepada tuan agung.
"Masalahnya beda, Kakek tua!!! Waktu itu kau bilang, waspadalah pada Zen, kalau-kalau segel kutukan itu terlepas! Begitu kau bilang padaku." Ucap Lucky dengan emosi.
"Sebenarnya... kata-kata itu adalah kode untukmu agar selalu waspada dengan Zen. Kau sendiri saja yang tidak peka, dan jika kau kuberi tahu tentang Zen yang sebenarnya, kau pasti akan terlihat mencurigakan olehnya. Aktingmu kan jelek." Sahut tuan agung.
"Terserah mu!" Ucap Lucky dengan ekspresi kesal.
Sesampainya Zen di akademi itu....
"Diharapkan kepada semua murid baru! Agar sesegera berada di lapangan untuk mengatur tempat tidur sementara kalian belum memiliki tim. Jadi bergegaslah!" Teriak seorang guru.
"Hei, ayo cepat kesana sekarang! Sebelum tidak kebagian tempat!" Teriak para murid yang sedang berlari kearah lapangan.
"Dasar para orang bodoh! Selalu berlari kesana kemari tidak karuan." Ucap Zen yang sedang berjalan dengan santai kearah lapangan.
Sesampainya di sana....
"Harap atur posisi tempat kalian!" Teriak guru tadi.
"Baik!" Sahut mereka semua.
"Hei, tempatku disini." Ucap salah satu diantara murid.
"Tempatku disini! Tidak ada yang boleh mengambilnya dari ku." Ucap murid lainnya.
"Benar-benar seperti bocah, masa tempat saja diperebutkan. Kalau aku ke kerumunan itu... mereka semua pasti akan mengusirku. Lebih baik aku ditempat pojok sana saja, lebih tenang dan damai." Ucap Zen yang kemudian pergi ke pojok kanan lapangan.
"Hei, Yui! Tunggu kami!" Teriak seseorang.
Kemudian Zen menoleh kebelakang....
"Ku pikir siapa yang memanggilku, ternyata kalian. Ada urusan apa kalian memangilku?" Tanyanya kepada Lucas dan Diego.
"Kami berdua ingin, tempat kami berada disampingmu. Bolehkan?" Sahut Lucas.
"Yah, tentu saja. Ayo ikuti aku ke pojok itu." Ucap Zen kepada mereka.
"Oke, Ayo kita pergi ke sana sekarang!" Sahut Lucas.
^^^Bersambung....^^^