ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 59 { Menyelesaikan misi part dua }



"Jadi jawab pertanyaan ku, jika ingin tetap hidup. Untuk apa kalian membawa senjata sebanyak ini?" Tanya Zen dengan menatap tajam kearah mereka.


"Kami tidak akan pernah memberi tahu padamu brengsek!" Sahut mereka bertiga.


Dengan tersenyum, Zen terus memukul mereka dengan tongkat besi yang ada ditangannya sambil berkata....


"Jika kau tidak memberi tahuku, tentang hal itu... maka jangan harap kalian akan selamat, hehehehe...."


"Akhhh, hentikan... aku akan memberi tahumu, jadi hentikan sekarang juga!" Teriak salah satu dari tiga bandit itu.


"Apa yang kau katakan barusan, kenapa kita harus memberi tahukan tentang hal itu padanya?" Tanya temannya.


"Memangnya kau ingin mati hah!" Jawab bandit itu.


"Jadi bocah sialan, jika kau ingin mendapatkan informasi tentang hal itu... lepaskan kami dulu, baru akan kukatakan." Ucap bandit itu kepada Zen.


"pftt... bhahaha, kau pikir aku sebodoh itu! Jika aku lepaskan kalian lebih dulu, pastinya kalian akan kabur dari ku tanpa mengatakan informasi itu. Jadi... katakan sekarang juga, baru setalah itu aku lepaskan kalian bertiga!" Jawab Zen dengan menginjak kepala si bandit yang bicara tadi.


"Ba-baiklah, jauhkan dulu kakimu dari wajah ku sialan!" Sahut bandit itu.


"Sudah nih! Jadi katakan sekarang juga...." Ucap Zen dengan melipat kedua tangannya.


"Senjata sebanyak itu akan kami gunakan untuk menaklukkan Dungeon yang didalamnya ada monster goblin beserta rajanya." Jawab bandit itu.


"Dari mana kalian tau ada Dungeon yang akan muncul, bahkan kalian tahu monster apa yang ada didalam dan apa yang akan kalian dapatkan dengan menaklukkan Dungeon itu?" Tanya Zen lagi.


"Kami mengetahuinya dari seorang peramal dibenua timur, dia bilang... Ditengah hutan yang berada di benua barat yang letaknya dekat dengan perbatasan negara ini dan benua lain, akan muncul sebuah Dungeon yang didalamnya ada monster goblin beserta harta karun milik Raja goblin. Karena itulah kami datang kesini... dan bukan hanya kami saja, teman-teman kami yang lainnya yang berasal dari benua timur pun juga datang kesini dengan tujuan yang sama. Aku sudah memberi tahumu tentang semuanya, jadi lepaskan kami sekarang juga!" Ucap bandit itu.


"Jadi bukan hanya kalian saja ya rupanya, tapi para bandit yang lainnya juga dalam perjalan kemari, ya kan?" Tanya Zen.


"Iya! Jadi lepaskan kami sekarang juga!" Jawab mereka bertiga.


"Ah, aku berubah pikiran setelah melihat kalian menangkap dua anak kecil dan kemudian kalian rantai kedua tangan dan kakinya supaya tidak kabur, agar kalian bisa menjadikan mereka berdua sebagai budak!" Sahut Zen dengan membalikkan tubuhnya dan menunjuk kearah kereta kuda milik mereka.


"Apa maksudmu, ti-tidak ada siapa-siapa kok disana...." Jawab bandit itu sambil menelan air liurnya.


"Oh, ya...." Bisik Zen tepat ditelinga bandit itu.


"Aku berkata jujur, jadi lepaskan kami sekarang juga!" Teriak bandit itu.


Kemudian Zen menjauh dan berjalan kearah tumpukan senjata milik mereka bertiga, dia kemudian menjatuhkan tongkat besi dari tangannya tadi lalu mengambil sebuah pedang dan kemudian berjalan kearah para bandit itu.


"Apa yang ingin kau lakukan dengan pedang itu, bocah sialan!" Tanya bandit itu.


"Oh, tidak ada kok... aku hanya ingin memenggal kepala seseorang saja kok." Sahutnya dengan menatap pedang itu dan menyentuhnya untuk memastikan apakah pedang itu tajam atau tumpul.


"Bukannya kita sudah sepakat, setalah kami memberi tahumu tentang informasi itu. Kau akan melepaskan kami!" Teriak bandit itu dengan meronta-ronta agar terlepas dari jeratan tali.


"Ya, kita memang sudah sepakat. Setelah kalian memberi tahuku tentang informasi itu, aku akan melepaskan kalian... tapi! Aku tidak mengatakan, bahwa aku akan melepaskan kalian dari jeratan tali itu, dan membiarkan kalian hidup! Jadi... maksud dari kata-kataku tentang melepaskan kalian tadi adalah... melepaskan nyawa kalian dari raga kalian, hehehe...." Ucapnya sambil tersenyum.


Para bandit itu langsung gemetaran dan berkeringat, lalu kemudian Zen menoleh kearah kereta kuda mereka dan berkata....


"Hei kau bocah yang sedang mengintip, berbaliklah agar tidak melihat sesuatu yang bisa membuatmu trauma nantinya, dan... tutup kedua telingamu jika kau bisa menutupnya dengan kedua tanganmu yang dirantai itu agar tidak mendengar teriakan kematian meraka."


Bocah yang sedang mengintip langsung berbalik dan menutup kedua telinganya dan menyuruh bocah satunya lagi untuk melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan.


Zen kemudian berbalik ke arah para bandit itu dan bertanya dengan berbisik....


"Kalian ingin kubunuh dengan cara apa, dibakar, ditebas ditusuk kaya sate atau disiksa dulu baru dipenggal tanpa membuat nyawa kalian melayang lalu ditusuk dan setelah kalian sekarat dengan berlumuran darah, aku akan memanggang kalian seperti sate... hehehe...."


"Ditebas saja, kami tidak ingin yang lain!" Jawab mereka bertiga.


"Cih, membosankan... andai tidak ada dua bocah itu, sudah pasti kalian bertiga akan ku siksa lebih dulu, huh...." Ucapnya dengan meletakkan tangannya ke dahinya. Kemudian dia menarik napas panjang dan setelah itu langsung menebas kepala mereka secara bersamaan.


"Sekarang mereka sudah mati, aku tidak bisa membakar mayat mereka karena ini adalah sebuah bukti kalau bandit-bandit ini sudah mati. Dan aku juga harus memberi tahu, ketua Kon... hah... sialan."


"Jubah Gekenkai! muncullah." Ucapnya dalam hati, kemudian....


"Oke, sekarang aku tinggal mengeluarkan jam tangan sihir itu dari jubah ini karena jubah ini bukan hanya sekedar jubah melainkan tas untuk memasukkan benda-benda artefak sihir dan juga senjata. Jadi untuk memberi tahu tentang hal ini, aku hanya perlu memencet tombol yang ada di jam tangan ini untuk berkomunikasi dengan ketua Kon." Ucap Zen dengan menekan tombol itu kemudian....


"Halo, ketua. Saya Teo ingin memberi tahukan tentang sebuah informasi."


"Katakan saja informasi itu, Teo." Jawab Kon.


"Para bandit dari benua timur sedang berburu harta karun di hutan negara ini yang letaknya dekat perbatasan negara dengan benua lain. Mereka diberitahu seorang peramal kalau akan ada sebuah Dungeon yang didalamnya terdapat harta karun, jadi saat ini mereka sedang berlomba untuk mendapatkan harta karun yang ada di Dungeon."


"Saya akan memastikan apakah Dungeon itu ada didekat sini, dan apakah anda bisa menugaskan beberapa anggota Gekenkai yang lain yang tidak sibuk untuk membasmi para bandit itu dari tanah negara ini." Ucap Zen dengan mengatakannya dekat jam tangan itu.


"Iya, aku akan menugaskan anggota Gekenkai yang tidak sibuk untuk membasmi para bandit itu, dan jika kau sudah tau dimana arah Dungeon itu. Kau bisa memberi tahuku agar aku bisa mengirim bala bantuan jika diperlukan, tapi jika bisa menyelesaikan Dungeon itu sendirian kau tinggal bilang tidak perlu bantuan." Sahut ketua Kon.


"Iya, ketua. Saya tutup komunikasi ini sekarang." Ucapnya dengan menekan tombol yang ada di jam tangan itu kemudian dia memasukkan jam tangan itu ke dalam jubah itu dan berkata dalam hati....


"Jubah, menghilanglah!"


Dan jubah itu kemudian menghilang, Zen kemudian mengambil peta milik para bandit itu dan melihat secara seksama.


"Mereka menandai arah Dungeon itu, dan arahnya sangat dekat dengan perbatasan hutan ini dengan hutan terlarang yang kabarnya tempat munculnya para iblis. Karena banyak memakan korban jiwa, hutan itu kemudian disegel para penyihir kekaisaran seingat ku, karena yang memerintahkan para penyihir untuk menyegel hutan itu adalah ayahku sendiri waktu itu."


"Baiklah, mari kita pergi ke Dungeon itu. Ah, sial... aku hampir lupa dengan kedua bocah itu. Cih...." Zen kemudian menggulung peta itu dan memasukkannya kedalam kantong jaket bajunya. Dia kemudian berjalan kearah kereta kuda dan....


"Hei, dik. Mendekatlah padaku, nanti akan ku lepaskan tanganmu dari rantai besi itu." Ucapnya dengan mengulurkan tangannya dan tersenyum ke arah dua bocah itu.


Kemudian bocah laki-laki yang mengintip tadi, menyuruh bocah perempuan yang lebih kecil darinya untuk berada dibelakang dengan cara berbisik supaya tidak terdengar oleh Zen.


"De-dengar, tuan. Ja-jangan dekati adikku, dan jika kau ingin menjual kami... lebih baik kau jual aku saja! Tapi, lepaskan adikku!" Teriak bocah itu.


"Apa maksud mu ingin menjual, aku hanya ingin melepaskan kalian dari rantai besi yang membelenggu kalian itu dan membebaskan kalian tanpa ada maksud menyakiti kalian sama sekali. Jadi mendekatlah padaku...." Sahut Zen.


"Jadi pedang yang ada ditangan tuan itu digunakan untuk memotong rantai besi ini?" Tanya bocah itu.


"Iya, jadi cepatlah kesini dan jangan panggil aku tuan karena usiaku ini masih dua belas tahun dan aku hanyalah rakyat biasa oke." Jawab Zen dengan memiringkan kepalanya.


Bocah laki-laki itu kemudian mendekat dan memejamkan matanya karena takut kalau-kalau Zen akan membunuhnya. Setelah dia memejamkan matanya, Zen langsung menebas rantai besi itu tanpa membuatnya terluka sama sekali.


"Nah, sudah. Kau sudah terlepas dari rantai itu, dan sekarang giliran adikmu... suruh dia mendekat padaku supaya aku langsung melepaskannya dari rantai itu. Ucap Zen.


"I-iya, ayo maju Auri. Kau akan terlepas seperti kakak." Ucap bocah laki-laki itu kepada adiknya.


Adiknya kemudian mendekat pada Zen dan setelah itu memejamkan kedua matanya, lalu Zen dengan sekejap mata menebas rantai besi dan melepaskan bocah itu dari rantai yang membelenggu dirinya.


"Oke, aku sudah melepaskan kalian dari rantai yang membelenggu kalian. Mari kita pergi dari sini, jadi lompatlah dari kereta ini untuk keluar dan jangan melihat kebelakang!" Ucap Zen.


Kemudian mereka berdua lompat dari kereta kuda itu dan mendekat pada Zen, lalu Zen menggandeng tangan mereka berdua. Bocah laki-laki disebelah kanan, dan bocah perempuan disebelah kiri.


Dan tidak beberapa lama, setelah mereka menjauh dari tempat kejadian tadi. Perut kedua bocah itu kemudian berbunyi....


"Kalian berdua tidak dikasih makan mereka ya? Para bandit itu memang keterlaluan! Hah... ya ampun, kita berhenti ditempat ini dulu dan kalian duduklah sekarang disini dan tunggu sebentar." Ucap Zen dengan memasukkan tangannya kedalam kantong jaketnya untuk mengambil kue yang ingin dimakannya sebelumnya.


"Nah, aku punya tiga kue. Karena aku juga belum makan siang, jadi aku juga akan mendapat jatah. Satu untuk mu, satu untuk adikmu dan satu untukku."


"Tapi maaf, aku tidak punya gelas untuk mengisi air. Jadi jika kalian haus, katakan saja padaku dan buka mulut kalian agar aku bisa mengeluarkan kekuatan air ku dan memasukkannya kedalam mulut kalian." Ucapnya sambil memakan kue.


"Kakak aku haus...." Ucap bocah perempuan itu dengan membuka mulutnya.


"Baiklah, tiga... dua... satu." Sahut Zen dengan memberi aba-aba peringatan dan setelah itu dia membuat jari tangannya seperti pistol dan setelah itu air keluar dari jari telunjuknya. Lalu dia menembakkan air itu ke dalam mulut bocah perempuan itu.


"Segarnya... makasih banyak kak, kuenya sangat enak dan caraku meminum air tadi juga keren." Ucap bocah perempuan dengan semangat.


"Kak, sekarang giliran ku...." Ucap bocah laki-laki.


"Baiklah, satu... dua... tiga!"


Setelah itu, bocah itu kemudian menelan air itu dan berkata....


"Terimakasih banyak, mungkin jika bukan karena kakak.... kami akan dijual para bandit itu dan juga kelaparan dan kehausan."


"Kalian tidak usah berterimakasih....." Ucapnya sambil mengusap kepala bocah laki-laki itu.


"Karena aku tidak sebaik yang kalian pikirkan. Tapi.... bagaimana kalian bisa tertangkap oleh bandit itu?" Tanya Zen.


"Kami berdua adalah anak yatim piatu, karena ayah dan ibu kami tiada saat berusaha melindungi kami dari para monster yang ada di hutan ini. Kami awalnya tinggal didekat hutan ini, setelah para monster mengamuk didesa kami."


"Hanya kami berdua lah yang bertahan hidup, karena kami melarikan diri dari desa itu ke desa lain. Tapi tidak sampai sehari kami berada didesa sebelah, kami ditangkap para bandit itu karena kami tidur di jalanan pada malam itu." Jawab bocah laki-laki itu atas pertanyaan Zen tadi.


"Begitu ya... aku turut berduka atas kematian kedua orang tua kalian." Sahut Zen.


"Ztttt... ztttt." Suara dari Earpiace milik Zen.


"Ah, sialan kenapa benda ini bergetar sih!" Ucap Zen dengan melepaskannya dari telinganya dan tanpa sengaja dia memencet tombol di benda itu lalu....


"Akhirnya.... tersambung juga! Aku sudah bisa berkomunikasi dengan Yui." Ucap seseorang yang berasal dari Earpiace milik Zen.


"Ba-bagaimana benda itu bisa mengeluarkan suara kak? Apa itu benda sihir?" Tanya bocah laki-laki yang kebingungan karena baru pertama kali melihat benda itu.


"Ah, iya." Sahut Zen. Kemudian dia mengambil Earpiace itu lalu memasangkannya lagi ke telinganya dan....


"Yui, sialan!!! Kemana saja kau hah!" Teriak Hilda.


"Akhh, telingaku. Bisa tidak kau bicara pelan-pelan! Gendang telingaku hampir pecah bodoh." Sahut Zen.


"Dengar ya, Yerui sialan! Cepat pergi ke hutan arah utara... karena kami semua sedang terjebak di pasir hisap dibawah bukit hutan ini! Jadi cepatlah datang ke sini!!!" Teriak Hilda lagi.


"Iya-iya! Aku akan ke sana sekarang juga." Sahut Zen kemudian dia mematikan tombol untuk memutus komunikasinya.


"Baiklah, supaya kita cepat sampai ke sana... kau bocah perempuan! naiklah keatas bahuku. Dan kau bocah laki-laki, aku akan menggendong mu dibelakang. Jadi ayo cepat." Ucap Zen dengan berjongkok.


"Memangnya kakak bisa menggendong kami berdua sambil berlari kesana?" Tanya bocah laki-laki itu.


"Tentu saja! Aku sudah terbiasa dengan hal seperti itu dan lagi pula tubuh kalian berdua itu kecil, jadi ayo cepatlah sebelum mereka semua tenggelam." Sahut Zen. Kemudian bocah perempuan itu naik ke bahunya dan bocah laki-laki itu memeluk erat tubuh Zen supaya tidak jatuh nantinya.


"Baiklah, kalian sudah siap kan? Mari kita berangkat!" Ucap Zen dengan semangat.


"Ehm!" Sahut mereka berdua.


Zen pun kemudian berlari dengan cepat dan melompat dari pohon ke pohon sambil menggendong mereka berdua.


^^^Bersambung....^^^