
"Wah, wah... jadi tim yang akan ikut melihat kami menyelesaikan misi adalah kalian. Kuharap... kalian tidak akan mengganggu misi ini!" Ucap ketua tim tiga senior yang bernama Rogger.
"Kami sudah lama menunggu kalian disini, benda apa yang berbulu dibelakang punggungmu itu?" Tanya Zen kepada Ranker senior perempuan.
"Ah, ini... dia peliharaanku. Namanya adalah Boby, ayo turun Boby! Tunjukan pada mereka wajah lucumu." Sahut Ranker senior perempuan itu.
"Whog!" Suara anjing yang sedang menyahut majikannya.
"Eh, jadi itu benar-benar hewan. Aku pikir itu hanya sebuah mantel bulu karena bulunya yang tebal." Ucap Lucas setelah melihat anjing itu turun dari pundak si senior tadi.
"Loh, Yui? Kenapa wajahmu seperti orang ketakutan begitu?" Tanya Mia saat melihat wajah Zen yang berkeringat dingin.
"Ti-tidak kok, aku baik-baik saja. Jangan pedulikan aa..." Sahut Zen yang kemudian terhenti saat melihat anjing itu mendekatinya.
"Hei anjing pintar... ku mohon, jangan mendekat lebih dari itu...." Ucap Zen dengan pelan-pelan agar anjing itu menurutinya.
"Whog, whog...." suara anjing yang terus mendekatinya.
"Ah, sialan!!! Kenapa kau dari tadi terus mengejarku!!!" Teriak Zen sambil berlari karena dikejar anjing tadi.
"Whog, whog!" Suara anjing ketika dia berada didekat kakinya Zen.
"Kyaaa! Bagaimana kau sudah di dekatku! Woiii, siapapun tolong akuuuu!!!" Teriaknya lagi dengan berlari kesana-kemari.
"Apa-apaan bocah itu?" Ucap para senior yang lain saat melihat Zen berteriak seperti tadi.
"Bhahaha... bocah itu ternyata takut pada Boby. Tenang saja bocah, dia hanya tertarik denganmu, tapi karena kau berteriak seperti tadi.... Kurasa kau sangat imut ketika berteriak Kyaaa! Sungguh benar-benar imut ditambah wajahmu yang tampan itu... pemandangan indah yang takkan pernah aku lupakan." Ucap Ranker senior pemilik anjing tadi.
"Bukannya membantuku, kau malah menertawakanku! Sialan!!! Kenapa anjingmu tidak merasa kelelahan setelah mengejarku terus-menerus seperti ini?" Ucap Zen yang masih berlari.
"Anjing itu adalah hewan ajaib yang gunanya membantu majikannya bertarung. Dia juga bisa mengeluarkan kekuatan milik kita saat mana kita disalurkan kepadanya. Tapi sebelum itu kau harus membuat kontrak dengannya, setelah kalian membuat kontrak dengan hewan ajaib... kalian bisa berbicara dengannya melalui pikiran dan dia akan menyahut kalian pakai bahasa seperti kita." Sahut senior perempuan tadi.
"Oh, jadi begitu rupanya. Kalau begitu bisa tidak kau menyuruh anjingmu ini berhenti meng...." Ucap Zen yang terhenti karena anjing itu berada disampingnya.
"Kyaaa!!! Lagi-lagi kau ada di dekatku. Siapapun tolong akuuuu!!!" Teriaknya dengan berlari sangat cepat.
"Ya, ampun.... Ini orang yang kalian jadikan ketua tim? Dengan anjing saja dia takut, apalagi dengan musuh nantinya." Ucap Rogger.
"Tapi dia sangat imut saat ketakutan Rogger, mungkin dia hanya trauma pada anjing...." Ucap Ranker perempuan yang satunya. Karena dalam setiap tim terdiri dari tiga laki-laki dan dua orang perempuan.
"Boby, berhenti!" Teriak Ranker perempuan yang adalah tuannya tadi.
"Whog!" Sahut anjing itu, kemudian dia berhenti mengejar Zen dan mendekati pemiliknya.
"Hah... hah... hari ini adalah mimpi buruk bagiku! Hah... hah... sialan! Aku capek...." Ucap Zen dengan lesu karena terus berlari dari anjing tadi.
"Kau tau Yui, kau mengingatkanku pada Pangeran Zen yang juga takut dengan anjing. Benarkan Diego?" Ucap Lucas.
"Iya, saat dia berteriak ketakutan, sangat mirip denganmu ketika berteriak." Sahut Lucas.
Dalam hati Zen....
"Ya, iyalah mirip.... Itu emang aku!"
"Ayo kita pergi sekarang! Misi kami adalah mengalahkan monster yang ada dalam dangeon yang berbentuk portal. Dangeon itu terletak di dalam gua di dekat pegunungan, jadi ku harap... kalian tidak akan membuat pekerjaan kami terhambat nantinya!" Ucap Rogger dengan tatapan dingin pada Zen.
"Ah, iya. Kami tidak akan menghambat kalian kok." Sahut Zen.
"Hei, bocah tampan. Kau mau berada disampingku tidak? Jaga-jaga kalau kau ketakutan seperti tadi." Ucap Ranker perempuan yang tidak memiliki anjing.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang!" Ucap Rogger dengan memandu jalan ke Dangeon yang berada di dalam gua.
Di perjalanan... Zen, Mia dan Hilda tertinggal cukup jauh dari yang lainnya karena Relik sepatu Hilda tersangkut. Zen dan Mia pun mencoba membantunya dan yang lain terus berjalan karena tidak tau.
"Hilda apa benda itu masih menyangkut?" Tanya Zen.
"Aku bisa sendiri kok, kau teruslah berjalan, aku baik-baik saja. Sahut Hilda.
"Tapi kita kan rekan satu tim! Kami akan membantumu sampai sepatumu itu terlepas, ya kan Zen?" Ucap Mia.
"Yang dikatakan Mia itu benar, kita adalah rekan tim. Meskipun kau membenciku, kau harus mengesampingkan itu untuk sementara waktu sampai sepatumu bisa terlepas!" Sahut Zen.
"Kami akan menarikmu sekarang juga, ulurkan tanganmu sekarang." Ucap Zen.
"Baiklah...." Sahut Hilda dengan mengulurkan tangannya.
"Bersiap, Mia! Satu, dua tarik!!!" Ucap Zen memberi aba-aba.
Kemudian sepatu Hilda yang tersangkut di akar pohon pun terlepas, tapi karena tarikan yang berlebihan, hal itu membuat Hilda dan juga Mia terpelanting ke arah jurang dekat pohon itu.
"Yui, tolong kami berdua! Yui, kau bisa mendengarku tidak?" Ucap Mia yang sedang bertahan agar tidak terjatuh ke bawah.
"Bertahanlah kalian berdua!! Dapat, hah... hah... ku pikir aku terlambat. Sekarang pegang masing-masing satu tanganku kuat-kuat, aku akan menarik kalian agar selamat." Ucap Zen yang berusaha menyelamatkan mereka berdua yang sedang bergelantungan di jurang.
"Memangnya kau bisa menarik kami yang beratnya dua kali lipat dari tubuhmu? Tarik saja Mia duluan, baru setelah itu aku!" Sahut Hilda.
"Nggak, jika aku tidak menarik kalian secara bersamaan... diantara kalian pasti akan ada yang jatuh! Percaya saja padaku!" Ucap Zen.
"Kami sudah memegang tanganmu sekuat tenaga, sekarang tarik!" Sahut Hilda.
"I-ini masih belum seberapa beratnya... Aku pernah mengangkat beban yang lebih berat dari kaliannn!" Ucap Zen saat menarik mereka ke atas.
Mereka berdua pun selamat berkat Zen, kemudian Hilda menawarkan bantuan agar mereka bisa mengejar yang lain yang sudah hampir sampai ke lokasi. Dan mereka berdua pun menerima bantuannya, dengan Relik sepatu yang dimilik Hilda.... Hanya dengan berpegangan tangan Hilda, mereka bisa mengejar yang lainnya dalam lima menit.
"Dari mana saja kalian? Aku pikir kalian dalam masalah...." Ucap Lucas setelah mereka sampai.
"Terimakasih banyak Hilda atas hal tadi." Ucap Zen.
"Tidak usah berterimakasih, anggap saja hutang budiku sudah lunas!" Sahut Hilda dengan ekspresi dingin.
"Hah... ya sudah kalau begitu." Ucap Zen sambil menggaruk kepalanya.
"Kita sudah sampai! Kalian lihat portal biru ini kan?" Ucap Rogger pada tim-nya Zen.
"Iya, kami melihatnya." Sahut Zen, Diego, Lucas, Mia dan Hilda.
"Jika portal ini masih berwarna biru, itu berarti ini masih belum ditangani. Jika sampai dua Minggu belum di bereskan, monster yang ada didalam bisa saja keluar dari portal ini dan membuat kekacauan. Para Ranker tugasnya bukan hanya melawan para penjahat yang ingin menghancurkan benua ini, mereka juga ditugaskan dalam penanganan Dangeon yang terdapat monster. Meskipun begitu, Dangeon jarang terjadi. Dalam satu bulan, Dangeon hanya terjadi dua kali." Ucap Rogger untuk membuat mereka mengerti masalah Dangeon.
"Sekarang, mari kita masuk kedalam portal ini!!" Ucap Rogger.
"Baik!" Sahut anggota timnya dan tim Zen.
Kemudian mereka pun memasuki Dangeon itu.
^^^Bersambung....^^^