ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 49 { Pertarungan Melawan Murid Yang Lemah Seperti Hama }



"Tidak pernah ada seseorang yang bisa membuat alat pengukur kekuatan itu eror seperti yang kau lakukan." Ucap Direktur Arthur.


"Apa hubungannya hal itu dengan aku menipumu?" Sahut Zen dengan ekspresi kesal.


"Kau bilang sebelumnya pada seniormu dan rekan se-timmu kalau kau tidak mengalahkan Monster itu, lalu bagaimana caranya kau bisa pergi ke tempat Hilda waktu itu. Padahal kau ada didekatnya Rogger waktu itu lalu kau tiba-tiba berlari mencari Hilda, padahal kau bilang kau tidak bisa melihat apa-apa karena kabut, dan lagi... setelah alat itu mengukur kekuatanmu, alat itu langsung eror." Ucap Direktur Arthur.


"Dasar senior brengsek! Bukannya kau bilang tidak akan mengatakannya pada siapa pun!" Ucap Zen dengan menghempaskan kedua tangannya ke meja.


"Mau bagaimana lagi Yui, aku terpaksa. Ini semua karena kesalahanmu sendiri yang telah membuat alat itu eror, awalnya aku ini level dua puluh lima."


"Setelah alat itu mengukurmu, aku kemudian mengukur kekuatanku juga. Tapi anehnya alat itu terus menunjukkan angka yang berbeda Deri setiap detiknya."


"Jadi aku bilang pada Direktur Arthur kalau kau telah membuat alat pengukur itu eror, lalu dia bertanya bagaimana caranya kau membuat alat itu eror."


"Sedangkan kau itu hanya bocah payah yang hampir tiada di Dungeon tanpa melakukan apa-apa. Apa kau mengerti alasan ku mengingkari janjiku padamu itu semua karena kau." Sahut Rogger yang menerangkan alasan dia harus mengingkari janjinya.


"Hah, jadi itu semua salahku rupanya. Jadi alat itu langsung rusak setelah mengukur kekuatanku...." Ucap Zen dengan menggaruk-garuk kepalanya.


"Sebenarnya kau itu siapa Yui, bagaimana seorang Ranker pemula bisa mengalahkan Monster tingkat S sendirian?" Tanya Direktur Arthur.


"Aku hanyalah seorang manusia biasa dan aku bahkan bukan dari kalangan Bangsawan. Karena kau sudah tau kalau kekuatanku itu cukup besar sampai bisa membuat alat pengukur itu eror, ku harap kalian berdua menutup mulut kalian rapat-rapat soal kekuatanku karena jika sampai terdengar kekaisaran, aku tidak akan memaafkan kalian berdua dan aku berjanji akan membuat kalian menyesalinya seumur hidup!" Ucap Zen dengan tatapan mata yang mengerikan.


"Kau tidak usah mengancam kami seperti itu, kami tidak akan mengetakannya pada siapapun karena jika kami mengatakan potensi mu itu... akademi dari kekaisaran lain pasti akan berusaha merebutmu dari akademi ini."


"Kau adalah harta Karun bagi akademi ini, jadi aku akan membuat status levelmu lebih rendah di banding murid lainnya karena itu lah yang mereka lihat saat kau mengukur kekuatanmu.


"Tapi kau bisa mengeluarkan kekuatanmu seperti apapun yang kau mau tanpa harus merahasiakan kekuatanmu agar kau tetap dipandang sebagai Ranker yang kuat dan tidak diinjak-injak oleh Murid dari kalangan Bangsawan yang iri denganmu." Ucap Direktur Arthur.


"Oh, baguslah kalau begitu... jadi aku bisa melakukan apapun pada mereka yang telah menghinaku tadi. Kalau begitu aku pergi dulu, aku mau cari angin." Sahut Zen yang kemudian keluar dari ruangan Direktur Arthur.


Setelah dia keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju keluar akademi, ada dua orang yang membuatnya menghentikan langkah kakinya karena....


"Hei, hei... coba lihat tuh bocah. Katanya levelnya level nol, itu berarti dia payah banget kalau tidak menggunakan Relik. Mungkin saja pada saat dia menantang Pangeran Kaito duel, dia menggunakan Relik yang bisa mengeluarkan kekuatan air dan petir." Ucap salah seorang murid laki-laki.


"Yang kau katakan mungkin ada benarnya juga, tentang dia curang waktu itu. Hei bocah lemah! Aku mengajakmu duel sekarang dengan tangan kosong di sini." Ucap teman murid tadi.


Mendengar kata-kata itu, Zen langsung menatap tajam ke arah mereka.


"Wah, wah... kau berani menatapku seperti itu ya. Asal kau tau, aku adalah seorang penyihir level enam, jika kau menatapku seperti itu... aku akan menyerangmu dengan bola sihir penghancur." Ucap murid yang menantang Zen tadi.


"Oh, begitu... kalau begitu kenapa kau tidak menunjukkannya langsung dihadapanku?" Ucap Zen dengan tersenyum ke arah mereka.


"Apa kau baru saja merendahkan diriku, dasar Ranker tingkat paling rendah!" Teriak murid tadi.


Semua murid yang ada disitu langsung menatap ke arah mereka dan saling taruhan siapa yang akan menang.


Duarr....


"Hehe... kau pasti sudah tam...mat, apa-apaan ini! Bagaimana kau bisa baik-baik saja setelah kuserang? Akan ku serang kau sekali lagi! Magic circle, orbs of destruction! (lingkaran sihir, bola kehancuran!)" Ucapnya lagi.


Setelah mengatakan itu muncullah bola hitam kebiruan yang disebut bola kehancuran oleh para penyihir, bola itu kemudian mengarah ke arah Zen.


Dan dengan mudahnya Zen kemudian menendang bola penghancur itu seperti bola ke atas dan membuat atap akademi langsung hancur karena masih dalam perbaikan jadi pelindung atap akademi tidak diaktifkan, karena bangunan di akademi pasti memiliki pelindung untuk melindungi bangunan supaya tidak hancur akibat serangan musuh atau apapun itu.


Duarr....


"Payah sekali... bahkan benda yang kau buat tadi bisa ku tendang loh, kau bilang kau bisa mengalahkanku. Tapi mana buktinya? Dasar bedebah! Kau hanya buang-buang waktu ku saja... karena kau telah menyerangku, tidak salahnya aku membalas serangan mu tadi meskipun tidak mengenaiku sama sekali sih." Ucap Zen kepada murid tadi.


"Asal kau tahu bedebah, sehebat apapun penyihir... mereka tidak akan bisa mengalahkan para pengguna elemental, karena kalian hanya bisa menyerang dari jarak jauh dan daya fisik kalian juga rendah. Itulah mengapa kalian selalu menjaga jarak dari musuh, tapi tidak bagi para elemental."


"Mereka bisa menyerang dari jarak jauh maupun dekat, bahkan mereka bisa mengeluarkan kekuatan elemen mereka tanpa merapalkannya."


"Tapi itu berlaku untuk para elemental yang sudah mahir sih, bersiaplah hama menyebalkan! Akan ku sentil kepalamu." Ucap Zen, kemudian dia berlari menghampiri murid tadi dan langsung menyentil dahi murid itu.


Seketika saja setelah dia menyentil dahi murid itu, keluarlah percikan petir dan hal itu membuat murid itu tersetrum selama satu menit.


Hanya dalam satu menit, percikan petir yang menyengat murid tadi langsung membuatnya tak sadarkan diri karena kesakitan akibat tersetrum.


Semua murid yang menyaksikan perkelahian mereka langsung berkata....


"Keren, dia hebat sekali."


"Kau pasti curang kan, mengaku saja rakyat jelata. Kau pasti menggunakan Relik langka untuk mengalahkan temanku, makanya kau bisa menggunakan kekuatanmu tanpa merapalkannya karena kau menggunakan Relik langka!" Ucap temannya murid tadi yang tidak terima temannya dikalahkan seperti itu.


"Asal kau tau Bangsawan bodoh, tidak mungkin rakyat jelata sepertiku bisa memiliki Relik langka. Karena Relik langka itu harganya sangat mahal, bahkan harganya hampir sama seperti paviliun." Sahut Zen dengan menatap murid itu dengan tatapan haus akan darah dan itu membuat murid itu langsung ciut ketakutan karena aura yang dikeluarkan oleh Zen.


"Yah, meskipun aku bisa membelinya dengan berlian yang ku buat dengan kekuatanku." Gumam Zen.


"Jika kau tidak ingin bernasib sama seperti teman bodohmu itu, maka menyingkir dari jalanku!" Ucap Zen kepada murid tadi.


Semua orang yang menonton mereka tadi langsung berkata....


"Yang dikatakannya benar, mana mungkin rakyat jelata bisa memiliki Relik langka. Karena harganya yang setara dengan paviliun, jadi mereka yang mengatakan dia curang dalam duel waktu itu hanya membual rupanya." Ucap sebagian murid yang menonton perkelahian tadi ke temannya.


"Cih, ayo bubar." Ucap salah satu diantara mereka yang menonton tadi.


Mereka pun kemudian bubar dan pergi, sedangkan Zen sendiri... dia pergi keluar akademi untuk mencari teman-temannya karena dia ingin mengajak teman-temannya ke alun-alun kota di akademi itu.


^^^Bersambung....^^^