ZEN LORD SKYWEST

ZEN LORD SKYWEST
Episode 63 { Masih cerita kehidupan Zen yang terdahulu }



Mereka kemudian berpindah tempat ke dalam istana kekaisaran ENGLANE FREZEA INCESIA di tempat kaisar dan yang mulia permaisuri juga anak-anaknya sedang berkumpul. Karena mereka tiba-tiba muncul begitu saja ditempat itu, semua orang yang berada ditempat itu selain Kaisar, permaisuri dan pangeran juga putri ikut kaget dan para kesatria langsung mengarahkan pedang mereka kepada dua bocah itu.


"Siapa kalian! Dan apa tujuan kalian sebenarnya kesini!" Ucap salah seorang kesatria.


Dengan santainya Izekeil mengangkat tangannya lalu kemudian tersenyum saat menatap Kaisar Learn.


"Berani sekali kau bocah! Bisa-bisanya kau menatap yang mulia Kaisar seperti itu." Ucap kesatria lainnya yang kesal.


"Dengar para kesatria, ini bukan urusanmu tapi karena kalian ikut campur terpaksa aku harus membuat kalian jadi patung dulu, ah... dan para pelayan juga mereka tidak boleh mendengar pembicaraan ku dengan mu Kaisar Learn, jadi mereka harus jadi patung dulu untuk sementara waktu." Ucap Izekeil dengan menjentikkan jarinya dan para kesatria juga para pelayan yang di tempat itu berubah menjadi patung.


"Siapa kau sebenarnya bocah?" Tanya Kaisar Learn dengan berdiri dari tempat singgasana.


"Namaku adalah Izekeil, dan aku bukan berasal dari tempat ini. Lalu alasan ku datang kesini karena doamu yang ingin bertemu anak dari sepupumu, dan sekarang anak itu sudah ada di depanmu dan tidak terperangkap di dalam hutan terlarang itu." Ucap Izekeil dengan santai, lalu kemudian menunjuk ke arah Zen.


"Maksudmu bocah laki-laki yang ada disampingmu itu Zen?" Tanya Kaisar Learn lagi.


"Ya, dan kau pasti percaya karena dia sangat mirip dengan Kaisar Zeiland bukan?" Jawab Izekeil.


Mendengar kata-kata itu, Kaisar Learn langsung meneteskan air matanya dan langsung berlari kearah Zen lalu memeluknya. Dia kemudian berkata....


"Maafkan paman, karena tidak bisa mengenali mu pada awalnya dan maaf kan paman karena tidak bisa berbuat apa-apa saat kau terkurung di tempat itu selama dua tahun." Ucapnya sambil mengusap kepalanya Zen dan makin erat memeluknya.


"Tidak apa-apa kok paman, karena aku tau paman selama dua tahun ini berjuang mengeluarkan ku dari sana tapi tidak berhasil." Sahutnya dengan meneteskan air matanya karena dia rindu pelukan hangat dari orang tuanya dan pada saat Kaisar Learn memeluknya, sensasi menenangkan muncul seperti saat dia dipeluk ayah dan ibunya.


"Karena kau sudah ada disini, maukah kau tinggal disini bersama kami? Kalian tidak keberatan kan anak-anak ku dan juga istri ku?"


"Iya kami tidak keberatan kok yah, yakan Incelote, Rinn?" Ucap pangeran Leandro.


"Iya, aku suka kok dengannya kak." Sahut Putri Irine dengan tersenyum lebar.


"Yah, kalau kakak dan Rin tidak masalah... aku juga tak apa." Ucap pangeran Incelote.


"Kalau ibu juga tidak masalah... jadi sudah dipastikan kalau Zen akan jadi anggota keluarga kita." Sahut permaisuri dengan memeluk anak-anaknya.


"Kamu dengar kan Zen, kau sudah diterima di keluarga kami." Ucap Kaisar Learn dengan mengusap kepalanya Zen.


"Ah, maaf merusak kebahagiaan kalian saat ini. Tapi, aku harus mengatakannya sekarang, aku punya seseorang yang bisa melihat masa depan... jadi ku harap kalian menyembunyikan keberadaan Zen, dan jika kalian menyembunyikan Zen pun... sesuatu yang buruk tetap akan terjadi, tapi itu akan terjadi dalam empat tahun kedepannya. Jadi ku harap anda memperkuat kesatria dan prajurit perang anda.... dan apa aku juga boleh bergabung jadi keluarga kalian, untuk sementara waktu, ku mohon? Jika kalian mengijinkan nya, nanti saat sesuatu terjadi pada kalian aku akan membantu kalian, bagaimana?" Ucap Izekeil dengan wajah tersenyum dan santai.


"Tapi bukannya kau tidak akan lama tinggal disini?" Tanya Zen setelah mendengar ucapannya tadi.


"yah, memang tidak akan lama... sampai usiaku dua belas tahun saja dan itu pun empat tahun lagi karena ulang tahunku juga sama seperti ulang tahunmu bahkan saat kau dilahirkan aku juga dilahirkan di duniaku, bahkan dimenit dan detik yang sama... ha-ha-ha lucu bukan?" Sahutnya dengan tertawa kecil.


Mendengar perkataannya Izekeil, pangeran Incelote langsung berdiri dari tempat duduknya dan turun kebawah menemui mereka....


"Jadi kalian itu memang kembar ya rupanya? Tapi kau bilang kau berasal dari dunia lain, otomatis...kalian kembar beda ayah dan ibu dong berarti?" Ucap pangeran Incelote dengan menggaruk-garuk kepalanya karena kebingungan.


"Benar sekali pangeran, kami memang kembar beda ayah dan ibu bahkan dunia." Sahut Izekeil... kemudian dia mendekat ke arah Zen dan berbisik....


"Jangan katakan pada mereka kalau aku hanya sebuah roh yang akan jadi malaikat nantinya oke, karena aku akan berpura-pura menjadi manusia... ini kulakukan sebab dulu aku belum pernah mencobanya saat bersama orang tua ku, karena saat itu aku masih belum bisa menggunakan kekuatan ku.".


"Iya, aku tidak akan mengatakannya kok." sahut Zen dengan berbisik di telinganya.


"Apa yang kalian bisikan dan bicarakan dari tadi? Kalian tidak akan mengkhianati dan menipu ku kan?" Tanya Kaisar Learn dengan wajah rada kesal.


"Tentu saja, yang mulia Kaisar... karena aku tidak pernah berbohong tapi aku bisa berbicara menjebak, misalnya yang ingin ku sampaikan seperti ini tapi karena aku tidak menyampaikan nya secara jelas, anda pun mengira hal yang aku sampaikan malah sebaliknya atau bisa dibilang perkataan ku itu ambigu." Sahut Izekeil.


"Oh jadi begitu, tapi ya sudahlah... aku percaya kalau kalian itu adalah anak-anak yang baik tapi agak menakutkan dibanding anak yang lainnya. Mari ikuti aku, aku akan memberikan mansion untuk kalian berdua tinggali dan mansion itu berdekatan dengan istana ini, jadi kalian berdua bisa bermain dengan putriku Rin dan juga Incelote nantinya." Ucap Kaisar Learn dengan memegang tangan Zen dan Izekeil.


Dan mereka pun akhirnya pergi melihat mansion yang akan jadi tempat tinggal mereka, hari demi hari pun mereka lalui ditempat itu dengan penuh kebahagiaan karena mereka selalu mendapat kasih sayang dari Kaisar dan permaisuri layaknya seperti kasih sayang orang tua kandung. Dan juga mereka berdua selalu bermain dengan Putri Irine dan pangeran Incelote... lalu karena kedamaian dan kebahagiaan yang mereka lalui setiap harinya, tak terasa sudah hampir empat tahun dan konflik pun akhirnya muncul.


Hans Calisto akhirnya menyadari kalau Zen sudah tidak terkurung lagi di hutan itu, dia pun sangat marah kepada para penyihir kekaisaran karena tidak becus mengawasi satu orang anak saja. Dia langsung memerintahkan mereka untuk melacak Zen dengan bagaimana pun caranya. Jika para penyihir itu tidak bisa menemukan Zen, maka maut akan menjemput mereka.


Karena diancam seperti itu mereka pun bersusah payah mencari Zen dengan pergi berpencar ke pelosok negeri dan perkampungan bahkan sampai ke benua lain untuk menemukan keberadaan Zen. Dan sampailah satu orang dari mereka di benua timur, dia pun akhirnya menemukan Zen bermain dengan Putri Irine dihalaman depan istana kekaisaran sedangkan Izekeil sedang berada diruang kerjanya Kaisar Learn waktu itu.


Penyihir itu kemudian melaporkannya lewat bola kristal setelah dia melihat Zen, dan si Hans Calisto itu langsung menyiapkan prajurit untuk menyerang kekaisaran ENGLANE FREZEA INCESIA karena dia awalnya memang ingin menyerang kekaisaran itu untuk merebut takhta dan memperbesar kekuasaannya


Ditempat ruang kerjanya Kaisar Learn....


"Mereka sudah mulai bergerak yang milulia Kaisar, anda sudah menyiapkan kesatria dan prajurit perang untuk melindungi keluarga anda dan rakyat anda bukan? Dan bagaimana tanggapan para bangsawan dan raja-raja dan bangsawan dari benua ini? Apakah mereka akan membantu anda atau menutup mata mereka saat perang akan terjadi nantinya." Tanya Izekeil.


"Tentu saja mereka akan membantu kan ayah, tidak mungkin mereka hanya akan diam saja saat kekaisaran ini diserang karena tempat mereka juga pastinya akan diserang." Sahut Leandro.


"Yang dikatakan Leandro itu benar, dan mereka juga sudah bilang akan membantu karena ini juga menyangkut mereka. Hah... ya ampun, Hans Calisto itu benar-benar seorang Tiran dan dia bahkan sudah mendapatkan benua-benua besar yang lainnya saat ini, dan sekarang benua ini akan menjadi target selanjutnya." Ucap Kaisar Learn dengan menopang dagunya dan ekspresi wajah yang seperti putus asa.


"Dan satu hal lagi, yang mulia Kaisar Learn... salah satu penyihir Hans Calisto sudah tau kalau Zen ada disini. Dia menatap mata lewat sebuah burung, saat burung itu melihat sekitar istana dia juga bisa melihatnya karena tubuhnya burung dan si penyihir itu terhubung. Jadi aku harus mengembalikan Zen ke hutan itu segera, tak apa kan? Ini demi kebaikan kalian dan juga Zen." Ucap Izekeil.


"Bagaimana kau bisa tahu, kalau keberadaan Zen sudah diketahui oleh Kaisar gila itu?" Tanya Leandro.


"Aku kan sudah pernah bilang, kalau aku punya seorang teman yang bisa melihat masa depan, dan dia baru saja mengatakan yang ku sampaikan tadi saat ayahmu bicara sebelumnya." Jawab Izekeil.


"Dan perang akan terjadi seminggu yang akan datang, dan hasilnya kalian juga pasti tau siapa yang akan menang bukan...." Ucapnya lagi.


"Hah sialan.... meskipun aku sudah tau masa depan, aku tetap tidak bisa menahan serangan Hans Calisto! Jika memang kekalahan tetap ada di pihak kita, sebaiknya kita kirim Incelote dan Irine ke hutan terlarang itu bersama Zen, karena Kaisar gila itu juga tidak bisa menembus nya kan?" Ucap Kaisar Learn.


"Yah, itu lebih baik... dari pada keluarga kita habis tak bersisa sama sekali, tapi kenapa ibu tidak dikirim bersama Rin dan Incelote? Apa karena ayah membutuhkan ibu untuk menyembuhkan orang- dan prajurit yang terluka, benar bukan?" Ucap Leandro.


"Yah, itu benar.... aku akan mempersiapkan barang-barang untuk anak-anak itu saat tinggal di hutan itu. Dan kita harus mengirim mereka dua hari yang akan datang, jadi bantu aku mempersiapkannya, Leandro." Sahut Kaisar Learn.


"Seandainya kau bisa membantu kami lebih dari mengirim anak-anak ku dan juga Zen supaya aman...." Ucap Kaisar Learn kepada Izekeil.


"Ternyata anda tau tentang kemampuan ku yang ku sembunyikan selama ini rupanya ya... aku sendiri juga ingin membantu kalian, tapi... jika aku ikut campur terlalu dalam, aku akan dihukum dan dihancurkan karena itu bukanlah tugasku datang kesini. Aku dikirim ke tempat ini hanya untuk mengetahui rasanya memiliki keluarga dan membuat Zen tidak kesepian sementara waktu. Dan sekarang tinggal beberapa minggu saja lagi, aku sudah berumur dua belas tahun. Jadi mari kita persiapkan hal ini dengan matang meskipun hasilnya nihil." Ucap Izekeil dengan memberikan semangat atau bisa dibilang malah membuat putus asa.


Mereka pun akhirnya menyiapkan barang-barang untuk mencukupi kebutuhan Rin dan Incelote karena mereka butuh makan dan minum juga yang lainnya, sedangkan Zen tidak... karena setelah dia tau kalau dia adalah keturunan iblis, dia tidak pernah merasa lapar lagi bahkan saat dia terkurung selama dua tahun waktu itu pun dia tidak makan dan minum sama sekali dan tubuhnya tetap seperti itu.


Setelah semuanya selesai, mereka pun dikirim ke hutan terlarang meskipun mereka bertiga merengek ingin membantu saat perang terjadi nantinya. Lalu saat mereka sudah tinggal di hutan itu selama beberapa hari, perang besar pun terjadi di benua timur selama berminggu-minggu dan hasilnya... semua prajurit, raja-raja bahkan kaisar dan permaisuri juga pangeran sudah terbunuh. Para rakyat biasa pun juga banyak tiada akibat perang itu.


Di tempat hutan terlarang....


"Zen, ini adalah hari ulang tahun kita kan? Sekarang tugasku sudah selesai disini jadi kita akan berpisah... terimakasih banyak atas semuanya selama ini, berkatmu... aku bisa merasakan yang namanya kebahagiaan saat bersama keluarga, dah...." Ucap Izekeil dengan memeluk Zen sambil mengusap kepalanya lalu setelah mengatakan hal itu dia pun menghilang.


Zen kemudian meneteskan air matanya dan kemudian menangis sejadi-jadinya... lalu Rin tiba-tiba muncul memeluknya dan menenangkannya.


Selama berhari-hari Zen hanya duduk di ayunan yang ada di pohon yang bunganya lebih banyak dari pada daunnya dan bunga itu berwarna pink, wajahnya begitu sedih dan matanya bengkak akibat terlalu sering menangis. Lalu Incelote dan Irene terus berusaha membuatnya ceria kembali, dan pada akhirnya Zen bisa tersenyum dan tertawa lagi berkat mereka berdua. Mereka pun akhirnya memulai hidup baru mereka dengan hanya bersandar pada satu sama lain karena tidak punya siapa-siapa lagi.


Suatu hari, mereka mendengar suara ledakan dan para prajurit milik Hans Calisto muncul didepan mereka dengan menodongkan senjata kearah mereka, Incelote kemudian menyerang mereka dan menyuruh Zen dan adiknya melarikan diri. Zen pada awalnya ingin membantu tapi Incelote berpesan padanya agar membawa lari adiknya supaya adiknya selamat. Dia pun akhirnya lari bersama Rin dari hutan terlarang itu dengan segera, sedangkan Incelote mengulur waktu dengan menyerang para prajurit sampai Zen dan Irene lari dari tempat itu dengan selamat. Setelah mencapai batasnya, Incelote akhirnya tiada karena ditebas seorang prajurit yang merupakan murid terbaik dan termuda dari akademi di benua itu, dan orang itu adalah Hilda.


Dia kemudian memerintahkan kepada para prajurit lainnya untuk mengikutinya mencari Zen dan Irine, para prajurit pun mematuhinya meskipun usianya seumuran dengan Zen.


Dalam perjalanan melarikan diri, kaki putri Irine tersandung batu dan membuatnya terjatuh lalu kakinya terluka. Zen kemudian menggendongnya, lalu dia melihat ada sebuah gua dan berhenti disana untuk istirahat. Malam hari pun tiba, putri Irine sudah tertidur pulas dengan bersandar pada bahunya dan Zen terus berjaga semalaman kalau-kalau musuh mendekat.


Pagi hari pun tiba....


"Apa tadi malam kau tidur nyenyak?" Tanya Zen sambil mengusap kepalanya putri Irine dengan wajah tetap tersenyum meskipun mereka sedang dalam pelarian.


"Aku tidur nyenyak kok, apa kamu juga tidur nyenyak?" Jawab putri Irine dengan menatap kearah wajahnya Zen.


"Aku juga tidur nyenyak, sama seperti mu. Dan sekarang apa yang harus kita lakukan... andai kekuatan ku tidak disegel oleh pamanku menggunakan sihir hitam waktu itu, aku mungkin bisa membantu kakakmu. Aku benar-benar menjadi beban untuk kalian...." Ucap Zen dengan menunduk.


"Itu tidak benar, ini semua salah pamanmu bukan dirimu." Sahut putri Irine agar Zen tetap semangat.


"Haha... makasih banyak atas perkataannya karena itu membuat ku lebih baik." Ucap Zen dengan menyandarkan kepalanya ke dinding gua.


Beberapa saat kemudian tamu tak diundang masuk ke dalam gua....


"Wah... wah, ternyata kalian sedang bersantai dan bercanda gurau ya? Pasti sangat menyenangkan, apa aku boleh ikut?" Ucapnya Hilda setelah masuk ke dalam gua.


Zen yang melihat wajah Hilda langsung terkejut karena teman masa kecilnya kini menjadi musuhnya, dia kemudian memeluk erat putri Irine dan berkata....


"Bukannya kau adalah Hilda, bagaimana kau bisa sangat kuat waktu kalian melawan Incelote? Dan bukannya dulu kita teman, jadi ku mohon biarkan aku dan Rin tetap hidup! Kau pasti diperintahkan langsung oleh pamanku, jadi ku mohon katakan padanya kalau aku tidak tertarik takhta dan harta... aku hanya ingin hidup tenang, mengerti!"


"Kau mau tau bagaimana caranya aku lebih kuat dibandingkan anak seumuran ku, tentu saja ini semua berkat Kaisar Hans, dia memberikanku kekuatan kegelapan yang sangat kuat dan mudah untuk digunakan. Dan kau bilang biarkan kau hidup? Aku memang akan membiarkan mu hidup, karena kau memang tidak bisa mati. Tapi tidak untuk temanmu itu, dia harus dibunuh karena telah membantumu melarikan diri. Prajurit, tangkap mereka sekarang sebelum kalian ku bunuh karena tidak mengikuti perintah ku!" Ucapnya dengan tatapan mata yang bengis.


"Ba-baik ketua!" Sahut anak buahnya dan mereka kemudian menangkap Zen dan putri Irine dan mengikat tangan mereka berdua.


"Lepaskan Rin sekarang juga, ku mohon.... kalian bisa menyiksaku seumur hidup, tapi ku mohon lepaskan dan biarkan putri Irine hidup." Ucap Zen sambil meronta-ronta agar terlepas dari rantai yang dipasang di tangannya.


"Zen berhenti! Aku baik-baik saja, dan kau tidak perlu tersiksa hanya untuk menyelamatkan ku. Kalian hanya ingin diriku kan, baiklah... kalian bisa melakukannya jadi jangan lukai atau pun menyakiti Zen." Sahut putri Irine dengan tersenyum menatap wajah Zen.


"Yah, kami akan menyerahkan kalian berdua ke Kaisar Hans... jadi terus lah berjalan sampai kita sampai di ibu kota negara ini, lagi pula Kaisar Hans sudah ada di negara ini untuk segera menghukum kalian berdua." Ucap Hilda dengan tersenyum lebar.


Mereka terus berjalan sampai di tengah ibu kota dan berhenti disebuah tempat yang digunakan untuk a mengeksekusi penjahat.... dan Hans Calisto sudah ada ditempat itu.


"Kau! Biarkan temanku tetap hidup! ku mohon! Kau bisa melakukan apapun terhadap ku, jadi lepaskan Rin...." Teriaknya dengan air mata yang terus mengalir .


"Berisik sekali, bawa putri itu kesini dan mulai eksekusinya sekarang, karena aku sudah tidak sabar melihat Zen menangis darah disini." Sahut Hans Calisto sambil tersenyum kearah Zen.


Lalu para prajurit yang diperintahkan itu kemudian membawa putri Irine ke tempat eksekusi itu, dan mendorong nya sampai terjatuh.


"Rinnn! ku mohon lepaskan dia paman! ku mohon, hiks... hiks.... lepaskan dia.... Dia tidak bersalah sama sekali karena ini semua adalah salah ku jadi hukum saja diriku." Teriaknya sambil meronta-ronta.


"Aku memang sedang menghukum mu, dan inilah caranya aku menghukum mu Zen. Tebas talinya sekarang juga Hilda!"


"Dimengerti yang mulia." Sahutnya Hilda dengan menebas tali itu dan seketika saja kepala putri Irine terpisah dari tubuhnya.


"Tidakkkk! Rinn.... Rinnn... huaa.... ini semua salahku, harusnya aku tidak pernah meninggalkan hutan terlarang dan tetap sendirian. Mungkin hal ini tidak akan pernah terjadi... hiks, hiks." Ucapnya dengan terisak-isak.


"Yah, itu tetap akan terjadi Zen. Karena aku memang tetap akan membunuhnya untuk merebut benua miliknya. Jadi jangan salahkan dirimu... ckckck, sungguh malang sekali nasibmu." Ucap Hans Calisto untuk melihat Zen mengamuk lalu terdiam tak berdaya karena dia tidak bisa melakukan perlawanan.


Tapi hal itu tidak terjadi dan malah sebaliknya, Zen hanya terdiam dan menundukkan kepalanya kemudian cahaya kemerahan muncul disekitar tubuhnya dan sebuah sabit tiba-tiba muncul dan menebas rantai yang membelenggu tangannya.


Dia kemudian memegang sabit itu lalu menatap kearah Hans Calisto dengan mata berlian yang bersinar merah seperti darah, dan kemudian berkata....


"Aku akan membalas kalian semua... dan diantara semua orang, kalian berdua lah yang paling ku siksa!" Ucap Zen dengan berteriak dan angin pun terus berputar-putar disekitarnya.


"Benarkah?" Sahut Hans Calisto dengan tatapan yang merasa kalau dia tidak akan bisa dikalahkan oleh bocah naif seperti Zen.


Zen kemudian menjentikkan jarinya, lalu mereka bertiga berpindah tempat ke tempat dunia buatan Zen karena kekuatan Diamond nya telah bangkit secara sempurna seperti Kaisar Lord. Dua orang yang ada bersamanya ditempat dunia buatan itu adalah Hans Calisto dan juga Hilda.


^^^Bersambung....^^^


Episode berikutnya adalah episode yang mungkin kalian tunggu-tunggu karena di episode selanjutnya Zen akan membantai habis umat manusia yang ada di dunia itu. Sekian, dan terimakasih....